04

793 Words
Happy Reading! Delia melotot saat melihat banyaknya cairan mengalir diantara kakinya. Bahkan setelah dicuci, cairan itu tetap saja mengalir keluar seolah tidak ada habisnya. "Sebenarnya apa yang terjadi?" gumam Delia ketakutan. Sebelumnya ia tak pernah merasa sakit tapi hari ini bagian sensitifnya terasa sangat nyeri dan bahkan ada bercak darah. Yang lebih aneh lagi. Ada banyak cairan yang keluar dan Delia tahu itu tidak normal. Setidaknya ia tidak pernah mengalami ini sebelumnya. Apa jangan-jangan ia menderita penyakit serius? Delia langsung bergidik ngeri saat memikirkan tentang penyakit berbahaya yang mungkin ia alami. Ibunya bukan orang kaya, jika ia benar-benar punya penyakit maka habislah sudah. Tok tok "Delia, ibu akan ke rumah besar. Makanan sudah ibu letakkan di atas meja." "B-baik, bu." balas Delia dengan suara tercekat. Jika benar ia punya penyakit maka sebaiknya ibunya tidak tahu tentang ini. Setelah membersihkan diri dan yakin bahwa tidak ada cairan lagi yang menetes, Delia akhirnya keluar dari kamar mandi. Ia segera berpakaian dan melangkah menuju meja makan kecil di sudut rumah yang mereka tempati. Setelah menghabiskan makanannya, Delia bergegas mengambil tas di dalam kamar dan melangkah keluar dari rumah. Ia ada kuliah siang hari ini dan tidak boleh telat karena dosen yang mengajar adalah pak Andra, dosen paling mematikan di kampusnya. Delia keluar melalui pintu gerbang belakang lalu berjalan sedikit memutar agar tiba di jalan utama. "Shh kenapa jalan utama terasa sangat jauh." gumam Delia saat tiba di jalan utama. Biasanya tidak sejauh ini, apa karena kakinya yang sakit jadi perjalanan terasa menyiksa. "Lelah sekal---arghh!" jerit Delia saat sebuah mobil hampir menabraknya. Awalnya ia ingin marah-marah tapi mobil itu sangat mewah dan pastinya pemiliknya adalah orang kaya. Delia tidak akan pernah menyinggung orang kaya dan tubuhnya secara spontan malah menunduk untuk meminta maaf. "Masuklah!" Eh? Delia segera mendongak dan melotot saat melihat bahwa tuan Sagara adalah orang yang berada di dalam mobil. Pria itu duduk di kursi belakang dan sopir di kursi kemudi. "Tuan Sagara.." sapa Delia ramah. "Hm.. Masuklah!" "Saya?" tunjuk Delia pada dirinya sendiri. "Iya. Cepat masuk!" "Tidak perlu, tuan. Saya biasa naik ojek ke kampus." "Masuk!" Delia sedikit tersentak. Kenapa tuan Sagara memaksa sekali? "Masuklah, nona!" kali ini pria yang duduk di kursi kemudilah yang bicara. Meski pria itu sopir tuan Sagara tapi dia bisa tinggal di rumah utama. Mungkin kerabat tuan Sagara, karena kalau pekerja seperti ibunya maka harus tinggal di bangunan belakang. "B-baiklah, terima kasih." ucap Delia gugup lalu melangkah dan membuka pintu mobil samping kemudi. "Duduklah di belakang, nona!" Delia langsung melotot. Duduk di belakang? Bukankah itu artinya ia harus duduk bersebelahan dengan tuan Sagara. "A-aku duduk di depan saja." ucap Delia cepat lalu segera masuk mobil dan menutup pintu. Namun entah hanya perasaannya saja atau memang keadaan mobil mendadak begitu panas. Padahal mobil mewah seperti ini pasti punya AC kan? Delia melirik ke samping namun ia malah kaget saat melihat sopir tuan Sagara berkeringat deras. Sepertinya bukan hanya dirinya yang merasa kepanasan. Karena tak tega, Delia inisiatif mengambil tisu miliknya di dalam tas lalu membersihkan keringat pria itu. Brakkk "Akh.." kaget Delia lalu berbalik. Kenapa tuan Sagara tiba-tiba saja memukul kaca mobil? Dan pria itu nampak marah, sangat marah. "M-maafkan saya, tuan." Delia makin kaget saat pria di sampingnya tiba-tiba saja meminta maaf pada tuan Sagara dengan tubuh yang bergetar takut. Mungkin harusnya aku tidak masuk mobil ini, batin Delia. Lihat saja tuan Sagara, pria itu benar-benar punya perangai yang buruk. Marah-marah tidak jelas dan bahkan orang yang tidak bersalahpun harus meminta maaf. Delia benar-benar merasa kasihan dengan pria di sampingnya itu. Menjadi sopir tuan Sagara pasti adalah pekerjaan yang sangat berat bukan? "K-kakak baik-baik saja?" tanya Delia dengan suara super kecil namun Sagara yang duduk di belakang bisa mendengarnya dengan jelas, jangan pernah meremehkan pendengaran seorang serigala. "Anton!" bentak Sagara dengan mata berkilat marah, beraninya Anton merayu pasangan sejatinya. Dan bahkan Delia memanggilnya kakak seolah keduanya sangat akrab. Anton yang memang sudah sangat ketakutan segera keluar dari mobil. Kakinya langsung lemas begitu menginjak aspal. Setelah ini tuan Sagara pasti akan menghukumnya. Sedang Sagara juga ikut keluar dari mobil."Pergi dan terima cambukan seratus kali!" "Baik, tuan." ucap Anton dengan tubuh membungkuk. Sagara sendiri segera masuk dan duduk di kursi kemudi. "Tuan, sebaiknya saya berangkat naik ojek saja." ucap Delia lalu segera turun dari mobil dan berlari pergi dengan cepat. Sagara yang melihat itu jadi tambah marah lalu keluar dari mobilnya dan menatap Anton tajam. "Beraninya kau merayu pasanganku." marah Sagara membuat Anton melotot. Kapan dia merayu nyonya Delia? "Tuan, saya tidak---" Bugh "Tidak katamu? Pasanganku hampir membersihkan keringatmu, menatapmu khawatir dan terakhir memanggil kakak, bukankah itu artinya kau sedang merayu pasanganku." marah Sagara membuat Anton segera berlutut. "T-tuan.. Tapi harusnya nyonya Delia yang merayu say--" Bughhh "Kau dipecat!" ucap Sagara lalu segera masuk mobil dan melajukannya pergi dari sana. Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD