bc

Sleeping With The Enemy

book_age18+
3.5K
FOLLOW
15.8K
READ
revenge
possessive
counterattack
dominant
drama
bxg
heavy
icy
city
first love
like
intro-logo
Blurb

Blurb:

Leandra Katharina ingin membalaskan dendam kematian sang sahabat yang disebabkan oleh Adelard Maxwell.

Adelard telah mencampakan sahabatnya setelah pria itu bosan dengan tubuh sahabatnya.

Seperti yang Adelard lakukan pada sahabatnya, Leandra akan melakukan hal yang sama. Ia akan membuat Adelard merasakan bagaimana sakitnya patah hati hingga ingin mati.

Ini kisah pembalasan dendam Leandra, selebritis cantik yang memiliki segalanya pada Adelard, penerus harta kekayaan Maxwell yang lebih memilih menjadi seniman jalanan daripada meneruskan usaha keluarganya.

Akankah Leandra berhasil membalaskan dendam kematian sahabatnya, atau Leandra akan terjebak pada pesona si seniman jalanan?

chap-preview
Free preview
1
"Aku sangat mencintaimu, Sam." Seorang wanita menatap pria yang terbaring di ranjang dengan tatapan penuh cinta. Jari telunjuknya menyentuh wajah pria itu. Detik selanjutnya tatapan itu berubah menjadi tajam dan dingin. "Tapi, sayangnya banyak orang yang ingin memisahkan kita. Mereka tidak ingin membiarkan kita hidup dengan bahagia." Wajah wanita itu terlihat penuh kebencian. "Namun, itu semua tidak akan pernah terjadi, Sam. Orangtuamu tidak akan bisa memisahkan kita begitu juga dengan tunanganmu. Aku tahu kau selalu ingin bersamaku, aku tahu kau sangat mencintaiku. Aku akan membawa kau ke tempat yang jauh, di mana hanya akan ada kita berdua saja. Jika kita tidak bisa hidup bersama, maka kita akan mati bersama. Tidak akan ada yang bisa memilikimu selain aku." Senyuman mengerikan tampak di wajah wanita itu. Lalu kemudian ia mengambil senjata api yang ia letakan di bawah bantal. Ia menembakan senjata itu ke kepalanya, lalu kemudian tubuhnya tergeletak di sebelah tubuh sang pria yang ia cintai yang sudah ia racuni sampai mati. "Cut!" Suara dari pengeras itu terdengar di dalam kamar bernuansa putih. "Kau melakukannya dengan baik, Leandra." Pria yang tadi tergeletak di ranjang tersenyum sembari memuji lawan mainnya, Leandra Katharina. Leandra memasang wajah acuh tak acuh. "Aku hanya mengingmbangimu, Jeremy." Wanita itu turun dari ranjang. Ia meninggalkan lawan mainnya dan melangkah menuju ke sutradara yang tampak sangat puas dengan aktingnya. "Aktingmu benar-benar luar biasa, Leandra." Kevin, sang sutradara memuji Leandra. "Aku sudah sangat bosan mendengar pujian-pujian itu, Kevin." Leandra duduk di sebelah Kevin. "Jadi, katakan bagian mana yang tidak sempurna? Aku akan mengulanginya lagi sampai menjadi sempurna." Leandra benci ketidak sempurnaan. Ia tidak ingin pekerjaannya mendapatkan kritikan dari penonton film nya. "Semuanya sempurna, Leandra. Kau mengakhiri dengan sangat baik. Aku bisa merasakan bagaimana psikopatnya dirimu. Lihat, aku bahkan masih merinding melihat senyum sadis di wajahmu tadi." Kevin menunjukan tangannya. Ia tidak berbohong pada Leandra. Akting Leandra memang luar biasa, ini bukan pertama kalinya ia bekerja sama dengan Leandra untuk sebuah film layar lebar. Setiap kali Leandra ikut serta dalam layar lebar, maka film tersebut akan meraih keuntungan yang fantastis. "Kau juga telah menggambarkan bagaimana cinta dalam pandangan yang berbeda," tambah Kevin. Tidak sulit bagi Leandra menggambarkan jenis cinta yang dimiliki oleh pemain utama wanita di dalam cerita. Bentuk cinta yang egois, kejam, yang hanya memikirkan dirinya sendiri tanpa memikirkan rasa sakit orang lain. Karena Leandra sudah menemukan jenis cinta yang seperti itu sebelumnya. Bukan orang lain, melainkan cinta dari sang ayah untuk ibunya. Leandra merupakan yatim piatu, ibunya meninggal karena sebuah penyakit, dan ayahnya mengakhiri hidup dengan cara bunuh diri karena tidak sanggup menghadapi rasa sakit karena kehilangan. Pria yang seharusnya mengajarkannya arti tanggung jawab itu memilih untuk pergi selama-lamanya dan meninggalkan dirinya yang saat itu masih berusia dua belas tahun. Meninggalkan putri yang masih kecil untuk mengikuti istri yang sangat ia cintai memang terlihat penuh kasih sayang. Leandra tidak menyalahkan ayahnya atas pilihan pria itu, tapi tindakan yang ayahnya lakukan membuat ia tidak bisa memandang cinta dengan indah. Ia menjadi korban dalam kisah cinta sehidup semati orangtuanya. Apa yang ayahnya lakukan telah memberikan contoh pada Leandra bahwa cinta itu kejam dan egois. Dan karena itu juga Leandra tidak ingin mencintai orang lain. Baginya mencintai diri sendiri adalah bentuk cinta yang paling tulus. "Jika tidak ada yang harus aku ulang, aku akan pergi sekarang." Leandra memiringkan wajahnya menatap sutradara yang sudah ia kenal selama bertahun-tahun. "Kau bisa pergi, Lean." Leandra kemudian berdiri, karena ia memiliki waktu luang hari ini ia ingin pergi untuk mengunjungi temannya yang sudah cukup lama tidak bertemu dengannya. Manajer Leandra mendekat ke arah Leandra. Wanita itu tampak sedikit gugup. "Ada apa?" tanya Leandra. Ia cukup mengenali wanita di depannya, jika sudah seperti ini pasti ada sebuah masalah. "Ada telepon dari Jasmine." "Jasmine?" Leandra segera meraih ponsel dari managernya. Jasmine merupakan teman dari teman yang ingin ia kunjungi. "Ada apa Jasmin?" tanya Leandra. "Leandra, sesuatu terjadi pada Xaviera." Suara Jasmine terdengar gugup. "Kenapa dengan Xaviera?" "Xaviera sudah tiada." "Apa?" Leandra seperti salah mendengar. Meski begitu dadanya kini sudah tidak enak. Wajahnya yang selalu tampak dingin kini semakin dingin. "Xaviera melompat dari balkon apartemennya. Nyawanya tidak tertolong ketika sampai di rumah sakit." Kaki Leandra kehilangan kekuatannya. Jika saja tidak ada manajernya di sebelahnya maka sudah pasti Leandra akan berakhir di lantai. "Lean, tenanglah." Manajer Leandra tahu arti Xaviera untuk Leandra, itulah kenapa ia tidak berani menyampaikan kabar kematian Xaviera pada Leandra. Tidak ingin terlihat lemah, Leandra segera mengumpulkan kekuatannya kembali. Ia menggenggam ponselnya erat. "Di mana rumah sakitnya?" tanya Leandra. "Royal Hospital." Leandra memutuskan panggilan itu, kemudian ia segera melangkah. Namun, meski mencoba untuk tetap kuat, Leandra tetaplah manusia biasa. Sesekali ia kehilangan keseimbangannya dan hampir jatuh. Manajer yang mengikuti langkah Leandra selalu meraih tubuh Leandra, tapi Leandra selalu melepaskan dirinya dan bersikap seolah ia kuat menghadapi semua ini. Beberapa orang yang berpapasan dengan Leandra menatap wanita itu bingung. Selama ini Leandra memang cenderung tertutup, wanita itu tidak banyak bicara dengan para kru atau pemain di lokasi syuting, tapi Leandra masih akan menanggapi sapaan dari orang-orang di sekitarnya dengan sopan. Bukan mengabaikan mereka seperti sekarang. Ini bukan yang pertama kalinya bagi Leandra, tapi rasa sakitnya tetap sama. Ia benci ketika orang-orang yang ia sayangi meninggalkannya dengan cara seperti ini. Bahkan mereka tidak mengatakan selamat tinggal terlebih dahulu padanya. Tindakan yang mereka lakukan hanya meninggalkan rasa sakit yang sulit untuk ia hapuskan. Mereka membuat dirinya merasa buruk, seperti orang-orang itu tidak menyayanginya sama sekali. "Biar aku yang menyetir, Leandra." Manajer Leandra meraih kunci mobil Leandra. Leandra tidak bersikap keras kali ini, ia membiarkan manajernya menyetir untuknya. Selama di perjalanan, kedua tangan Leandra mengepal kuat. Dadanya terasa begitu sesak. Apa yang membuat Xaviera mengakhiri hidup sampai seperti ini? Ia tahu dengan benar Xaviera bukan tipe wanita yang mudah menyerah terhadap masalah. Ia juga tahu bahwa Xaviera berkemauan keras dan merupakan pribadi yang tangguh. Semakin Leandra pikirkan, ia semakin merasa sakit, seperti jantungnya dibelah dengan pisau. Beberapa menit kemudian, mobil yang dikemudikan oleh manajer Leandra sampai di parkiran Royal Hospital. Leandra melangkah seperti manusia tanpa jiwa menuju ke kamar mayat, tempat di mana Xaviera berada. Ketika Leandra membuka pintu kamar mayat, kakinya kembali melemas melihat tubuh Xaviera yang terbujur kaku di atas brankar. Leandra tidak pernah menyangka jika pada akhirnya ia akan melihat Xaviera dalam kondisi tidak bernyawa seperti ini. Leandra telah mengenal Xaviera sejak ia masih bayi. Xaviera merupakan putri dari supir pribadi ayahnya yang saat ini juga sudah tiada karena penyakit yang dideritanya. Bagi Leandra, Xaviera bukan sekedar sahabat, tapi sudah ia anggap sebagai saudarinya sendiri. Mereka sudah melewati banyak hal bersama. "Lean." Manajer Leandra bersuara pelan. Wanita itu sangat mengkhawatirkan kondisi Leandra. Leandra kembali menguatkan dirinya, ia melangkah mendekat ke brankar. Leandra tidak pernah menangis sejak kepergian orangtuanya selain untuk keperluan aktingnya, tapi kali ini ia kembali menangis. Meluapkan rasa sakit akan kehilangan yang memukul jiwanya tanpa ampun. Namun, Leandra tidak membiarkan air matanya mengalir lebih banyak. Ia segera menghapus air matanya yang jatuh kemudian diam sembari memandangi wajah pucat Xaviera. Leandra hanya menampilkan emosi seperlunya saja, menjaga dirinya agar tidak terlihat lemah di mana pun ia berada. Kejadian di masa lalu telah membuat ia seperti ini, dahulu ia juga berhenti menangisi kematian ayah dan ibunya dalam waktu yang singkat, tapi bersama dengan itu ia juga kehilangan tawa cerianya. Kuku-kuku indahnya menancap di telapak tangannya. Kepalannya semakin menguat saat ia mencoba untuk menahan kesedihannya. Mungkin jika orang yang mengenal persahabatan Leandra dan Xaviera melihat Leandra sekarang, mereka akan berpikir bahwa Leandra tidak benar-benar menganggap Xaviera sebagai sahabatnya. Kesedihan Leandra tidak begitu terlihat. Pemakaman Xaviera telah dilaksanakan. Leandra menghadiri pemakaman itu dengan mengenakan dress berwarna hitam. Tak ada yang kata-kata yang keluar dari mulutnya. Ia hanya mengikuti proses pemakaman yang hanya dihadiri oleh beberapa orang saja itu dengan tenang, tanpa air mata, tanpa isakan. "Leandra, Xaviera meninggalkan ini." Jasmine memberikan sebuah kotak pada Leandra. Leandra meraih kotak itu, tapi ia tidak langsung membukanya. Saat pemakaman berakhir, Leandra menjadi orang terakhir yang meninggalkan makam Xaviera. Leandra telah melakukan pemakaman sesuai dengan keinginan Xaviera, dahulu Xaviera pernah membicarakan bahwa jika ia meninggal ia ingin dimakamkan di kampung halaman sang ayah. Di mana di sana juga tempat ayah dan ibunya di makamkan. Setelah perjalanan yang panjang, Leandra sampai di penthousenya. Ia sendirian sekarang dengan rasa sedih yang memeluk dirinya. Leandra merasa kini ia benar-benar sendiri. Semua orang yang ia cintai telah pergi meninggalkannya. Mata Leandra kini tertuju pada kotak hitam peninggalan Xaviera, entah apa yang ada di dalam sana. tbc

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Dinikahi Karena Dendam

read
212.6K
bc

Tentang Cinta Kita

read
195.0K
bc

Siap, Mas Bos!

read
16.2K
bc

Single Man vs Single Mom

read
104.5K
bc

My Secret Little Wife

read
106.8K
bc

Iblis penjajah Wanita

read
4.2K
bc

Suami Cacatku Ternyata Sultan

read
16.1K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook