1. Keinginan
Cafe itu tampak lengang saat Asta masuk kesana. Mungkin karena bukan jam makan siang ataupun hari minggu.
Asta menuju sebuah meja. Di meja itu duduk orang yang dikenalnya. Sebenarnya Asta yang mengajak orang itu bertemu tetapi nyatanya sahabatnya malah datang lebih dahulu dari pada dirinya.
"Sudah lama? " Tanya Asta setelah duduk di kursi yang ia tarik.
"Seperti biasa, selalu telat. Khas orang Indonesia. " Sindir Abie, sahabat Asta.
Asta terkekeh mendengarnya. "Sorry, tau sendiri aku sibuk."
"Kamu pikir aku nggak sibuk." Sembur Abie. "Langsung saja, sebenarnya mau kamu itu gimana? Aku udah kenalin semua cewek yang aku kenal sama kamu tapi apa? Kamu bilang nggak ada yang cocok. Padahal mereka cantik-cantik, berpendidikan, punya kerjaan jelas dan sebagian dari mereka udah ngarep sama kamu."
Asta mengetuk jari tangannya diatas meja. Dia tahu sahabatnya kecewa karena kelakuannya. Sudah meminta bantuan, dibantu tetapi malah mengecewakan.
"Gimana, ya, Bi? Kamu benar, mereka cantik, berpendidikan, mandiri, dan dari keluarga yang jelas. Tapi aku ngrasa nggak klik sama mereka."
"Terus kamu mau cari yang gimana?"
"Aku sendiri nggak tau." Asta tidak tahu kriteria wanita yang diinginkan. Yang ia cari sekarang adalah calon istri. Sayangnya setelah mengenal beberapa wanita dari sahabatnya tidak ada yang cocok. Setelah hubungannya kandas beberapa tahun yang lalu, Asta tidak pernah lagi menjalin hubungan asmara. Kehidupannya hanya diisi dengan pekerjaan. Kegagalan dalam asmara membuatnya enggan menjalin hubungan lagi. Apalagi mantannya dulu meninggalnya tanpa alasan dan tiba-tiba menyebar undangan pernikahan.
"Aku udah nggak ada stok temen cewek lagi. Silahkan cari calon istri sendiri. Bukannya kakek kamu kasih waktu kamu tiga bulan untuk menikah. "
"Iya, tiga bulan.." Sapta benar-benar pusing sekarang. Kemana dia harus mencari calon istri. Dia tidak bisa memilih wanita random seperti membeli kucing dalam karung. Setidaknya calon istrinya harus jelas asal usulnya, keluarganya, pendidikannya. Kakeknya pasti akan menyuruh orang kepercayaannya untuk menggali latar belakang calon istrinya. Dan yang paling penting wanita yang akan dijadikan istrinya harus siap menjanda. Dalam kurun waktu satu tahun mereka akan bercerai. Sapta tidak yakin hubungan yang tidak didasari cinta akan bertahan lama.
***
Berkumpul dengan keluarga besar adalah hal yang paling Reysha hindari. Seharusnya berkumpul dengan keluarga besar adalah hal yang menyenangkan karena bisa bertemu dengan keluarga lain yang jarang bertemu.
Alasan terbesar Reysha membenci acara seperti itu tentu saja karena status jomblonya yang masih melekat di usianya yang sudah dua puluh tujuh.
Menurut Reysha usia segitu belum menikah masih wajar di zaman sekarang. Diluar sana banyak perempuan-perempuan yang masih single di usia tiga puluh bahkan lebih.
Diantara sepupunya yang umurnya sepantaran hanya Reysha yang belum menikah. Rata-rata sepupunya sudah menikah dan mempunyai anak.
Dalam keadaan seperti ini Reysha tidak luput dari pertanyaan,
"Mana calonnya? "
"Kok masih sendiri aja? "
"Belum laku, ya. "
Serta tawaran perjodohan dari tante, om, serta sepupu-sepupunya.
Jurus yang dipakai Reysha hanya diam dan tersenyum saja. Padahal dalam hati dongkol luar biasa. Reysha juga ingin menikah, sama seperti orang lain. Tapi jodoh setiap orang itu berbeda. Ada yang datangnya cepat ada juga yang seret seperti dirinya.
"Makanya jangan pilih-pilih cari suami, " Kata salah satu tante Reysha.
Reysha hanya tersenyum. Padahal kalau ingin, dia ingin membantah kalimat t***l itu. Seharusnya jika seseorang menikah harus memilih calon yang terbaik. Bukanya asal pilih seperti membeli kucing dalam karung. Membeli buah saja harus pilih-pilih agar tidak dapat buah yang busuk, apalagi soal pasangan. Salah memilih pasangan adalah kesalahan fatal.
"Mau nggak tante kenalin sama temennya tante. Duda, sih, umurnya lima puluh, anaknya tiga tapi kaya banget. Pengusaha baru bara."
Ingin rasanya Reysha mengumpat keras. Tetapi dia hanya memilih tersenyum. Sejelek-jeleknya Reysha, dia tidak mau menikah dengan duda, apalagi anak tiga, biarpun hartanya banyak.
Reysha ingin menikah dengan seseorang yang lebih tua darinya beberapa tahun. Bukanya puluhan tahun. Masih single, dan punya pekerjaan yang mapan.
"Udah jangan dipikirin omongan para tante, " Kata Elia, sepupu Reysha yang paling dekat. "Mereka emang nyinyir tapi sebenarnya mereka perhatian sama kamu. Pengen tau mana calon suami kamu. " Elia terkekeh. "Mereka pengen kamu sama seperti anak-anak mereka. "
Reysha tidak mau seperti anak-anak tante-tantenya. Ada yang menikah karena hamil duluan, menikah karena di jodohkan, ada juga yang ikutan tren nikah muda tapi ujung-ujungnya sering ribut dan hampir bercerai.
"Masih belum dapat, ya? " Tanya Elia.
"Dapat apa? " Reysha pura-pura tidak mengerti.
"Jodohnya."
"Belum, lah. Kalau udah ada bakal aku ajak kesini."
"Iya, juga, sih. Mau aku kenalin sama teman aku nggak? "
"Enggak-nggak. Terima kasih." Tolak Reysha cepat. Sebulan yang lalu Elia pernah mengenalkan seorang laki-laki padanya. Kata Elia itu teman kerjanya. Orangnya ganteng, tampak baik, tetapi yang tidak disangka Reysha adalah laki-laki itu sudah mempunyai istri dan seorang anak.
Istri dan anak laki-laki itu datang ke cafe saat Reysha dan laki-laki bernama Rafly itu janjian bertemu. Istrinya marah luar biasa sambil memaki-maki Reysha didepan umum. Menyebutnya pelakor dan kata-kata buruk lainnya. Suaminya hanya diam tanpa membalas apa-apa. Malu karena dilihat banyak orang akhirnya Reysha memilih pergi.
"Sorry, ya, soal Rafly. Aku nggak tau soal dia yang ternyata usah punya istri sama anak. Di kantor dia pendiam banget. Ngakunya juga jomblo jadinya aku pikir dia masih single. "
"Udahlah." Reysha tidak mau memperpanjang masalah. Sepupunya juga tidak tahu jika sudah dibohongi oleh teman kerjanya. "Kamu juga di kibulin sama teman kamu. "
"Sekali lagi aku minta maaf, ya." Elia benar-benar tidak enak pada sepupunya meski sudah meminta maaf berulang kali. "Aku juga udah maki-maki si Rafly. Emang sulit berurusan sama orang pendiem. Dimarahi cuma diem aja. Minta maaf juga enggak. Nyebelin banget, kan? "
"Udahlah, nggak usah dibahas lagi. " Reysha malas membahas laki-laki b******k itu.
"Sebenarnya kamu cari pasangan yang kayak gimana, sih? "
Reysha tidak tahu menginginkan pasangan yang seperti apa. Mungkin terlalu lama menjomblo jadinya membuat Reysha tidak memiliki kriteria tertentu. Reysha terakhir kali pacaran empat tahun yang lalu. Putus pun gara-gara Reysha tahu karena diselingkuhi. Tidak ada maaf untuk perselingkuhan.
"Mungkin kayak yang ada di dracin. Laki-laki dari keluarga kaya yang berpura-pura jadi rakyat jelata. " Jawab Reysha asal.
Elia tertawa mendengarnya. "Mana ada kayak gitu. Itu hanya khayalan kamu, doang. Kalaupun ada itu cuma ada di drakor atau dracin. "
Reysha ikut tertawa. Tiba-tiba ponsel Reysha berbunyi. Tampak nama sahabatnya, Agnes, di layar ponsel.
"Hallo." Sapa Reysha setelah menslide icon berbentuk telepon.
Terdengar suara Agnes yang seperti menahan sakit. Agnes meminta Reysha untuk datang ke rumah sakit.
Dengan senang hati Reysha akan datang ke rumah sakit daripada di acara keluarganya. Tidak perduli juga kalau nanti ibunya akan marah-marah dan mengomel. Telepon dari Agnes bagaikan penyelamat Reysha dari acara kumpul keluarga yang menyebalkan ini.