Bab 2-Suara dari Pintu

1184 Words
Liana masih berdiri di depan pintu. Tangannya menempel di permukaan dingin, telapak sedikit berkeringat, jari-jarinya kaku. Panel di sampingnya berkedip sebentar, lampu putih pucat yang seharusnya hanya penerangan kini terasa seperti menyorot seluruh tubuhnya, menembus setiap ketegangan di tulang dan ototnya. Ia menarik napas perlahan, menunduk sebentar, tapi matanya tetap menatap gagang pintu, menunggu sesuatu—apa pun itu. Sekali lagi, suara itu terdengar. Tidak jelas datang dari mana. Kadang terasa di telinganya, kadang seakan memantul di dinding. “Liana—” Suara itu pecah di tengah kata, terhenti. Hanya sekelebat, seperti gema. Liana menahan napas, tidak bergerak. Tangannya secara otomatis menekan panel untuk mematikannya. Lampu padam. Ruangan menjadi dingin. Hening. Ia menarik langkah mundur, menjauh satu meter dari pintu. Napasnya tidak teratur, d**a terasa sesak. Dan, entah kenapa, panel itu menyala lagi. Lampu putih pucat muncul kembali. “—iana.” Suara itu terdengar, tapi kali ini dengan nada berbeda, sedikit lebih tinggi, seolah tergesa. Liana menatapnya diam-diam, tidak bicara. Ia merasakan sesuatu yang aneh, seperti tangan yang tak terlihat menyentuh pikirannya, tapi saat ia menoleh ke arah langit-langit, tidak ada apa pun. Ia mengerutkan alis dan melangkah ke samping, mencoba menjauh dari dinding. Tidak ada gerakan. Suara itu diam. Liana mengangkat telapak tangan, sedikit gemetar. Perlahan, ia menyentuh panel, menekannya dengan ibu jari. Lampu padam lagi. Sebentar. Lalu menyala lagi. Ia menghela napas panjang. “Ini… ini bukan halusinasi,” gumamnya pelan. Bukan untuk siapa pun. Bahkan bukan untuk suara itu, jika memang suara itu nyata. Panel tetap menyala. Sebuah bip pendek terdengar, cepat dan tidak jelas arahnya. Liana menoleh ke arah sofa, kemudian ke lantai—tidak ada yang bergerak. Sesuatu di hatinya menekan, membuatnya menegangkan otot-otot leher. “Liana…” Suara itu lagi. Kali ini kata terakhir hampir tidak terdengar, seperti tercekik, atau mungkin… terselip di udara. Ia mengangkat tangan, menempelkan telapak ke pintu. Gagangnya dingin, tak ada getaran lain. Napasnya berat, jantungnya berdetak terlalu keras. Ia memalingkan kepala ke jam di dinding. Jarum bergerak normal, tapi terasa lambat. Ia mencoba melangkah mundur lagi, tapi kakinya seakan berat. Setiap langkah terasa seperti menembus air. “Lia—” Suara itu kembali. Kali ini nada yang berbeda lagi, lebih… samar. Seolah bingung dengan dirinya sendiri, salah menyebut nama. Liana menelan ludah, matanya menatap panel lagi, kemudian menoleh ke arah jendela. Tirai sebagian tertutup. Cahaya siang yang masuk tidak menenangkan, justru mempertegas bayangan-bayangan di sudut ruangan. Ia merasakan sesuatu yang aneh, seperti ada dua versi ruang ini. Satu yang nyata, satu lagi yang menatapnya diam-diam. Ia mendekat ke sofa dan duduk, tangan menggenggam tepi kain. Napasnya lebih cepat, tapi tubuhnya tetap diam, menunggu. Tidak ada yang muncul. Tidak ada jawaban. Suara itu hilang lagi, meninggalkan hening yang lebih berat dari sebelumnya. Liana menutup mata sebentar. Saat membuka, panel menyala lagi. Sekali ini, cahaya memantul di lantai kayu. Ia melihat bayangan kecil bergerak, tetapi tidak jelas arah dan bentuknya. Ia menelan ludah, menahan napas, dan perlahan menapak ke arah panel. Tangan kanannya menempel di dinding, bukan untuk menekan tombol, tapi untuk menahan diri jika sesuatu muncul. “Lia…” Sekali lagi suara itu. Kali ini lebih dekat, tapi juga lebih samar. Liana menundukkan kepala, menatap lantai, merasakan denyut di telapak tangan. Tidak ada yang bisa disentuh. Ia meraba sofa, menyesuaikan posisi duduk. Napasnya mulai lebih teratur, tapi tubuhnya tegang, siap menangkis sesuatu yang tidak terlihat. Panel menyala lagi, lampu putih pucat, tapi kali ini tidak ada suara. Ia menatapnya diam-diam, menunggu sesuatu terjadi, tapi yang datang hanyalah suara detak jam, tidak konsisten dengan ritme detak jantungnya sendiri. Liana perlahan berdiri, menjauh dari panel satu langkah. Ruangan terasa lebih panjang dari biasanya, dan bayangan di dinding ikut bergerak, tapi tidak menentu. Ia menatap pintu lagi. Tangannya tergenggam di samping tubuh, tidak bergerak. Panel berkedip, kemudian sebuah bip cepat, terputus-putus. Liana menahan diri untuk tidak bereaksi. Ia menunggu, membiarkan ketegangan menempel. Napasnya panjang, tubuhnya tetap diam. Suara itu tidak muncul, tetapi ia tahu—sesuatu sedang menunggunya. Sesuatu yang tidak bisa dijelaskan, tetapi hadir di setiap desah napasnya. Ia menunduk sebentar, menatap gagang pintu lagi. Ada bekas goresan kecil di cat putih gading, sama seperti yang selalu ia lihat, tapi kini terasa berbeda. Seakan itu bukan hanya bekas lama, tapi sesuatu yang ingin menarik perhatiannya, memancing rasa takut yang tidak bisa dijelaskan. Panel berkedip lagi. Kali ini Liana menahan tangan. Napasnya berat. Satu langkah mundur, dan tiba-tiba suara itu terdengar lagi, pecah, seakan tersedak: “—ia…” Tidak ada kata lengkap. Tidak ada penjelasan. Hanya jeda yang terlalu lama, kemudian hilang. Liana menatap pintu, diam. Tidak ada suara. Tidak ada cahaya tambahan. Tapi ia merasakan sesuatu, seperti ada tekanan halus di kepala, di d**a, di seluruh tubuh. Sesuatu yang tidak bisa ia beri nama, tidak bisa ia kenali, tapi nyata. Ia menoleh ke jendela, menatap bayangan luar apartemen, berharap melihat manusia, harapan paling sederhana—tetapi hanya ada gedung kosong dan matahari yang terpantul di kaca. Napasnya berat, tangan gemetar, tapi ia tetap berdiri. Panel menyala lagi. Hanya lampu putih, tidak ada suara. Liana menatapnya diam, tidak menekan, tidak bicara. Sekarang ia sadar: setiap kali ia bereaksi, setiap langkah, setiap gerakan, sesuatu di sini—apa pun itu—ikut bergerak bersamanya. Dan ketika ia diam, hanya diam, ruang menjadi tegang, misterius, tidak bisa ditebak. Ia menatap pintu sekali lagi, napas berat. Ia merasa sudah memberi terlalu banyak—mengangkat tangan, menatap, mundur, menunggu, menelan rasa takut—tapi tidak tahu untuk apa. Tidak tahu siapa yang ada di sisi lain. Tidak tahu apakah ia masih sendiri atau sudah tidak sendiri sejak lama. Dan di situ, ia berdiri, menatap pintu. Diam. Napasnya teratur, tubuhnya tegang, mata tetap fokus, tapi pikirannya penuh pertanyaan. Ini apa? Halusinasi? Orang? Tidak ada jawaban. Hanya keheningan, cahaya pucat panel, dan bayangan-bayangan yang tidak jelas. Detak jantungnya berdentum lebih keras, seolah ingin memecahkan hening. Ia merasakan udara di sekitarnya tebal, setiap partikel debu tampak melayang terlalu lama. Tangannya gemetar perlahan, menempel di sisi pintu lagi, merasakan tekstur kayu dingin dan cat yang sudah retak halus. Ia tidak berani menekan panel lagi, takut memancing sesuatu yang tak terlihat. Napasnya panjang, perlahan, mencoba menenangkan tubuhnya, tapi sesuatu di dalam d**a tetap bergetar, peringatan yang tidak bisa diabaikan. Ia menoleh, matanya menelusuri seluruh ruang tamu. Bayangan di sofa, di tirai, di lantai—semuanya tampak biasa, tapi terasa… salah. Salah pada ritme, salah pada jarak, salah pada suhu yang seharusnya biasa. Liana menarik napas dalam-dalam, menempelkan telapak di d**a sendiri, merasakan detak jantung yang liar. Ia tahu, sesuatu akan terjadi. Sesuatu akan muncul. Tapi ia tidak tahu kapan. Sekali lagi, panel menyala. Lampu putih pucat. Hening. Tidak ada suara. Ia menatap pintu, diam. Sesuatu di balik pintu itu menunggu, tidak sabar, diam tapi hadir. Ia menelan ludah, menahan tangan yang ingin menekan tombol lagi, mencoba mengendalikan napasnya, mencoba tetap berdiri, tetap menatap. Dan di sana, di depan pintu, Liana tetap berdiri. Diam. Tidak bergerak. Napasnya mulai stabil, tapi tubuhnya tetap tegang. Ia merasa—sesuatu tidak akan berhenti menatapnya. Ia tidak bisa tahu siapa, atau apa. Ia hanya bisa merasakan kehadirannya, dan itu sudah cukup untuk membuat seluruh dunia di sekitarnya terasa rapuh.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD