Sinyal Rahasia

1718 Words
Malam di Mansion Vandeborg tidak pernah benar-benar sunyi. Di balik kemegahan dinding batu yang dingin, selalu ada dengung halus dari sistem ventilasi dan detak mekanis dari ribuan sensor yang terjaga. Alea Syailendra duduk di tepi ranjang, menatap jemarinya yang masih sedikit gemetar. Kejadian dengan Silas sore tadi hampir saja menghancurkan segalanya. Jika Marco tidak melakukan intervensi, ia mungkin sudah berada di ruang interogasi bawah tanah sekarang. Ia melirik ke arah sofa, tempat Marco duduk dengan laptop di pangkuannya. Pria itu tidak bicara sepatah kata pun sejak mereka kembali ke kamar. Ketegangan di antara mereka terasa seperti kawat baja yang ditarik kencang, siap putus kapan saja. Alea tahu bahwa Marco menyelamatkannya bukan karena rasa cinta, melainkan karena ia adalah variabel yang masih dibutuhkan dalam perhitungan pria itu. "Jangan berpikir untuk menggunakan buku itu lagi," ucap Marco tiba-tiba, memecah keheningan tanpa mengalihkan pandangan dari layar. "Silas telah meningkatkan sensitivitas pemindai frekuensi di seluruh area taman. Jika ada satu bit data pun yang bocor keluar, dia akan tahu itu berasal dari koordinat kamar ini." Alea menarik napas panjang, mencoba menstabilkan suaranya. "Aku butuh menghubungi kontakku, Marco. Ada informasi tentang pengiriman chip enkripsi dari Singapura yang akan tiba di dermaga besok malam. Ayahku terlibat, dan jika Vandeborg mendapatkannya lebih dulu, posisi Syailendra akan habis." Marco menutup laptopnya dengan suara keras yang bergema di ruangan itu. Ia berdiri dan melangkah mendekati Alea. "Kau masih peduli pada posisi ayahmu? Setelah dia menjualmu ke rumah ini seperti komoditas politik?" "Ini bukan tentang ayahku," sahut Alea, matanya berkilat menantang. "Ini tentang keseimbangan. Jika satu pihak memegang kendali penuh atas enkripsi komunikasi di wilayah ini, maka tidak akan ada lagi tempat untuk bersembunyi. Termasuk bagimu, Inspektur." Marco terdiam sejenak mendengar sebutan itu. Ia merendahkan tubuhnya hingga wajahnya sejajar dengan Alea. "Dengar baik-baik. Di mansion ini, satu-satunya cara untuk mengirim sinyal tanpa terdeteksi adalah melalui jalur fisik. Enkripsi nirkabel di sini menggunakan protokol lompatan frekuensi yang dikelola oleh AI Silas. Kau tidak akan bisa menembusnya dari kamar ini." Alea mengepalkan tangannya. "Pasti ada celah. Setiap sistem yang dibuat manusia pasti memiliki lubang." "Ada satu," bisik Marco, suaranya nyaris tidak terdengar. "Ruang server tua di sektor nol. Itu adalah sisa-sisa infrastruktur awal saat gedung ini dibangun kembali sepuluh tahun lalu. Kabel-kabelnya masih menggunakan serat optik generasi lama yang tidak terintegrasi sepenuhnya dengan sistem AI milik Silas. Jika kau bisa masuk ke sana, kau bisa menanamkan transmisi data melalui jalur kabel bawah laut yang terhubung langsung ke terminal publik." Mata Alea melebar. "Sektor nol? Itu area terlarang di bawah gudang anggur, bukan?" "Benar. Dan penjagaannya tidak seketat sayap barat karena Hugo menganggap tempat itu hanya berisi sampah elektronik," kata Marco. Pria itu menegakkan tubuhnya kembali. "Aku akan pergi ke sana malam ini. Ada sesuatu yang harus kupastikan tentang Data Hitam. Jika kau ingin mengirim sinyalmu, kau punya waktu lima menit saat aku mengalihkan perhatian penjaga di pintu masuk gudang." Alea menatap suaminya dengan ragu. "Kenapa kau membantuku?" Marco tidak menjawab. Ia hanya mengambil jaket hitamnya dan memeriksa amunisi di balik pinggangnya. "Jangan membuatku menyesali keputusan ini, Alea. Jika kau tertangkap, aku akan menyangkal pernah bicara denganmu." Tepat pukul dua pagi, saat kabut laut menyelimuti tebing Mansion Vandeborg, mereka bergerak dalam kegelapan. Marco memandu Alea melalui jalur pelayan yang jarang digunakan. Mereka menuruni tangga melingkar yang sempit menuju ruang bawah tanah. Bau kelembapan dan anggur tua mulai menusuk hidung. Di depan pintu baja besar yang menuju gudang anggur, dua pengawal berdiri tegak dengan senapan mesin ringan tergantung di bahu mereka. Marco memberi isyarat agar Alea tetap berada di balik bayangan pilar. "Satu menit," bisik Marco. Marco melangkah keluar dari kegelapan dengan santai, seolah-olah ia hanya seorang tuan rumah yang sedang mengalami insomnia. "Kalian berdua, ada laporan gangguan di pagar sektor timur. Silas memanggil semua unit cadangan ke sana sekarang. Pergilah." Kedua pengawal itu tampak ragu. "Tapi Tuan Marco, instruksi kami adalah tetap di sini." "Apa kau sedang mendebat perintah putra Don Hugo?" tanya Marco dengan suara rendah yang mengandung otoritas mematikan. "Pergi sekarang atau aku sendiri yang akan melaporkan ketidaksigapan kalian pada ayahku." Ketakutan akan kemarahan Hugo mengalahkan kepatuhan pada prosedur. Kedua pengawal itu memberi hormat dan segera berlari menuju sektor timur. Marco segera memberi isyarat pada Alea. Mereka masuk ke dalam gudang anggur, melewati rak-rak botol yang berdebu hingga sampai di sebuah dinding bata yang tampak buntu. Marco menekan salah satu batu bata yang sedikit menonjol. Dinding itu bergeser dengan suara geraman mesin yang berat, memperlihatkan sebuah lorong sempit yang menuju lebih dalam ke perut bumi. Di ujung lorong itu terdapat sebuah ruangan yang dipenuhi oleh rak-rak server kuno dengan lampu indikator yang berkedip lemah dalam warna hijau dan kuning. Inilah ruang server tua. Alea segera berlari menuju konsol utama. Tangannya bergerak dengan kecepatan yang luar biasa, membuka panel akses dan menghubungkan perangkat mininya ke port serial yang sudah berkarat. "Tiga menit tersisa, Alea," ucap Marco sambil berjaga di ambang pintu, matanya terus memperhatikan lorong di belakang mereka. Alea berkonsentrasi penuh. Layar monitor tabung yang tua itu mulai menampilkan barisan kode hijau. "Sistemnya sangat lambat. Aku mencoba melakukan bypass pada router utama agar sinyalnya terbungkus dalam paket data pemeliharaan rutin." "Cepatlah," desak Marco. Di dalam hatinya, Marco juga memiliki agenda sendiri. Sambil mengawasi Alea, ia menggunakan pemindai biometrik portabelnya pada salah satu terminal cadangan di sudut ruangan. Ia sedang mencari jejak direktori yang diberi kode nama Kronos. Menurut informasi intelijen kepolisian, Kronos adalah nama lain dari Data Hitam sebelum dienkripsi ulang oleh Silas. Monitor di depan Marco berkedip. Ia menemukan sebuah entri data yang sangat besar dan terkunci di bawah tujuh lapis perlindungan. Ini dia. Lokasi fisiknya ternyata bukan di server utama sayap barat, melainkan tersimpan di dalam drive fisik yang tersembunyi di ruangan ini, menyamar sebagai bagian dari sistem pendingin tua. "Marco, aku berhasil mengirim paket datanya," bisik Alea dengan nada lega. "Kontakku sudah menerima koordinatnya. Sekarang aku hanya perlu menutup jejak log ini." Namun, tepat saat Alea akan menekan tombol terakhir, suara langkah kaki berat terdengar dari atas. Bukan suara dua pengawal tadi, melainkan langkah yang lebih berirama dan berat. Suara sepatu bot militer. "Silas," desis Marco. "Dia tahu kita di sini." "Apa? Bagaimana bisa?" tanya Alea dengan wajah pucat. "Sensor tekanan di pintu gudang anggur. Aku lupa bahwa Silas memasang lapisan keamanan tambahan yang independen dari jaringan utama," ucap Marco. Ia segera menarik Alea menjauh dari konsol. "Jangan matikan sistemnya, itu akan memicu alarm sabotase. Biarkan saja seolah-olah ini adalah kegagalan teknis." Marco menarik Alea ke belakang sebuah lemari besi besar yang dipenuhi kabel-kabel tua tepat saat pintu ruangan itu terbuka. Cahaya lampu senter yang sangat terang menyapu ruangan, memantul pada permukaan logam dan debu yang beterbangan. Silas masuk ke dalam ruangan dengan pistol di tangannya. Ia berjalan perlahan, memeriksa setiap sudut dengan ketelitian seorang pemburu. "Aku tahu ada seseorang di sini. Bau parfum mahal dan keringat tidak bisa berbohong." Alea menahan napasnya, jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia takut Silas bisa mendengarnya. Marco berdiri di depan Alea, melindungi tubuh wanita itu dengan tubuhnya sendiri. Tangan Marco sudah menggenggam pisau komando yang ia sembunyikan di balik punggung. Silas mendekati meja konsol yang masih menyala. Ia menyipitkan mata melihat barisan kode di layar. "Ping pasif? Siapa yang cukup bodoh untuk mencoba menggunakan mesin tua ini?" Silas berputar perlahan, mengarahkan senternya ke arah lemari besi tempat mereka bersembunyi. Jaraknya hanya tinggal dua meter lagi. Marco bersiap untuk menerjang keluar. Ia tahu jika ia membunuh Silas di sini, penyamarannya akan berakhir dan perang terbuka akan dimulai. Namun, ia tidak punya pilihan lain jika ingin melindungi Alea. Tepat saat Silas akan melangkah maju, sebuah suara statis terdengar dari radio di bahunya. "Tuan Silas, ini pusat kendali. Kami mendeteksi adanya intrusi fisik di pagar dermaga utara. Kamera menangkap tiga orang asing mencoba memanjat perimeter." Silas berhenti. Ia menatap ke arah lemari besi sekali lagi dengan penuh kecurigaan, lalu beralih ke radionya. "Tahan mereka! Jangan biarkan siapa pun lolos! Aku akan ke sana sekarang." Silas berlari keluar dari ruangan, suaranya menghilang seiring dengan langkah kakinya yang menjauh. Alea merosot ke lantai, seluruh tubuhnya lemas karena ketakutan yang luar biasa. "Siapa mereka? Orang-orang di dermaga itu?" tanya Alea dengan napas terengah-engah. Marco menyimpan pisaunya kembali. "Kontakku. Mereka menciptakan gangguan pengalihan tepat waktu. Sepertinya mereka memantau pergerakan Silas melalui satelit." Alea menatap Marco dengan pandangan baru. "Kau benar-benar mempertaruhkan segalanya malam ini, bukan? Untuk melindungiku, atau untuk data itu?" Marco menatap ke arah unit pendingin tempat Data Hitam berada, lalu kembali menatap istrinya. "Di dunia ini, informasi lebih berharga daripada nyawa, Alea. Tapi informasi tidak ada gunanya jika tidak ada orang yang hidup untuk menggunakannya. Sekarang ayo keluar dari sini sebelum Silas kembali setelah menyadari dermaga itu kosong." Mereka kembali ke atas dengan sisa tenaga yang ada. Saat mereka sampai di keamanan kamar mereka, Alea segera menghancurkan alat pengirim sinyalnya menjadi kepingan kecil dan membuangnya ke dalam lubang pembuangan limbah kimia di kamar mandi. "Kontakku sudah tahu tentang chip Singapura itu," ucap Alea sambil mencuci tangannya. "Besok malam akan menjadi kekacauan besar." Marco berdiri di depan cermin, merapikan kemejanya yang kusut. "Besok malam adalah kesempatan terakhir kita, Alea. Jika kau atau aku melakukan satu kesalahan lagi, tidak akan ada lagi gangguan pengalihan yang bisa menyelamatkan kita. Don Hugo sudah mulai curiga bahwa ada pengkhianat di lingkaran dalamnya." Alea mendekati Marco, menatap pantulan suaminya di cermin. "Kita adalah sepasang pengkhianat di rumah ini, Marco. Satu-satunya hal yang menyatukan kita adalah kenyataan bahwa kita saling memegang rahasia masing-masing." Marco tidak menyangkalnya. Ia tahu bahwa ia baru saja mengkhianati sumpahnya pada kepolisian dengan tidak segera mengamankan Data Hitam saat ia menemukannya tadi, demi memastikan Alea aman. Begitu juga dengan Alea yang tidak melaporkan identitas asli Marco pada ayahnya. "Tidurlah," ucap Marco pelan. "Besok adalah hari di mana topeng kita mungkin akan hancur selamanya." Alea berbaring di tempat tidur, menatap langit-langit kamar yang gelap. Ia merasa seolah-olah sedang tenggelam di tengah samudra yang dalam, dan Marco adalah satu-satunya pelampung yang ia miliki, meskipun pelampung itu penuh dengan duri yang menusuk kulitnya. Di sisi lain, Marco kembali duduk di sofa, menatap kegelapan luar. Ia baru saja menemukan lokasi Data Hitam, namun ia menyadari bahwa mendapatkan data itu adalah bagian yang mudah. Bagian yang sulit adalah membawa Alea keluar dari mansion ini dalam keadaan hidup setelah semua kekacauan yang akan terjadi besok malam. Sinyal rahasia telah dikirim, dan kini badai yang sebenarnya sedang menuju ke arah mereka dengan kecepatan yang mengerikan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD