bc

Anak Pak Kyai

book_age18+
4
FOLLOW
1K
READ
serious
like
intro-logo
Blurb

Kemarahan Suami

" Aisah JAWAB!!!, Benih siapa dalam tubuh mu"Aisyah hanya bisa menudukkan kepala saat Dirga suami Aisyah murka melihat benda kecil tergeletak dekat di rak sabun kamar mandi. Ya benda yang pernah membuat nya sangat bahagia 13 tahun silam.

Benda yang membuktikan kalau dia akan jadi seorang ayah.

" AISHAAH !!! harus aku mengulang pertanyaan yang sama" Aishah hanya menjawab pertanyaan Dirga dengan air mata yang menggenang, semakin lama tangis nya semakin pilu. Tangis penyesalan, Tangis rasa bersalah dan tangis merasa berdosa sekaligus takut menghadapi kenyataan yang sudah di depan mata.

" Aku tak butuh tangis mu aish!! " Dirga membentak dan melempar piring yang berisi ikan yang baru selesai di goreng Aisyah. "PRAAANGGH" piring melayang pecah tak beraturan, kaca bertebaran kemana mana, ikan dalam piring pun ikut bersayap dan terbang akhir nya memilih mendarat di lantai. Kucing melihat ikan yang tergeletak tak berdaya lansung ambil kesempatan mencomot ikan dan berlari.

Ya, Suami mana yang tidak murka. Empat bulan di kota lain habis memeras keringat dan membanting tulang untuk memenuhi kebutuhan keluarga mencoba membuat anak dan istri bahagia . Rindu tiap kali menerpa tapi hanya berbalut air mata, Rindu Istri, anak, ah semua nya.

Suami Aishah adalah seorang ahli bangunan profesional, tak ada hari libur nya kecuali minggu, belum rampung satu proyek di kerjakan datang lagi dua proyek menunggu giliran. Dirga sudah terkenal kehebatan nya membuat bangunan tak jarang ya kerja di luar kota untuk waktu yang cukup lama.

' BUG' "BUG" dinding papan dapur rumah semi permanen jadi pelampiasan amarah nya. Entah berapa kali dinding tak bersalah itu di tinju Dirga. Tangan Dirga berdarah tertusuk serpihan papan yang jebol karna tak kuat menahan beban.

Rindu yang selama ini dia tahan, berharap semua bisa reda dengan bertemu anak dan istri tercinta.

Tapi kenyataan berkata tak sesuai harapan, ya istri nya Aishah hamil dan dia sangat sadar hari dia berangkat keluar kota untuk bekerja istri nya sedang menstruasi. Dia sadar kalau janin yang di kandung istri nya bukan benih nya.

Lelaki manapun di dunia ini tidak rela milik nya di ambil oleh orang lain. Tak rela sedikit pun wanitanya di sentuh orang yang berjenis kelamin sama dengan nya. Siapa pun orang nya, dari mana asal nya akan mempunyai prinsip dan rasa yang sama.

Aisyah duduk di pojok tak berani mengangkat kepala untuk menjawab pertanyaan suami nya, bahkan untuk melihat saja dia tak sanggup. Jika lantai ini berlubang ingin dia melompat agar hilang dari hadapan Dirga, hilang dari muka bumi ini.

Dirga menghampiri Aishah yang masih duduk di pojok dapur. Dirga duduk tepat di depan depan istrinya, kini posisi mereka berhadap-hadapan.

Aishah masih menundukkan kepala, aiar mata penyesalan masih di sana. Dirga meraih kedua tangan Aishah dan menggenggam nya.

" Lihat aku aish" cicit nya ,Aisyah masih menunduk. " Aish lihat aku " Dirga mengulangi dengan suara serak menahan sesak di dada, kecewa, marah, rasa di khianati dan rasa rendah sebagai lelaki rasa bersalah sebagai suami yang tak pandai menjaga istri.

Aishah mulai mengangkat kepala nya perlahan. Melihat darah bercucuran di tangan suami ada rasa iba teramat sangat tapi dia tak bisa berbuat banyak

" Aish apa salah ku, apa kurang ku"

kurang kah usaha ku untuk membuat kalian bahagia, ?

Malas kah aku bekerja?

Kurang kah nafkah lahir dari ku ?

Kurang ah kasih sayang dari ku sehingga

ini balasan mu"?

Ada kah aku bermain dengan wanita lain sehingga kau membalas nya?

Adakah seperti suami lain yang kerja main judi atau main game seharian dan istri yang menjadi tulang punggung ?

Dirga bertanya pilu dengan suara nya menyayat hati. Aishah menundukkan kepala semakin dalam dengan air mata menganak sungai timbul rasa iba dengan orang yang memperjuangkan hidup nya selama ini. Orang yang selalu mengorbankan kebutuhan nya demi keinginan dan kebahagian Aisyah.

" Kamu tahu Aishah bahkan sangat mengetahui ,

yang mana penghasilan ku untuk menyenangkan diri ku sendiri?,

apa yang telah ku beli untuk pribadi ku? bahkan pakaian pun kamu yang kamu membelikan, semua gaji ku untuk mu selain untuk makan dan bensin."

Tangis Dirga pecah dan pilu, " aku gagal aishah, aku gagal jadi suami, aku gagal membuat mu bahagia sehingha kamu mencari kebahagian lain selain dariku"

"Aku salah Aishah karna terlalu mempercayai mu, aku salah selalu menuruti keinginan mu" Dirga menyesal terlalu menuruti keinginan istri cantik nya itu. Benar, Dirga tidak tega menolak permintaan atau ajakan Aisyah jika menginginkan sesuatu.

Seingat Dirga dulu istri nya tidak seperti ini sebelum mempunyai benda pipih yang memiliki banyak fungsi ini. Aishah adalah istri dan Ibu yang baik untuk Dirga suami dan ketiga anak nya walaupun telah beranak tiga Aishah tetap cantik dengan tubuh bak model dengan kulit putih nan mulus.

Semenjak dibelikan benda pipih dan mengenal sosial media apalagi aplikasi bernama t****k membuat dia ta

chap-preview
Free preview
Anak Pak Kyai
Kemarahan Suami " Aisah JAWAB!!!, Benih siapa dalam tubuh mu"Aisyah hanya bisa menudukkan kepala saat Dirga suami Aisyah murka melihat benda kecil tergeletak dekat di rak sabun kamar mandi. Ya benda yang pernah membuat nya sangat bahagia 13 tahun silam. Benda yang membuktikan kalau dia akan jadi seorang ayah. " AISHAAH !!! harus aku mengulang pertanyaan yang sama" Aishah hanya menjawab pertanyaan Dirga dengan air mata yang menggenang, semakin lama tangis nya semakin pilu. Tangis penyesalan, Tangis rasa bersalah dan tangis merasa berdosa sekaligus takut menghadapi kenyataan yang sudah di depan mata. " Aku tak butuh tangis mu aish!! " Dirga membentak dan melempar piring yang berisi ikan yang baru selesai di goreng Aisyah. "PRAAANGGH" piring melayang pecah tak beraturan, kaca bertebaran kemana mana, ikan dalam piring pun ikut bersayap dan terbang akhir nya memilih mendarat di lantai. Kucing melihat ikan yang tergeletak tak berdaya lansung ambil kesempatan mencomot ikan dan berlari. Ya, Suami mana yang tidak murka. Empat bulan di kota lain habis memeras keringat dan membanting tulang untuk memenuhi kebutuhan keluarga mencoba membuat anak dan istri bahagia . Rindu tiap kali menerpa tapi hanya berbalut air mata, Rindu Istri, anak, ah semua nya. Suami Aishah adalah seorang ahli bangunan profesional, tak ada hari libur nya kecuali minggu, belum rampung satu proyek di kerjakan datang lagi dua proyek menunggu giliran. Dirga sudah terkenal kehebatan nya membuat bangunan tak jarang ya kerja di luar kota untuk waktu yang cukup lama. ' BUG' "BUG" dinding papan dapur rumah semi permanen jadi pelampiasan amarah nya. Entah berapa kali dinding tak bersalah itu di tinju Dirga. Tangan Dirga berdarah tertusuk serpihan papan yang jebol karna tak kuat menahan beban. Rindu yang selama ini dia tahan, berharap semua bisa reda dengan bertemu anak dan istri tercinta. Tapi kenyataan berkata tak sesuai harapan, ya istri nya Aishah hamil dan dia sangat sadar hari dia berangkat keluar kota untuk bekerja istri nya sedang menstruasi. Dia sadar kalau janin yang di kandung istri nya bukan benih nya. Lelaki manapun di dunia ini tidak rela milik nya di ambil oleh orang lain. Tak rela sedikit pun wanitanya di sentuh orang yang berjenis kelamin sama dengan nya. Siapa pun orang nya, dari mana asal nya akan mempunyai prinsip dan rasa yang sama. Aisyah duduk di pojok tak berani mengangkat kepala untuk menjawab pertanyaan suami nya, bahkan untuk melihat saja dia tak sanggup. Jika lantai ini berlubang ingin dia melompat agar hilang dari hadapan Dirga, hilang dari muka bumi ini. Dirga menghampiri Aishah yang masih duduk di pojok dapur. Dirga duduk tepat di depan depan istrinya, kini posisi mereka berhadap-hadapan. Aishah masih menundukkan kepala, aiar mata penyesalan masih di sana. Dirga meraih kedua tangan Aishah dan menggenggam nya. " Lihat aku aish" cicit nya ,Aisyah masih menunduk. " Aish lihat aku " Dirga mengulangi dengan suara serak menahan sesak di dada, kecewa, marah, rasa di khianati dan rasa rendah sebagai lelaki rasa bersalah sebagai suami yang tak pandai menjaga istri. Aishah mulai mengangkat kepala nya perlahan. Melihat darah bercucuran di tangan suami ada rasa iba teramat sangat tapi dia tak bisa berbuat banyak " Aish apa salah ku, apa kurang ku" kurang kah usaha ku untuk membuat kalian bahagia, ? Malas kah aku bekerja? Kurang kah nafkah lahir dari ku ? Kurang ah kasih sayang dari ku sehingga ini balasan mu"? Ada kah aku bermain dengan wanita lain sehingga kau membalas nya? Adakah seperti suami lain yang kerja main judi atau main game seharian dan istri yang menjadi tulang punggung ? Dirga bertanya pilu dengan suara nya menyayat hati. Aishah menundukkan kepala semakin dalam dengan air mata menganak sungai timbul rasa iba dengan orang yang memperjuangkan hidup nya selama ini. Orang yang selalu mengorbankan kebutuhan nya demi keinginan dan kebahagian Aisyah. " Kamu tahu Aishah bahkan sangat mengetahui , yang mana penghasilan ku untuk menyenangkan diri ku sendiri?, apa yang telah ku beli untuk pribadi ku? bahkan pakaian pun kamu yang kamu membelikan, semua gaji ku untuk mu selain untuk makan dan bensin." Tangis Dirga pecah dan pilu, " aku gagal aishah, aku gagal jadi suami, aku gagal membuat mu bahagia sehingha kamu mencari kebahagian lain selain dariku" "Aku salah Aishah karna terlalu mempercayai mu, aku salah selalu menuruti keinginan mu" Dirga menyesal terlalu menuruti keinginan istri cantik nya itu. Benar, Dirga tidak tega menolak permintaan atau ajakan Aisyah jika menginginkan sesuatu. Seingat Dirga dulu istri nya tidak seperti ini sebelum mempunyai benda pipih yang memiliki banyak fungsi ini. Aishah adalah istri dan Ibu yang baik untuk Dirga suami dan ketiga anak nya walaupun telah beranak tiga Aishah tetap cantik dengan tubuh bak model dengan kulit putih nan mulus. Semenjak dibelikan benda pipih dan mengenal sosial media apalagi aplikasi bernama t****k membuat dia tak punya filter lagi, berbalas pesan denga pria bahkan joget depan kamera lansung di posting di aplikasi tikt*k tersebut itu istri nya seperti hilang kendali, lupa kalau dia adalah seorang wanita, lupa kalau dia anak seorang Ustad. Lupa kalau dia seorang istri dan seorang ibu bagi ke tiga putranya. Pasangan suami istri itu menangis pilu terbenam dalam tangis dan pikiran masing, untung ketiga anak lelaki mereka tak ada di rumah jadi mereka tak menyaksikan apa yang seharus nya mereka lihat karna tak sehat untuk mental dan jiwa- jiwa kecil Meraka yang masih putih. Si sulung dan putra kedua sudah berangkat sekolah, yang bontot di rumah nenek karna sering main dengan kakek dan nenek. " Apakah abah tahu hal ini" cicit Dirga Aishah menggeleng lemah. " jika orang orang tahu apa pandangan mereka terhadap abah" lanjut Dirga " anak seorang kyai tapi berzina, mau ditarok di mana muka abah " " Apa reaksi semua om mu ponakan nya kelakuan nya kayak gini" Aishah mempunyai banyak om adik dari ibu kandung dan om dari sepupu ibunya. Emosi Dirga memuncak lagi dia sudah pakai Aku -kamu bicara pada Aisyah istri nya itu. Biasa nya semarah apa pun dia pasti paling keras panggil dengan nama istri nya tersebut. Dirga ke kamar mandi mencuci wajah nya kemudian berlalu ke ke luar rumah tanpa pamit dengan istrinya. Dalam pikiran Dirga dia harus memberi tahu semua keluarga besar sang istri karna masalah nya sudah sangat besar lain hal nya kalau sang istri hanya berbalas pesan saja dengan pria lain tapi ini sudah di luar batas. Istri nya sudah di jamah pria itu bahkan dalam perut istrinya sudah ada benih selingkuhan nya. Sebagai seorang suami dia merasa sudah di langkahi oleh istrinya dan sebagai lelaki dia tak terima semua ini. Dirga pergi kerumah semua om istri meminta keluarga besar mertua nya untuk berkumpul di rumah nenek Aishah. Anak Siapa ? Hari menunjuk kan pukul 20 wib sebagian besar Om Aishah sudah duduk di ruang keluarga yang cukup luas di rumah nenek nya Aishah. Dirga sudah stand by dari siap isya untuk menyambut kedatangan mereka. Sepuluh menit kemudian semua keluarga yang diminta datang sudah hadir. Dirga pamit ke belakang untuk menjemput Aishah kebetulan jarak kedua rumah tersebut hanya berkisar lebih kurang sepuluh meter. " Aishah cepat lah bersiap kita ada acara tempat nenek" cecar Dirga Aishah bengong ketika di minta datang kerumah nenek nya. Dirga sengaja tidak memberitahu nya kalau malam ini mereka akan berkumpul untuk mengambil keputusan penting terkait rumah tangga Aishah dan Dirga kedepan nya. Aishah cepat bergegas mencuci muka dan mengganti baju nya dengan lebih tertutup, selesai dia keluar kamar "ayok" cicit Dirga dingin. Aishah merasa suami nya kini bukan Dirga yang biasa nya. Suami yang selalu hangat kini malah menjadi seolah orang asing yang memandang Aishah dengan tatapan jijik. Aishah hanya diam saja karna sadar pada kesalahan nya yang sangat lah fatal wajar jika suami nya bersikap demikian. Aishah masih menerka nerka ada apa di rumah nenek. Dia tak berani bertanya pada Dirga suami nya yang dalam waktu dua puluh empat jam telah menjadi orang asing karna perbuatan nya. Aishah berpikir entah situasi macam apa yang akan di hadapi nya kedepan nya, entah bagaimana reaksi keluarga mengetahui insiden ini. "Asslamualaiku" ucap dirga memasuki rumah nenek " Walaikum salam" di jawab serentak oleh orang sedang menantikan kehadiran mereka di dalam. Aishah mengekor di belakang suami nya lansung masuk, dengan tatapan heran sekaligus takut melihat semua om - om nya berkumpul dengan dada berdebar Aishah mencari posisi duduk antara nenek dan ibu nya. Semua keluarga yang harus terlibat sudah hadir siap Abah, umi, nenek, om nya Aishah ada empat orang, Dirga dan Aishah. Dirga hanya memberi tahu keluarga inti saja dari keluarga besar mereka. Anak anak mereka pun sudah tidur dan tidak mengetahui hal ini. "PLAK" belum Aishah mendudukkan pantat nya di lantai sebuah tamparan mendarat di pipinya. Air mata Aishah menetes karna keras nya tamparan yang melayang di pipinya. Aishah mendongak keatas melihat siapa pelaku nya dan "PLAK" tamparan itu melayang sekali lagi wajah Aishah rasa nya panas rasa terbakar tapi hanya air mata untuk mengatakan betapa sakit nya. " Sudah Dan, sudah dan berapa kali pun kau tampar dia tak akan menyelesaikan masalah" Anto salah satu paman tertua melarang adik nya Danu menampar Aishah. " Biar dia tahu bang kalau pekerjaan nya pekerjaan binatang bang" Danu menimpali" " Sekarang sudah terjadi Dan sampai mati pun kau tampar dia tak akan merubah keadaan, mari kita selesaikan dengan pikiran dingin " tambah Anto sebagai Om tertua dia memang lebih bijaksana dari yang lainnya. Dua adik nya yang lain Fahmi dan Heru memilih diam. Mama, Pak kyai dan Kakak nya Laila Ibu Aishah dan mereka memilih diam saja. Dirga juga tak berbuat banyak untuk melindungi istri nya, hati nya sudah dingin meskipun masih ada sisa sisa rasa untuk Aishah tapi di kalah kan rasa marah dan kecewa. " Aishah lihat kami" timpal Anto ketika suana sedikit tenang. Aishah dengan takut mengangkat kepala nya nyali nya ciut di hadapkan dengan kenyataan yang di depan mata. Aishah yang selalu di sayang semua om nya kini mereka semua melihat nya dengan tatapan benci. "Aishah kamu tahu kalau pekerjaan kamu salah bahkan sangat salah" lanjut Anto" Aishah kembali menundukkan kepala nya. " Maka kalau berbuat pakai otak jangan dengkul, ini pasti gara gara hp kau kayak gini" "DANU!!!!!" Teriak Anto mengentikan adik nya itu karna merasa segan dengan pak ustad. " Biar saja bang biar dia tahu kalau dia salah jadi tidak kegatalan lagi joget joget di tikt*k itu" Danu menjawab setengah berteriak. "Sudah Dan" fahmi paman yang lainya juga mengingatkan adik nya itu karna tak dapat mengontrol emosi nya. " Perempuan tak tau diri tak pernah kau menghargai nya pengorbanan suami mu!!! Dirga juga selalu memanjakan nya membelikan semua yang dia minta. Dan juga kamu kak sebagai Ibu kau takut sama anak sendiri karna memanjakan nya dari kecil mentang mentang dia anak perempuan satu - satu nya di keluarga ini" cecar Danu, Dia tak dapat lagi menahan kekesalan selama nya. Laila ibu Aishah dan Dirga memilih diam saja karna yang di katakan Danu adik nya benar adanya. " Sudah Dan!!" ungkap Anto gusar. Danu diam saja menandakan kemarahan sedikit mereda. "Aishaah.., sekarang kamu jujur, siapa orang nya" cicit Anto sedikit lembut namun tegas. Sudah hampir tiga puluh detik orang yang ditanya diam dan semakin menunduk membuat semua yang hadir sedikit tak sabar. " Aish!! Jawab" kini pak Kyai yang buka suara, Pak kyai terluka dengan prilaku putri satu satu nya, Anak pak kyai ada dua orang Gilang, adek laki laki Aishah satu satu nya tak tahu menahu soal ini karna dia menjalan kan studi di kota x. Jika Rian tahu kakak yang dicintai nya entah apa perasaan nya. nama besar pak Kyai yang selama ini terjaga nya sudah tercoreng oleh putri nya itu. Dalam hati pak kyai sangat kecewa tapi dia memilih tenang karna paman nya Aishah sudah duluan marah kalau dia menambah lagi Aishah akan semakin tertekan. " Astaghfirullah" Pak kyai berbisik untuk diri nya sendiri. " Gilang bah" cicit Aishah dengan takut. " Gilang!!, Gilang siapa??" Heru paman bontot nya buka suara " Gilang dari kampung sebelah om," Mata Dirga membulat sempurna begitu juga dengan semua orang yang tengah berada dalam rumah tersebut, mendengar nama laki laki itu disebut sang istri. Setau Dirga Gilang yang di sebut istri nya adalah seorang lelaki yang mempunya istri, mempunyai beberapa anak dan juga pernah terdengar isu kalau Gilang menjalin hubungan dengan Janda muda di yang tidak jauh dari kampung mereka. Isu tersebut tersebar dengan cepat karna istri Gilang hilang kendali dan menyerang sang janda. Gilang menelan saliva nya tapi tetap diam dia biarkan semua paman Aishah mengadili ponakan nya itu. Mereka semua tak habis pikir kenapa Aishah terbuai oleh rayuan lelaki buaya seperti Gilang. " Apa dia tahu kondisi kamu sekarang Aish" cecar Fahmi paman ketiga nya. Aishah hanya mengangguk lemah. " Apa yang dia janjikan untuk mu!!!!????" Danu kembali berteriak dia meradang karna lelaki bajingan itu yang telah berbuat serong kepada ponakan nya itu. " Dia akan memenuhi semua permintaan ku," cicit Aishah pelan "APA YANG KAU DAPAT KAN SELAIN ANAK HARAM ITU!!!!!???" Danu berteriak seolah hanya dia yang mendengar suara nya itu. Aishah menangis mata semakin sembab karna hari ini hanya ada air mata, tak ada yang berdiri untuk membelanya. Aishah merasa sendirian dan semua orang menatap nya dengan rasa benci bahkan nenek yang selama ini sangat menyayanginya diam seribu kata. Di sisi lain mereka semua tahu dan mengakui bahwa Gilang lelaki yang menanam benih di rahim Aishah adalah keseorang Pria yang royal dan tak begitu mempersalahkan uang jika itu bisa menyenangkannya. Ya Gilang seorang pengusaha sukses burung walet. Anggota keluarga sependapat walaupun m tanpa mereka berbicara bahwa Aishah tergoda iming iming dari Gilang. DUG...!!! Aishah Jatuh ke lantai, semua yang hadir gelagapan, Aishah pingsan tak kuat menghadapi cercaan demi cercaan yang dilontarkan. Ibu dan nenek lansung memperbaiki posisi Aishah dan menyandar kan ke tubuh Ibu. Ibu dan nenek menangis tak bersuara melihat kondisi Aishah. " Kau Dan, dari tadi ku bilang cara mu tak akan menyelesaikan masalah "Anto paman tertua menyalah kan Danu yang terlalu keras membentak Aishah. Anto diam saja. Laki laki yang lainya di rumah itu mengangkat Aishah ke kamar tamu untuk di baringkan di kasur. Selesai Aishah di tidurkan Dirga dan paman Aishah keluar hanya Ibu yang menunggui Aishah di kama. Nenek mencari obat obatan ala kadar nya yang tersedia di rumah untuk menyadarkan Aishah. Di ruang keluarga mereka diam dalam pikiran masing masung menunggu Aishah siuman. Danu orang yang paling keras mengkritik Aishah hanya bisa diam dalam perasaan yang serba salah. Sepuluh menit mereka saling membisu "Maaf om, Abah, Dirga minta maaf, kita sudah tahu kondisi Aishah sekarang, sebagai suami Dirga tidak bisa terima Aishah seperti dulu lagi" Dirga suami Aishah berkata dengan suara serak Semua menoleh pada Dirga dengan tatapan dan pikiran yang sulit untuk di artikan, karnaDirga dengan tegas menolak keadaan Aishah seperti sekarang ini " Maaf kan Dirga Om, Abah..kesalahan Aishah sangat besar di mata Dirga jadi mohon maaf Dirga memilih untuk meninggal kan Aishah. Cicit Dirga , Dirga berusaha setenang mungkin walaupun dada nya bergemuruh mengambil keputusan tersulit selama hidup nya. Dalam prinsip hidup Dirga dia hanya menikah sekali seumur hidup, tak ada kedua, ketiga dan seterus nya tapi apa mau dikata takdir berkata lain. " Untuk anak - anak Azka dan Rein terserah mereka Dirga juga tak akan lepas tanggung jawab" lanjutDirga, bulir - bulir bening sudah mengalir dari kedua telaga matanya membayangkan akan berpisah dengan kedua buah hatinya. Dirga menunduk berusaha menahan tangis nya. Ibu tergesa gesa datang ke ruang keluarga mendengar keputusan Dirga yang terlalu cepat menurut nya, memohon Dirga untuk mengubah keputusan nya tidak mungkin karna besar nya kesalahan putri nya itu, di tambah Aishah saja masih dalam keadaan tak sadarkan diri. tapi dia akan mencoba. "Dirga maafkan Istri mu nak, dia memang bersalah, tapi sebagai manusia kita tempat nya salah dan lupa" cicit Ibu Aishah dengan air mata menggenang di pelupuk matanya, memohon maaf untuk kesalahan putri nya berharap Dirga menerima lagi putri nya. Ibu mana yang rela rumah tangga anak nya hancur . Dia beruntung dapat menantu seperti Dirga tak banyak neko neko bertanggung jawab dan baik sama semua keluarga besar Aishah. " Maaf Bu kalau untuk memaafkan, Dirga sudah memaafkan Aish tapi untuk menerima nya lagi sebagai istri seperti dulu Dirga nggak bisa , maaf bu" jawab Dirga lembut tapi tegas " Tak perlu minta maaf nak, ini bukan salah mu" cicit pak kyai " Keputusan kami serahkan pada mu nak, kami tahu kesalahan istri mu sangat fatal" lanjut pak kyai menimpali, walaupun ada raut wajah iba dan tak rela di wajah pak kyai tapi mereka di tuntut bijaksana untuk menghadapinya. Pak kyai mewakili suara semua yang hadir. Semua paman Aishah diam tanda setuju. Mereka sadar Masalah yang di hadapi tak ada alasan bagi mereka untuk menahan Dirga dalam mengambil keputusan. Andai pak kyai dan Laki - laki yang lainnya di posisi Dirga, mereka juga akan mengambil ke putusan yang sama. " Malam ini Dirga akan ke rumah mama bah" ucap Dirga yang meminta izin ke ayah mertua nya kalau dia akan keluar dari daftar keluarga besar mereka. Tidak ada lagi alasan aku terus disini Dirga membatin. "Nek Aish kenapa disini" cicit Aishah sambil mengibas ngibas kan tangan ke hidung nya ke nenek yang duduk di sebelah nya. Hidung Aishah merah dan terasa perih entah berapa lama nenek menyumpal kan miny*k kayu putih ke hidung nya. " Aishah barusan pingsan " ucap nenek lembut, nenek tetap lembut pada cucu kesayangan nya tersebut. Aishah termenung kesadaran nya sudah balik lagi ke empu nya, lagi lagi dia menangis sesenggukan, nenek mengusap punggung nya lembut " Nek Aish salah, Aish takut, takut bang Dirgaaa" cicit Aishah dalam pelukan nenek nya badan nya bergetar karna menangis. " Kamu harus kuat Aish, semua perbuatan ada akibat nya" ucap nenek lembut dia tahu cucu nya salah tapi menyalahkan nya lagi akan membuat Aishah semakin tertekan di tambah Aishah sedang hamil tak baik untuk kondisi jiwa dan janin nya. " Apapun keputusan suami mu, kita harus terima" ucap nenek Tangis Aishah makin keras tubuh nya berguncang, dirinya akan ditinggal Dirga, anak nya yang masih kecil membuat nya semakin takut. Aishah di papah nenek keluar, semua mata mengarah pada nya. Ibu lansung berdiri menyambut Aishah nya dan mereka mengambil posisi duduk berdekatan.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

The Luna He Rejected (Extended version)

read
621.4K
bc

The Great Ethan Lee

read
4.1K
bc

Cheers to Comeuppance

read
804.1K
bc

Desired By The Hockey Captain Alpha

read
8.3K
bc

Bullied Wife In A Contract Marriage

read
2.5K
bc

Alpha's Instant Connection

read
651.7K
bc

His Unavailable Wife: Sir, You've Lost Me

read
11.2K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook