Aku sudah menunggu Danu cukup lama di sini. Laki-laki itu mengajakku makan siang di kafe yang menjadi awal pertemanan kami. Namun, sudah hampir satu jam menunggu, dia tidak juga datang. Padahal, aku sudah sangat kelaparan. Mau makan duluan, tidak enak. Aku ingin makan bareng dengan laki-laki itu. Pelayan wanita berambut hitam dan dikucir kuda kembali mendatangiku, bertanya apakah aku sudah siap memesan atau masih ingin menunggu. Ini yang ketiga kalinya dalam satu jam, dan akhirnya aku memesan minuman moccaccino dingin kesukaanku. Danu dan aku sering menghabiskan waktu makan siang di kafé ini. Kafé yang secara tidak langsung menjadi saksi bisu atas progress hubungan kami. Tempat yang diam-diam menjadi kesukaanku. Progress yang kumaksud tentu saja dari mulai hubungan ornag asing menjadi t

