Fajar di Mansion Vandeborg tidak pernah datang dengan kicau burung atau kehangatan yang menyambut. Cahaya matahari pagi yang pucat menyusup malu-malu melalui celah gorden beledu yang berat, menyinari debu-debu halus yang menari di udara kamar utama. Marco Vandeborg sudah terbangun tepat saat jarum jam menyentuh angka lima—sebuah jam biologis yang tertanam sejak masa pelatihannya di akademi kepolisian, sebuah insting yang tidak pernah luntur meski kini ia mengenakan setelan jas seharga ribuan dolar.
Ia bangkit dari sofa dengan gerakan yang luwes, nyaris tanpa suara. Matanya langsung tertuju pada ranjang besar di tengah ruangan. Alea Syailendra masih di sana, tampak tenggelam di balik selimut sutra abu-abu. Rambut hitamnya tersebar berantakan di atas bantal, menutupi sebagian wajahnya yang tenang. Bagi siapa pun yang melihat, ia hanyalah seorang pengantin baru yang kelelahan. Namun, Marco memperhatikan ritme napasnya yang terlalu stabil. Alea tidak sedang tidur lelap; wanita itu sedang menunggu.
Marco tidak menyapa. Ia melangkah menuju kamar mandi, menyalakan pancuran air panas hingga uap memenuhi ruangan, menciptakan tabir suara yang cukup untuk meredam bisikan paling pelan sekalipun. Dari balik panel rahasia di jam tangan taktisnya, ia menarik sebuah pemancar mikro yang hanya sebesar butiran beras.
"Arkan di sini," bisiknya ke arah cermin yang beruap. "Subjek aman. Kondisi mansion dalam status waspada tinggi setelah pernikahan. Aku butuh peta enkripsi terbaru untuk sektor barat. Ada ruang server cadangan yang tidak terdaftar di cetak biru resmi."
Suara statis halus terdengar di telinganya melalui induksi tulang. "Diterima, Arkan. Tim sedang berusaha menembus satelit cuaca untuk memetakan panas termal di bawah tanah mansion. Hati-hati, Hugo Vandeborg meningkatkan protokol sensor laser di lorong sayap kiri setiap jam enam pagi."
Marco mematikan komunikasi itu tepat saat ia melangkah masuk ke bawah kucuran air. Pikirannya berpacu. Di rumah ini, ia adalah Marco, sang putra mahkota yang kejam. Namun di kepalanya, ia adalah Inspektur Arkan yang sedang menjerat leher dinasti Vandeborg dengan seutas benang tipis. Masalahnya, benang itu kini terikat juga pada wanita di ranjang luar. Jika ia menariknya terlalu keras, Alea akan ikut terjerat.
Di kamar utama, Alea perlahan membuka matanya begitu suara pintu kamar mandi tertutup. Ia tidak bangun. Ia tetap berbaring, namun matanya bergerak liar menyapu setiap sudut plafon. Ia menghitung. Satu, dua, tiga... ada delapan titik sensor asap di ruangan ini, dan tiga di antaranya adalah kamera inframerah dengan sudut pandang 360 derajat.
Alea mendudukkan diri, membiarkan gaun tidur satinnya merosot sedikit di bahu. Ia menoleh ke arah sofa tempat Marco tidur semalam. Kosong, namun bantalnya masih menunjukkan bekas tekanan kepala yang dalam. Marco tidak tidur nyenyak; pria itu selalu bersiap untuk melompat dan membunuh.
"Mata-mata dalam sangkar," gumam Alea pada pantulannya di jendela besar.
Ia bangkit dan berjalan menuju balkon. Angin pagi yang dingin menusuk kulitnya, namun ia mengabaikannya. Matanya tertuju pada barisan penjaga di bawah. Ia memperhatikan mereka bukan sebagai manusia, melainkan sebagai titik-titik data. Penjaga A bergerak setiap empat menit ke arah pos penjagaan sektor utara. Penjaga B selalu berhenti untuk menyalakan rokok di dekat tumpukan kayu, menciptakan celah pengawasan selama lima belas detik.
Alea menarik napas panjang, menghirup aroma laut yang asin. Di balik ketenangannya, jemarinya bergerak-gerak di atas pagar balkon, seolah sedang mengetik kode biner di atas besi dingin itu. Ia sedang memetakan pola frekuensi radio yang memancar dari menara pengawas. Ada gangguan kecil di sektor barat—sebuah tanda bahwa ada aktivitas transmisi data besar-besaran di bawah tanah sana.
Data Hitam. Itu adalah jantung dari kekuasaan Vandeborg, dan itu adalah alasan utama ayahnya rela menjualnya ke rumah ini. Jika ia bisa menemukan akses fisiknya, ia bisa menanamkan virus 'Zero-Day' yang akan menghapus seluruh eksistensi digital Vandeborg dalam hitungan detik.
Pukul delapan pagi, Marco keluar dari kamar mandi dengan kemeja hitam yang belum dikancingkan sepenuhnya. Ia menemukan Alea sedang berdiri di depan lemari, memilih pakaian dengan ketelitian yang berlebihan.
"Jangan mencoba memakai sesuatu yang terlalu mencolok," kata Marco dingin sembari merapikan rambutnya yang masih basah. "Hari ini ada pertemuan keluarga besar di aula bawah. Mereka akan menilaimu seperti singa menilai sepotong daging."
Alea menoleh, memberikan senyum tipis yang tidak mencapai matanya. "Aku sudah terbiasa dinilai, Marco. Di keluarga Syailendra, kecantikan adalah mata uang, dan kecerdasan adalah senjata yang harus disembunyikan."
Marco berhenti sejenak, menatap Alea melalui pantulan cermin. Ada sesuatu pada nada bicara wanita itu yang membuatnya merasa tidak nyaman—seperti sedang mendengarkan pantulan suaranya sendiri. "Kecerdasanmu tidak akan banyak membantu jika kau melangkah ke koridor yang salah. Ingat peringatanku semalam."
"Aku ingat setiap detailnya," sahut Alea. Ia memilih sebuah gaun terusan berwarna merah marun yang tampak elegan namun tertutup. "Terutama bagian tentang sensor lantai yang tidak mengenal perbedaan antara istri dan penyusup."
Marco tidak membalas. Ia memakai jasnya, memeriksa berat pistol di balik pinggangnya, dan memberi isyarat agar Alea mengikutinya.
Mereka menuruni tangga melingkar menuju lantai dasar. Marco berjalan satu langkah di depan, posisinya selalu menghalangi pandangan siapa pun yang berada di lobi menuju ke arah Alea. Baginya, ini adalah prosedur perlindungan aset. Bagi Alea, ini adalah pengawalan penjara.
Saat melewati koridor menuju ruang makan, Marco sengaja melambatkan langkahnya di dekat sebuah lukisan cat minyak tua yang menggambarkan pertempuran laut. Matanya melirik ke bawah, ke arah sela-sela lantai kayu oak yang sedikit lebih gelap dari yang lain. Di sana ada pembaca biometrik yang sangat tipis, nyaris tak terlihat.
Akses ke ruang bawah tanah, batin Marco. Ia mencatat koordinatnya dalam memori eidetiknya.
Alea, di sisi lain, tidak melihat ke lantai. Ia melihat ke atas, ke arah lampu gantung kristal yang megah. Ia menyadari bahwa kedipan lampu itu memiliki ritme yang aneh—bukan karena arus listrik yang tidak stabil, tapi karena lampu itu berfungsi sebagai pemancar Li-Fi (Light Fidelity) untuk mengirim data ke perangkat nirkabel para penjaga agar tidak bisa disadap dari luar.
"Teknologi yang impresif," bisik Alea saat mereka hampir sampai di ruang makan.
Marco meliriknya tajam. "Hanya dekorasi tua."
"Tentu saja," Alea tersenyum simpul. "Dekorasi yang sangat... informatif."
Sarapan pagi itu adalah sebuah pelajaran tentang diplomasi berdarah. Don Hugo duduk di kepala meja, memotong daging steaknya dengan presisi yang mengerikan. Di sekeliling meja, wajah-wajah anggota keluarga Vandeborg lainnya tampak seperti deretan topeng kebencian.
"Aku mendengar ada gangguan di jalur logistik kita semalam, Marco," Hugo memulai pembicaraan tanpa basa-basi. Matanya yang dingin beralih dari piringnya ke arah Marco, lalu ke arah Alea.
"Masalah kecil di dermaga, Don. Silas sedang menanganinya," jawab Marco tenang.
"Silas adalah anjing yang menggonggong terlalu keras," geram Hugo. "Aku ingin kau yang turun tangan sendiri setelah ini. Pastikan pengiriman Syailendra itu sampai ke tangan kita tanpa ada satu gram pun yang hilang. Dan kau, Alea..."
Alea mendongak, wajahnya tenang meski ia tahu seisi meja sedang menunggunya gemetar. "Ya, Don Hugo?"
"Ayahmu mengatakan kau adalah kurator seni yang berbakat. Mungkin kau bisa membantu membersihkan perpustakaan tua di sayap barat. Di sana ada banyak dokumen... sejarah... yang perlu diatur ulang."
Marco merasakan lonceng peringatan berbunyi di kepalanya. Perpustakaan sayap barat adalah lokasi yang paling dekat dengan titik termal ruang server yang dicari timnya. Mengapa Hugo membiarkan Alea mendekati area itu? Apakah ini sebuah jebakan, atau Hugo sedang menguji loyalitas Alea?
"Saya akan dengan senang hati melakukannya," jawab Alea lembut. "Sejarah selalu memiliki cara untuk mengungkapkan rahasia yang terlupakan."
Tatapan Hugo tertuju pada Alea selama beberapa detik yang terasa mencekam, seolah ia sedang mencoba menguliti pikiran wanita itu. Akhirnya, ia mendengus dan kembali pada makanannya.
Setelah sarapan, Marco menarik Alea ke sudut perpustakaan utama sebelum ia berangkat ke dermaga. Cengkeramannya di lengan Alea sedikit lebih keras dari biasanya.
"Apa yang kau rencanakan?" bisik Marco tajam, suaranya teredam oleh rak-rak buku besar.
"Aku? Aku hanya mengikuti perintah ayah mertuaku yang terhormat," balas Alea, matanya menatap langsung ke dalam mata Marco. "Kenapa? Kau takut aku menemukan sesuatu di antara debu dan kertas tua?"
"Perpustakaan itu adalah zona merah," kata Marco, mengabaikan godaan Alea. "Jangan mencoba memanjat rak atau membuka laci yang terkunci. Ada sistem alarm tekanan di sana. Jika kau memicu satu saja, para penjaga tidak akan menunggu instruksiku untuk menarik pelatuk."
Alea mendekat, hingga napasnya yang beraroma teh melati menyentuh dagu Marco. "Kau sangat khawatir padaku, Marco. Apakah ini bagian dari aktingmu sebagai suami, atau kau mulai takut kehilangan satu-satunya orang di rumah ini yang bisa bicara jujur padamu?"
Marco melepaskan lengan Alea dengan sentakan pelan. Ia tidak menjawab. Ia berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan Alea di tengah keheningan perpustakaan yang berbau kertas lama dan rahasia.
Begitu Marco menghilang, Alea menarik napas panjang. Ia meraba saku gaunnya, menyentuh sebuah alat kecil berbentuk pulpen—sebuah pemindai frekuensi tinggi yang ia selundupkan di dalam tumpukan gaunnya semalam.
Ia mulai berjalan mengitari perpustakaan, bukan untuk melihat buku, melainkan untuk merasakan denyut nadi mansion ini. Setiap langkahnya adalah observasi. Setiap helaan napasnya adalah sinkronisasi dengan sistem keamanan Vandeborg.
Di luar, Marco masuk ke dalam mobil SUV hitamnya. Ia menyalakan mesin, namun matanya tetap tertuju pada jendela lantai dua mansion. Ia melihat bayangan Alea yang bergerak di balik tirai perpustakaan.
"Target mulai bergerak," ucap Marco pada perangkat komunikasinya. "Aku akan menuju dermaga untuk mengalihkan perhatian Hugo. Pastikan satelit tetap mengunci koordinat sayap barat. Jika wanita itu menyentuh servernya, aku ingin menjadi orang pertama yang tahu."
Marco menginjak gas, meninggalkan mansion yang tampak seperti benteng kokoh di bawah langit pagi yang mendung. Di bawah atap yang sama, dua mata-mata kini mulai menenun jaring mereka masing-masing. Alea mencari titik lemah dalam kode, sementara Marco mencari celah dalam kekuasaan. Mereka tidak tahu bahwa di dasar kegelapan mansion ini, 'Data Hitam' bukan hanya sekadar tumpukan angka, melainkan sebuah bom waktu yang akan menghancurkan siapa pun yang mencoba menyentuhnya—termasuk mereka berdua.