Tatapan Dingin dan Ancaman

1594 Words
Mansion Vandeborg di siang hari tidaklah sehangat yang dibayangkan. Cahaya matahari yang masuk melalui jendela-jendela tinggi berlapis baja itu terasa pucat, seolah-olah kemegahan bangunan ini menyerap seluruh spektrum warna dan menyisakan hanya abu-abu yang dingin. Bagi Alea Syailendra, setiap langkah di koridor lantai dua terasa seperti berjalan di atas hamparan es tipis yang bisa pecah kapan saja. Marco sudah berangkat ke dermaga satu jam yang lalu. Kepergian suaminya memberikan ruang napas, namun juga meninggalkan Alea tanpa perlindungan tunggal di sarang pemangsa ini. Ia tahu, di rumah ini, Marco adalah satu-satunya orang yang memiliki kepentingan untuk menjaganya tetap hidup—setidaknya sampai misinya selesai. Tanpa pria itu, Alea hanyalah target empuk bagi anggota keluarga Vandeborg yang memandangnya sebagai aib atau ancaman. Alea melangkah menuju ruang tengah lantai dua, sebuah area terbuka yang dihiasi dengan sofa beludru merah tua dan dinding yang dipenuhi potret leluhur Vandeborg yang bermata tajam. Di sana, tiga wanita dan dua pria sedang duduk melingkar, menyesap kopi dari cangkir porselen yang harganya mungkin setara dengan gaji tahunan seorang pelayan. Langkah kaki Alea yang ringan tetap tertangkap oleh telinga mereka. Percakapan yang tadinya terdengar seperti bisikan tajam mendadak berhenti. Lima pasang mata beralih serentak, mengunci sosok Alea dengan intensitas yang menghakimi. "Ah, sang pengantin baru akhirnya keluar dari sarangnya," suara itu datang dari Lyra Vandeborg, sepupu Marco yang dikenal memiliki lidah setajam pisau bedah. Ia meletakkan cangkirnya dengan denting yang sengaja dikeraskan. Alea tetap tenang, dagunya terangkat sedikit. "Selamat siang. Saya harap saya tidak mengganggu waktu bersantai kalian." "Mengganggu?" seorang pria bertubuh gempal bernama Enzo, paman jauh Marco, terkekeh hambar. "Kehadiranmu di rumah ini saja sudah merupakan gangguan, Sayang. Darah Syailendra di bawah atap Vandeborg? Jika ini terjadi sepuluh tahun lalu, kau sudah berada di dasar tebing sebelum sempat melepas cadarmu." "Beruntung bagi kita semua, sepuluh tahun telah berlalu, Tuan Enzo," balas Alea, suaranya semerdu lonceng namun sedingin es. "Dan sekarang, saya adalah bagian dari keluarga ini, suka atau tidak." Lyra bangkit dari duduknya, berjalan mendekati Alea dengan keanggunan seorang predator. Ia mengitari Alea, mengamati gaun merah marun yang dikenakan wanita itu. "Kau mungkin memakai nama kami, tapi jangan pernah berpikir kau salah satu dari kami. Di mata kami, kau hanyalah sandera dengan gaun mahal. Sebuah pion yang bisa ditukar jika keadaan memburuk." Alea menatap langsung ke dalam mata Lyra. Ia tidak melihat kemarahan, melainkan ketakutan yang dibungkus dengan kesombongan. Sebagai peretas, Alea terbiasa membaca pola, dan pola di ruangan ini sangat jelas: mereka merasa terancam oleh kehadirannya. "Jika aku hanya seorang pion, kenapa kalian semua tampak begitu gelisah?" tanya Alea pelan, sebuah senyuman tipis yang mematikan tersungging di bibirnya. Wajah Lyra memerah. Sebelum ia sempat membalas, sebuah suara berat dari arah tangga menghentikan segalanya. Marco Vandeborg berdiri di sana, masih mengenakan jas abu-abunya yang sedikit berdebu. Ia seharusnya berada di dermaga, namun instingnya—atau mungkin laporan dari tim pemantaunya—membawanya kembali lebih cepat. Ia melihat lingkaran intimidasi yang mengelilingi istrinya. Matanya menyapu ruangan, memberikan tekanan yang membuat Enzo berpaling dan Lyra mundur satu langkah. Marco berjalan mendekat, langkah sepatunya bergema berat, memberikan aura d******i yang instan. "Aku tidak tahu sejak kapan ruang tengah ini berubah menjadi pengadilan formal," ucap Marco dingin. Ia berdiri di samping Alea, tidak menyentuhnya, namun posisinya jelas-jelas menciptakan barikade fisik antara Alea dan anggota keluarganya. "Kami hanya sedang... berkenalan dengan anggota baru kita, Marco," Enzo mencoba mencairkan suasana dengan tawa paksa. "Berkenalan?" Marco menatap Enzo dengan tatapan yang bisa membekukan darah. "Dari tempatku berdiri, kalian terlihat seperti burung bangkai yang sedang mengelilingi umpan. Biar kupertegas satu hal bagi kalian semua. Alea adalah tanggung jawabku. Don Hugo memberikan hak asuh dan pengawasannya kepadaku secara mutlak." Marco melangkah satu inci lebih dekat ke arah Lyra, merendahkan suaranya hingga terdengar seperti geraman harimau. "Jika aku mendengar ada satu kata kasar lagi, atau jika istrimu—maksudku, istrimu ini—merasa tidak nyaman di rumahnya sendiri, aku akan memastikan jatah logistik departemenmu dipotong setengah bulan depan. Mengerti?" Lyra mendengus, namun ia tidak berani membantah. Di keluarga Vandeborg, Marco adalah tangan kanan Hugo yang paling efisien. Melawannya berarti mengundang bencana finansial atau fisik. "Ayo, Alea," perintah Marco. Ia memutar tubuhnya dan mulai berjalan menuju koridor sayap barat, memberikan isyarat agar Alea mengikutinya. Alea melirik sekilas ke arah kerumunan yang kini terdiam itu, memberikan sebuah anggukan sopan yang terasa seperti ejekan, lalu melangkah mengikuti Marco. Begitu mereka berada cukup jauh dari jangkauan telinga orang lain, Marco melambatkan langkahnya namun tidak berhenti. Ia tidak menoleh pada Alea. "Kau seharusnya tetap di kamar," geram Marco pelan. "Aku bukan tawanan yang harus dikurung, Marco. Don Hugo sendiri yang memintaku ke perpustakaan," balas Alea, mencoba menyamai langkah lebar suaminya. Marco mendadak berhenti dan berbalik, membuat Alea nyaris menabrak dadanya yang bidang. Marco memegang kedua bahu Alea, menekannya sedikit ke arah dinding koridor yang dingin. Wajahnya hanya beberapa senti dari wajah Alea, matanya berkilat penuh peringatan. "Dengarkan aku dengan baik," bisik Marco, suaranya sangat rendah hingga nyaris tenggelam oleh desau angin di luar. "Di rumah ini, tatapan dingin adalah peringatan terakhir sebelum peluru. Silas, Enzo, Lyra... mereka tidak peduli dengan gencatan senjata. Mereka hanya melihatmu sebagai target yang sah jika aku lengah sedetik saja." Alea menatap mata Marco, mencari tanda-tanda akting. Namun yang ia temukan adalah kewaspadaan murni. Sebagai polisi yang menyamar, Marco tahu betul betapa cepatnya sebuah konspirasi internal bisa mencabut nyawa seseorang. "Kenapa kau begitu peduli, Marco? Bukankah kematianku akan mempermudah misimu?" tanya Alea, suaranya menantang namun penuh rasa ingin tahu. Rahang Marco mengeras. Ia tidak bisa mengatakan bahwa kematian Alea akan memicu perang terbuka yang akan menghancurkan penyelidikan kepolisiannya selama bertahun-tahun. Ia juga tidak bisa mengakui bahwa ada bagian dari dirinya yang tidak tega melihat wanita secerdas Alea dihancurkan oleh orang-orang dungu seperti Enzo. "Karena kau adalah propertiku sekarang," Marco menggunakan kata-kata kasar itu lagi sebagai perisai. "Dan aku tidak suka ada orang yang merusak apa yang sudah menjadi milikku. Mengerti?" Alea tidak berkedip. Ia bisa merasakan detak jantung Marco yang kuat melalui jemari pria itu di bahunya. "Properti. Kau selalu menggunakan kata itu. Tapi matamu mengatakan hal yang berbeda, Inspektur." Marco tertegun. Kata 'Inspektur' yang diucapkan Alea dengan volume sangat rendah itu membuatnya merasa seolah-olah seluruh dunianya baru saja meledak. Ia mempererat cengkeramannya, matanya menyipit berbahaya. "Apa yang kau katakan?" Alea tersenyum tipis, sebuah senyuman kemenangan yang tenang. "Aku peretas, Marco. Aku menghabiskan hidupku mencari anomali dalam sistem. Dan kau... kau adalah anomali terbesar di mansion ini. Cara kau berdiri, cara kau memegang senjata, bahkan cara kau bernapas saat berada di dekat penjaga... itu bukan gaya seorang mafia yang lahir di jalanan. Itu gaya seorang profesional yang dididik dengan protokol." Marco merasa tenggorokannya kering. Di tengah koridor musuh, istrinya baru saja membongkar identitasnya dalam satu tebakan cerdas. Ia bisa saja mencekik Alea di sini, atau menyerahkannya pada Hugo untuk dibersihkan. Namun, ia melihat ketenangan di mata Alea. Wanita itu tidak berniat membongkarnya—setidaknya belum. "Jika kau ingin tetap hidup sampai fajar besok," bisik Marco dengan nada yang sangat mematikan, "kau akan mengubur pemikiran itu dalam-dalam. Di rumah ini, kebenaran adalah hal yang paling mematikan." Marco melepaskan bahu Alea dengan kasar, seolah-olah wanita itu baru saja membakarnya. Ia berbalik dan melanjutkan perjalanannya menuju perpustakaan tanpa menoleh lagi. Alea berdiri di sana sejenak, merapikan bahu gaunnya. Ia menarik napas panjang. Ia baru saja melakukan pertaruhan terbesar dalam hidupnya, dan dari reaksi Marco, ia tahu tebakannya benar. Suaminya adalah seorang penyusup, sama seperti dirinya. "Jadi, kita berdua adalah aktor di panggung yang sama," gumam Alea pada koridor yang sunyi. Mansion Vandeborg kini terasa berbeda di mata Alea. Setiap tatapan dingin dari anggota keluarga yang ia temui di jalan menuju perpustakaan kini terasa lebih berarti. Mereka bukan hanya musuh bagi keluarganya, tapi juga musuh bagi misi suaminya. Alea sampai di pintu perpustakaan besar di sayap barat. Penjaga di depan pintu memberikan tatapan curiga namun tetap membukakan jalan. Di dalam, bau kertas tua dan kulit lembu menyambutnya. Ia melihat Marco sedang berdiri di dekat jendela besar, menatap keluar ke arah dermaga, seolah-olah sedang memikirkan strategi perang. Alea mulai berjalan menyusuri rak-rak buku, jemarinya menyentuh punggung buku dengan ringan. Di balik gerakan santai itu, ia sedang mengaktifkan pemindai gelombang elektromagnetik di arlojinya. Ia menyadari sesuatu. Di balik rak buku bagian sejarah hukum, ada sebuah anomali sinyal. Sinyalnya sangat halus, terenkripsi dalam frekuensi yang biasanya digunakan oleh perangkat militer. Ruang server cadangan, batin Alea. Namun, ia juga menyadari hal lain. Marco tidak hanya diam di sana. Pria itu terus mengawasinya melalui pantulan kaca jendela. Marco sedang menandai setiap pergerakan Alea. Di ruangan yang sunyi itu, hanya terdengar suara detak jam dinding kuno. Tatapan dingin masih ada di antara mereka, namun kini ada lapisan ancaman baru yang lebih kompleks. Mereka bukan lagi sekadar suami-istri paksa; mereka adalah dua rahasia yang saling beradu, dua bom waktu yang tinggal menunggu waktu untuk meledak di jantung kekuasaan Vandeborg. Alea menarik sebuah buku tua secara acak, lalu membukanya. Di dalamnya, ia menemukan sebuah foto lama yang terselip. Sebuah foto Don Hugo muda berdiri bersama seorang pria yang wajahnya sangat mirip dengan ayah Alea. "Rahasia di balik rahasia," bisik Alea. Marco berbalik, menatapnya dari seberang ruangan. "Temukan apa yang kau cari, Alea. Karena begitu malam tiba, aturan di rumah ini akan berubah menjadi jauh lebih gelap." Alea menutup buku itu dengan suara bedebam pelan. "Aku sudah menemukannya, Marco. Pertanyaannya adalah, apakah kau siap menghadapi apa yang akan aku lakukan selanjutnya?" Ketegangan di perpustakaan itu nyaris bisa diraba. Di luar, langit mulai berubah menjadi jingga kemerahan, memberikan bayangan panjang yang menyeramkan pada setiap sudut mansion. Pernikahan tanpa hati ini baru saja memasuki fase di mana cinta bukanlah pilihan, dan pengkhianatan adalah satu-satunya cara untuk bertahan hidup.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD