Happy Reading!
Dua bulan kemudian.
"Terima kasih, tuan." ucap Delia dengan senyum lebar saat kembali menerima uang.
Sagara hanya tersenyum lalu mengambilkan sesuatu dari dalam laci lemarinya.
"Ini apa, tuan?" tanya Delia saat sebuah kotak kecil diberikan padanya.
"Hadiah." ucap Sagara.
"Hadiah untuk apa?" tanya Delia bingung lalu menatap kotak yang ada di tangannya.
"Untuk ulang tahunmu."
"Hah?" Delia langsung dibuat kaget. Ternyata tuan Sagara tahu tanggal ulang tahunnya dan bahkan sekarang memberinya kado.
"Terima kasih banyak, tuan." ucap Delia lalu menatap tubuh tuan Sagara yang sudah dipenuhi perban. Ada sekitar empat luka di d**a dan perut. Tiga luka di lengan kanan, empat luka di tangan kiri, dua di pundak, tiga di kaki kanan dan dua di kaki kiri. Semua luka itu didapatkan selama dua bulan ini dan selama itu juga Delia yang dipanggil untuk mengobati luka tuan Sagara.
Awalnya Delia senang karena setiap kali membantu memasang perban, ia akan diberi uang. Tapi kalau sampai sebanyak ini, ia juga jadi khawatir. Dan lagipula, sebenarnya dari mana semua luka itu tuan Sagara dapatkan?
"Ada apa? Kenapa mendadak diam?" tanya Sagara.
Delia menggeleng pelan."Tubuh tuan sudah dipenuhi oleh luka. Apa tuan tidak ingin pergi ke rumah sakit?"
Sagara menggeleng."Ini hanya luka kecil."
"Memang hanya luka kecil tapi kalau sebanyak itu, pasti tetap sakit kan?" wajah Delia sekarang dipenuhi kekhawatiran.
"Tidak sakit." balas Sagara. Karena lebih sakit tidak bisa bertemu dan bicara dengan pasangannya dibanding dengan beberapa luka seperti ini.
Delia mengangguk."Tapi kenapa tuan bisa terluka?"tanya Delia memberanikan diri. Sebenarnya ia memang sudah cukup berani untuk bicara dan bahkan memandang tuan Sagara langsung karena selama dua bulan ini, ia diperlakukan cukup baik dan yang paling penting tidak pernah ditatap sinis atau dibentak.
Sagara diam. Mana mungkin dia bilang kalau luka ini didapatkan dengan sengaja.
"Kalau tuan tidak mau bilang, juga tidak masalah." ucap Delia cepat. Sepertinya memang dirinya yang terlalu ikut campur.
Sagara mengangguk."Cepat buka hadiahmu dan lihat apa isinya!"
Delia segera mengangguk dan membuka kotak kecil di tangannya.
"Ini----cincin?" tanya Delia bingung. Kenapa tuan Sagara memberinya cincin?
Sagara berdehem."Kau suka?"
"I-iya, tapi ini---"
Sagara mengambil cincin itu dari dalam kotak lalu menyematkannya ke jari manis pasangannya.
"Cantik sekali." puji Sagara membuat Delia melongo.
"Kenapa tuan memberi saya cincin?" tanya Delia bingung. Cincin kan biasanya diberi oleh seseorang untuk pasangannya. Sedang dirinya dan tuan Sagara hanya sebatas majikan dan pembantu.
"Kenapa banyak tanya? Jika tidak suka, berikan saja pada pelayan lain."
"Suka, sangat suka. Terima kasih, tuan." ucap Delia dengan senyum manis.
"Jika kau membutuhkan apapun, datang saja padaku. Aku akan membantumu." ucap Sagara membuat Delia mengangguk. Tuan Sagara baik sekali, pikirnya.
"Sekali lagi, terima kasih tuan." ucap Delia tulus.
Sagara mengangguk lalu meminta pasangannya itu untuk pergi karena jika lebih lama lagi, dia takut akan menerkam Delia.
"Ke depannya tolong lebih berhati-hati, jangan sampai tuan terluka lagi." ucap Delia lalu menunduk sopan dan segera pergi dari sana.
Sagara tersenyum lalu menatap tubuhnya yang hampir dipenuhi perban. Besok mungkin dia harus melukai kepalanya.
Sedang di kamar lain, ada Sarita yang menunggu kabar dari Adam. Ia penasaran apakah manusia itu masih aman setelah dua bulan ini selalu keluar dari kamar Sagara dalam keadaan baik-baik saja.
"Bagaimana?" tanya Sarita saat Adam datang.
"Manusia itu masih baik-baik saja, nyonya. Tadi ia bahkan keluar dari kamar tuan Sagara dengan senyum lebar."
Brakk
Sarita langsung memukul meja."Apa Sagara tidak menyentuhnya?"
"Sepertinya tidak, nyonya." sahut Adam.
"Bagaimana mungkin Sagara bisa menahannya?" gumam Sarita. Padahal ia ingin Sagara menerkam Delia, menyakitinya sampai manusia itu terluka parah dan meninggal. Tapi selama dua bulan ini malah tidak terjadi apapun.
"Sepertinya tuan Sagara berhasil mengendalikan dirinya, nyonya." ucap Adam.
"Tidak bisa. Jika terus dibiarkan seperti ini, maka Sagara bisa saja semakin terikat dengan manusia itu. Kita harus lakukan sesuatu," ucap Sarita lalu menatap Adam."Apa kau punya saran?"
Adam mengangguk."Malam ini adalah bulan purnama total dan semua bangsa serigala yang punya pasangan akan sekarat. Bahkan serigala betina pun akan kewalahan apalagi manusia yang lemah, mereka mungkin akan binasa jika dipaksa melayani nafsu buas para serigala jantan."
Sarita tersenyum licik."Bagus sekali. Kalau begitu kita harus pastikan kalau malam ini, manusia itu akan datang ke kamar Sagara."
"Saya akan mengaturnya, nyonya." ucap Adam membuat Sarita mengangguk puas.
Di sisi lain, ada Delia yang merasa mual setelah menyantap sate. Padahal tadi ia ingin sekali tapi begitu mencium bau dan memakannya, perutnya malah mual.
"Ada apa?" tanya Niah cemas.
Delia segera menutup mulutnya."Satenya tidak enak, ibu."
"Benarkah? Tapi ibu membelinya dari langganan kita dan biasanya kamu suka." ucap Niah lalu mencoba satenya namun rasanya tidak ada yang aneh.
"Baunya aneh, rasanya juga--huekk" Delia segera menutup mulutnya dan berlari memasuki kamar mandi. Sedang Niah segera menyusul putrinya dengan wajah cemas.
Bersambung