Angin malam berembus kencang, membawa aroma aspal basah dan polusi kota yang menyengat di atas jembatan penyeberangan yang sudah tua. Struktur besi itu bergetar setiap kali kendaraan berat melaju kencang di bawahnya, menciptakan suara gemuruh yang menyamarkan derap langkah kaki. Marco berdiri di tengah jembatan, bersandar pada pagar pembatas yang catnya sudah mengelupas dimakan usia. Jaket kulit hitamnya berkibar pelan, menyembunyikan detak jantung yang waspada di balik postur tubuh yang tampak santai. Cahaya lampu jalan yang remang dan sesekali berkedip memberikan nuansa suram pada wajahnya yang tajam. Setelah menghabiskan malam dalam pengawasan ketat ayahnya di kamar tidur, setiap embusan udara di luar vila terasa seperti oksigen bagi pria yang tercekik. Namun, ia tahu betul bahwa kebeba

