Sinar matahari pagi yang pucat menembus celah gorden kamar utama, memantulkan cahaya pada lantai marmer yang dingin. Alea Syailendra terbangun dengan rasa waspada yang masih mencekam, sisa dari ketegangan malam sebelumnya saat ia menyadari bahwa Marco telah mengetahui aktivitas digitalnya. Ia bangkit perlahan, merapikan rambutnya yang berantakan, dan mencoba mengatur napas. Setiap sudut ruangan ini kini terasa seperti mata yang mengawasi, namun ia tidak boleh menunjukkan kelemahan sedikit pun. Saat ia melangkah menuju meja rias untuk memulai rutinitas paginya, matanya tertuju pada sebuah benda yang tidak seharusnya ada di sana. Di atas permukaan meja rias yang bersih, terselip sebuah amplop putih polos tanpa nama pengirim, tanpa prangko, dan tanpa identitas apapun. Amplop itu diletakkan t

