Benteng Mental

1582 Words
Pagi hari di Mansion Vandeborg selalu diawali dengan upacara keheningan yang menyesakkan. Cahaya matahari yang memantul dari permukaan meja makan marmer panjang di ruang perjamuan utama terasa menyilaukan, namun tidak mampu menghangatkan suasana dingin yang membeku di antara penghuninya. Marco duduk di ujung meja, matanya tertuju pada koran pagi, sementara jemarinya yang kokoh memegang cangkir porselen berisi kopi hitam pekat. Di hadapannya, Alea duduk dengan punggung tegak, memotong buah pir dengan gerakan yang sangat lambat dan penuh perhitungan. Kejadian semalam di ruang server tua masih membekas di benak mereka berdua seperti luka bakar yang belum kering. Ada rahasia baru yang kini mengikat mereka, sebuah persekutuan yang tidak diinginkan namun tak terelakkan. Alea meletakkan garpunya, menimbulkan denting halus yang bergema di ruangan yang luas itu. Ia menatap Marco, mencoba mencari celah di balik wajah yang tampak seperti pahatan batu itu. "Kau tidak menyentuh sarapanmu, Marco. Apa kau sedang memikirkan gangguan di dermaga semalam, atau kau sedang menyusun laporan untuk ayahmu tentang kegagalan Silas?" tanya Alea. Suaranya tenang, namun ada nada provokasi yang halus di sana. Marco tidak menurunkan korannya. "Dermaga adalah urusan operasional, Alea. Bukan sesuatu yang perlu dibahas di meja makan. Dan Silas sudah menerima teguran yang cukup keras pagi ini. Dia tidak suka dipermalukan." "Aku yakin dia tidak suka. Pria seperti Silas biasanya meluapkan rasa malunya pada orang yang dianggapnya lemah," sahut Alea sambil menyandarkan punggungnya ke kursi. "Kudengar dia mulai memeriksa log biometrik di area bawah tanah. Apa kau yakin jejak kita sudah benar-benar bersih?" Marco melipat korannya perlahan dan meletakkannya di samping piring. Ia menatap Alea dengan mata elangnya yang tajam. "Jangan pernah menyebutkan hal itu lagi, bahkan dalam bentuk kiasan sekalipun. Di rumah ini, dinding bisa memproses suara dan mengubahnya menjadi bukti pengkhianatan dalam hitungan detik." Alea tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak menyentuh matanya. "Kau selalu bicara tentang keamanan dan bukti, seolah-olah hidupmu hanya terdiri dari barisan kode dan prosedur. Apa kau pernah merasa lelah menjadi pelindung bagi sistem yang sebenarnya mencekikmu sendiri, Marco?" Marco terdiam sejenak. Pertanyaan itu terlalu personal, terlalu dekat dengan kebenaran yang selama ini ia sembunyikan sebagai Inspektur Arkan. "Hidup bukan tentang perasaan, Alea. Ini tentang kelangsungan hidup. Vandeborg adalah benteng, dan benteng hanya bisa berdiri jika semua orang di dalamnya mematuhi aturan." "Tapi benteng juga bisa menjadi penjara bagi pemiliknya," balas Alea cepat. "Aku melihatmu semalam. Kau tidak terlihat seperti seorang Vandeborg yang sedang menjalankan tugas. Kau terlihat seperti seseorang yang sedang mencari sesuatu untuk menghancurkan benteng ini dari dalam. Apa aku salah?" Marco merasakan rahangnya mengeras. Ia bisa merasakan Alea sedang mencoba menembus pertahanan mentalnya, merayap masuk ke dalam celah-celah emosi yang jarang ia perlihatkan. "Kau terlalu banyak berimajinasi, Alea. Mungkin itu efek samping dari terlalu lama mengurung diri di perpustakaan." "Jangan gunakan perpustakaan sebagai pengalihan," ucap Alea, suaranya kini merendah menjadi bisikan yang intens. "Kita berdua tahu siapa kita sebenarnya di ruangan bawah tanah itu. Kau melindungiku dari Silas. Kau mempertaruhkan posisimu. Kenapa? Jika kau benar-benar patuh pada ayahmu, kau seharusnya menyerahkanku saat itu juga." Marco memajukan tubuhnya, memperkecil jarak di antara mereka. Bau kopi pahit dan aroma kayu cendana dari parfumnya memenuhi indra penciuman Alea. "Aku melindungimu karena kau adalah bidak yang terlalu berharga untuk dibuang sekarang. Jika kau tertangkap, Syailendra akan memiliki alasan untuk membatalkan perjanjian distribusi mereka, dan itu akan merugikan bisnis keluarga kami. Jangan mengartikannya sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar kalkulasi bisnis." Alea tertawa pelan, sebuah suara yang terdengar hampa. "Kalkulasi bisnis. Kau sangat pandai berbohong, Marco. Tapi aku bisa melihat matamu saat Silas hampir menemukan kita. Ada kemarahan di sana, tapi juga ada ketakutan. Bukan ketakutan akan tertangkap, tapi ketakutan akan apa yang mungkin terjadi padaku jika Silas menarik pelatuknya." "Kau salah lihat," sahut Marco dingin, meskipun di dalam hatinya ia tahu Alea benar. Pikiran Marco melayang pada bahaya yang kini benar-benar mengintai Alea. Silas bukan orang bodoh. Meskipun pagi ini pria itu terlihat sibuk di dermaga, Marco tahu Silas sedang merencanakan sesuatu yang lebih licik. Silas mulai mencurigai bahwa intrusi di dermaga hanyalah pengalihan, dan target sebenarnya adalah infrastruktur informasi di dalam mansion. Jika Silas berhasil menghubungkan titik-titik antara keberadaan Alea dan anomali di ruang server tua, tidak ada perlindungan politik apa pun yang bisa menyelamatkan wanita itu dari hukuman mati. "Dengar, Alea," ucap Marco, nadanya berubah menjadi lebih serius dan penuh peringatan. "Berhenti mencoba menembus pertahananku. Fokuslah pada pertahananmu sendiri. Don Hugo telah memerintahkan Lyra untuk mengawasimu lebih ketat mulai hari ini. Setiap langkahmu, setiap buku yang kau sentuh, bahkan setiap kata yang kau ucapkan pada pelayan akan dicatat." Alea mengangkat alisnya. "Lyra? Wanita yang lidahnya penuh racun itu? Dia sudah mencurigaiku sejak hari pertama. Apa bedanya sekarang?" "Bedanya adalah sekarang dia memiliki izin resmi untuk bertindak jika dia menemukan sesuatu yang mencurigakan," jawab Marco. "Dan jangan lupa tentang makan malam amal besok malam. Itu adalah panggung besar. Semua petinggi Syailendra dan Vandeborg akan hadir. Jika kau melakukan satu saja kesalahan kecil, itu akan menjadi santapan bagi mereka semua." Alea terdiam, ia menyadari beban situasi yang baru saja dijelaskan Marco. Namun, semangat perlawanannya tidak padam. "Kalau begitu, ajari aku cara menjadi seorang Vandeborg yang sempurna, Marco. Ajari aku cara memakai topeng dinginmu itu agar aku bisa berjalan di antara mereka tanpa terlihat seperti mangsa." Marco menatap Alea cukup lama. Ia melihat keteguhan di mata wanita itu, sebuah keberanian yang jarang ia temukan bahkan di antara rekan-rekannya di kepolisian. "Topeng ini tidak diajarkan, Alea. Topeng ini terbentuk dari pengalaman pahit dan pengkhianatan yang berulang. Kau harus mematikan sebagian dari dirimu sendiri jika ingin selamat." "Aku sudah melakukannya sejak aku lahir di keluarga Syailendra," sahut Alea getir. "Aku hanya butuh penyempurnaan." Marco berdiri dari kursinya, merapikan jasnya dengan gerakan yang sangat rapi. "Mulai sore ini, kau akan berlatih bersamaku untuk simulasi makan malam itu. Aku akan menunjukkan padamu siapa saja yang harus kau hindari dan bagaimana cara menjawab pertanyaan-pertanyaan jebakan dari rekan bisnis ayahku." Saat Marco hendak melangkah keluar dari ruang makan, Alea memanggilnya sekali lagi. "Marco!" Marco berhenti namun tidak berbalik. "Apa lagi?" "Kenapa kau begitu peduli padahal kau bilang ini hanya kalkulasi bisnis?" tanya Alea. Marco terdiam di ambang pintu. Pikirannya berperang antara tugasnya sebagai agen yang harus mendapatkan Data Hitam dan perasaan manusiawi yang mulai tumbuh terhadap wanita yang seharusnya menjadi musuhnya itu. "Karena jika kau jatuh, rencanaku juga akan jatuh bersamamu. Dan aku tidak suka gagal." Marco melangkah pergi, meninggalkan Alea sendirian di ruang makan yang megah itu. Alea menatap piringnya yang kini terasa hambar. Ia menyadari bahwa benteng mental Marco jauh lebih kuat dan lebih rumit dari yang ia duga. Pria itu membangun dinding yang begitu tinggi bukan hanya untuk melindungi rahasianya, tapi mungkin untuk melindungi bagian dari dirinya yang masih memiliki hati. Di sisi lain, saat menyusuri lorong menuju ruang kerjanya, Marco mengepalkan tangannya. Ia harus segera menghubungi kontaknya di kepolisian untuk mempercepat rencana ekstraksi. Situasi di dalam mansion semakin panas. Kehadiran Alea di ruang server semalam telah mempercepat permainan ini. Ia tahu bahwa ia sedang berjalan di atas tali tipis. Di satu sisi ada tugas negara untuk menghancurkan kerajaan kriminal Vandeborg, dan di sisi lain ada keinginan instingtif untuk memastikan Alea tetap bernapas. Ia masuk ke ruang kerjanya dan segera mengunci pintu. Ia menyalakan sistem pemantauannya sendiri, memastikan tidak ada penyadapan dari pihak Silas. Marco menatap layar yang menampilkan denah rahasia lantai bawah tanah. Ia memikirkan "Data Hitam" yang kini lokasinya sudah ia ketahui. Namun, ia juga memikirkan Alea yang sedang duduk di bawah pengawasan kamera-kamera itu. "Dia terlalu pintar untuk kebaikannya sendiri," gumam Marco pelan. Marco tahu bahwa "Data Hitam" Syailendra dan Vandeborg adalah kunci untuk menjatuhkan kedua keluarga tersebut. Jika ia berhasil mendapatkannya, ia bisa mengakhiri semua ini dan membawa Alea pergi sebagai saksi kunci, atau mungkin sebagai seseorang yang bebas. Tapi ia juga tahu bahwa di dunia mafia, tidak ada yang benar-benar bebas setelah mengetahui terlalu banyak. Sore harinya, sesuai janjinya, Marco mendatangi kamar Alea. Ia menemukan Alea sedang berdiri di depan cermin besar, mencoba mengenakan kalung berlian yang rumit. Marco berjalan mendekat dan mengambil kalung itu dari tangan Alea. Jemarinya yang dingin menyentuh kulit leher Alea saat ia mengaitkan perhiasan tersebut. Alea bisa merasakan detak jantungnya sendiri yang sedikit meningkat, namun ia tetap menjaga ekspresi wajahnya tetap datar. "Apa ini bagian dari latihan, Marco? Menjadi suami yang penuh perhatian di depan umum?" "Ini bagian dari kenyataan yang harus kau perankan," jawab Marco di dekat telinga Alea. "Tatap mataku di cermin. Jangan biarkan matamu bergetar sedikit pun saat aku bicara padamu. Itulah kelemahan pertamamu yang harus kau perbaiki." Alea menatap pantulan mata Marco. Keduanya terdiam dalam posisi yang sangat intim namun penuh dengan ketegangan strategis. Di ruangan itu, di balik pintu yang terkunci, dua orang asing ini sedang mempersiapkan diri untuk pertempuran yang jauh lebih besar daripada sekadar makan malam amal. Mereka sedang mempersiapkan diri untuk bertahan hidup di tengah badai pengkhianatan yang siap menghancurkan segalanya. "Bagus," bisik Marco setelah beberapa saat. "Ingat, di meja makan nanti, kau adalah seorang Vandeborg. Tidak ada rasa takut, tidak ada ragu. Hanya ada kekuasaan." Alea mengangguk pelan. "Dan kau? Apa yang akan kau lakukan saat mereka mulai menyerangku dengan kata-kata mereka?" "Aku akan menjadi perisaimu, selama kau tetap berada di jalur yang aku tentukan," jawab Marco. Latihan sore itu berlangsung berjam-jam, di mana Marco dengan kejam membedah setiap kelemahan dalam bahasa tubuh Alea. Namun, di balik kekejaman instruksinya, ada keinginan mendalam untuk memastikan bahwa saat malam tiba, Alea akan menjadi benteng yang tidak tergoyahkan, sama seperti dirinya. Pertempuran mental ini baru saja dimulai, dan hasilnya akan menentukan siapa yang akan tetap berdiri saat topeng-topeng itu akhirnya terlepas.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD