06. Sekolah

1044 Words
Sesampainya di kelas, mereka langsung mencari kursi kosong untuk mereka tempati. Untung nya, masih banyak kursi kosong di sini, walaupun sebentar lagi bel masuk akan segera berbunyi. Wira melirik kesana-kemari. Sedangkan Mila langsung bergegas duduk ditempat duduk yang ingin dia tempati. "Wow. Keren!" teriak Wira heboh saat melihat meja dan bangku yang Mila duduki muncul sebuah nama. "Loh. Kok nama gue muncul?" bingung Mila. Segera. Wira memilih tempat duduk yang ingin ia tempati dan ternyata. Nama nya muncul seketika di meja dan tempat duduk yang baru saja ia tempati. "Gue mau coba duduk ditempat lo dong," ucap Wira pada Mila yang langsung menggeleng cepat. "Gak boleh." "Kenapa? Pelit banget," balas Wira. "Lo gak baca kertas putih yang ada di depan kelas?" Wira menggeleng. Pasalnya, dia memang tidak suka membaca. Dan Mila langsung kasih tau Wira tentang peraturan di kelas ini. "Ih ngeri. Untung gue belum duduk disitu," kata nya. Mila tersenyum, "harusnya lo berterimakasih sama gue. Kalau nggak, mungkin b****g lo udah gosong." Wira membentangkan tangan nya, "iya deh makasih, sini peluk biar makin akrab." Mila mengernyit sinis melihat tingkah laku Wira yang sok akrab sama dia. "Lho. Kok gak di peluk?" tanya Wira sembari mengesampingkan tangan nya. "Bau," balas Mila. "Enak aja! Tadi gue mandi tau. Mandi pakai sabun batangan satu batang sampai ghaib," balas Wira. "Ghaib karena masuk ke kloset kan," bongkar Angga. Mila tertawa begitupun dengan yang lain nya. Wira malu! Harusnya Angga gak kasih tau mereka tentang hal yang satu itu. "Lo ngintip gue mandi? Wah parah. Angga berbahaya. gue gak mau musuhan sama lo," balas Wira. "Dikit," balas Angga usil. "Eh serius? Lo lihat itu gue dong?!" panik Wira. Angga cekikikan. Tentu saja tidak. Angga cuma mau tau aja alasan sabun batangan Wira habis dalam hitungan menit karena apa. "Santai aja. Gue gak segabut itu kok," balas Angga. Syukur deh. Wira merasa sedikit tenang. Walau omongan Angga gak bisa dipercaya sembilan puluh lima persen dari seratus persen. "Angga mau duduk dimana?" tanya Ira. Sherla menoleh datar saat mendengar Ira bertanya mau dimana Angga duduk. "Dimana aja, asalkan jangan di depan." "Tapi kenapa masih sepi, ya?" tanya Joe heran. "Mungkin mereka tersesat dan tak tahu arah kelas saat melihat kantin," balas Wira. "Apa sih, Wira? Gak jelas tau!" protes Mila. "Biarin, wle," balas Wira. Gak lama dari itu, para murid berhamburan masuk ke dalam kelas yang sekira nya cuma ada tiga siswi dan dua siswa lain nya yang masuk ke dalam kelas sebelum pintu kelas terkunci dengan sendiri nya tanpa di pinta. "Eh kenapa tuh pintu?" tanya salah satu siswa yang dilihat dari name tag nya bernama-kan Rehan. Mereka semua terheran-heran. Mengapa pintu kelas tertutup dengan sendiri nya? Padahal, tidak ada yang sedang memegang remot kontrol. Atau mungkin? "Coba di buka," pinta Satrio. Jangan bilang kalau guru di sekolah ini punya andi dalam kejadian misterius tadi? Angga berusaha mati-matian buat buka pintu kelas namun hasil nya nihil. Tiba-tiba saja muncul suatu gambar dari papan tulis. "Selamat pagi anak-anak, pembelajaran di jam pertama akan segera dimulai, harap duduk ditempat kalian masing-masing." Satu persatu, kamera tersembunyi muncul dengan bangga nya, disusul dengan mulut Satrio yang perlahan-lahan mulai mengucap sumpah serapah atas kejadian ini. Melihat Cctv yang mulai bermunculan dari berbagai sudut, membuat hati Satrio merasa gondok tak karuan. "Buka buku panduan kimia halaman ," perintah nya. "Buat apa kita buka buku kalau gak ada guru di kelas?" tanya Rehan sinis. Seketika, tubuh Rehan tersetrum aliran listrik dari kursi yang dia duduki beberapa dan itu, membuat mereka semua menjadi panik tak karuan. "Bantuin woi, jangan diem aja!" teriak Angga sembari berlari panik mendekati tubuh Rehan yang sudah menggeliat tak karuan. "Jangan gila, Angga!" pekik Sherla seraya menarik tangan Angga agar tidak mendekati tubuh rehan. Guru yang melihat kejadian itu hanya bisa tertawa senang, "saya memang tidak ada disitu tapi, kalian yang ada disitu ada dalam kendali saya." Fitria memelas. meminta ampun sang guru yang tetap berada dalam pilihan nya. "Tolong maafin Rehan, bu," pinta Fitria. "Tidak ada waktu untuk bermaaf-maafan sekarang," jawab sang Guru. "Tapi, bu." Fitria tak tega, melihat teman sekamar nya harus menggeliat kesakitan seperti itu. "Silakan buka buku kalian, di sini saya akan mengajak kalian bermain kuis. Kalau kalian mau dia selamat, silakan ikuti kuis ini dengan baik tanpa ada nya protes sedikit pun." mereka semua mengangguk nurut demi keselamatan Rehan. "Menurut kalian, berapa lama dia akan mampu bertahan hidup dari setrum ini? waktunya sepuluh detik untuk menjawab pertanyaan ini. Dimulai dari sekarang." "Seumur hidup!" jawab Fitria. "Salah! Kamu melanggar aturan! Kamu harus dihukum," jawab sang Guru. Tiba-tiba saja muncul tali dari atap kelas yang menarik sebelah kaki Fitria secara paksa. Semua murid di kelas semakin panik. Fitria pun tak tinggal diam, dirinya menggeliat minta dilepaskan. "Argh, lepas," Fitria meronta minta dilepaskan. "Apa yang dia langgar?" tanya Ayu. "Dia menjawab lewat lisan, saya sudah bilang untuk siapkan buku dan alat tulis yang berarti alat tulis lah sebagai perantara jawaban nya." "Ta." Angga menahan Ayu untuk tidak lanjut bicara, karena larangan nya adalah tidak ada satupun orang yang boleh protes akan kuis ini. "Apa kuis selanjutnya?" tanya Angga. "Kamu anak baik. Saya akan kasih pertanyaan yang sangat gampang," jawab sang guru. "Apa itu?" tanya Angga. "Siapa yang akan mati lebih dahulu di antara mereka berdua? Waktunya sepuluh detik untuk menjawab." Angga menulis sesuatu dengan sangat cepat 'Eka' memperlihatkan jawaban nya kepada mereka semua yang ada di sana agar mengikuti apa yang dia jawab. "Betul!" Mereka gak mau mikir panjang kenapa jawaban Angga bisa betul. yang jelas, mereka merasa sedikit tenang saat melihat Rehan sudah kembali normal seperti sediakala. Dan kini, hanya tersisa Fitria saja lah yang masih bergelantungan di atas sana. Seperti nya kuis ini sangat amat mudah selagi mereka bisa memahami dan tak melenceng jauh dari pertanyaan. Seperti bermain kata misalnya. "Han, lo gak papa?" tanya Ayu cemas. "Gak papa, ayo bantu Fitri," jawab Rehan. "Apa kuis selanjutnya?" tanya Angga "Apa yang akan dihadapi Fitria selanjut nya? cacat atau kematian?" kali ini Rehan menjawab lebih cepat jawaban nya benar. Fitria selamat. Sebenarnya ini bukan kuis, lebih tepat nya ini permainan pemilihan kata atas jawaban yang akan mereka pilih sebagai jawaban. "Pasti kalian lelah, jadi saya beri waktu istirahat lima detik sebelum memulai kembali pembelajaran pada pagi hari ini." "Lima," "Empat," "Tiga," "Dua," "Sa…" "Tutup hidung semua nya!" teriak Angga.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD