Bab 3-Obat Penenang

1097 Words
Liana masih berdiri di depan pintu. Tangannya menempel pada permukaan dingin, jari-jarinya sedikit gemetar. Napasnya berat, d**a sesak, tetapi ia mencoba menahannya. Panel di samping pintu berkedip sebentar, lampu putih pucat memantul ke seluruh tubuhnya, menembus tulang dan otot, menegaskan ketegangan yang sudah ia rasakan sejak beberapa menit terakhir. Ia menarik napas panjang, menundukkan kepala, tetapi matanya tetap menatap gagang pintu, menunggu sesuatu yang ia tidak bisa namai. Ia menoleh sebentar ke sofa. Bantal jatuh di lantai, kainnya berkerut, debu tipis menempel di permukaan kayu. Liana merasakan tekstur lantai di bawah kaki telanjang, dingin, kasar, seakan mencoba menahan langkahnya sendiri. Napasnya berguncang ketika ia menekan telapak tangan ke dinding, menempel bukan untuk menekan panel, tetapi untuk mencari jangkar, sesuatu yang nyata. Ia berbisik pelan pada diri sendiri: “Aku… harus tetap tenang… tetap tenang…” Tapi kata-kata itu terasa kosong, seperti mantra yang tidak bekerja lagi. Botol pil penenang diambilnya dari meja samping sofa. Jumlahnya berkurang perlahan, tapi tidak pernah habis. Liana menatap pil kecil di tangannya, menilai kembali keputusan untuk menelan satu. Tubuhnya ingin menolak, tapi pikirannya mengatakan, “Mungkin ini satu-satunya cara tetap stabil.” Ia menelan pil itu dengan sedikit air dari gelas yang sudah lama tidak dicuci. Sensasinya datang perlahan—tekanan di kepala melonggar, otot-otot terasa sedikit lebih ringan, tetapi tidak cukup untuk menghapus ketegangan yang menempel di sarafnya. Ia duduk di lantai, punggung bersandar ke dinding. Tangannya menggenggam tepi bantal jatuh. Napasnya mulai lebih teratur, tetapi tubuhnya tetap tegang. Panel berkedip, lampu putih pucat muncul, kemudian mati. Hening di apartemen terasa menekan, lebih berat dari sebelumnya. Bayangan di sudut ruangan bergerak samar. Liana tahu itu hanya permainan cahaya, tetapi rasa tidak nyaman tetap menempel, menyalip logika. Satu bisikan muncul di telinga, terlalu samar untuk bisa disebut kata. Liana menelan ludah, jantung berdetak lebih keras, tetapi ia tetap diam. Tangannya meraba permukaan lantai, sofa, bantal. Setiap sentuhan menjadi jangkar kecil, pengingat bahwa ia masih nyata, meski dunia di sekitarnya terasa tidak stabil. Ia berbisik pada dirinya sendiri, seperti menenangkan bayi: “Tidak ada yang terjadi… Tidak ada yang bisa menyakitiku sekarang… hanya aku dan pintu ini.” Ia menundukkan kepala lagi, menatap lantai. Napasnya bergantian panjang dan pendek, tubuhnya mulai terasa ringan akibat pil. Mata berkunang-kunang ketika ia menoleh ke arah jendela, tirai sebagian tertutup. Cahaya siang yang masuk tipis menyorot debu yang bergerak lambat, menari di udara seperti partikel yang hidup sendiri. Liana menelan ludah, merasakan getaran halus di kepala, tekanan yang tidak bisa ia jelaskan. “Ini hanya obat,” gumamnya, “tidak ada yang lain… hanya obat…” Panel menyala lagi. Lampu putih pucat, tetapi kali ini tidak ada suara. Liana menatapnya diam, menahan diri untuk tidak menekan tombol. Ia tahu, setiap gerakannya bisa memancing sesuatu—apa pun itu. Ia menundukkan kepala, memiringkan bahu, mencoba memposisikan tubuh agar tetap stabil. Tubuhnya terasa ringan, tetapi saraf tetap tegang. Setiap inci ruang terasa hidup, seakan mengawasi langkah-langkah kecilnya. Ia menoleh ke sofa, menggenggam bantal, mencoba menggesernya sedikit. Tangannya merasakan tekstur kain, dingin dan kasar, tetapi itu memberi sedikit kenyamanan. Napasnya lebih teratur, tetapi ia tetap merasakan sesuatu—perasaan diawasi yang tidak bisa ia jelaskan. Ia berbicara pada diri sendiri, suara pelan, seperti mantra: “Tenang… hanya tenang… aku bisa diam… aku bisa menunggu…” Kata-kata itu terputus-putus, fragmentaris, seperti suara yang pecah, meniru ritme detak jantungnya sendiri. Panel menyala sebentar, kemudian mati. Hening kembali menempel, lebih berat dari sebelumnya. Liana menatap pintu, tubuhnya tegang, tangannya masih menempel di permukaan dingin. Napasnya stabil, tetapi jantungnya berdetak terlalu keras. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan pikiran, tetapi bayangan di sudut ruangan tetap bergerak samar, mengikuti setiap gerakan tubuhnya. Ia merasakan sesuatu yang… menempel, tidak terlihat, tetapi nyata. Liana berdiri perlahan, menapak ke arah panel, menempelkan telapak tangan ke dinding bukan untuk menekan, tetapi untuk memberi jangkar. Napasnya berat, tetapi lebih stabil daripada sebelumnya. Ia menoleh ke jam di dinding, jarum detik bergerak normal, tapi terasa lambat, seakan menertawakan keterjebakan waktu yang ia rasakan. Satu bisikan terdengar di udara, hampir seperti tercekik: “—ia…” Kata terakhir pecah, tidak utuh, seperti terselip di antara gelombang suara yang tidak stabil. Liana menelan ludah, menahan napas sebentar, tubuhnya tegang, tetapi tidak bergerak. Ia tahu, sesuatu ada di sana, tetapi tidak tahu apa. Ia menatap pintu sekali lagi, tubuhnya diam, tangan masih menempel di permukaan dingin. Napasnya stabil, tetapi mata tetap waspada, meneliti setiap detail: goresan kecil di cat, kunci yang tidak pernah berpindah, bayangan yang bergerak samar. Ia merasakan ketegangan menempel di seluruh tubuh, seperti energi halus yang menyelimuti setiap inci ruang. Liana duduk di lantai lagi, menarik lutut ke d**a, tangan menggenggam bantal, menekan telapak ke lantai. Napasnya lebih panjang, tubuhnya sedikit lebih tenang, tetapi saraf tetap tegang. Ia berbicara pada diri sendiri, fragmentaris: “Aku… harus diam… harus menunggu… harus tetap….” Kata terakhir terputus, seperti suara yang tersedak di tenggorokan, tidak pernah lengkap. Panel menyala lagi, lampu putih pucat, tanpa suara. Liana tetap diam, menatap pintu, menahan tubuh agar tidak bereaksi berlebihan. Ia merasakan efek obat, tubuh ringan, tetapi pikirannya tetap waspada. Bayangan bergerak, cahaya berkilat, debu menari, dan ruangan terasa hidup dengan cara yang tidak bisa ia jelaskan. Ia menoleh ke sofa, menggenggam bantal, mencoba menggesernya dengan ujung kaki. Napasnya lebih stabil, tetapi tubuh tetap tegang. Tangannya menempel di panel, menahan diri agar tidak menekan tombol, meski hatinya ingin tahu apa yang akan terjadi. Ia menundukkan kepala, menatap lantai, merasakan denyut di telapak tangan, mencoba menenangkan saraf yang bergetar. Dan di situ, ia tetap berdiri di depan pintu. Tubuhnya tegang, napas teratur, mata waspada. Efek obat sudah mulai membuat tubuh ringan, tetapi pikirannya tetap terjaga, menyadari setiap detik, setiap bayangan, setiap getaran yang tidak bisa ia jelaskan. Ia berbicara pada diri sendiri, fragmentaris, hampir seperti mantra, tapi kata-kata itu terputus-putus: “Aku… aku… harus tetap… diam… harus… menunggu… harus tetap….” Dan ia menunggu. Diam. Menatap pintu. Tidak ada jawaban. Tidak ada suara. Tidak ada penjelasan. Hanya ketegangan yang menempel di tubuh, bayangan yang bergerak samar, lampu putih pucat panel, dan rasa bahwa sesuatu menunggunya—tanpa nama, tanpa wajah, tanpa bentuk. Liana menundukkan kepala, menarik napas panjang, membiarkan diri larut dalam ketegangan, dalam ruang yang terasa hidup, dan dalam efek obat yang menumpulkan tubuh tetapi tidak menumpulkan kesadaran. Ia tetap di sana, berdiri, menatap pintu. Napas teratur, tubuh tegang, mata waspada. Tidak ada jawaban, hanya ketegangan yang menempel di ruang, bayangan yang mengikuti, dan panel yang menyala sebentar, kemudian padam. Di balik pintu itu—apa pun yang menunggu—akan tetap menunggu. Karena malam ini, Liana memilih diam. Bukan sebagai ketakutan. Bukan sebagai pelarian. Melainkan sebagai keputusan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD