Pagi hari di Mansion Vandeborg selalu diawali dengan kabut tipis yang menyelimuti tebing kapur, menciptakan pemandangan yang indah namun menyesakkan. Alea Syailendra duduk di salah satu sofa kulit di sudut perpustakaan, membiarkan seberkas cahaya matahari pucat menyentuh pangkuannya. Ia tahu bahwa setiap gerakannya sedang dipantau oleh setidaknya tiga kamera pengawas tersembunyi yang tertanam di balik ornamen kayu jati di ruangan itu. Namun, perpustakaan adalah tempat paling aman bagi seorang kurator seni untuk bersembunyi di balik tumpukan kertas tanpa memicu kecurigaan berlebih dari Silas.
Jemari Alea bergerak secara metodis, menyisir rak buku-buku lama yang sampulnya sudah mengelupas. Ia tidak sedang mencari bacaan ringan. Sejak kejadian di ruang server tua tempo hari, Alea menyadari bahwa sejarah Vandeborg tidak disimpan dalam basis data digital yang mudah diretas, melainkan terkubur dalam arsip fisik yang sudah dilupakan. Ia menarik sebuah buku harian tua dengan sampul kulit berwarna cokelat kusam yang tidak memiliki judul di punggungnya. Buku itu terjepit di antara dua ensiklopedia hukum yang sangat tebal.
Saat ia membuka halaman pertama, aroma kertas asam dan debu usia menyapa indra penciumannya. Itu adalah jurnal pribadi milik salah satu mandor logistik keluarga Vandeborg dari tahun sembilan puluhan. Alea membalik halaman demi halaman dengan hati-hati, memastikan gerakan tangannya terlihat seperti seseorang yang sedang mengagumi barang antik. Matanya menyipit saat ia menemukan serangkaian catatan tulisan tangan yang tidak tercatat dalam manifes resmi perusahaan.
Penulis jurnal itu mencatat tentang pengiriman peti-peti berat yang hanya dilakukan pada malam hari tanpa penerangan dermaga. Ada sebuah istilah yang muncul berulang kali dalam catatan tersebut: Jalur Obsidian. Di bawah catatan itu, terdapat sketsa kasar mengenai denah gudang bawah tanah yang jauh lebih luas daripada denah yang pernah Alea retas dari komputer Marco. Ada sebuah ruangan yang ditandai dengan tinta merah, terletak tepat di bawah pondasi sayap barat mansion. Penulis jurnal menyebutnya sebagai tempat pembuangan data akhir.
Ini bukan sekadar catatan logistik, batin Alea. Ini adalah bukti aktivitas ilegal yang sangat sistematis.
Alea menyadari bahwa Vandeborg telah menggunakan Terminal Bayangan untuk menyelundupkan aset digital dan fisik jauh sebelum teknologi enkripsi modern ada. Jika jurnal ini benar, maka Data Hitam yang mereka incar sebenarnya memiliki salinan fisik atau kunci akses manual yang disimpan di dalam ruang bawah tanah yang tidak terpetakan itu. Alea segera menghafal koordinat kasar dari sketsa tersebut sebelum menyelipkan jurnal itu kembali ke tempatnya.
Tiba-tiba, suara langkah kaki yang berat dan teratur terdengar mendekati posisinya. Alea segera mengambil sebuah buku tentang sejarah seni Renaisans dan membukanya secara acak.
"Kau tampak sangat menikmati koleksi kuno kami, Alea," sebuah suara dingin dan tajam memecah keheningan.
Alea menoleh perlahan, memasang ekspresi tenang yang sudah ia latih berkali-kali di depan cermin. Marco Vandeborg berdiri di sana, mengenakan jas hitam yang pas di tubuhnya, menatapnya dengan tatapan yang sulit dibaca.
"Seni adalah satu-satunya hal yang masuk akal di rumah yang penuh dengan rahasia ini, Marco," jawab Alea sambil menutup bukunya. "Aku tidak tahu keluarga Vandeborg memiliki selera yang begitu luas terhadap literatur logistik lama."
Marco berjalan mendekat, matanya menyapu rak buku di belakang Alea sejenak sebelum kembali fokus pada istrinya. "Logistik adalah tulang punggung kekuasaan kami. Tanpa pemahaman tentang arus barang, sebuah dinasti akan runtuh dalam semalam. Apa kau menemukan sesuatu yang menarik di antara debu-debu itu?"
"Hanya catatan tentang betapa efisiennya leluhurmu dalam mengelola pelabuhan," sahut Alea. Ia berdiri, mencoba menjaga jarak yang aman namun tetap terlihat sopan. "Tapi aku bertanya-tanya, kenapa beberapa bagian dari sejarah itu tidak pernah disebutkan dalam presentasi resmi perusahaan?"
Marco mencondongkan tubuh sedikit, suaranya merendah menjadi bisikan yang penuh peringatan. "Beberapa bagian dari sejarah memang diciptakan untuk tetap terkubur, Alea. Menggalinya hanya akan membuat tanganmu kotor, atau lebih buruk lagi, membuatmu terperosok ke dalam lubang yang tidak bisa kau panjat kembali."
"Aku sudah terbiasa dengan tanah kotor, Marco. Di keluarga Syailendra, kami tidak takut pada bayangan," balas Alea dengan berani.
Marco tidak membalas lagi. Ia hanya menatap Alea selama beberapa detik, seolah sedang menimbang apakah ia harus memperingatkan istrinya lebih jauh atau membiarkannya terjatuh ke dalam jebakan yang sudah disiapkan oleh Silas. Marco kemudian berbalik dan meninggalkan perpustakaan tanpa sepatah kata pun.
Marco melangkah menuju ruang kerja pribadinya di lantai dua. Begitu masuk, ia segera mengunci pintu dan menyalakan pemutus sinyal portabel yang selalu ia bawa. Ia duduk di depan monitornya, membuka sebuah berkas intelijen baru yang baru saja dikirimkan oleh kontaknya di kepolisian pusat. Berkas itu berisi analisis mendalam tentang sebuah serangan siber yang terjadi pada jaringan internal Syailendra tiga tahun lalu.
Ada satu nama yang muncul di setiap laporan investigasi: Oracle.
"Oracle," gumam Marco sambil menatap layar.
Laporan itu menyebutkan bahwa Oracle adalah seorang peretas jenius yang identitasnya tidak pernah terungkap. Namun, ada satu detail kecil yang menarik perhatian Marco. Setiap kali Oracle melakukan pembobolan, ia selalu meninggalkan jejak berupa kode enkripsi yang berbasis pada pola fraktal seni klasik. Pola yang hanya bisa dipahami oleh seseorang dengan latar belakang pendidikan seni yang sangat tinggi.
Marco memijat pelipisnya. Ingatannya kembali pada profil Alea Syailendra. Lulusan kurasi seni terbaik di Swiss, memiliki ketertarikan pada arsitektur simetris, dan selalu memperhatikan detail-detail kecil yang dilewatkan oleh orang awam. Semuanya mulai masuk akal. Alea bukan sekadar pion yang dikirim oleh ayahnya untuk mempererat aliansi. Alea adalah Oracle, peretas yang pernah mempermalukan sistem keamanan Syailendra dan kini kemungkinan besar sedang mengincar hal yang sama pada Vandeborg.
"Jika dia benar-benar Oracle, maka kehadirannya di sini adalah ancaman bagi misiku sekaligus peluang terbesar yang pernah kupunya," pikir Marco.
Ia menyadari bahwa jika ia bisa membuktikan Alea adalah Oracle, ia bisa menggunakan kemampuan wanita itu untuk membuka lapisan terakhir dari Data Hitam. Namun, risikonya sangat besar. Jika Silas mengetahui identitas asli Alea, wanita itu akan segera dieksekusi sebagai ancaman tingkat tinggi. Marco harus memutuskan apakah ia akan mengungkap rahasia ini sekarang atau terus memantau pergerakan istrinya.
Sore harinya, Marco meminta Alea untuk menemuinya di ruang kerja utama Don Hugo untuk membantu mengategorikan beberapa dokumen peninggalan Syailendra yang baru saja tiba. Itu adalah perintah langsung dari Hugo, namun Marco tahu itu hanyalah alasan untuk memantau interaksi Alea dengan sistem di ruangan tersebut.
Saat Alea sedang memeriksa beberapa berkas di meja besar, Marco duduk di sofa seberang ruangan, berpura-pura membaca laporan keuangan. Namun, matanya tidak pernah lepas dari jemari Alea. Ia melihat cara Alea menyentuh permukaan meja kayu jati yang luas itu, seolah sedang mencari tombol rahasia atau pemindai biometrik yang tersembunyi.
"Ayahku bilang kau memiliki mata yang sangat jeli untuk hal-hal berharga, Alea," ucap Marco tiba-tiba.
Alea tidak menghentikan kegiatannya. "Aku hanya menghargai barang yang memiliki nilai sejarah tinggi, Marco. Meja ini, misalnya. Ini adalah kerajinan tangan dari abad sembilan belas, namun aku melihat ada modifikasi modern di bagian kaki-kakinya."
"Itu adalah sensor getaran," sahut Marco sambil berdiri. Ia berjalan mendekati Alea. "Jika seseorang mencoba memindahkan meja ini tanpa kode akses, alarm di seluruh mansion akan berbunyi dalam waktu kurang dari satu detik. Ayahku sangat posesif terhadap barang-rumahnya."
Alea mendongak, menatap mata Marco. "Dan kau? Apa kau juga posesif terhadap barang-barangmu, Marco?"
Marco terdiam sejenak, menatap wajah Alea yang tampak tenang namun menyimpan badai di dalamnya. "Aku tidak menyukai barang yang memiliki banyak rahasia di dalamnya. Itu membuat mereka sulit untuk diprediksi."
"Mungkin itu karena kau belum menemukan kunci yang tepat untuk membukanya," balas Alea dengan senyum tipis yang penuh misteri.
Saat Alea kembali fokus pada dokumennya, ia tanpa sengaja menyentuh sebuah jurnal kecil yang tergeletak di pojok meja Hugo. Jurnal itu tampak berbeda dari berkas lainnya. Alea membukanya secara singkat dan melihat sebuah daftar nama dengan koordinat satelit yang tertulis di sampingnya. Salah satu koordinat itu menunjuk pada sebuah lokasi di tengah laut yang dikenal sebagai Jalur Obsidian.
Alea merasa jantungnya berdegup kencang. Itu adalah konfirmasi dari apa yang ia baca di perpustakaan pagi tadi. Terminal Bayangan itu nyata, dan itu adalah pusat saraf dari seluruh aktivitas ilegal Vandeborg. Ia segera menutup jurnal itu saat mendengar langkah kaki Don Hugo mendekati ruangan.
"Bagaimana progresnya, anak-anak?" suara berat Hugo bergema saat pintu terbuka.
"Alea sedang mengidentifikasi beberapa dokumen penting, Ayah. Semuanya berjalan sesuai rencana," jawab Marco dengan nada hormat yang sempurna.
Hugo berjalan mendekat dan menepuk bahu Marco, namun matanya tetap tertuju pada Alea. "Bagus. Kita butuh ketelitian Syailendra untuk memastikan aliansi ini berjalan lancar. Jangan biarkan satu pun detail terlewat, Alea. Kesalahan kecil bisa berakibat fatal di bisnis kita."
Alea mengangguk dengan sopan. "Saya mengerti sepenuhnya, Don Hugo."
Malam harinya, di dalam kamar mereka yang sunyi, Marco duduk di sofa sementara Alea berdiri di depan jendela, menatap kegelapan hutan di luar mansion. Tidak ada dialog di antara mereka selama hampir satu jam, namun pikiran mereka berdua sedang berpacu dengan informasi baru yang mereka dapatkan hari itu.
Alea memikirkan tentang Terminal Bayangan dan bagaimana ia bisa menyusup ke sayap barat tanpa terdeteksi oleh Silas. Ia tahu bahwa jurnal yang ia temukan di perpustakaan adalah kunci awalnya. Sementara itu, Marco memikirkan tentang identitas Alea sebagai Oracle. Ia mulai menghubungkan setiap gerakan Alea di perpustakaan dengan pola serangan siber yang ia baca dalam laporan intelijen.
"Kau tahu, Alea," Marco memecah keheningan. "Beberapa orang mengatakan bahwa Oracle bukan sekadar nama, melainkan sebuah simbol keberanian untuk melawan sistem yang korup."
Alea tidak berbalik, namun bahunya tampak sedikit tegang. "Itu adalah interpretasi yang menarik, Marco. Tapi bukankah simbol seperti itu biasanya berakhir dengan tragis?"
"Tergantung pada siapa yang memegang kendali atas simbol tersebut," sahut Marco. Ia berdiri dan berjalan menuju pintu kamar mandi. "Jangan terlalu banyak berpikir malam ini. Besok kita punya agenda yang padat."
Setelah Marco masuk ke kamar mandi, Alea segera mengeluarkan perangkat mininya dari tempat persembunyian. Ia memasukkan koordinat Terminal Bayangan yang sempat ia hafal tadi siang. Ia harus segera menghubungi kontaknya untuk memverifikasi apakah ada aktivitas aneh di koordinat tersebut. Namun, saat ia baru saja akan menekan tombol kirim, ia mendengar suara notifikasi masuk di perangkatnya yang tersembunyi.
Satu pesan pendek dari pengirim anonim: Jangan percaya pada suamimu. Dia tahu siapa kau sebenarnya.
Alea merasakan hawa dingin merayap di punggungnya. Ia melirik ke arah pintu kamar mandi yang tertutup. Jika Marco benar-benar tahu bahwa dia adalah Oracle, kenapa pria itu tidak menyerahkannya pada Silas? Kenapa Marco justru terus melindunginya? Alea menyadari bahwa ia sedang terjebak di tengah labirin yang jauh lebih rumit daripada yang ia bayangkan.
Di sisi lain pintu, Marco berdiri di depan cermin, menatap pantulannya sendiri. Ia baru saja mengirimkan peringatan anonim itu kepada Alea melalui jaringan pribadi yang ia miliki. Ia ingin melihat bagaimana reaksi Alea saat ia merasa terpojok. Sebagai seorang Inspektur, Marco tahu bahwa seseorang akan menunjukkan warna aslinya saat mereka merasa terancam.
"Permainan ini semakin berbahaya, Oracle," bisik Marco pada dirinya sendiri.
Keduanya kini berada di ambang jurang yang sama, masing-masing memegang rahasia yang bisa menghancurkan satu sama lain. Petunjuk terselubung telah ditemukan, identitas mulai terungkap, dan kini kepercayaan adalah mata uang yang paling mahal di Mansion Vandeborg. Saat fajar mulai mendekat, mereka berdua menyadari bahwa hari-hari penuh sandiwara ini akan segera berakhir, digantikan oleh pertempuran nyata yang akan menentukan siapa pengkhianat sejati di antara mereka.