Permainan Bayangan

1751 Words

Sisa kelembapan dari insiden di tangga marmer pagi tadi seolah masih menempel di kulit Alea, meskipun ia sudah berganti pakaian dua kali. Ia duduk di kursi beludru di sudut kamar, menatap pantulan dirinya di cermin rias yang besar. Pikirannya berputar cepat, membedah setiap detik kejadian yang nyaris merenggut nyawanya itu. Ia teringat tekstur lantai yang terasa aneh di bawah sol sepatunya—licin yang tidak alami, bukan sekadar polesan lilin yang berlebihan, melainkan zat cair yang sengaja ditempatkan di titik tumpuan paling kritis pada anak tangga. Ini bukan kecelakaan, bisik Alea pada dirinya sendiri. Suaranya nyaris tak terdengar, tenggelam oleh suara angin yang menderu di balik kaca jendela balkon. Ia mulai menyusun kepingan teka-teki di kepalanya. Mansion Vandeborg memiliki jadwal pe

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD