Happy Reading!
"Nyonya besar." sapa Delia sopan lalu segera meninggalkan pekerjaannya.
"Apa kau sedang sibuk?" tanya Sarita.
Delia menggeleng."Hanya mencuci piring, apa nyonya perlu sesuatu?"
Sarita mengangguk."Buatkan kopi untuk putraku dan antarkan ke kamarnya!"
"Apa?" kaget Delia.
"Iya. Bisa kan?"
Delia ingin menolak tapi mana mungkin. Mau tunggu ibunya yang buatkan, pasti akan lama. Mengingat ibunya baru saja pamit pergi untuk belanja.
"B-bisa, nyonya." sahut Delia pelan.
"Baiklah. Segera buat dan antarkan ke atas! Jangan sampai Sagara menunggu lama." titah Sarita lalu segera berbalik pergi. Semakin dekat manusia itu dengan putranya maka semakin dekat juga ia dengan kematian.
Sedang Delia segera mengambil gelas dan membuat kopi. Ia melakukannya secepat mungkin lalu setelah selesai langsung menuju lantai atas ke kamar tuan Sagara.
Tok tok
"Tuan.." panggil Delia dan tidak sampai dua detik, pintu kamar langsung terbuka. Delia saja sampai kaget, tidak akan mungkin ada orang yang bisa dengan cepat membuka pintu kecuali memang sudah berada di dekat sana.
"Masuklah!" suruh Sagara membuat Delia mengerjap. Padahal ia sudah ingin menyerahkan kopinya tapi tuan Sagara malah menyuruhnya masuk.
Dengan langkah pelan, Delia memasuki kamar.
"Tuan, kopinya saya letakkan di atas meja." ucap Delia pelan.
"Iya shhh.."
"Tuan kenapa?" tanya Delia lalu berbalik dan langsung melotot.
"Kau bisa membantuku membalut luka?" tanya Sagara membuat Delia melongo. Membalut luka adalah hal kecil, tapi kenapa luka tuan Sagara ada di dadanya. Bagaimana bisa ia membantu membalut luka sambil melihat tubuh tuan Sagara.
"T-tidak bisa."
"Arghh!" jerit Sagara seolah dia sangat kesakitan hingga akhirnya membuat Delia mendekat.
"Bagaimana tuan bisa terluka?" tanya Delia pelan lalu menelan ludah saat melihat tubuh tuan Sagara dari dekat.
Benar-benar sempurna, batin Delia.
"Cepat!" suruh Sagara membuat Delia langsung tersadar dari lamunannya lalu segera membantu membersihkan luka pria itu terlebih dahulu.
Sagara hanya diam dan fokus menatap wajah Delia yang kini sedang serius membersihkan lukanya.
"Apa ini sakit, tuan? Jika sakit, katakan saja!" ucap Delia membuat Sagara menggeleng.
"Siapa yang memintamu mengantar kopi ke sini?" tanya Sagara.
"N-nyonya Sarita, tuan." sahut Delia terbata.
Sagara hanya diam. Kenapa mamanya menyuruh Delia mengantar kopi untuknya? Apa sebenarnya yang serigala tua itu pikirkan?
"Apa ini baik-baik saja, tuan?" tanya Delia setelah meletakkan kasa steril pada bagian luka tuan Sagara.
"Ya.." sahut Sagara lalu tanpa sengaja menatap perut kecil Delia. Harusnya saat ini keturunan serigala sudah mulai berkembang di dalam sana.
"Tuan, tolong tahan bagian sini!" suruh Delia karena ia ingin memasang plester medis di atas kasa steril.
Sagara menurut, dia bekerja sama agar lukanya bisa segera dibalut.
"Selesai." ucap Delia saat luka tuan Sagara sudah ditutup.
"Balut juga lukanya dengan perban!" suruh Sagara membuat Delia melotot.
"Balut? Tapi---" Delia kembali menelan ludah saat melihat tatapan tuan Sagara. Bukan, itu bukan tatapan tajam tapi jenis pandangan yang berbeda. Itu seperti tatapan pemeran utama pria pada pemeran utama wanita dari drama yang biasa Delia tonton.
Tapi kenapa tuan Sagara bisa menatapnya seperti itu?
"Ehem.."
Delia langsung tersadar lalu dengan terpaksa ia mengambil perban gulung.
"M-maaf tuan.." cicit Delia pelan lalu mulai membalut luka tuan Sagara dengan perban.
Delia harus menutup mata karena setiap kali ia memutar perban mengelilingi tubuh tuan Sagara, wajah mereka hampir bersentuhan. Ini pasti karena tubuh tuan Sagara sangat besar sedang lengannya pendek dan kecil.
Sagara hanya tersenyum. Ternyata mendapat luka tidak buruk juga. Kalau tahu akan diobati oleh pasangannya, lebih baik tadi lukanya dia tambah saja.
Begitu selesai, Delia langsung mengunci perbannya lalu segera menjauh.
"S-sudah, tuan." ucap Delia dengan pandangan menunduk.
Sagara berdiri lalu mengambil uang dari dompetnya.
"Untukmu." ucap Sagara membuat Delia melotot saat melihat uang yang diberikan padanya.
"T-tidak perlu, tuan." ucap Delia lalu mati-matian menahan dirinya agar tidak mengambil uang itu.
Sagara mendekat lalu memaksa memberikan uang itu ke tangan Delia.
"Ambil saja! Anggap saja sebagai ucapan terima kasih karena sudah membalut lukaku." ucap Sagara membuat Delia mengangguk sopan.
"Terima kasih, tuan. Jika ada luka lain, tuan bisa panggil saya." ucap Delia lalu menutup mulutnya. Kenapa ia mengatakan itu? Bukankah sama saja ia berharap kalau tuan Sagara kembali terluka.
Sagara langsung menyeringai. Bukannya merasa dikutuk, dia malah mendapat ide baru.
"Sebenarnya ada luka lain." ucap Sagara membuat Delia segera menatap pria di depannya.
"Di mana, tuan?" tanya Delia semangat.
Sagara menunduk menatap ke area pribadinya."Di sana."
Tatapan Delia ikut turun lalu melotot.
"S-sebaiknya tuan pergi ke rumah sakit." ucap Delia dengan wajah merah lalu segera keluar dari kamar pria itu.
Bersambung