Lampu neon berwarna ungu dan merah tua berdenyut mengikuti dentum bas yang menggetarkan lantai marmer Klub Malam The Viper. Udara di dalam ruangan itu terasa panas, pekat dengan aroma alkohol mahal, asap rokok elektrik yang manis, dan parfum menyengat dari para pengunjung yang berhimpitan di lantai dansa. Namun, di lantai atas, dalam sebuah balkon VIP yang terisolasi oleh kaca kedap suara, suasananya sangat kontras. Di sanalah Marco berdiri, menatap kerumunan di bawah dengan mata yang dingin, sementara di telinganya, suara Alea kembali menjadi navigasi dalam kegelapan. "Kau sudah masuk ke area VIP, Marco. Aku bisa melihatmu melalui kamera keamanan di sudut kiri atas. Jangan menoleh, tetaplah bersikap seolah kau adalah tuan rumah yang bosan," bisik Alea melalui saluran komunikasi yang baru

