"Yakin gak mau berangkat sama gue?" Tanya Adam dengan nada ngledek memandang Dea yang serius memakan nasi goreng buatannya sendiri itu.
"Seyakin-yakinnya!" Ucap Dea mantap kemudian meneguk habis s**u cokelatnya, Adam terlihat santai meneguk miliknya tidak seperti Dea yang terlihat tergesa-gesa.
" kata Nyokap kan kita harus barengan, Ya." Ucap Adam membantu Dea mencuci piring bekas miliknya dan Adam.
Entah kenapa image Adam yang cool dan maskulin mendadak menyebalkan sekarang jika mereka berdekatan. Dea seperti harus mengenal sosok Adam yang jauh berbeda dengan persepsi teman-temannya di kelas.
Laki-laki di sampingnya ini terlihat bawel, dan aarrrggghhh... So Nerd. Menuruti semua perkataan Mamanya, well itu poin plus dari seorang Adam Bagaskoro.
"Dam, lagian lo kan bisa anter jemput pacar lo kan. Kenapa jadi ribet sih, gue juga gak bakal ilang udah gede juga." Ucap Dea sengit.
Adam menghela nafas rasanya ingin menggigit lengan mungil gadis di sampingnya. Gadis? Ya walaupun sudah berstatus seorang istri Adam, namun Dea masih perawan ting ting lo.... *apasih nih
"Bener juga kata lo. Ya udah gue berangkat!" Ucap Adam gemas mengusap kepala Dea dengan lembut.
Dea mematung, usapan itu membuat kupu-kupu di perutnya muncul kembali setelah sekian lama menghilang tanpa jejak.
"Dosa gak sih kalok gue nganggep Adam abang gue." Guman Dea kemudian mengambil tas ranselnya dan berangkat sekolah.
***
Hari ini Pak Agus tak datang dikarenakan istrinya yang akan melahirkan untuk anak yang pertama. Tentunya ini menjadi sebuah momen yang berharga buat kelas Dea dan Fania, banyak yang tidur,main game berjamaah, makan cemilan.
Dea dan Fania bercanda ria dengan tetangga bangku mereka. Aldi yang humoris sebagai sorotan jika teman-teman sedang bercanda bersama, ya walaupun Aldi yang bandel dan juga kocak itu namun namanya selalu terselip di antara peringkat 10 besar, hebat bukan?
"Nanti malam jalan yuk!" Ajak Fania pada teman-teman kelasnya.
Aldi tampak berfikir yang lain pun hanya memamerkan jempol jari mereka tanda mereka setuju. Aldi ini paling sibuk di antara mereka, cowok satu ini paling aktif dalam organisasi baik di sekolah maupun di luar sekolah.
"Oke deh, jalan kemana nih?" Tanya Aldi antusias setelah memeriksa jadwal sok sibuknya.
" gue gak ikutan ya Fan." Ucap Dea.
Di antara teman-temannya, Dea yang paling susah untuk di ajak jalan. Baginya berada di keramaian cukup mengganggu kenyamanannya, berbeda dengan Fania yang layaknya kelelawar bisa cepat beradaptasi dengan lingkungan sekitar.
"Yaelah,Ya. Elo mah kayak setahun sekali mau jalan sama kita-kita." Ucap Aldi terlihat kecewa dengan keputusa. Sahabatnya.
Dea tersenyum getir, tidak ada yang menarik menurutnya dalam dunia luar baginya. Rumah adalah segalanya bagi Dea, surganya adalah ruangan kerja Ayahnya yang terdapat perpustakaan pribadi.
" noh pangeran lo lewat noh Fan." Ucap Bimbi pada Fania yang langsung tahu maksud si Bimbi. Ya, semua teman-temannya tahu kalau Fania begitu tergila-gila dengan seorang Bagas kelas sebelah.
Bagas yang melewati kelas Dea menoleh mencari-cari gadis yang baru-baru ini sah menjadi istrinya. Begitu bertemu dengan mata indah milik Dea sebuah senyuman Bagas lontarkan padanya.
Dea yang tahu Bagas tersenyum padanya justru mengalihkan pandangannya, tak ingin teman-temannya menaruh curiga padanya.
" dia senyum ke gue kan Ya, Di, Bim?" Teriak Fania girang begitu pangerannya melontarkan sebuah senyum padanya. Itu hanya alibi Fania saja karena faktanya Bagas melemparkan senyum pada Dea yang posisinya di samping Fania.
"Menang banyak loh! " ucap Dea tertawa renyah karena pernyataan konyol Fania sahabatnya.
"Gue mimpi apa sih semalem?" Tanya Fania yang masih terbawa suasana.
"Gue mau ke kantin aja deh." Ucap Bimbi pada semua orang.
***
Sebenarnya yang berpamitan ke kantin hanya Bimbi, namun apa jadinya ternyata semua warga kelas ikutan pula. Belum masuk jam istirahat sebenarnya namun kekosongan di kelas membuat mereka tak bisa menahan untuk tak meninggalkan kelas.
Dewi fortuna memihak Dea dan kawan-kawannya, Pak Agus tidak ada sedangkan guru rapat dengan agenda membahas tahun ajaran baru berada di depan mata.
"Udah dong, Fan mantengin Bagas mulu. Bakso lo keburu dingin bego." Ucap Aldi memukul kening Fania dengan sendok garpu yang baru saja Ia gunakan untuk menusuk bulatan-bulatan daging bercampur tepung di mangkuk miliknya.
"Apaan sih loh,Al?" Gerutu Fania kemudian menggosok keningnya yang mulai panas dan tercium kuah bakso darinya.
Dea hanya tertawa geli melihat tingkah sahabatnya, tak pernah mereka makan dengan khidmat. Selalu saja ada pertengkaran di antara mereka, yang paling sering ternistakan adalah Fania.
Alasan mereka yang sering membully Fania sangat mampu membuat perut kaku. Wajah Fania yang cocok untuk korban bully.
Bimbi tak ada suara sama sekali, cowok itu sibuk mantengin Dea yang terkadang tertawa renyah di sela makannya. Semua orang tahu jika Bimbi mempunyai perasaan lebih pada Dea, namun Bimbi tak pernah mengatakannya Ia tak ingin merusak persahabatan yang terjalin cukup lama itu.
"Bim, lo ngapain sih mantengin gue mulu." Gerutu Dea dengan bibir manyun. Euh... cute.
"Noh kardus kalok kaga mau di lihatin." Celetuk Aldi tak lama mendapat pukulan pada kepalanya oleh Dea.
"Ya kali Bimbi jatuh cinta sama gue." Gurau Dea menyebabkan semua tertawa.
Dea gadis pendiam tapi sekali berbicara gadis itu dapat mencairkan suasana yang canggung.
"Gue emang jatuh cinta sama elo." Ucap Bimbi membuat semua tawa lenyap di telan udara di sekitarnya. Begitu hening mereka saling memandang termasuk Dea, Bimbi tetap santai memakan baksonya.
"Garing lo." Umpat Aldi pada Bimbi agar suasana tak canggung lagi.
"Ya!" Teriakan seorang laki-laki melambaikan tangannya.
Semua mata beralih menatap cowok yang berjarak 5 meter dari tempat mereka duduk. Fania yang paling girang karena pangerannya memanggil namanya untuk pertama kalinya.
Bagas menatap lurus Dea namun Dea mengalihkan pandangannya untuk kesekian kalinya. Tak ingin menanggapi Bagas, justru matanya asik menatap gadis di sampingnya yang begitu girang.
Fania tiba-tiba berdiri dengan senyum yang terpancar di wajah cantiknya, mulai melangkah menuju Bagas yang terheran karena justru teman Dea yang datang. Bagas fikir jika mungkin saja Dea menyuruh temannya ini menghampirinya.
Dea terperangah tak percaya melihat kelakuan Fania yang terlalu berani. Bukan Dea saja tapi semua mata memandang karena yang mereka tahu meskipun Fania menggilai Bagas, namun cowok itu tak mengenalnya.
"Lo manggil gue?" Tanya Fania berbinar pada Bagas yang melongo.
"Hah?" Ungkap Bagas yang masih bingung dengan apa yang sedang terjadi.
"Iya tadi lu panggil Ya kan? Nama gue Fania." Jelas Fania dengan senyum penuh dengan kesenangan tiada duga.
"Oh Sorry, gue manggil temen elo si Dea." Ucap Bagas menggaruk tengkuknya canggung.
Pffftttt....pfffftttt....
Gelak tawa terdengar di seberang, Aldi dan Bimbi terpingkal mendengar penjelasan Bagas. Perutnya benar-benar kram,.tanpa membully kini Fania terlihat bodoh. Dea hanya tersenyum getir antara kasian dan juga u*****n bodoh ingin terucap dari bibirnya.