1. Ayah
Tampak seorang gadis kecil berua 10 tahun
Dan adik laki laki nya yang berusia 8 tahun
Menangis ketakutan di pelukkan ibunyaa…
“ baca istifar nak… sedih boleh tapi jangan
Takut ya”.
Begitulah umi menenangkan aku dan adikku.
Gelombang perlawanan gerilya masih terus
Di lancarkan, suara ledakan bom roket terus
Menerus tanpa berhenti seakan menunggu
Kediaman kami menjadi sasaran roket
Roket tersebut.
“ Abi kemana umi? Kok belom datang”
Gumam adikku yang bernama zain umar acmad.
Kota kami sedang terjadi agresi.
Keadaan kacau balau, semua lumpuh total.
Listrik, air, panass.
Tidak ada tempat lagi berlindung kecuali
Menggantungkan harapan kepada allah
Semesta.
Kami tinggal di jalur gaza sebelah timur.
Tepat setelah gencatan israel - mesir pada
Tahun 2005. Sudah lima tahun kami tinggal
Disini. Sekarang hamas mengambil alih
Pemerintah di gaza secara defacto akibat
Masih ada campur tangan dan kependudukan
Israel di gaza.
Mau tak mau Hamas berusaha melindungi
Rakyat Gaza sebagai benteng
Terakhir.
Kemenangan hamas pada pemilu membuat
Gaza di blokade oleh mesir dan israel.
Ada 7 partai di palestina. Dua partai
Besar yaitu fatah. Gerakkan pembebasan
Nasional palestina atau harkat at-tahrir
Al- watani al- filastini (fatah). Berisi
Orang orang pemerintah. Berpusat
Di ibukota yarussalem. Berfokus pada
Kemerdekaan palestin melalui jalan
Negosisasi yang tak kunjung menemukan
Titik temu hingga saat ini.
Yang ke dua adalah hamas.
Gerakkan perlawanan islam atau harakat
Al- muqawamah al- islamiyyah (hamas).
Berisi pejuang pembebasan Al Aqsha
Dan palestine. Anti zionisme dan berjiwa
Mujahid.
Aku sudah dua hari berpuasa dan berbuka
Dengan sepotong gandung yang ku bagi dua
Dengan adikku. Listrik sudah 1 minggu tak
Kunjung menyala. Keadan masih saja
Seperti ini.
Terdengar suara lirih adiku yang memanggil
Abi.. dia sangat ketakutan dan kelaparan
Sudah sepuluh hari kami tidak keluar rumah.
Satu panci air bersih utuk berbuka dan
Sahur. Kamk pun solat dengan berwudu
Tayamum dengan Menggunakan debu dari
Tembok rumah kami.
“ yum beson kalau abi belom pulang juga,
kamu tolong keluar lihat bantuan datang tidak.
Kita sudah tidak punya makanan untuk di makan”
Ujar umi.
“ iyaa umi, aku akan keluar umi tetap di sini sana dengan acmad.” Jawabbku.
Keesokan hari nya setelah melaksanakan solat
Subuh aku keluar menuju masjid terdekat.
“ mungkin saja masih ada orang yang masih
Belom selesai solat” batinku.
Aku berdiri terpaku di pilar masjid menunggu
Seseorang yang keluar dari masjid.
Menunggu seseorang untuk meminta makanan
Untuk adik dan ibukku.
Terlihat 4 orang pemuda dan 1 orang tua
Bersamaan keluar dari salam masjid, aku langsung menghampiri mereka.
“ maaf tuan… saya ibu dan adik saya sudah tidak memiliki makanan di dirumah. Ayah saya tidak kunjung pulang dalam seminggu ini. Adakah tuan tuan mempunyai sesuatu yang bisa kami makan?”.
Tampak mereka mengerutkan dahi lalu bertannya.
“ Dimana rumah mu? Dan siapa nama ayah mu?”
Dengan aksen bahasa arab yang aneh menurutku,
Seperti tidak fasih.
“ rumah ku di ujung sana dan nama ayah ku, abizzar bisyir arazzzi.”
Kemudian orang orang tersebut mengajakku ke rumah tidak jauh hanya sekitar seratus meter dari lokasi masjid tersebut.
“ hanya ini yang dapat kami berikan, sekantong berisi s**u , telur dan gandum.”
Ujar peria yang lebih tua.
“Alhamdulilah tuan sungguh aku benar benar
Berterima kasih semoga allah membalas
Semua kebaikkan mu.”
Ucap ku dengan rasa syukur.
“Seperinya aku pernah mendengar nama ayahmu,
Sebaiknya kau ke rumah sakit atau ke posko
Relawan… cari lah ayah mu.” Ujar orang itu.
“Iyaa tuan setelah saya meletakkan makanan ini dirumah saya akan mencari ayah saya”
Dengan penuh rasa bahagia aku pulang dengan membawa bahan makanan. Mungkin ini rasanya
Seorang laki laki membawa pulang nafka untuk keluarganya. Batinku
Ibu dan adikku yang melihat ku pulang dengan membawa makanan, menyambut dengan penuh suka cita.
“Alhamdulilah..” ucap umi.
“ umi akan membuat makanan dari bahan ini dulu kalian duduk lah sambil baca al qur’an” ucap umi.
“ umi aku ingin ke posko.
Kata orang yang memberikan aku makanan
Ini, aku harus mencari abi. Kalau watu satu minggu tidak pulang itu waktu yang lama untuk abi tidak pulang.” Ucapku.
“ baikklah jangan lama lama yumm.. kamu kamu belom makan sejak semalam” ujar umi.
“ baik..umi”
Setelah berpamitan aku langsung mencari keberadaan posko, relawan kemanusiaan. Setelah bertanya ke beberapa orang akhirnya aku menemukan posko tersebut.
“ maaf.. saya mencari ayah saya, apakah tuan tuan dapat membantu saya mencarinya? Sudah satu minggu ayah saya belom pulang.”
“ siapa nama ayah kamu saudariku?”.
“Abizzar bisyir arazzzi tuan”
Terlihat mereka membolak balikkan buku catatan.
“ inalillahi… maasayaallah ayah kamu telah syahid wahai saudariku. Beliau sudah pulang empat hari yang lalu. Jenazah nya sudah di makamkan berdama mijahid yang lainnya…” ucap seorang pemuda yang tak lain adalah relawa.
Kaki ku mrnggetar mendengar perkataannya. Antara percaya dan tidak percaya aku mendngar nya. Bagaimana nasib ibu dan adikku kalau ayah ku tidak ada. Batinkku.
Air mataku tidak bisa aku bendung lagi, aku menutup wajah ku dengan air mata yang mengalir deras.
Para relawan tersebut sedih melihat ku menangis, sambil membawa selimut menutupi tubuhku.
Dia berkata dengan temannya mengunakan bahasa asing yang tidak amu mengerti sama sekali.
Dia membawa satu kardus ntah apa isinya aku tidak tahu.
“ mari adik, saya antar ke rumah mu, biar saya yang menjelaskan nya pada ibumu.” Ucapnya
Dengan aksen bahasa arap yang tidak fasih.
Bersama nya aku pulang menuju rumahku, sepanjang pulang menuju rumah ku. Pemuda itu tidak hentinya menghibur dan memberikan semangat pada ku yang di landa kesedihan.
“Sabar saudari ku pertolongan allah pasti akan datang. Tetap lah tegar menjalanin ujian hidup.
Tidak ada manisia yang bahagia di dunia ini.
Semuanya dalam ujian masing masing”. Ucapnya berusaha menghibur dan menguatkan aku.
Kami pun sampai di rumah aku langsung berlari dan memeluk umi..
Terlihat umi pun menangis seolah olah dia tau apa yang terjadi dengan abi sudah tidak ada.
Relawan itu hanya menatap aku dan umi yang menangis berpelukkan. Terlihat adikkh yang tidak tahu apa apa membuka kardus yang di bawakan relawan tersebut.
“ umii ini apa di dalamnya? mainan apa makanan”
Tanya adikku sambil mengangkat kaleng ikan tuna yang segar.
“Makanan nak bukan mainan”. jawan umi sambil menguasap air matanya mengunakan hijabnya
Kami duduk di lantai beralaskan tikar tebal seperti karpet. Relawan tersebut menjelaskan tentang ayah ku yang sudah meninggal. Umi hanya bisa mengusap air matanya.
“Apakah tuan dari indonesia?”. Tanya umi.
“Iyaa buu saya dari indonesia” jawabnya.
“Aku tau dari kamu berbicara, bangsamu bangsa yang baik. Dari saya gadis sampai sekarang, bahkan ayan saya dan kakek saya pun sesalu menceritakan bangsamu.
Sampaikan salam kami untuk indonesia yang sudah membantu kami di sini”. Ujar umi.
“Iyaa.. bu selalu saya sampaikan.” Ucapnya.
Setelah itu, para relawan pun pamit pergi. Aku pun menutupi wajah ku dengan selimut sambil menanghis. Ku lihat umi yang duduk tersandar
di pintu menatap kosong dengan air mata yang berciucuran.