Bab 4-Cermin yang Terlambat

1668 Words
Efek dari obat itu seharusnya membawa kantuk yang berat, sebuah selimut hitam yang menarik Liana ke dasar tidur tanpa mimpi. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Obat itu memang melumpuhkan otot-ototnya, membuat lengannya terasa seberat timah dan kakinya seolah tertanam di lantai kayu apartemen, tetapi pikirannya—bagian paling liar dari dirinya—malah terjaga dengan ketajaman yang menyakitkan. Liana merasa seperti sedang menonton dirinya sendiri dari sudut langit-langit. Ia melihat tubuhnya bergerak lambat meninggalkan pintu depan yang masih membisu, menyeret langkah menuju kamar mandi di ujung lorong sempit. Lampu lorong berkedip sekali. Suara desis listriknya terdengar seperti bisikan yang terpotong. Ia masuk ke kamar mandi. Ruangan itu kecil, didominasi oleh ubin putih yang mulai menguning di sela-selanya. Bau pembersih lantai yang tajam menyengat penciumannya, memicu rasa mual yang samar. Di atas wastafel, sebuah cermin persegi panjang dengan bingkai perak kusam tergantung sedikit miring. Liana menyalakan keran. Air mengucur deras, memecah kesunyian yang mencekam. Ia menangkupkan air ke wajahnya, berharap sensasi dingin itu bisa membasuh kabut di kepalanya. Namun, saat ia menegakkan tubuh dan menyeka wajah dengan handuk kecil, ia menyadari sesuatu. Dunia di dalam cermin tidak segera mengikuti gerakannya. Liana terdiam. Tangannya masih memegang handuk di dekat dagu. Matanya menatap tajam ke arah pantulannya sendiri. Di dalam cermin, sosok Liana sedang melakukan hal yang sama, tetapi ada jeda—sepersekian detik yang tidak wajar—sebelum bayangan itu berhenti sepenuhnya. Ia mencoba melakukan tes kecil. Ia menurunkan handuknya dengan cepat. Liana yang nyata sudah menjatuhkan tangan ke samping tubuh. Namun, Liana di dalam cermin baru saja mulai menurunkan tangannya dari dagu. Gerakannya halus, hampir sempurna, namun terlambat. Jantung Liana berdegup kencang, menghantam dinding dadanya dengan ritme yang tidak beraturan. Ia merasa seolah-olah oksigen di kamar mandi itu tiba-tiba tersedot habis. Ia menelan ludah, dan ia melihat jakun di leher bayangannya bergerak naik-turun setelah ia selesai menelan. "Ini cuma obat," bisiknya. Suaranya memantul di ubin, terdengar hampa. "Distorsi persepsi. Dr. Aris bilang ini bisa terjadi." Namun, logika itu terasa seperti perisai kertas di bawah hujan badai. Liana mendekat ke cermin, ujung hidungnya hampir menyentuh permukaan kaca yang dingin dan lembab. Ia menatap ke dalam matanya sendiri—atau mata milik sosok yang berpura-pura menjadi dirinya. Di dalam sana, pupil matanya tampak lebih gelap. Ada sesuatu yang berbeda di balik tatapan itu. Bukan rasa takut yang ia rasakan, melainkan semacam rasa ingin tahu yang dingin dan predatoris. Liana mengangkat tangan kanannya secara perlahan, ujung jarinya bergerak inci demi inci menuju permukaan kaca. Bayangan di dalam cermin melakukan hal yang sama. Namun, kali ini, bayangan itu tidak hanya terlambat. Gerakannya terasa lebih... sengaja. Saat jari telunjuk Liana yang nyata menyentuh kaca, ia merasakan dinginnya material itu. Namun, di dalam cermin, jari bayangannya belum sampai. Bayangan Liana masih berjarak satu sentimeter dari permukaan dalam kaca. Liana tetap menempelkan jarinya, menahan napas, menunggu hingga bayangan itu "mengejar" realitas. Detik demi detik berlalu. Kesunyian di kamar mandi itu menjadi begitu pekat hingga suara tetesan air dari keran terdengar seperti dentuman palu. Bayangan itu akhirnya menyentuh kaca. Tapi, ia tidak berhenti. Liana tersentak mundur ketika ia melihat jari di dalam cermin seolah-olah sedikit menekan ke arah luar, menciptakan riak kecil yang mustahil di permukaan kaca padat tersebut. "Tidak," desis Liana. Ia memalingkan wajah, menutup matanya rapat-rapat. "Ini tidak nyata. Otakku sedang rusak. Ingatanku bocor, persepsiku hancur. Ini hanya efek samping." Ia mencoba mengingat-ingat kapan terakhir kali ia merasa benar-benar terjaga. Sejak pindah ke Apartemen 402, waktu telah menjadi musuh yang licin. Hari-hari bergabung menjadi satu gumpalan abu-abu. Apakah ia sudah disini sebulan? Setahun? Mengapa ia tidak ingat bagaimana rupa jalanan di luar gedung ini? Mengapa satu-satunya wajah yang ia ingat dengan jelas hanyalah wajah Dr. Aris dan... Kala? Nama itu, Kala, muncul seperti kilatan petir di kepalanya, membawa rasa sakit yang tajam di belakang mata kirinya. Liana kembali menatap cermin. Kali ini, pantulannya tampak sinkron kembali. Ia menggerakkan kepala ke kiri dan ke kanan, dan bayangannya mengikuti dengan sempurna. Ia menghela napas lega, meskipun sisa-sisa kengerian masih merayap di kulitnya. Ia memutuskan untuk keluar dari kamar mandi. Namun, tepat saat ia berbalik menuju pintu, sudut matanya menangkap sesuatu yang membuat seluruh tubuhnya membeku. Di dalam cermin, sosok Liana tidak ikut berbalik. Liana yang nyata sudah menghadap pintu, memunggungi wastafel. Tetapi pantulan di cermin tetap berdiri menghadap ke depan, menatap punggung Liana yang asli. Rasa dingin yang ekstrem menjalar dari tulang ekor hingga ke tengkuknya. Liana tidak berani menoleh. Ia bisa merasakan tatapan itu. Ia bisa merasakan kehadiran sesuatu yang intens di belakangnya, sebuah eksistensi yang seharusnya hanya berupa cahaya yang dipantulkan, namun kini terasa memiliki massa dan kehendak sendiri. Perlahan, sangat perlahan, Liana memutar kepalanya kembali ke arah cermin. Sosok di dalam kaca itu masih di sana. Ia tidak bergerak mengikuti rotasi tubuh Liana. Wajahnya datar, tanpa emosi, namun matanya... matanya membelalak lebar, seolah sedang menyaksikan sesuatu yang mengerikan di belakang Liana. Liana dengan cepat menoleh ke belakang, ke arah pintu kamar mandi yang tertutup. Tidak ada apa-apa. Hanya gantungan handuk dan pintu kayu putih. Saat ia kembali menatap cermin, bayangan itu kini sedang tersenyum. Bukan senyum ramah. Itu adalah tarikan sudut bibir yang terlalu lebar, terlalu kaku, seolah kulit wajahnya dipaksa untuk meregang. Dan yang paling mengerikan adalah: Liana yang asli tidak sedang tersenyum. Wajah Liana yang asli kaku karena ketakutan, bibirnya gemetar, air mata mulai menggenang. Dua ekspresi berbeda dalam satu bingkai kaca. "Siapa kamu?" bisik Liana, suaranya nyaris hilang. Bayangan itu tidak menjawab dengan suara. Sebaliknya, ia mengangkat tangannya sendiri—gerakan yang sama sekali tidak dilakukan oleh Liana yang asli—dan menempelkan telapak tangannya ke permukaan dalam kaca. Suara duk pelan terdengar, seolah-olah kaca itu memang sebuah jendela tipis yang memisahkan dua ruangan yang berbeda. Bayangan itu mulai menuliskan sesuatu di permukaan kaca yang berembun akibat napas Liana sebelumnya. Huruf-huruf itu terbentuk dari sapuan jari yang tak terlihat dari sisi Liana. B-U-K-A Liana mundur hingga punggungnya menabrak pintu kamar mandi. "Buka apa? Buka apa?!" teriaknya histeris. Bayangan itu berhenti tersenyum. Ekspresinya berubah menjadi kemarahan yang murni. Ia mulai memukul-mukul kaca dari dalam. Tidak ada suara dentuman keras, hanya getaran halus yang bisa dirasakan Liana melalui lantai. Setiap pukulan seolah-olah mengirimkan gelombang kejut ke dalam otaknya. Liana meraba-raba gagang pintu, mencoba membukanya, namun pintu itu terasa macet. Seolah-olah apartemen ini sengaja menguncinya di dalam ruang sempit ini bersama pantulannya yang gila. "Tolong! Siapapun di luar! Tolong!" Ia teringat suara dari panel tadi. Liana. Bukakan pintunya. Apakah suara itu berasal dari luar apartemen, atau dari balik kaca ini? Apakah ia sedang dikurung oleh orang lain, atau ia sedang mengurung dirinya sendiri dari kenyataan yang jauh lebih buruk? Tiba-tiba, lampu kamar mandi mati total. Kegelapan yang datang begitu pekat, jenis kegelapan yang membuatmu merasa buta seketika. Liana berdiri membatu, napasnya terdengar seperti suara mesin yang rusak di ruangan sempit itu. Ia bisa mendengar detak jantungnya sendiri—dan anehnya, ia mendengar detak jantung kedua, yang sedikit lebih lambat, berasal dari arah wastafel. Srekk... srekk... Suara gesekan sesuatu yang tajam di atas kaca. Liana memejamkan mata, menutup telinganya. "Ini tidak nyata. Ini obat. Ini halusinasi. Aku di Apartemen 402. Aku aman. Aku sedang diterapi." Ia terus merapalkan kata-kata itu seperti doa. Ia memaksa dirinya untuk mengingat instruksi Dr. Aris: Jika realitas terasa goyah, cari satu benda yang nyata dan pegang erat. Ia meraba sakunya dan menemukan botol obat itu. Ia menggenggamnya hingga buku jarinya memutih. Plastik keras botol itu menjadi satu-satunya hal yang menghubungkannya dengan dunia luar. Lampu berkedip menyala kembali. Kamar mandi itu kosong. Cermin di depan wastafel kini hanya memantulkan bayangan Liana yang tampak pucat, berantakan, dan ketakutan. Semuanya kembali sinkron. Saat ia mengangkat tangan, bayangannya mengikuti tanpa jeda. Tidak ada tulisan di embun kaca. Tidak ada senyum mengerikan. Liana jatuh terduduk di lantai ubin yang dingin. Ia terengah-engah, keringat dingin membasahi bajunya. Ia menatap botol obat di tangannya. Label putih itu tampak sedikit koyak. Ia membacanya sekali lagi, mencoba fokus pada huruf-huruf yang biasanya tampak buram. Risperidone. Dan di bawahnya, ada catatan kecil yang ditulis tangan dengan tinta biru yang mulai pudar: Dosis ganda untuk subjek yang menunjukkan tanda-tanda pemberontakan identitas. Subjek? Liana mengerutkan kening. Mengapa Dr. Aris menggunakan istilah "subjek" alih-alih "pasien" dalam catatan pribadinya? Dan apa maksud dari "pemberontakan identitas"? Ia berdiri dengan susah payah, kakinya masih terasa lemas. Ia tidak lagi memercayai cermin itu. Ia tidak lagi memercayai matanya sendiri. Ia berjalan keluar dari kamar mandi, membiarkan pintunya terbuka lebar—ia tidak sanggup mendengar suara pintu menutup yang akan mengukuhkan rasa terisolasinya. Kembali ke ruang tamu, ia melihat jam dinding. 16.45. Hanya tiga puluh menit sejak ia meminum obatnya. Namun bagi Liana, ia merasa telah melewati satu dekade di dalam kamar mandi tadi. Ia berjalan menuju jendela dan menyibakkan tirai sedikit lebih lebar. Di luar, langit tampak aneh. Warna oranye matahari terbenam tidak merata, seolah-olah ada bagian dari langit yang dicat dengan terburu-buru. Gedung di seberang jalan tampak terlalu simetris, terlalu sempurna, tanpa ada satu pun orang yang terlihat di jendela-jendelanya. Liana merasa diawasi lagi. Kali ini bukan dari cermin, tapi dari sudut-sudut ruangan yang gelap. Ia menengadah ke langit-langit, menatap titik hitam kecil di dekat ventilasi yang ia sadari dari tadi. Titik itu tidak lagi diam. Ada cahaya merah kecil yang berkedip di sana, sangat redup, namun nyata. Sebuah kamera. Liana merasa seluruh tubuhnya lumpuh oleh sebuah realitas baru yang jauh lebih mengerikan daripada hantu di dalam cermin: Ia bukan sedang dalam penyembuhan. Ia sedang dalam observasi. Apartemen 402 bukan rumahnya. Ini adalah sangkar. Dan ia adalah hewan yang sedang diamati reaksinya terhadap rasa takut. Ia kembali duduk di sofa, memeluk lututnya erat-erat. Ia menatap ke arah cermin besar yang ada di lemari kamar tidurnya yang terlihat dari ruang tamu. Di sana, pantulannya tetap diam, duduk di posisi yang sama. Tetapi, meskipun Liana yang asli tetap memejamkan mata karena lelah, pantulannya di kejauhan sana... tetap terjaga, menatapnya dengan mata yang tidak pernah berkedip. Liana menyadari satu hal yang paling menakutkan: cermin itu tidak terlambat. Cermin itu sedang menunjukkan masa depan. Dan di masa depan itu, ia tidak lagi memiliki kendali atas dirinya sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD