Semua orang berhamburan pergi, keluar dari dalam toilet. Bahkan, yang lagi mandi pun jadi ikut-ikutan kabur saking takut nya dia mendengar teriakan ada hantu.
"Woi ada hantu! Lari!"
Angga tertawa geli "kenapa gak dari tadi aja sih ya, kita pakai cara ini? Kan enak, jadi pada langsung pergi sendiri tanpa harus kita usir."
Satrio mendesis "otak lo emang lelet banget, gak ke pake lah otak lo kalau lagi panik begini." Angga mendengus tapi perkataan Satrio ada benar nya juga, karena dia emang paling gak bisa mikir kalau lagi panik. Sekarang waktunya Wira buat mengusir para hantu-hantu itu. Jahat memang, tapi mau gimana lagi? Dia udah gak butuh hantu-hantu jelek itu. "Joe, ini kita. Lo tahan sebentar lagi ya, jangan nyerah, oke?" teriak Mila. "Gue tahu, kalian pasti bakalan bantuin gue, tapi kenapa pintunya gak dibuka?" tanya Joe lemas. Aksel menendang kesal pintu toilet sebelah, "sabar Joe! Kita udah berusaha semaksimal mungkin. Jadi, mendingan lo duduk manis aja di dalam sana, jangan nangis-nangis lagi, apalagi sampe ngabisin tenaga."
Aksel tahu kalau Joe udah lemas banget, makanya dia minta Joe buat tetap diam di dalam sana, supaya Joe gak makin lemes. Sepuluh menit kemudian, para murid yang tadinya kabur gara-gara ketakutan, kini kembali lagi ke dalam toilet, karena ada nya sebuah paksaan yang mengharuskan mereka semua untuk mandi, supaya gak bau waktu di sekolah nanti. Namun, kali ini semua nya tampak begitu tenang damai seperti sediakala, karena kali ini mereka semua gak berani lagi buat bikin keributan di sini. "Oh iya, ini gue bawa stiker tulisan toilet rusak, tempel di sini aja sekarang," bisik Putri. "Ih, itu gak gede. Yang ada, nantu pada ngira kalau ini cuma stiker doang," jawab Mila. "Di kamar ada banner toilet rusak dapet gua bikin sama Angga semalem, ambil sana," ucap Satrio pada Aksel. Aksel bergegas pergi, karena satu-satunya orang yang lari nya cepet di sana cuma dia, gak ada yang lain.
"Gimana keadaan Angga?" tanya Ira saat Aksel sampai di asrama. Aksel tersenyum sinis "kenapa? Naksir lo sama dia?"
"Apa sih? Gue kan cuma pengen tau doang. Tadi, kata Sherla, Angga lagi dalam bahaya makanya gue nanya ke lo," jawab Ira. "Bener tuh kata Ira," timpal Zahra.
"Yang ada dalam bahaya bukan cuma Angga doang, udahlah jangan banyak nanya, gue lagi sibuk." Aksel mencari-cari banner yang Satrio maksud tadi, setelah menemukan banner bertuliskan bilik toilet rusak itu, Aksel pun langsung bergegas lari, pergi ke bawah dengan perasaan campur aduk. Dan Aksel pun, kembali dengan cepat. "Pasang nya nanti aja, di sini masih ramai," bisik Putri sambil mengambil banner dari tangan Aksel. "Yaudah nanti aja, biar gak ada yang curiga," jawab Aksel pelan. Waktu semakin dekat ke arah jam enam pagi, tak terasa, lima menit lagi mereka diizinkan untuk membuka pintu dari bilik toilet Joe.
Mila yang udah bete nunggu, pada akhirnya kepikiran soal sarapan, apalagi pelajaran jam pertama akan segera dimulai di jam tujuh pagi. "Put, lo sama gue ke kantin aja yuk? Kita pesan makanan dulu, takut nanti kelamaan di sini. Kita kan masuk jam tujuh, masa iya sih, gak sarapan dulu?" sedih Mila. Putri mengangguk setuju, "gue sama Mila pergi dulu ya?"
"Gue ikut, Sherla juga ikut," kata Satrio. "Terus gua, Wira sama Angga bagaimana?" tanya Aksel jengah.
"Tungguin si Joe lah," jawab Satrio.
"Asem. Yaudah sana pergi, tapi lo jangan lupa ya ambilin makanan buat kita bertiga," titip Wira. Sherla meraih jemari Angga "gue mau di sini aja sama Angga," cicit Sherla. Aksel menatap Sherla datar. Kenapa sih cewek-cewek yang satu kamar sama dia, perhatian banget sama Angga?
"Udah, lo ikut mereka aja, kita di sini udah ramai," jawab Angga. Lagi-lagi, Sherla hanya bisa menurut pada perkataan Angga dan itu bikin Aksel jadi makin penasaran sama Angga yang super misterius gak bisa di tebak.
Sherla tertunduk lesu, "ayo pergi, nanti kita gak kebagian makanan lagi," ajak Sherla. Putri tahu kalau Sherla gak mau jauh-jauh dari Angga tapi mau gimana lagi, Angga gak peka.
Sekarang sisa dua menit lagi dan Aksel udah gak sabaran ingin dobrak bilik toilet ini. Joe juga udah gak bersuara, kayak nya dia pingsan duluan gara-gara haus sama kecapean bekas nangis semalaman.
Wira pun udah siap mau nendang pintu bilik Joe, bodo amat sama orang lain yang masih nunggu buat mandi karena bangun kesiangan. Yang jelas, Wira mau dobrak pintu ini.
"Tendang," teriak Angga saat jam menunjukkan pukul jam enam pagi. Bruak.
"Joe bangun Joe!" Wira menampari wajah Joe.
Yang lain hanya bisa pelanga-pelongo saat melihat Wira dan juga Aksel ngebopong tubuh Joe yang udah keliatan lemah tak berdaya. Sedangkan Angga, dia jalan tergopoh-gopoh di belakang mereka sembari menahan rasa sakit di bagian perut nya yang masih terasa nyeri.
"Argh, gue gak bisa naik, perut ga keram." Angga terduduk di bawah tangga sambil terus memegangi perut nya.
Entah kenapa, Aksel malah jadi ikut perhatian sama Angga kayak cewek-cewek yang ada di kamar asrama nya. Padahal sebelumnya, dia udah ada niatan buat cuekin Angga hari ini.
"Tunggu di sini sebentar, gue mau manggil Ira dulu," kata Aksel sambil menuruni tubuh Joe di bawah tangga sebelum pada akhirnya langsung berlari begitu saja menuju kantin.
Wira berusaha sabar, "emang nya bener ya si Ira lagi di kantin?" tanya Wira ke Angga. Angga tersenyum, feeling Aksel buat nolongin dia tulus, jadi langkah kaki Aksel gak bakalan salah, "iya, Ira ada di kantin sama anak-anak."
Wira melongo tak percaya, "udah kayak cenayang aja kalian berdua." Diam-diam Wira juga kagum sama Angga yang bisa dibilang anak indigo sungguhan.
Wira juga ingin punya kemampuan kayak Angga yang mungkin banyak kelebihan nya, tapi Wira juga bersyukur sama Tuhan karena sudah kasih dia kelebihan yang juga gak kalah spesial, walaupun kemampuan yang dia punya juga dimiliki sama Angga.
"Buruan, Angga sekarat," Aksel menarik tangan Ira agar ikut berlari bersama nya. Sherla yang gak sengaja mendengar perkataan dari Aksel lantas ikutan menyusul. "Angga lo gak papa kan?" cemas Sherla.
Putri membiarkan Sherla pergi, "selain Sherla siapa lagi yang suka sama Angga?" Zahra kepeselek, "aduh, lo ngomong apaan sih? mending kita makan," jawab Zahra gugup.
Putri menatap Zahra curiga, "jangan-jangan lo lagi yang suka sama Angga," tuduh Putri. Zahra gelagapan "sotoy, lo!" jawab Zahra cepat supaya Putri gak salah paham sama dia.
"Hm, mencurigakan," gumam Putri.
Sedangkan di sisi lain Aksel, Ira Sherla sudah sampai di lokasi. Ira menatap Angga cemas "Mana yang sakit?" Angga menggeleng, dia mau Ira urus Joe dulu baru dia, karena Angga merasa masih bisa sanggup buat menahan rasa sakit ini, jadi gak ada masalah kalau Joe diprioritaskan.
"Lo dulu aja deh yang diobati, nanti kalau udah sembuh lo sendiri yang obatin Joe," jawab Ira. Aksel tahu kalau Angga bisa mengobati diri dia sendiri. Cuma kalau kondisi nya lagi terluka parah kayak begini, mana bisa dia fokus?
"Udah, lo aja dulu yang diobati daripada nyeri terus," balas Aksel ke Angga.
"Yaudah," Angga gak ada pilihan lain selain berkata iya. kini, Ira pun, mulai menekan perut Angga dengan mata terpejam sedangkan Angga sendiri menahan rasa sakit yang begitu luar biasa di bagian perut nya.
Tendangan mereka memang bukan main kencang nya, bahkan sampai sanggup bikin Angga mimisan parah kayak begini. Padahal, cuma perut Angga yang ditendang,tapi kenapa semua badan terasa sangat sakit.
"Tahan." Ira berusaha untuk fokus dan tetap dalam bacaan nya yang hanya terucap dalam hati.
"Akh." Sherla menggenggam jemari Angga "Gue ada di sini buat lo." Angga meringis kesakitan, entah sejak kapan Sherla sudah berbeda di dekat nya dengan raut wajah yang tidak bisa berbohong bahwa dia sedang benar-benar merasa sangat khawatir.
Ira makin menekan pelan rasa nyeri diperut Angga yang perlahan-lahan mulai hilang, darah yang sedari tadi mengalir dari hidung pun kini berhenti.
"Sssssh."
Ira tersenyum puas, "sorry, cuma lo doang yang bisa sembuhin Joe. Kemampuan gue belum bisa sampai sana Angga." Sherla berdecak kesal mendengar perkataan Ira.
"Gimana sih? Lo punya kemampuan tapi gak bisa diandelin! Kan kasian Angga, baru sembuh langsung disuruh ngobatin orang, nanti kalau tenaga dia terkuras gimana?" omel Sherla.
Angga menatap Sherla gemas "gue bisa kok, ayo bantu gue angkat Joe ke atas," pinta Angga pada Wira dan juga Aksel.
Akhirnya Wira dan Aksel pun kembali membopong tubuh Joe yang sudah begitu kaku dan juga pucat pasi.
Sherla mendesah frustrasi, "gue cuma gak mau lo kenapa-kenapa lagi Angga," batin Sherla.
Wira merebahkan tubuh Joe di atas kasur. Mengobati tubuh Joe memang tidak bisa dilakukan dengan sembarang orang. Karena, kutukan itu masih belum benar-benar pergi dari tubuh Joe.
Angga menyuruh mereka semua untuk tetap diam dan menutup pintu agar tidak ada satu pun orang yang masuk mengganggu aktivitas mereka. Dengan penuh ketulusan, Angga merapalkan mantra untuk kesembuhan Joe. Tangannya menekan jidat, leher, d**a, telapak tangan dan juga telapak kaki Joe secara bergantian.
"Minta air putih," pinta Angga.
Ira memberikan segelas air putih pada Angga dan Angga memasukan air putih itu ke dalam mulut Joe secara paksa sambil secara terus menerus merapalkan mantra dari dalam hati.
kemudian, Angga mendudukan Joe sambil terus memukul punggung Joe dengan pelan secara berkali-kali.
Joe muntah, lebih tepat nya, ia memuntahkan segala isi perut nya, sampe bikin semua orang yang berada di dalam sana jadi ikut-ikutan pengen minta.
Cacing, belatung, darah, itu semua keluar dari dalam mulut dan juga hidung Joe secara bersamaan. "Uhuk, uhuk," batuk Joe.
"Tolong," lirih Joe bergetar ketakutan.
Angga mengusap wajah Joe dan Joe pun tersadar walaupun ia masih dalam keadaaan sedikit linglung.
"Joe, gue tau lo masih syok saat gue kasih gambaran tadi. Tapi, lo tetep harus masuk sekolah supaya guru aneh itu gak macam-macam sama lo." Angga gak mau Joe menambah waktu jam sekolah hanya karena sakit satu hari.
Sesuai peraturan, satu hari gak masuk dengan alasan apa pun bakalan diganti jam pelajaran nya di hari minggu dan buat siapa pun yang gak masuk lebih dari satu hari maka jam pelajaran di hari biasanya bakalan ditambah sampai jam sepuluh malam.
"Gue kan belum mandi, bau," serak Joe yang masih berlumuran darah. "Mandi di toilet lantai dua aja, udah sepi kok di sana," jawab Ira.
"Ayo gue temenin," kata Angga yang tahu kalau Joe masih takut buat pergi ke toilet sendirian. "Thanks," dengan gontai, Joe bergegas pergi menuju toilet bersama Angga yang sampai saat ini masih mau membantu nya sambil membawakan seragam sekolah milik Joe dengan penuh rasa ikhlas.
Sherla memutuskan untuk pergi ke kantin lagi, dia mau ambil roti sekaligus dua pisang buat Joe dan juga Angga.
Aksel, Wira sama Ira juga ikut nyusul Sherla, mereka mau makan juga. Apalagi, tadi Ira belum sempat makan banyak karena keburu disusul duluan sama Aksel.
"Masuk aja biar gue tunggu di sini."
Joe mengangguk ragu, "jagain."
"Iya," jawab Angga. Saking takut nya Joe, dia langsung buru-buru gosok gigi sambil sabunan tanpa mau keramasan lagi. Joe takut, kalau dia lama-lama di toilet, kejadian semalam bakalan terulang kembali.
"Jangan buru-buru Joe, kita masih ada waktu lima belas menit lagi," teriak Angga dari luar sana. Cuma gimana? Joe masih tetap gak mau keramasan. Dia takut.
Lima menit kemudian, Joe pun keluar dengan seragam rapi nya "nih sisiran dulu," kata Angga sembari memberikan sisir supaya rambut Joe rapi.
"Ayo ke asrama dulu, gue mau pake minyak wangi dulu biar gak bau," ajak Angga. Joe nurut aja, pokok nya kemana pun Angga pergi, dia ikut.
"Nih makan biar gak kelaparan." Angga dan Joe menerima roti sekaligus pisang pemberian Sherla, "thanks ya," ucap mereka berdua.
Sherla mengangguk senang "iya, sama-sama," jawab Sherla manis. "Buruan dimakan nanti telat, lho," ingat Sherla.
Buru-buru, mereka berdua menghabiskan makanan sambil sesekali Angga nawarin pisang yang masih belum dia makan untuk Sherla makan walaupun ujung-ujung nya di tolak juga dengan alasan perut sudah kenyang.
Gak lama dari itu, teman-teman mereka pun kembali ke asrama buat ambil tas. "Ayo woi berangkat, lima menit lagi masuk nih," teriak Mila tak sabaran.
Angga dan Joe bergegas pergi, mengambil tas dam ikut berangkat pergi ke sekolah bersama mereka.