Malam di Mansion Vandeborg selalu memiliki berat yang berbeda dibandingkan siang hari. Ketika lampu taman yang redup mulai menyala dan bayangan pepohonan pinus memanjang seperti jemari raksasa yang mencoba mencengkeram bangunan batu itu, atmosfer di dalam kamar utama menjadi sangat sunyi. Marco Vandeborg berdiri di balkon, membiarkan angin laut yang dingin menghantam wajahnya. Pikirannya tidak berada di sini, melainkan melayang jauh ke masa lima tahun yang lalu, ke sebuah ruangan interogasi yang sempit dan pengap di markas besar kepolisian pusat.
Dalam ingatannya, Marco melihat wajah atasannya yang tampak sepuluh tahun lebih tua di bawah cahaya lampu neon yang berkedip. Di atas meja di antara mereka, tergeletak sebuah folder merah dengan label rahasia negara. Folder itu berisi informasi mentah tentang sesuatu yang disebut Data Hitam.
"Data Hitam bukan sekadar daftar transaksi ilegal, Arkan," suara atasannya bergema dalam ingatannya. "Itu adalah fondasi dari seluruh kekuasaan Syailendra dan Vandeborg. Di sana ada rekaman suap untuk hakim agung, bukti kepemilikan aset fiktif di kepulauan Karibia, hingga daftar nama agen kita yang telah mereka beli. Jika data itu jatuh ke tangan yang salah, atau jika Vandeborg berhasil mengintegrasikannya dengan sistem enkripsi mereka sendiri, negara ini akan jatuh ke tangan mafia tanpa melepaskan satu peluru pun."
Marco mengepalkan tangannya di pagar besi balkon hingga buku jarinya memutih. Baginya, Data Hitam bukan sekadar misi. Itu adalah hutang darah. Tiga rekan setimnya tewas dalam penyergapan gagal di pelabuhan setahun lalu karena informasi mereka bocor. Seseorang di dalam sistem kepolisian telah menjual mereka, dan Marco yakin nama pengkhianat itu ada di dalam Data Hitam tersebut. Menikahi Alea Syailendra adalah langkah paling berisiko yang pernah ia ambil, namun itu adalah satu-satunya jalan untuk masuk ke dalam sirkulasi informasi yang paling tertutup.
Ia menoleh sedikit, melihat pantulan Alea di kaca pintu balkon. Istrinya itu sedang duduk di meja rias, tampak sibuk dengan rutinitas perawatan wajah malamnya. Namun, Marco tidak tertipu. Ia telah memperhatikan cara jemari Alea bergerak, terlalu presisi dan terlalu metodis. Ada sesuatu yang disembunyikan wanita itu di balik botol kosmetik mahalnya. Marco melangkah masuk ke dalam kamar, sengaja membuat suara langkah sepatunya terdengar berat di atas lantai kayu. Alea tidak tersentak. Ia hanya melirik melalui cermin dengan tatapan yang tenang, seolah kehadiran pria bersenjata di kamarnya adalah hal paling biasa di dunia.
"Kau tampak sangat terobsesi dengan pemandangan malam, Marco," ucap Alea sambil mengoleskan krim ke punggung tangannya. "Apa laut lebih menarik daripada istrimu sendiri?"
Marco tidak membalas sindiran itu. Ia berjalan menuju lemari, melepas jasnya, dan menggantungnya dengan rapi. "Kau terlalu banyak bicara untuk seseorang yang seharusnya merasa takut, Alea. Don Hugo bertanya padaku tadi siang apakah kau sudah mulai menyesuaikan diri. Aku bilang padanya kau sangat betah di perpustakaan."
Alea menghentikan gerakannya sejenak. "Aku suka sejarah, Marco. Dan perpustakaanmu memiliki banyak hal yang bisa dipelajari. Bukankah lebih baik aku menyibukkan diri dengan buku daripada mencoba memanjat pagar berduri di depan?"
Marco berjalan mendekat, berdiri di belakang Alea. Ia menatap pantulan mata istrinya di cermin. Mata itu gelap dan dalam, menyimpan rahasia yang bahkan Marco pun belum bisa pecahkan. "Berhati-hatilah dengan apa yang kau pelajari, Alea. Sejarah keluarga Vandeborg ditulis dengan darah, bukan tinta. Jika kau menggali terlalu dalam, kau mungkin tidak suka dengan apa yang kau temukan."
"Aku sudah terbiasa dengan darah, Marco. Jangan lupa siapa nama belakangku sebelum aku menjadi seorang Vandeborg," sahut Alea dengan nada dingin yang menusuk.
Marco mendengus tipis, lalu berbalik menuju sofa tempat ia biasa menghabiskan malam. Ia memejamkan mata, namun seluruh indranya tetap waspada. Ia harus mendapatkan akses ke ruang bawah tanah minggu ini. Waktunya semakin sempit. Jika timnya benar, pemindahan Data Hitam akan dilakukan saat bulan purnama berikutnya, dan itu berarti ia hanya punya waktu sepuluh hari untuk memetakan jalur fisik menuju server utama.
Di sisi lain ruangan, Alea memastikan Marco sudah tampak tenang dengan mata tertutup. Ia tidak segera beranjak ke tempat tidur. Dengan gerakan yang sangat halus, ia meraih sebuah benda kecil dari dalam laci meja rias, sebuah alat yang tampak seperti tutup botol parfum biasa, namun sebenarnya adalah pemindai frekuensi radio pasif jarak dekat. Alea mulai bergerak di sekitar kamar dengan alasan merapikan barang-barang. Ia berjalan mendekati dinding di dekat pintu, lalu bergeser ke arah sudut plafon. Di balik topeng ketenangannya, otak Alea sedang bekerja keras memproses data yang dikirimkan oleh alat mini di tangannya ke sebuah layar mikro yang tertanam di balik telapak tangannya.
"Jaringan sensor internal ini sangat rapat," batin Alea.
Ia mendeteksi adanya sensor tekanan di bawah karpet dekat pintu keluar, dan empat sensor inframerah yang saling bersilangan di area jendela. Namun, yang paling menarik perhatiannya adalah sebuah anomali sinyal di balik dinding kamar mandi. Ada aliran data yang konstan di sana, sebuah protokol enkripsi yang jauh lebih kuat daripada jaringan CCTV biasa. Alea yakin itu adalah jalur kabel pusat. Jika ia bisa menanamkan penyadap fisik di sana, ia bisa melewati semua perlindungan digital yang dipasang oleh teknisi Vandeborg.
Alea melirik ke arah Marco. Pria itu tampak tidak bergerak, namun Alea tahu Marco adalah tipe pengintai yang bisa bangun dalam satu milidetik jika mendengar suara yang tidak wajar. Ia harus sangat berhati-hati. Ia kembali ke meja rias, menyimpan alat mininya dengan aman, lalu berjalan menuju ranjang. Saat ia menarik selimut, ia merasakan tatapan Marco padanya. Meskipun mata pria itu terpejam, Alea bisa merasakan aura kewaspadaan yang memancar darinya.
"Kau tahu, Marco," suara Alea memecah keheningan malam. "Terkadang aku bertanya-tanya, siapa yang sebenarnya sedang kau lindungi? Kau menjagaku agar aku tidak kabur, atau kau menjagaku agar orang-orangmu tidak membunuhku?"
Marco membuka matanya sedikit, menatap langit-langit yang gelap. "Di rumah ini, tidak ada perbedaan antara perlindungan dan pengawasan, Alea. Tidurlah. Besok akan menjadi hari yang panjang. Don Hugo ingin kau menemaninya minum teh di taman pagi-pagi sekali."
Alea terdiam. Pertemuan pagi dengan Don Hugo biasanya berarti satu hal, yaitu intimidasi. Ia memiringkan tubuhnya, membelakangi Marco. Di bawah bantalnya, ia menggenggam sebuah chip memori kecil yang berisi potongan kode yang berhasil ia curi dari sistem perpustakaan tadi siang.
"Besok memang akan menjadi hari yang panjang," bisiknya dalam hati. "Tapi bukan untukku."
Keesokan paginya, suasana di taman utama Mansion Vandeborg tampak begitu asri namun menyesakkan. Don Hugo duduk di kursi rotan putih, dikelilingi oleh tanaman mawar yang mekar sempurna. Marco berdiri beberapa langkah di belakang ayahnya, tangan berada di belakang punggung, tampak seperti patung pengawal yang sempurna. Alea datang dengan gaun sutra berwarna biru pucat, tampak sangat serasi dengan suasana taman. Ia duduk di hadapan Hugo, menuangkan teh ke cangkir pria tua itu dengan gerakan tangan yang sangat tenang.
"Kau tampak sangat menyukai perpustakaan kami, Alea," Hugo memulai pembicaraan setelah menyesap tehnya. "Marco bilang kau menghabiskan waktu berjam-jam di sana."
"Saya menemukan beberapa catatan menarik tentang jalur perdagangan kuno, Don Hugo. Sangat edukatif bagi seseorang yang baru saja bergabung dengan keluarga besar seperti ini," jawab Alea dengan nada sopan yang sempurna.
Hugo menatap Alea dengan mata yang seolah bisa menembus tulang tengkorak wanita itu. "Perdagangan kuno. Menarik. Aku selalu menghargai wanita yang memiliki otak. Namun, otak yang terlalu aktif terkadang bisa menjadi beban bagi pemiliknya. Di rumah ini, kami lebih menghargai kesetiaan daripada kecerdasan."
Alea memberikan senyum tipis. "Saya percaya kesetiaan lahir dari pemahaman yang mendalam, bukan sekadar kepatuhan buta. Bukankah begitu, Marco?"
Alea menoleh ke arah suaminya, melemparkan pertanyaan yang penuh jebakan. Marco tidak merubah ekspresi wajahnya sedikit pun. "Fokuslah pada tehmu, Alea. Don Hugo tidak suka pembicaraan filosofis di pagi hari."
Hugo tertawa, suara yang terdengar seperti gesekan batu di bawah tanah. "Marco benar. Dia selalu menjadi orang yang praktis. Itu sebabnya aku sangat mempercayainya. Dia tahu kapan harus menarik pelatuk dan kapan harus menarik napas."
Saat pembicaraan terus berlanjut, Alea menyadari sesuatu. Marco tidak benar-benar menatap ke arah mereka. Mata Marco terus bergerak ke arah gerbang sayap barat, tempat beberapa pengawal sedang memindahkan peti-peti baja yang tampak sangat berat. Dari cara Marco menatap peti itu, Alea tahu itu bukan berisi senjata atau barang selundupan biasa. Itu adalah server portabel. Mereka sedang memindahkan bagian dari sistem untuk Data Hitam.
Insting peretasnya bergejolak. Jika ia bisa mendekati peti-peti itu, ia bisa menanamkan pelacak frekuensi. Namun, pengawasan di taman ini sangat ketat. Ada penembak jitu yang berjaga di menara jam, dan Marco sendiri berada di sana sebagai pengawas utama. Pembicaraan pagi itu akhirnya berakhir dengan instruksi Hugo agar Alea mengikuti Marco ke dermaga siang nanti. Sebuah langkah yang aneh, namun Alea tahu itu adalah cara Hugo untuk menunjukkan kepada dunia luar bahwa hubungan Syailendra dan Vandeborg telah menyatu.
Saat mereka berjalan kembali menuju mansion, Marco memegang lengan Alea dengan cukup kuat untuk menghentikannya sejenak di balik pilar besar.
"Apa yang kau lihat di taman tadi, Alea?" bisik Marco tajam.
Alea menatap suaminya dengan tatapan polos yang dibuat-buat. "Aku melihat mawar yang indah dan seorang ayah yang sangat bangga pada putranya. Kenapa? Apa aku melewatkan sesuatu?"
"Jangan bermain-main denganku," geram Marco. "Kau terus menatap ke arah sayap barat. Jika kau mencoba mendekati peti-peti itu, aku sendiri yang akan memastikan kau dikurung di gudang bawah tanah tanpa cahaya sedikit pun."
Alea mendekatkan wajahnya ke arah Marco, aroma parfum mawarnya memenuhi ruang di antara mereka. "Kau sangat khawatir dengan apa yang aku lihat, Marco. Itu membuatku bertanya-tanya, apa yang sebenarnya sedang kau sembunyikan dari ayahmu sendiri?"
Marco tertegun sejenak. Ia melihat kilatan kecerdasan yang sangat tajam di mata Alea, sebuah tantangan terbuka dari seorang Oracle kepada seorang eksekutor. Sebelum ia sempat membalas, Alea sudah menarik lengannya dan berjalan pergi dengan langkah yang anggun, meninggalkan Marco yang terpaku dalam keraguan.
Di dalam kamarnya, Alea segera mengeluarkan alat mininya. Ia telah berhasil memetakan sebagian besar jaringan sensor di lantai utama. Sekarang, ia hanya butuh satu kesempatan lagi untuk masuk ke ruang server tua yang ia deteksi melalui sinyal bocor semalam.
"Peta sudah siap," gumamnya sambil menatap layar mikro di telapak tangannya. "Sekarang tinggal menunggu sang eksekutor lengah."
Tanpa ia sadari, di balik pintu kamar, Marco berdiri diam, mendengarkan setiap suara kecil dari dalam. Ia tahu Alea sedang merencanakan sesuatu, dan ia tahu Data Hitam adalah pusat dari segalanya. Di rumah yang penuh dengan kamera dan sensor ini, dua orang asing yang terikat pernikahan sedang memulai permainan bayangan yang akan menentukan siapa yang akan bertahan saat fajar terakhir menyingsing.