Udara di dalam ruang kerja Marco Vandeborg terasa sangat menyesakkan, seolah setiap partikel oksigen telah digantikan oleh kecurigaan yang membeku. Cahaya temaram dari lampu meja mahoni hanya mampu menerangi sebagian wajahnya, meninggalkan sisi lainnya tenggelam dalam bayang-bayang yang tajam. Marco menyandarkan punggungnya pada kursi kulit yang berderit pelan, sementara matanya tidak lepas dari data log aktivitas yang baru saja ia amankan. Aroma sisa kopi pahit dan bau ozon dari perangkat server yang bekerja tanpa henti memenuhi ruangan, menciptakan atmosfer yang mencekam. Pikirannya terus berputar pada kejadian semalam, di mana sistem keamanan sayap timur yang seharusnya mustahil ditembus, justru terbuka begitu saja. Ia menatap deretan kode yang tertinggal di dalam sistemnya. Ada sesuat

