Steve telah sampai ke mansion milik ayah. Semenjak menikah, pria tinggi tegap itu tak pernah tinggal bersama orang tua, karena sudah pasti hidup bersama istri, yang sekarang sudah berubah status menjadi mantan, di penthouse milik sendiri.
Dia segera turun dari mobil diikuti oleh para bodyguard. Steve merasa menyesal, karena dulu tidak mendengarkan perkataan orang tua, terlebih sang ayah yang tak pernah ikut campur urusan pribadi, tiba-tiba menentang keras keputusan untuk menikah dengan wanita yang dicintai.
Teringat jelas lima tahun yang lalu, pria yang sejak kecil dikenalnya sebagai ayah, telah bersumpah, kalau ia tak akan pernah mau menerima Camilla sebagai menantu sampai kapanpun dan ucapan itu terbukti sekarang, dengan perceraian yang baru saja terjadi. Sang ibu, Veronica Martinez, juga tidak memberi restu, tapi bersedia datang hanya sebagai tamu.
Masih jelas di memori, betapa kecewa wajah wanita yang telah melahirkannya ke dunia. Betapa menyesal pria dingin tersebut, ketika ibu yang dikasihi sepenuh hati, meninggal dunia dua tahun lalu. Saat itu, Steve masih buta akan cinta dan tidak mempertimbangkan saran dari orang tua yang jelas-jelas menyayangi dengan cara tersendiri.
Di depan pintu masuk, terlihat para bodyguard dan maid telah menunggu, seraya memberi hormat kepada putra tunggal dari pemilik mansion, yang terkenal tak banyak bicara itu.
"Selamat datang, Tuan Steve," sapa para maid.
Steve tak menghiraukan semua greeting yang diberikan dan fokusnya hanya satu: bertemu dengan ayahnya yang sudah berusia tua tapi tetap berkuasa di dunia hitam. Pria tinggi tegap itu berbelok ke arah ke ruang keluarga, di mana mereka biasa bertemu. Sesampainya di sana, langsung menemukan sang ayah sudah sejak tadi menunggu.
"Dad ...." Steve tak kuasa menahan rasa haru di hati.
Pria yang ditunggu, Lorenzo Jamenson, berdiri di sana untuk menyambut kedatangan Steve. Wajah yang keriput, rambut berubah, tapi tak mengurangi kegagahan fisik di masa lalu dan tubuh yang terbilang tegap untuk pria seusianya membuat dia masih bisa beraktifitas, meskipun bukan yang berat.
"Steve." Lorenzo menyapa putra tunggal kebanggaannya.
Kedua pria itu terdiam sesaat, lalu Steve mendekati sang ayah dan memeluk hangat. Dia merasakan haru, karena masih tetap diterima di sana, meskipun sudah lima tahun berlalu sejak peristiwa itu.
"Akhirnya kau datang juga. Aku selalu yakin bahwa putraku akan kembali ke rumah ini. Welcome home, Son. Welcome home!" Lorenzo berbisik di telinga sang putra.
Steve merasa semakin bersalah. Hubungannya dengan sang ayah memang terkadang naik dan turun, tapi dia tak pernah dibuang oleh keluarga.
"Dad ...." Steve tak bisa mengatakan hal yang lain.
Steve yang lebih tinggi dari sang ayah membuat pria tua itu tampak lebih kecil dibandingkan sang putra. Mereka berdiri berhadapan, seakan menahan semua rasa yang terpendam, akan tetapi belum mengungkapkan sejujurnya.
"Kalau saja lima tahun lalu aku mendengarkan kata-katamu, aku pasti ...." Steve tak melanjutkan perkataan karena sudah dipotong oleh ayahnya.
"Sudah, itu semua sudah berlalu! Kau tak perlu menyesali apa yang terjadi. Mungkin jalan hidup yang dilalui, harus seperti ini. Ingatlah, Son. Dad tidak melarang untuk tidur dengan banyak wanita, asalkan selalu memakai pengaman. Untuk memilih istri, pilihlah yang memiliki karakter baik, karena kau akan hidup bersama, bukan untuk setahun dua tahun, tapi untuk selamanya." Lorenzo menasehati putra tunggal.
Steve terdiam sesaat, mencoba mencerna setiap perkataan sang ayah. Dunia yang ia kenal sejak kecil bukanlah dunia putih, tapi hitam kelam. Narkoba, perdagangan senjata ilegal, alkohol, perjudian, dan segala jenis sudah lumrah ia saksikan, karena memang itulah bisnis yang dikendalikan oleh mereka.
Lorenzo melepaskan pelukan sang putra. Dia menatap mata Steve yang berwarna hijau safir, warna yang sama dengan mendiang sang istri. Betapa hatinya merindukan Veronica yang telah menemani dalam suka dan duka, sejak memulai bisnis dari nol, hingga mereka memiliki banyak cabang usaha di mana-mana.
"Kau mau makan dulu? Tak usah khawatirkan perjalananmu, semua sudah Dad urus! Kau hanya perlu membawa diri saja!" Lorenzo menatap Steve dengan serius.
"But, Dad ...."
"Tidak ada tapi! Untuk usahamu, akan Dad pegang selama kau pergi! Bersenang-senanglah, nikmati waktu dan ingat jangan mau terjebak dengan wanita ular!" Lorenzo memperingatkan Steve dengan sungguh-sungguh.
"Baiklah. Ke mana kali ini tujuannya? Dad tidak merencanakan tempat yang aku tak tahu, 'kan?" Steve bertanya dengan nada curiga.
Lorenzo tertawa. Kepala mafia itu mengetahui, bahwa sang putra pasti curiga dengan rencana yang telah dibuat. Anakku sungguh cerdas, tapi tentu saja, dia tak boleh mengetahui apa yang akan terjadi. Semua sudah disusun secara diam-diam, tepat ketika wanita jaha*nam itu sudah mengkhianati Steve.
"Bagaimana bila sekarang duduk diam dan menikmati semua yang sudah Dad persiapkan? Cheer up, dunia tak akan kiamat, meski baru saja bercerai! Kau itu anak tunggal Lorenzo Jamenson, sudah pasti bisa mendapatkan seribu wanita yang lebih baik dari Camilla!" Pria tua itu memanas-manasi anaknya.
Steve tertawa lepas, karena mendengar ucapan tersebut, berarti sang ayah telah kembali normal. Selera humor Lorenzo yang terkenal aneh, sehingga membuat pria yang masih terluka karena perceraian, menjadi semakin yakin, bahwa kehangatan yang ia kenal sejak kecil, telah kembali.
Pria bertubuh tegap itu, sudah merindukan orang tua, terutama setelah menikah. Mereka tak pernah datang berkunjung ke penthouse, karena tak mau bertemu dengan Camilla, dan memilih bertemu di luar, itupun tanpa kehadiran sang ayah.
"Dad, tidak ada drama perjodohan di sana, 'kan?" Steve bertanya kembali dengan nada menyelidik.
"Tidak ada! Kau bebas memilih mana saja yang kau suka, tapi ingat jangan kau pilih wanita yang setipe dengan yang kemarin!" Lorenzo memperingatkan dengan sungguh-sungguh.
Steve mengangguk. "Now, tell me, what will I do in the new place? Aku kenal sifatmu, Dad. Kau suka membuat acara yang membuat shock, at least you can inform me, agar bisa siap menghadapi apa pun yang ada." Dia sedikit mendesak sang ayah, untuk memberitahukan rencananya.
Lorenzo tertawa. "Sudah, jangan terlalu khawatir berlebihan! Kau akan party di sana dan banyak perempuan cantik menunggu. Kau tinggi, tampan dan berkuasa, dengan ketiga modal itu sudah lebih dari cukup untuk menarik perhatian lawan jenis!" Lorenzo tetap tak mau menjawab pertanyaan anaknya.
Steve tak habis pikir dengan jalan pikiran sang ayah yang serba misterius. Dia sendiri sudah curiga akan rencana Lorenzo, tapi tak bisa berbuat apa-apa. Jika pria tampan itu nekat mencoba bertanya dengan Nick, pasti tidak akan mendapat jawaban apa pun.
"Mari kita ke dining room! Sudah lama sekali tak makan bersama denganmu, Son!" ajak Lorenzo kepada Steve.
"Ya, Dad. Kita sudah lama tak makan bersama sebagai keluarga," sahut Steve.
"Jangan kaku begitu. Anggap saja hari ini adalah hari yang baru bagimu. Kau boleh tinggal di sini lagi dan untuk penthouse, bisa lebih baik disewakan saja, kalau tak ingin di sana dalam jangka panjang," ucap Lorenzo.
"Ya, aku akan tinggal bersamamu lagi, Dad. Apa aku sudah terlalu tua untuk tinggal bersama orang tua?" tanya Steve penasaran.
"Tidak. Kita ada keturunan Italia dan Spanyol. Bagi kami, tinggal bersama keluarga, dalam hal ini orang tua, tidak mengenal usia. Kau tak perlu khawatir!" jawab Lorenzo menepis keraguan sang putra.
"Terima kasih, Dad." Steve bersyukur kini bisa membangun kedekatan dengan ayahnya.
Aku senang hubunganku dengan dad, bisa kembali baik meskipun mom tidak bisa melihat dan merasakannya. Hari ini adalah awal yang baru dan aku tak mau merusak hal-hal yang baik yang tengah terjadi, pikir Steve.
"Sama-sama, Son." Lorenzo menyahut ucapan sang putra.
Mereka berdua ke luar dari ruang keluarga menuju ke Dining room. Sesampainya di sana, masakan sudah tersaji di atas meja. Nick, asisten sang ayah, telah mengecek apakah ada racun atau tidak dan setelah melewati proses pemeriksaan, semua makanan dinyatakan lolos dan aman untuk dikonsumsi oleh Steve dan Lorenzo.
"Silakan duduk, Tuan Besar dan Tuan Muda!" Nick mempersilakan Lorenzo dan Steve untuk duduk.
"Terima kasih Nick. Standby-lah!" sahut Lorenzo kepada sang asisten.
"Terima kasih, Nick," ucap Steve membalas kebaikan asisten ayahnya yang telah berbaik hati melakukan prosedur pemeriksaan makanan seperti biasa.
"Sama-sama Tuan Besar dan Tuan Muda. Apabila membutuhkan sesuatu, bisa langsung menghubungi saya." Nick berkata, sebelum meninggalkan dining room.
"Ya, nanti siapkan mobil untuk Steve ke bandara. Dia akan mulai liburan!" Lorenzo berpesan kepada Nick.
Sebenarnya, I do not want to take a vacation, but my dad did it. Aku akan mencoba menolak, bahkan mencari tahu apa alasan sebenarnya dipaksa pergi. Firasat berkata, bahwa orang tua telah lama merencanakan sesuatu, tetapi apa itu? Tak mungkin mengemukakan alasan, jika tidak disertai bukti dan saksi, karena sudah pasti kalah, pikir Steve resah.
"Baik, Tuan Besar. Saya permisi." Nick pamit dan undur diri dari sana.
"Nah, duduklah, Son!"
"Ya, Dad."
Mereka duduk di kursi dan mulai menyantap hidangan yang ada. Steve menikmati waktu bersama Lorenzo, satu-satunya orang tua yang masih ada di dunia. Tidak ada yang membuka percakapan, karena sejak kecil sang ayah mengajarkan dia agar tidak bicara waktu makan.
"Kau ingin dessert?" tawar Lorenzo ketika melihat anaknya selesai minum.
"Yes, please," sahut Steve.
Maid membawakan dessert berupa puding coklat dan menaruhnya masing-masing di depan Lorenzo dan Steve. Mereka berdua kembali menyantap puding dengan perlahan. Pikiran Steve kini dipenuhi dengan apa rencana ayahnya. Dia meragukan bahwa tidak ada hal biasa-biasa saja sesampainya dia di tempat tujuan.
"Nah, Son. Kau sudah selesai makan?" tanya Lorenzo, setelah mengelap bibir dengan napkin.
Pria tampan nan dingin yang sudah selesai makan dan minum air mineral mengangguk. "Sudah. Ada apa?" jawab Steve. Pria cerdas itu sengaja menjawab, tapi sekaligus melempar pertanyaan, karena merasa curiga.
"Sebentar lagi, Nick akan mengantarmu ke bandara. Jangan khawatir, kau tak akan sendiri, karena Frank menemani. Di sana, sudah pasti mengalami hal-hal mendebarkan. One thing you should remember: jangan harap bisa pulang ke sini, sebelum waktu yang ditentukan selesai." Lorenzo menjawab pertanyaan Steve.
Nah, 'kan. Apa kataku? Pasti ada sesuatu yang tak biasa, aku kenal siapa ayah dan dia tak mungkin melepaskan anaknya tanpa ada sesuatu yang aneh. Kenapa hal seperti ini harus terjadi? keluh Steve kesal.
"Oke, sebenarnya aku akan pergi ke mana?" tanya Steve, yang sudah tahu tak bisa mundur, tapi akan mencari jalan agar bisa lolos.
"Good question! Kau akan pergi ke ...."
***