Cahaya pagi yang menyusup masuk melalui celah gorden beledu di kamar utama Mansion Vandeborg tidak pernah benar-benar terasa hangat. Sinar itu justru mempertegas debu yang menari di udara dan sudut-sudut tajam perabotan kayu ek yang gelap. Marco Vandeborg sudah berdiri di depan jendela, mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku. Matanya tidak menatap taman yang asri di bawah, melainkan pantulan Alea Syailendra yang baru saja bangun di atas ranjang besar mereka.
Marco memperhatikan cara Alea bergerak. Wanita itu tidak langsung mengucek mata atau merenggangkan tubuh seperti orang awam. Alea duduk tegak, matanya menyapu langit-langit kamar selama tiga detik, berhenti tepat di titik di mana sensor panas tersembunyi berada, sebelum akhirnya beralih ke arah Marco. Ketajaman observasi itu bukanlah sesuatu yang bisa dipelajari dalam semalam. Itu adalah insting seorang profesional.
"Kau selalu bangun lebih awal dariku, Marco," ucap Alea. Suaranya serak karena baru bangun tidur, namun nadanya tetap waspada. "Apa kau sedang menghitung jumlah pengawal di bawah, atau sedang memastikan aku tidak kabur lewat balkon?"
Marco berbalik perlahan, menyilangkan tangan di depan d**a. "Aku sedang memastikan bahwa jadwal sarapan keluarga tidak terganggu karena istrimu masih bermimpi tentang kebebasan, Alea. Don Hugo menghargai ketepatan waktu lebih dari apa pun."
Alea turun dari ranjang, langkah kakinya tidak bersuara di atas karpet tebal. "Ketepatan waktu atau kontrol mutlak? Di rumah ini, aku merasa setiap detik yang kuhabiskan sudah diatur oleh algoritma keamananmu."
"Algoritma itu yang menjagamu tetap hidup," balas Marco dingin.
Sepanjang perjalanan menuju ruang makan di lantai bawah, Marco terus mengamati Alea dari jarak yang terjaga. Ia menyadari sesuatu yang sangat spesifik. Setiap kali mereka melewati tikungan koridor, Alea akan melambatkan langkahnya selama sepersekian detik. Matanya tidak tertuju pada lukisan klasik peninggalan abad ke-18 yang dipajang di dinding, melainkan pada celah kecil di antara bingkai foto dan tembok. Di sana terdapat kamera mikro yang hanya sebesar lubang jarum. Alea tidak hanya melihat; dia sedang memetakan sistem keamanan secara visual.
Kecurigaan Marco semakin menebal. Ia teringat laporan tentang seorang peretas bernama Oracle yang pernah membobol jaringan utama Syailendra tiga tahun lalu. Oracle dikenal karena kemampuannya memetakan infrastruktur fisik sebelum melakukan serangan digital. Marco bertanya-tanya, apakah kecerdasan Alea hanya sebatas kurasi seni, ataukah dia menyembunyikan identitas yang jauh lebih berbahaya di balik wajah porselennya itu.
Di ruang makan, suasana terasa mencekam. Don Hugo tidak ada di sana, digantikan oleh Lyra Vandeborg yang sudah duduk manis sambil menyesap kopi hitamnya. Lyra adalah sepupu Marco yang memiliki lidah setajam pisau bedah dan mata yang selalu mencari kelemahan orang lain.
"Selamat pagi, pasangan paling serasi di kota ini," sapa Lyra dengan nada sarkasme yang kental. "Kudengar kau menghabiskan waktu sangat lama di perpustakaan kemarin, Alea. Apa kau sedang mencari buku resep untuk meracuni suamimu, atau mencari jalan keluar rahasia?"
Alea menarik kursi dan duduk dengan tenang. "Aku hanya menyukai aroma kertas tua, Lyra. Itu mengingatkanku pada rumah. Di sana, setidaknya buku tidak bisa berbicara dan menghakimi orang lain."
Lyra terkekeh, suara tawanya terdengar kering. "Buku mungkin diam, tapi rak-rak di perpustakaan itu memiliki sensor beban yang sangat sensitif. Pelayan melapor padaku bahwa kau berdiri di depan rak bagian sejarah hukum selama satu jam tanpa mengambil satu buku pun. Apa yang kau lakukan? Mencoba menembus dinding dengan kekuatan pikiran?"
Marco merasakan ketegangan di udara. Ia melirik Alea, menunggu jawaban wanita itu.
"Aku sedang mengagumi konstruksi raknya, Lyra," jawab Alea tanpa ragu. "Arsiteknya pasti jenius karena bisa menyembunyikan jalur kabel data di balik kayu jati tanpa merusak estetika ruangannya. Bukankah begitu, Marco?"
Marco hampir saja memperlihatkan sedikit keterkejutan, namun ia segera menekan emosinya. Alea baru saja mengakui secara tersirat bahwa dia tahu tentang jalur kabel tersebut. Ini adalah permainan berbahaya. Alea sedang memancing, dan Lyra adalah umpan yang tidak sabaran.
"Cukup, Lyra," potong Marco dengan nada otoriter. "Jangan menginterogasi istriku di meja makan. Jika kau begitu penasaran dengan aktivitasnya, kau bisa memeriksa log kamera sendiri daripada membuang waktu dengan basa-basi yang membosankan."
Lyra mengangkat bahu, meletakkan cangkirnya dengan denting yang keras. "Aku hanya memperingatkan, Marco. Jangan sampai kecantikan wanita ini membuatmu buta. Don Hugo tidak suka ada tikus di dalam lumbungnya, apalagi tikus yang memakai gaun sutra mahal."
Setelah sarapan yang tidak menyenangkan itu berakhir, Marco menarik Alea menuju lorong sepi yang mengarah ke taman belakang. Ia memastikan tidak ada pelayan di sekitar mereka sebelum bicara.
"Apa yang kau lakukan, Alea?" tanya Marco, suaranya berupa bisikan tajam. "Kau baru saja memberi tahu Lyra bahwa kau tahu tentang jalur kabel di perpustakaan. Kau ingin mati lebih cepat?"
Alea menepis tangan Marco yang memegang lengannya. "Lyra sudah curiga sejak awal. Jika aku berpura-pura bodoh, dia justru akan semakin menggali. Dengan memberikan sedikit kebenaran yang tidak berbahaya, aku membuatnya berpikir bahwa aku hanya wanita sombong yang sok tahu tentang arsitektur."
"Kebenaran itu tidak pernah tidak berbahaya di rumah ini," geram Marco. "Kau bermain dengan api, Alea. Lyra akan melaporkan percakapan ini pada Silas, dan Silas tidak akan segan-segan membongkar kamarmu untuk mencari perangkat apa pun yang kau sembunyikan."
Alea menatap Marco dengan berani. Matanya berkilat penuh kecerdasan yang membuat Marco merasa tidak nyaman. "Lalu kenapa kau tidak melaporkanku sendiri, Marco? Kau adalah putra mahkota. Kau bisa menyerahkanku sekarang juga dan mendapatkan poin tambahan dari ayahmu."
Marco terdiam. Pertanyaan itu menghantamnya tepat di ulu hati. Ia tidak bisa melaporkan Alea karena itu akan mengacaukan penyamarannya sendiri. Jika Alea ditangkap dan diinterogasi secara brutal, identitas Marco sebagai agen kepolisian bisa saja terbongkar dalam prosesnya. Namun, ada alasan lain yang lebih dalam, sesuatu yang tidak ingin diakui oleh Marco bahkan kepada dirinya sendiri. Ia merasa tertarik dengan keberanian wanita ini.
"Aku tidak melaporkanmu karena kau adalah tanggung jawabku," ucap Marco akhirnya, suaranya terdengar lebih tenang namun tetap dingin. "Dan aku tidak suka jika barang milikku dirusak oleh orang lain sebelum aku selesai menggunakannya."
Alea tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh dengan ejekan. "Kau selalu menyebutku barang, Marco. Tapi perhatikan baik-baik. Barang ini mungkin memiliki kunci untuk menghancurkan seluruh mansionmu."
Alea berbalik dan berjalan pergi, meninggalkan Marco yang berdiri mematung di bawah bayangan pilar batu besar. Marco mengamati cara Alea berjalan. Wanita itu tidak berjalan lurus; dia selalu mengambil jalur yang membuatnya berada di luar sudut pandang langsung kamera pengawas statis. Observasi itu membuat Marco semakin yakin bahwa Alea bukan sekadar korban politik. Dia adalah pemain aktif.
Beberapa jam kemudian, Marco duduk di ruang kerjanya, menatap layar monitor yang menampilkan aktivitas di koridor sayap barat. Ia melihat Alea sedang duduk di sebuah kursi panjang di taman, tampak sedang membaca buku. Namun, jika diperhatikan lebih teliti melalui zoom kamera, jemari Alea tidak membalik halaman buku. Jemari itu bergerak dalam irama tertentu di pinggiran sampul buku yang keras.
"Dia sedang mengetik kode biner," gumam Marco pelan.
Marco menyadari bahwa Alea menggunakan getaran atau mungkin sensor sentuh mikro yang disembunyikan di sampul buku itu untuk berkomunikasi dengan perangkat luar. Kemampuan ini terlalu spesifik untuk seorang kurator seni. Kecurigaan Marco kini beralih menjadi sebuah kesimpulan yang hampir pasti. Alea Syailendra adalah Oracle, atau setidaknya dia bekerja sangat dekat dengan peretas legendaris itu.
Tiba-tiba, pintu ruang kerja Marco terbuka tanpa ketukan. Silas masuk dengan wajah yang gelap. Silas adalah kepala keamanan utama Don Hugo, pria yang tidak mengenal kata belas kasih dan selalu mencurigai bayangannya sendiri.
"Ada masalah, Marco?" tanya Silas, matanya melirik ke arah monitor yang sedang diperhatikan Marco.
Marco dengan cepat mengganti layar monitor ke tabel logistik dermaga. "Hanya masalah pengiriman yang tertunda di pelabuhan. Ada apa, Silas? Kau tampak seperti baru saja melihat hantu."
Silas berjalan mendekati meja Marco, meletakkan sebuah perangkat kecil yang tampak seperti serpihan logam. "Sensor frekuensi kita menangkap sinyal keluar dari area taman sepuluh menit yang lalu. Sinyalnya sangat singkat, terenkripsi dalam tingkat militer. Don Hugo memerintahkanku untuk memeriksa setiap perangkat komunikasi di rumah ini."
Marco merasakan dingin menjalar di punggungnya. Sinyal itu pasti berasal dari Alea. "Kau sudah menemukan sumbernya?"
"Belum secara pasti. Tapi Lyra mengatakan bahwa istrimu sedang berada di taman saat sinyal itu muncul. Aku akan pergi ke sana sekarang untuk melakukan pemeriksaan fisik," ucap Silas sambil meraba pistol di pinggangnya.
"Jangan," potong Marco dengan cepat. "Jika kau menyerang istriku tanpa bukti yang jelas di depan para pengawal, itu akan mempermalukan aku dan Don Hugo. Hubungan dengan Syailendra masih sangat rapuh. Biar aku yang menanganinya. Aku akan membawanya masuk dan memeriksa apa yang dia bawa."
Silas menatap Marco selama beberapa detik, seolah sedang menimbang-nimbang loyalitas pria di depannya. "Kau punya waktu tiga puluh menit, Marco. Jika dalam tiga puluh menit kau tidak memberiku jawaban yang memuaskan, aku akan mengambil alih dengan caraku sendiri. Dan kau tahu caraku tidak pernah lembut."
Silas berbalik dan keluar dari ruangan. Marco segera berdiri, jantungnya berdegup kencang. Ia harus mencapai Alea sebelum Silas atau pengawal lainnya bergerak. Ia berlari kecil menuruni tangga, menuju taman belakang dengan pikiran yang berkecamuk.
Saat ia sampai di taman, ia menemukan Alea masih duduk tenang dengan bukunya. Wajahnya tampak damai di bawah sinar matahari sore, sangat kontras dengan badai yang sedang menuju ke arahnya.
"Ikut aku sekarang, Alea," perintah Marco, suaranya mengandung urgensi yang tidak bisa dibantah.
Alea mendongak, menutup bukunya perlahan. "Ada apa, Marco? Kau tampak seperti orang yang baru saja melihat eksekusi mati."
"Mungkin memang iya jika kau tidak segera bergerak," bisik Marco. Ia menyambar lengan Alea dan menariknya berdiri. "Silas mendeteksi sinyalmu. Dia sedang menuju ke sini untuk menggeledahmu. Berikan buku itu padaku sekarang."
Alea tampak tertegun sejenak, namun dia tidak melawan. Dia memberikan buku itu kepada Marco. "Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan, Marco."
"Berhenti bersandiwara!" bentak Marco pelan saat mereka berjalan cepat menuju koridor dalam. "Aku melihat jarimu bergerak di sampul buku ini. Aku tahu kau mencoba mengirim sinyal keluar. Jika Silas menemukan perangkat ini padamu, kau akan berakhir di ruang bawah tanah sebelum matahari terbenam."
Mereka masuk ke dalam kamar utama dan Marco segera mengunci pintu. Ia membolak-balik buku itu dengan kasar, meraba setiap inci sampulnya. Di sana, tersembunyi di dalam lapisan kulit buku yang sangat tipis, terdapat sebuah pemancar mikro yang nyaris tidak terasa oleh sentuhan biasa. Marco menggunakan pisau kecil dari sakunya untuk mencungkil perangkat itu keluar.
"Ini dia," ucap Marco, mengangkat chip kecil itu di depan mata Alea. "Katakan padaku, Alea. Siapa yang kau hubungi? Apa kau bekerja untuk ayahmu, atau kau punya agenda sendiri?"
Alea berdiri mematung di tengah ruangan. Matanya tidak lagi menunjukkan ketenangan, melainkan sebuah kilatan perlawanan yang murni. "Aku menghubungi satu-satunya orang yang bisa membantuku keluar dari neraka ini, Marco. Dan itu bukan ayahku."
Suara ketukan keras terdengar di pintu kamar. Suara Silas bergema dari luar, penuh dengan otoritas yang mengancam.
"Tuan Marco, waktu tiga puluh menit sudah habis. Buka pintunya sekarang, atau kami akan mendobraknya atas perintah Don Hugo."
Marco menatap chip di tangannya, lalu menatap Alea. Ia tahu ini adalah saat di mana ia harus memilih. Menyerahkan Alea berarti mengamankan posisinya namun kehilangan kunci untuk menghancurkan Vandeborg dari dalam. Melindunginya berarti ia sedang menggali kuburannya sendiri.
"Sembunyikan buku ini di bawah lantai kayu di balik lemari," perintah Marco sambil melemparkan buku itu kembali ke Alea. "Cepat!"
Marco kemudian berjalan menuju pintu, menarik napas panjang untuk menenangkan dirinya. Ia membuka pintu dan berdiri tegak di hadapan Silas dan tiga pengawal bersenjata lengkap.
"Apa maksudnya ini, Silas?" tanya Marco dengan suara yang sangat tenang dan penuh wibawa. "Aku sedang berbicara dengan istriku dan kau datang mengganggu seperti preman jalanan."
Silas mencoba mengintip ke dalam kamar. "Mana perangkat komunikasi yang terdeteksi itu, Marco? Jangan bilang kau mencoba melindunginya."
Marco tertawa dingin, sebuah tawa yang meremehkan. "Aku sudah memeriksa seluruh pakaiannya dan buku yang dia baca. Tidak ada apa-apa kecuali kertas dan tinta. Sinyal yang kau tangkap mungkin berasal dari alat pelacak yang dipasang pengawalmu sendiri yang terlalu dekat dengan taman. Apa kau begitu tidak kompeten sehingga tidak bisa membedakan sinyal musuh dan sinyalmu sendiri?"
Wajah Silas memerah karena marah, namun dia tidak bisa membantah putra Don Hugo tanpa bukti fisik di tangan. "Aku akan memeriksa log sinyal itu sekali lagi, Marco. Tapi ingat, jika aku menemukan satu saja bukti bahwa ada pengkhianat di bawah atap ini, aku tidak akan peduli siapa istrinya."
Silas memberi isyarat kepada pengawalnya untuk mundur. Marco menutup pintu kamar kembali dan menguncinya. Ia bersandar pada pintu, merasa tenaganya terkuras habis. Ia menoleh ke arah Alea yang masih berdiri di tempat yang sama.
"Kau berutang nyawa padaku, Alea," ucap Marco pelan. "Dan mulai sekarang, kau tidak akan menyentuh perangkat apa pun tanpa seizinku. Jika kau melanggar lagi, aku sendiri yang akan menyerahkanmu pada Silas."
Alea tidak menjawab. Dia hanya menatap Marco dengan tatapan yang sulit diartikan, sebuah campuran antara rasa terima kasih yang terpaksa dan kecurigaan yang semakin dalam. Di kamar itu, di tengah keheningan yang menyesakkan, kedua mata-mata itu menyadari bahwa mereka kini terikat dalam sebuah rahasia yang jauh lebih berbahaya daripada pernikahan mereka sendiri. Kecurigaan pertama memang telah lewat, namun benih-benih pengkhianatan baru saja mulai tumbuh.