Bedebum..
Jantungku terasa seperti melorot dari tempatnya saat telingaku menangkap suara dentuman keras tadi yang arahnya tak jauh dari kamarku.
sesaat aku berfikir keras dengan sekelebat bayangan Qilo terjatuh berhasil membuat aku terbangun dari tidurku dan langsung saja aku berlari menghampiri pintu penghubung dari kamarku menuju kamar anakku.
Dan benar saja, di hadapanku terlihat putraku yang sedang meringgis menahan sakit.
sepertinya ia kembali terjatuh dari atas ranjangnya. Lagi..
" Qilo, apa kau terjatuh kembali dude?" tanyaku,
kemudian menghampirinya, berdiri di hadapannya untuk melihat dari dekat juga memastikan jika dia baik baik saja, siapa tahu ada bekas memar ditubuh kecil itu kan? Siapa yang tahu.
Untung saja dibawah sana tergelar karpet, jadi sedikit menahan dentuman dan tidak akan terlalu sakit jika terjatuh
"Mana yang sakit, coba dad lihat" tanyaku lagi.
Bukannya menjawab, ia malah menatap wajahku dengan pandangan kekanak-kanakannya dan mengalihkan obrolan kami.
"Dad, baru saja Qilo bertemu dengan mommy" ucapnya membuat hatiku merasakan tusukan lembut namun sangat menyakitkan.
Beberapa saat aku hanya bisa terdiam untuk mencerna kembali ucapannya.
"Itu hanya halusinasi mu saja my boys, sudah tengah malam sebaiknya kita tidur dikamar dad saja." Ajakku segera memangku tubuh kecilnya.
Dan setelah ia tertidur kembali di ranjangku, kini aku terdiam sendiri memikirkan apa yang tadi Qilo katakan kepadaku.
Sampai aku benar benar tertidur untuk menyusul ia kealam mimpi.
****
Semburat warna mentari yang begitu terang menyinari seluruh kamar ini berhasil membuatku kembali terjaga.
Hari sudah berganti, matahari yang menyingsing dipagi hari ini semoga saja menghantarkan kebahagian untukku dan juga keluargaku.
"Hi sayang! Bagaimana dengan tidurmu?" tanyaku setelah aku berhasil membangunkan Qilo.
"Nyenyak sekali dad" balasnya sembari merenggangkan kedua tangan mungilnya.
"Syukurlah, " balasku
dan setelah kami sedikit berbincang, menceritakan apapun yang anakku tanyakan. Sembari aku bawa dirinya masuk kedalam toilet.
Ohh ya! Sepertinya ada sesuatu yang aku lupakan sedari tadi, bukannya kalian belum mengenalku? Bahkan tahu namaku saja, tidak.
Oke akan aku perkenalkan kepada kalian.
perkenalkan namaku, Arsean bard adalard. Pewaris utama Adalard corp. Dan kalian bisa memanggilku dengan panggilan sean, Usiaku saat ini menginjak kepala tiga, lebih tepatnya tiga puluh lima tahun.
Saat ini aku sudah memiliki seorang putra. Putraku bernama RaQilo bard adalard, dan satu bulan lagi ia tepat menginjak umurnya yang ke lima tahun.
Jika istriku, ia bernama Alicia nearlyne.
sayangnya wanita yang sangat aku cintai itu telah bersama tuhan disana.
dengan cintanya kepadaku yang ikut abadi.
.....
"Dady, Qilo ingin bibi Qila"
"Of course boys" balasku langsung memencet tombol interkom
Karena aku tahu maksud dari kalimat anakku ini.
"Selamat pagi pak? Ada yg bisa saya bantu?" Seru seseorang dari ujung sana
"Tolong panggilkan Mis. Alinson untuk menghadap saya" balasku dengan panggilan yang ikut terputus.
"Sudah dady?" tanya nya
"Ya, sebentar lagi bibi Qila pasti datang" balasku untuk menghiburnya.
Qila, yg memiliki nama kepanjangan SelenaQila alinson, ia adalah salahsatu anak buahku, ia bekerja di bagian devisi admin, cantik? Ia terlalu sempurna untuk dikatakan cantik, apalagi jika melihat keindahan bibir tipisnya, sudahlah rasanya aku ingin sekali menggigit bibir itu setiap kali ia mengatakan sesuatu.
Dan.. Ntah apa yang dilihat Qilo dari Qila, sepertinya ia sangat tertarik kepada Qila.
Toktoktok..
Suara ketukan pintu itu berhasil membuat pandangan kami sama-sama tertuju kearah ambang pintu.
"Masuk." intrupsi dariku
Taklama kemudian seseorang berjalan menghampiriku, bahkan sesaat aku terpesona dengan wajah natural nya.
"Permisi pak, apa bapak memanggil saya?" tanyanya to the point sekali.
"Iy'
"bibi Qila?" potong seseorang
"whooaa.. Ada Prince Qilo rupanya, hy my prince how are you?" setelah ia membalas sapaan dari anakku dengan seenak jidat nya ia masuk kedalam dan memeluknya.
Ekhem.. Dehemku untuk segera menyadarkan mereka berdua. Terkadang, sifatnya yang sangat menyukai anak kecil itu sangat mengganggu bagiku.
But, Mereka tetap larut dalam dunianya sendiri, dan mengacuhkan ku begitu saja.
Oke, sebaiknya aku juga harus mencari kesibukan ku sendiri dengan membereskan berkas berkas yang harus aku tanda tangani ini.
◾◾◾◾
Setelah berkas yang menumpuk itu berhasil aku kerjakan, perhatianku terpusat kembali kepada dua manusia berbeda generasi ini.
"Bibi, setiap hari Qilo selalu mendapatkan nilai bintang dari ibu guru"
"Benarkah?" tanya Qila penasaran
"Mh-hm" sembari mengangguk
"Waah.. Pintarnya, mmm.. Bagaimana jika Qilo berhasil mengumpulkan bintang sampai nanti pembagian raport, bibi Qila ajak Qilo main ke disneyland. Bagaimana?" tawar Qila
"Whaa... Benarkah?"
"Tentuu.."
"Horrreeee..." sorak Qilo langsung memeluk tubuh Qila dengan sangat erat.
Di sisi lain, aku sangat menyukai sisilain dari Selena ini, sisi ke ibuan-nya selalu mengingatkan ku kepada, Licia.
'Licia, apakau bahagia disana?, aku disini selalu mendoakanmu.. Lihat lah pertumbuhan anak kita, mata dan cara ia berfikir mirip sekali dengan mu.. Dan aku disini baik baik saja, berbahagialah disana...
◻◻◻◻◻
"Mis alinson, kau melamun?" seru seseorang membangunkanku dari lamunan panjangku ini.
"Mm.. Maaf pak" ucapku dan perhatianku kembali kepada Qilo, raQilo bard adalard.
Jika kalian ingin tahu, saat ini aku sedang berada di ruangan bosku bersama putra tampannya yang kini sedang ku asuh.
Belakangan ini aku dan bos ku memang terlihat sangat dekat, itu karena Qilo sudah dekat sekali denganku, dan memintaku untuk selalu berada di dekatnya.
Dan saat ini aku sedang duduk dengan Qilo yang berada di pangkuanku.
Satu hal yang harus kalian ketahui, aku paling senang dengan anak kecil, dan aku juga paling tidak bisa untuk mengacuhkan anak kecil, dan seperti biasanya, jika pak sean sudah memanggilku untuk menghadapnya itu pasti karena permintaan Qilo.
"Qilo? Apa kau tertidur sayang?" gumamku sangat kecil, karena aku tidak ingin membangunkan Qilo yang sedang menompangkan kepalanya di pundakku, sekaligus aku tidak ingin membuyarkan konsentrasi pak sean.
Ngghh..
Sepertinya benar, Qilo sudah tertidur.
Dan rasanya akupun ingin menyusulnya ke alam mimpi, tiba tiba rasa kantuk kembali menyerangku, sampai aku tidak sadar sudah tertidur di sofa ini dengan Qilo.
--
Entah sudah berapa lama aku tertidur di dalam ruangan pak sean, hingga suara pria itu benar benar terasa nyata, suaranya terdengar di telingaku dengan sangat lembut.
"Selen.."
Nggghh..
"selen?" disusul dengan tepukan pelan di pipiku berhasil membuatku terusik dari tidur nyenyakku.
Dengan perlahan aku memfokuskan pandanganku kedepan, dan kulihat pak sean dengan gagahnya berdiri di hadapanku.
perhatianku beralih kearah jam yg tergantung indah di dinding, ternyata sudah pukul 17.01. Dan itu artinya semua karyawan sudah pulang.
"Kau tertidur" ujarnya membuat aku tersadar sepenuhnya
"Maaf pak, s-s'
" tidak apa apa, seharusnya saya yang harus meminta maaf kepada kamu, karena saya selalu merepotkanmu, dan terimakasih sudah mau menjaga anak saya sampai ia tertidur pulas seperti itu" astaga.. perkataannya seperti menyindir ku saja
"Yasudah sebaiknya kita pulang saja.. Ayo!" ajaknya kepadaku
"Baik pak" aku hanya mengikuti ia dari belakang,
Dan saat kami sudah keluar dari ruangan nya, keadaan sudah sepi mungkin saja semua karyawan sudah pulang terlebih dahulu
Brukk...
Secara Tiba tiba pak sean menghentikan langkahnya sehingga keningku mendarat dengan mulus menubruk punggung kekarnya.
"Awhh.. Bapak! Ya tuhan jidat saya sakit" tidak sadar aku sudah merenggek di depan bos ku sendiri! Ish bodoh! Tamatlah riwayatmu! Memalukan sekali.
"Ohh maaf, saya kira kamu masih jauh dengan jarak saya." ucapnya ditambah cengirannya? Oh god!
"Apa ada yang tertinggal?" tanyaku
"Tidak ada, saya hanya ingin mengambil Qilo."
Dan saat pak sean akan mengambil alih Qilo dariku, tiba tiba saja Qilo malah mengeratkan rangkulannya di pundakku.
"Moom.. Peluk Qilo.. nyem nyem nyem.."
Ia malah bergumam dalam tidurnya, membuat aku dan pak sean tertengun dengan ucapan Qilo.
Sejenak kami sibuk dengan pemikiran kami masing-masing, sehingga membuat Qilo bergumam kembali
"Moom... Peluk Qilo!"
Renggeknya kembali dan dengan kesadaranku yang masih tertinggal, aku langsung memeluknya tanpa menunggu perintah dari pak sean.
"Maafkan Anak saya yang memanggilmu dengan sebutan' ucapannya menggantung, ya aku tahu apa yang ia maksud, dan tentunya aku mengerti bagaimana perasaan Qilo yang sejak bayi sudah di tinggalkan oleh ibunya, dan pasti saat ini ia sangat merindukan sosok ibunya.
"Tidak masalah, saya mengerti pak bagaimana perasaan Qilo saat ini" balasku di tambah seulas senyuman tulus dariku untuknya.
"Terimakasih selena" balasnya lagi kini senyuman sudah terbit kembali dari wajah tampannya.
"Sama sama pak"
Dan kami langsung melanjutkan perjalanan yang sempat tertunda tadi, dengan rasa canggung yang benar benar berhasil mencekik-ku.
***
Dan saat ini kami sudah sampai di tujuan.
Yaps! mau tidak mau aku harus mampir kerumah pak sean, karena sedari tadi Qilo terus terusan menempel padaku, juga tidak mau lepas barang sebentarpun.
"Ayo masuk" serunya dan kembali aku harus mengikuti langkah lebarnya menuju lantai atas, dan kami langsung memasuki salah satu kamar berjajar di rumah ini, ya mungkin itu kamar Qilo.
"Tidurkan saja Qilo di sana" tunjuknya kearah ranjang berukuran sedang, dan tepat sekali ini adalah kamar Qilo, karena tema kamar ini adalah transformer, dengan diikuti pernak perniknya.
Dan saat aku menidurkan Qilo diranjang barulah aku terlepas dari pelukannya, sebenarnya ada rasa kehilangan dari diriku saat Qilo melepaskan pelukannya, tapi mau bagaimana lagi?.
"Kau ingin meminum sesuatu?" tanyanya
"Sepertinya tidak ada" balasku awkward.
"Selena, sekali lagi saya ingin mengucapkan terimakasih kepadamu sudah mau membantu saya." ucapnya kepadaku, dan tersirat diwajahnya yang nampak sekali kelelahan.
"Tidak masalah pak, selagi saya mampu untuk membantu bapak, kenapa tidak?" balasku dengan senyuman manis.
"Terimakasih selen"
"Sama-sama pak, ya sudah kalo begitu sebaiknya saya pamit pulang" tuturku berpamitan, karena tidak terasa sudah jam setengah sembilan malam.
"Yasudah saya antar kamu" ucapnya
"Tidak usah pak, sebaiknya saya pulang sendiri, kasihan Qilo tidak ada yg menjaganya"
"Tidak apa, saya bisa menyuruh bibi untuk menjaganya sebentar"
"S-
"Jangan menolak, ini sudah malam tidak baik wanita pulang sendirian tanpa ada yang mengantarnya"
"Yasudah, bagaimana baiknya saja" ucapku menyerah karena aku tidak mau memusingkannya dengan jawaban jawaban konyolku.
*****
"Mampir sebentar pak?" tawarku kepadanya saat kami sudah sampai di depan apartementku.
"Terimakasih, mungkin lain waktu" balasnya
"Yasudah, saya pamit pulang. See you"
"See you to, take care" balasku cepat, dan setelah mobil pak sean kembali melaju menjauhi kawasan apartement, aku langsung kedalam dan menaiki lift untuk segera sampai ke kamar apartku sendiri.
****
Pagi hari
Terlihat Seorang gadis yang baru saja terbangun dari tidur nyenyaknya, menggeliat kesana kemari mencari posisi ternyaman untuk ia kembali tertidur, namun belum sampai ia memasuki alam mimpinya perempuan itu kembali terbangun dengan pandangan terpaku pada jam dinding.
"Eunggghh.. Perasaan baru saja pukul dua, kenapa sudah pagi lagi?" grutunya dan segera bangun dari duduknya dan berlenggang kearah toilet.
Dengan waktu 30menit wanita itu sudah rapi kembali dengan blousenya dan siap untuk berangkat ngantor, namun sebelum ia berangkat pasti ia akan menyempatkan diri untuk sarapan walaupun hanya dengan sehelai roti.
"God! Semoga hari ini hari yang sangat menyenangkan untukku" gumamnya dan segera berlari untuk mencari taxi di area sekitar apartemen.
Dan dengan waktu 15 menit ia telah sampai di kantor tempat ia bekerja, dengan sisa waktu 5menit lagi pasti sudah akan terlambat jika ia belum sampai juga.
"Hi" sapa teman sedevisinya
"Halo" balas selena tanpa mengurangi senyumannya
"Semoga harimu menyenangkan selen!" ucap salah seorang dari mereka
"Too" hanya itu balasan selen dan ia kembali berjalan untuk bisa sampai ke ruangan devisinya.
"Selamat pagi" sapanya
"Pagi selen" balas dari mereka.
Dan ia langsung duduk di kursinya untuk memulai pekerjaannya yang sudah menantinya dari kemarin untuk segera di selesaikan.
"Waahh.. Sepertinya sedang bahagia nih?" seru seseorang yang baru saja mendekati selena
"Oh hai kak ily?" balas selen sedikit terkejut akan kedatangan ily yang tiba tiba itu.
"Sedang bahagia huh?" tanyanya
"Mm semoga saja" balasnya tersenyum, dan ia mulai sibuk dengan pekerjaannya.
"Syukurlah, aku senang mendengarnya jika begitu" balas ily senang melihat selena tersenyum lebar seperti itu.
"Yasudah jika begitu aku akan melanjutkan pekerjaanku kembali"
"Ya, tentu kau harus bekerja kembali" balas selena
Ily, yang mempunyai nama kepanjangan milly cywood, ia adalah teman seperjuangan, dan salahsatu orang yang care kepada selena, teman kantor yang dekat sekali dengannya, ia hanya berbeda tiga tahun dengan selena, maka dari itu selena memanggilnya dengan sebutan kakak, dan ia juga orang yang selena anggap seperti keluarga nya sendiri.
Tidak terasa pekerjaannya sudah hampir setengahnya selesai, sebelum jam istirahat menanti. Tentu saja dengan perut yang sudah meronta ronta meminta untuk diisi, langsung saja selena bangkit dari kursinya, dan sebelum ia sampai di depan meja ily untuk mengajaknya lunch, terdengar nada dering ponselnya dari dalam saku mendadak berbunyi.
+082316838+++ is calling
"Sebentar kak" pintaya kepada ily
Dan ia langsung mengangkat teleponnya dengan perasaan bertanya tanya
"Halo?" dengan perlahan ia bersuara
"Halo selena, saat ini aku sedang membutuhkan mu, cepatlah ke basement aku tunggu disini"
"Just wait a minute" ucap selena spontan
Tututuut...
Tanpa mengucapkan namanya pun selena sudah tahu siapa yang baru saja menelponnya.
"Ada apa?" tanya ily
"Urgent dari bigbos" serunya, sebelum ia benar benar melenggang, meninggalkan kawanannya.
****
Benar apa dugaanku, pasti ini terkait dengan Qilo, dan saat ini aku sudah berada dirumah pak sean kembali dengan Qilo berada di pelukan ku.
Tadi sebelumnya pak sean menelponku, dan menjelaskan dimobil bahwa Qilo terkena demam tinggi, dan katanya ia sering memanggil manggil namaku.
Yatuhan.. Qilo apa yang terjadi padamu?
Suhu tubuhnya sedaritadi belum juga membaik, obat yang tadi aku berikanpun masih belum terlihat bekerja.
Bibi Qila..
Bibi Qila..
"Iya sayang, bibi disini bersamamu." balasku hampir saja menangis melihat Qiloku yang tampan sedang terbaring lemah seperti ini
"Bibi jangan tinggalkan Qilo"
"Bibi tidak akan pernah meninggalkan Qilo"
"Bibi, Qilo takut"
"Bibi disini, bersama Qilo" balasku lagi.
Sedangkan kulihat pak sean, sedari tadi ia tidak bisa diam selalu saja mondar mandir panik.
"Apa sebaiknya kita bawa saja Qilo kerumah sakit?" tanyanya membuat pandanganku beralih kepadanya.
"Tunggu saja sampai malam, jika Qilo masih tetap demam kita harus membawanya ke rumah sakit" balasku dan ia menurut.
Tadi dokternya mengatakan seperti itu, dan jangan panik bila sedang menghadapi anak yang sedang deman tinggi, sebaiknya kita kompres pakai air dingin atau sebaiknya seluruh pakaian yang ia kenakan dilepas.
Dan saat aku lihat Qilo sudah tenang dan tertidur lelap, perlahan aku bangun dan berjalan menuju dapur rumah ini diikuti oleh pak sean dibelakangku.
"Kau mau apa?" tanyanya
"Berenang" balasku
"Hahaha .. mengapa kau malah masuk dapur jika ingin berenang?" i***t bos!
"Haha.. Bodoh sekali, jelas saja saya ingin memasak" aku ikut mengejeknya, tertawa sajalah bigboss.
Dan seketika ia terdiam.
"Tidak usah repot repot, kita delivery saja"
"Delivery makanan yang tidak sehat"
"Oke oke, masak saja sesuai dengan yang kau inginkan." Serunya kemudian setelah itu ia sudah kembali duduk di kursi yang menghadap kearahku.
"Bubur untuk Qilo, dan makanan untuk kita" tuturku sembari membuka seluruh isi kulkasnya.
...