03

773 Words
Happy Reading! "Tidak bisa. Manusia tidak mungkin bisa melahirkan keturunan serigala." ucap tetua membuat Sagara langsung menatap tajam serigala tua itu. Sedang Sarita langsung berdiri lalu menatap manusia yang tadi malam b******a dengan putranya. Melihat bagaimana keadaan manusia itu, sepertinya menjadikannya pasangan serigala memang mustahil. "Lalu bagaimana jika manusia itu hamil?" tanya Sarita. "Maka manusia itu akan mendapatkan rasa sakit yang amat sangat lalu meninggal." Sagara mengepalkan jari-jarinya lalu mendekat ke arah manusia yang masih tidur di atas ranjangnya itu. "Tapi manusia itu sudah bersatu dengan Sagara dan tetua juga tahu kalau serigala sudah mendapatkan pasangan maka dia akan setia sampai mati." ucap Sarita. "Karena ia bukan serigala maka jelas jelas tidak bisa disebut pasangan. Serigala hanya akan berpasangan dengan serigala lainnya agar bisa menghasilkan keturunan yang kuat." jelas tetua lalu berdiri dan melangkah menuju tempat tidur. "Lihatlah! Manusia itu begitu rapuh. Tidak mungkin bisa mengandung bayi serigala selama tiga tahun." "Lalu apa yang harus dilakukan?" tanya Sarita. "Hapus ingatannya!" ucap tetua tegas. Sarita melotot lalu menatap putranya."Tapi---" "Lakukan!" suruh Sagara lalu segera menyingkir. Meski dia sudah punya perasaan yang tidak biasa pada manusia itu tapi aturan memang tidak bisa dilanggar. Baik serigala maupun manusia tidak mungkin bisa bersatu. Tetua tersenyum tipis lalu mengulurkan tangannya menyentuh kepala manusia itu kemudian cahaya hijau langsung menyembur keluar. "Setelah ini, manusia itu tidak akan ingat dengan apa yang terjadi." ucap tetua lalu segera pergi. Sarita langsung menyentuh pundak putranya."Setelah ini, pergilah ke gunung dan cari pasangan sejatimu. Mama yakin, pasti ada serigala betina yang sepadan untuk menjadi pasanganmu." Sagara mengangguk membuat Sarita segera melangkah keluar. "Manusia ini mungkin lupa tapi aku tidak." gumam Sagara lalu menatap wajah pucat pasangannya. Setelah ini, dia akan mendekati pasangannya itu sebagai manusia bukan serigala. Kemudian dengan satu gerakan cepat, seluruh kain yang menutupi tubuh manusia itu berhasil Sagara singkirkan. "Aku akan mengobatimu, pasanganku." ucap Sagara lalu mulai menjilati seluruh luka pada tubuh pasangannya. Tidak ada satupun yang tahu kalau Sagara punya anugerah untuk menyembuhkan luka dengan air liurnya. Hanya dia sendiri yang tahu dan keadaan ini sangat langka, tidak ada serigala lain yang bisa melakukannya. Dulu Sagara tak tahu kenapa anugerah ini ada tapi sekarang dia mengerti, bahwa kemampuan ini diberikan karena pasangannya bukanlah serigala melainkan manusia. Setelah luka di tubuh pasangannya sembuh, Sagara segera memeluk tubuh kecil itu. "Kenapa tubuh pasanganku rapuh sekali." gumam Sagara lalu menyentuh perut manusia itu. Serigala betina yang mengandung memerlukan waktu tiga tahun untuk melahirkan sedang manusia hanya sembilan bulan. Tapi Sagara tidak tahu berapa lama manusia akan mengandung jika benihnya dari serigala. "Tumbuhlah dengan kuat, nak." ucap Sagara lalu tersenyum tipis. Dia akan menjaga pasangannya dari siapapun yang mencoba menyakitinya. Kemudian dengan satu tiupan dari Sagara, tubuh pasangannya itu perlahan menghilang dari pelukannya bersama pakaiannya yang berserakan di lantai. Butir-butir halus itu terbang keluar dari rumah besar menuju bangunan belakang kemudian berkumpul menjadi satu dan nampaklah sosok Delia yang sedang tidur di atas kasurnya. "Enghhhhhh.." Delia melenguh lalu segera membuka mata dan bangun. Entah mengapa tapi ia merasa kalau tidurnya kali ini sangatlah nyenyak. "Kenapa ibu tidak membangunkanku." gumam Delia lalu turun dari tempat tidurnya. Namun begitu keluar dari kamar, ia malah melihat ibunya sedang menangis histeris di halaman. "Ibu, apa yang terjadi? Ibu?" teriak Delia panik lalu segera berlari memeluk ibunya. Niah yang melihat putrinya langsung diam. Ia buru-buru menyentuh dan memastikan kalau yang memeluk tubuhnya adalah Delia, putrinya. "Delia, kau dari mana saja? Ibu terus mencarimu bahkan semua orang juga--" "Apa maksud ibu? Aku sejak tadi malam ada di kamar." potong Delia bingung. "Apa?" kaget Niah. Delia mengangguk."Aku tidur di kamar, apa ibu tidak melihatku?" Niah menggeleng lalu menatap para pekerja lain yang sudah membantunya mencari Delia. "Terima kasih dan maaf telah merepotkan kalian." ucap Niah tak enak. "Kami tidak masalah, hanya saja setelah ini kau harus minta maaf dengan nyonya besar." suruh pekerja lain. Niah segera mengangguk lalu mengajak putrinya masuk ke dalam rumah. "Kenapa ibu harus minta maaf dengan nyonya besar?" tanya Delia tak mengerti. Niah menggeleng lalu membersihkan air matanya. Sebaiknya tidak usah ia ceritakan kalau tadi pagi nyonya besar marah padanya. "Dan kenapa tangan ibu terluka?" tanya Delia membuat Niah segera menyembunyikan luka di lengannya. Tadi pagi ia diseret pergi oleh kepala penjaga, tentu saja di tubuhnya akan ada sedikit lecet. "Ibu terjatuh saat mencarimu." dusta Niah membuat Delia menggeleng pelan lalu segera mengambil kotak obat. Niah yang melihat putrinya menjauh langsung tertegun. "Delia, ada apa dengan cara jalanmu?" tanya Niah saat melihat cara jalan putrinya yang tidak biasa. "Cara jalanku?" tanya Delia lalu melirik ke arah kakinya. 'Iya, ada apa dengan tubuh bagian bawahnya. Kenapa rasanya sakit dan perih?' batin Delia yang baru menyadarinya. Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD