Mansion Vandeborg bukan sekadar rumah; itu adalah sebuah organisme yang bernapas melalui kabel-kabel fiber optik dan melihat melalui ribuan sensor inframerah. Sejak fajar menyingsing di hari ketiga pernikahannya, Alea Syailendra merasakan beban itu menindih pundaknya lebih berat dari sebelumnya. Setelah konfrontasi di koridor dengan Marco kemarin—di mana ia melemparkan umpan berbahaya mengenai identitas asli suaminya—suasana di dalam kediaman itu berubah menjadi jauh lebih mencekam.
Alea berdiri di depan cermin besar di kamar utama, merapikan blus sutra berwarna krem yang dipadukan dengan celana panjang hitam. Penampilannya terlihat seperti seorang istri yang siap untuk kegiatan santai, namun di balik lapisan pakaian itu, ia menyembunyikan sebuah perangkat pemancar sinyal yang hanya berukuran sebesar kancing baju.
"Kau akan keluar?" suara rendah Marco memecah kesunyian.
Pria itu sedang duduk di sofa, memegang sebuah tablet yang menampilkan laporan logistik dermaga. Namun, Alea tahu mata Marco tidak benar-benar membaca data itu. Marco sedang memantaunya.
"Aku butuh udara segar, Marco. Don Hugo mengizinkanku menjelajahi taman dan perpustakaan, bukan?" Alea menoleh, memberikan senyum yang sengaja dibuat tampak manis namun hambar.
Marco meletakkan tabletnya. Ia bangkit dan berjalan mendekat. "Kau boleh keluar, tapi protokol keamanan hari ini ditingkatkan. Silas sedang melakukan audit sistem besar-besaran setelah gangguan frekuensi semalam. Jika kau melangkah sepuluh sentimeter dari jalur yang ditentukan, alarm akan berbunyi di seluruh sektor."
Alea merasakan jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. Audit sistem. Itu berarti rencananya untuk menyusup ke jalur kabel di sayap barat akan menjadi jauh lebih sulit. "Aku mengerti. Aku tidak akan melakukan hal bodoh."
"Pastikan itu, Alea," bisik Marco tepat di depan wajahnya. "Karena jika alarm itu berbunyi, bukan aku yang akan datang menjemputmu, melainkan regu taktis Silas. Dan mereka tidak punya protokol untuk membiarkanmu hidup."
Begitu melangkah keluar dari kamar, Alea langsung merasakan "mata" mansion itu mengikutinya. Di setiap sudut langit-langit, kamera dome hitam berputar dengan gerakan halus, mengikuti sensor panas tubuhnya. Dua pengawal bersenjata lengkap berdiri di ujung koridor, berdiri kaku seperti patung namun mata mereka terus memindai setiap inci gerakannya.
Alea berjalan menuju sayap barat, pura-pura hendak kembali ke perpustakaan. Namun, ia sengaja melambat saat melewati sebuah pintu baja yang menyamar sebagai panel dinding kayu. Ia tahu, di balik pintu itu terdapat pusat distribusi listrik cadangan—titik masuk yang paling logis untuk menyadap jaringan internal tanpa melalui server pusat yang dijaga ketat oleh Silas.
"Maaf, Nyonya Vandeborg," sebuah suara berat menghentikan langkahnya.
Seorang pengawal bertubuh raksasa melangkah maju, menghalangi jalannya. "Area ini terlarang untuk hari ini. Instruksi langsung dari Don Hugo."
Alea mengangkat alisnya. "Aku hanya ingin mencari buku referensi di perpustakaan. Apakah perpustakaan juga terlarang sekarang?"
"Perpustakaan hanya bisa diakses melalui koridor utama bawah. Area sayap barat sedang dalam pemeliharaan sistem," jawab pengawal itu tanpa ekspresi.
Alea mengangguk pelan, jantungnya berdebu kencang. Ia bisa melihat sebuah pemindai biometrik di samping pintu baja itu berkedip dengan cahaya merah yang dingin. Protokol ini jauh lebih ketat dari yang ia petakan semalam. Vandeborg sedang menyembunyikan sesuatu yang besar, dan mereka tahu ada penyusup di antara mereka—meskipun mereka belum tahu siapa.
Ia berbalik, berjalan menuju taman belakang dengan langkah yang tetap tenang. Di taman, kondisinya tidak jauh berbeda. Anjing-anjing penjaga jenis Doberman berkeliaran di sepanjang pagar listrik, dan drone pengintai berdengung rendah di atas kepala seperti lalat-lalat besi yang haus darah.
Alea duduk di sebuah kursi taman, membuka sebuah buku tua yang ia bawa. Namun, di balik sampul buku itu, ia menempelkan perangkat kecilnya ke sisi bawah meja besi. Perangkat itu mulai memindai frekuensi radio di sekitarnya.
Enkripsi tingkat militer, batin Alea saat melihat data yang masuk ke jam tangannya yang tersamarkan. Marco tidak bercanda. Sistem ini hampir mustahil ditembus dari luar.
Di saat yang sama, di ruang kerja bawah tanah yang tersembunyi di balik gudang anggur, Marco Vandeborg sedang menatap sebuah peta holografik mansion. Di sampingnya, seorang pria muda dengan kacamata tebal—kontak rahasianya dari kepolisian yang menyamar sebagai teknisi AC—sedang berbisik cepat.
"Arkan, sistemnya sedang dalam mode 'Lockdown' parsial," bisik si teknisi. "Silas memasang firewall baru yang menggunakan pola pengenalan perilaku AI. Jika ada pergerakan yang tidak sesuai dengan rutinitas harian penghuni, sistem akan otomatis mengunci semua pintu keluar."
Marco mengutuk pelan. "Aku butuh jalur ke ruang server pusat malam ini. Data Hitam itu harus diamankan sebelum Hugo memindahkannya ke server lepas pantai minggu depan."
"Ada satu celah," teknisi itu menunjuk ke arah peta. "Jalur ventilasi di sayap barat. Tapi itu melewati kamar mandi tamu di dekat perpustakaan. Masalahnya, area itu sekarang dijaga oleh sensor panas yang sangat sensitif."
Marco terdiam, otaknya bekerja cepat. Ia teringat Alea. Istrinya itu terus mencoba mendekati sayap barat. Jika ia membiarkan Alea menjadi umpan—menciptakan gangguan kecil yang menarik perhatian tim keamanan Silas—ia bisa masuk melalui celah ventilasi tanpa terdeteksi.
Namun, bayangan Alea yang berdiri di depan regu tembak Silas mendadak melintas di pikirannya. Ada dorongan aneh di dadanya yang menolak ide itu.
"Tidak," kata Marco tegas. "Aku akan mencari jalur lain. Jangan libatkan subjek sipil."
"Subjek sipil? Maksudmu istrimu?" teknisi itu menatap Marco dengan heran. "Arkan, dia putri Syailendra. Dia bukan sipil biasa. Dia adalah kunci terbaik kita."
"Aku bilang tidak," geram Marco, matanya berkilat berbahaya. "Cari jalur di sektor pembuangan limbah. Aku akan merencanakan infiltrasi fisik jam dua pagi nanti."
Malam turun dengan selimut kabut yang tebal, membuat Mansion Vandeborg tampak seperti kastel terkutuk yang mengambang di atas tebing. Di dalam kamar, suasana tidak kalah dinginnya. Alea sedang duduk di meja rias, membersihkan wajahnya, sementara Marco berdiri di dekat jendela, mematikan satu per satu sistem elektronik di kamar mereka kecuali sensor keamanan utama.
"Kau tampak gelisah hari ini, Alea," ucap Marco tanpa menoleh.
Alea menghentikan gerakannya. "Sulit untuk tenang ketika kau merasa seperti serangga di bawah mikroskop. Pengawalmu menatapku seolah-olah mereka ingin menguliti kepalaku."
Marco berbalik, menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan. "Mereka hanya menjalankan perintah. Jika kau tetap di jalurmu, kau akan aman."
Alea bangkit, berjalan mendekati Marco hingga mereka berdiri berhadapan. "Dan apa jalurku yang sebenarnya, Marco? Menjadi hiasan di rumah ini sampai kau menemukan apa yang kau cari? Aku tahu kau sedang merencanakan sesuatu. Jalur ventilasi di sayap barat... kau pikir aku tidak menyadarinya?"
Marco tertegun. Ia meraih lengan Alea, menariknya mendekat hingga napas mereka bersentuhan. "Bagaimana kau tahu tentang itu?"
"Aku sudah bilang, aku melihat anomali," bisik Alea, matanya berkilat penuh kemenangan. "Kau ingin Data Hitam itu, kan? Sama sepertiku. Bedanya, kau ingin menggunakannya untuk lencana kepolisianmu, dan aku ingin menggunakannya untuk membebaskan ayahku dari cengkeraman Hugo."
Marco mempererat cengkeramannya. "Kau bermain api, Alea. Jika Hugo atau Silas tahu kau memiliki kemampuan ini, mereka tidak akan memenjarakanmu. Mereka akan membedah otakmu untuk mendapatkan kode enkripsi Syailendra."
"Maka lindungi aku," tantang Alea. "Berikan aku akses ke sistem pusat, dan aku akan membukakan pintu untukmu. Kita bisa keluar dari sini bersama-sama."
Marco menatap mata Alea yang dalam. Untuk pertama kalinya, ia merasa tembok pertahanannya goyah. Wanita ini bukan hanya beban; dia adalah mitra yang paling berbahaya sekaligus paling berharga yang pernah ia miliki.
Tiba-tiba, suara alarm rendah berbunyi dari tablet di meja samping. Cahaya merah berkedip-kedip di seluruh ruangan.
"Ada gangguan di sektor luar," Marco segera melepaskan Alea dan menyambar senjatanya. "Tetap di sini. Jangan bergerak sedikit pun dari tempat tidur ini."
"Marco—"
"Diam!" bentak Marco. Ia memeriksa amunisi pistolnya dengan kecepatan kilat. "Ini bukan latihan. Seseorang baru saja memicu sensor tekanan di jalur rahasia sayap barat. Jika itu bukan orangku, berarti ada pihak ketiga yang mencoba mengambil Data Hitam itu malam ini."
Marco keluar dari kamar dengan gerakan taktis yang sempurna, mengunci pintu dari luar secara digital. Alea berdiri di tengah ruangan yang gelap, hanya diterangi oleh lampu darurat berwarna merah.
Ia tidak takut. Sebaliknya, ia merasa adrenalinnya memuncak. Ia berjalan menuju lemari, menarik keluar alat kecilnya, dan mulai menyambungkannya ke panel di belakang meja rias.
"Kau ingin aku tetap diam, Marco? Maaf, itu bukan gayaku," gumam Alea.
Jemarinya menari di atas layar kecil alatnya. Di luar, suara tembakan mulai terdengar samar di kejauhan, memecah kesunyian malam di atas tebing. Protokol keamanan yang ketat telah ditembus, dan kini, identitas asli mereka bukan lagi satu-satunya hal yang dipertaruhkan. Di sarang ular ini, perang untuk memperebutkan "Data Hitam" telah resmi dimulai, dan Alea Syailendra tidak akan membiarkan suaminya mengambil semua risiko sendirian.