4. MENGHINDAR

987 Words
Sarapan pagi ini cukup hening, tak ada yang mau mencairkan suasana. Baik Adam maupun Dea sama-sama bungkam, untuk sekedar bertegur sapa. Tak ada pertengkaran semalam, semua berjalan semestinya. Adam yang sibuk memenangkan game online yang nyatanya tak pernah menang. Dea yang sibuk menonton drama korea yang nyatanya juga tak membuatnya bosan berkali-kali menyaksikannya. Drrttt....ddrrrtttt... Ponsel Adam bergetar tertera nama kontak Mamanya di layar touchscreen itu. Dea yang melirik sekilas kembali sibuk menghabiskan sarapanya. "Halo Ma ada apa?" Tanya Adam memijat sudut bibirnya pelan. "Dam, kamu udah lima kali loh Mama suruh bawa Dea ke rumah hasilnya nihil." Sahut Mamanya di sambungan telepon seberang. " salahin Dea lah Ma." Gerutu Adam yang langsung mendapat tatapan tajam yang menusuk mata. Tersirat dalam tatapan itu bahwa Dea tak mau di salahkan. Seusai telepon terputus, Adam ingin segera meneguk s**u cokelatnya sebelum mendapat semprotan pedas Dea namun terlambat dasi Adam sudah tertarik tangan mungil Dea. " eh cecurut, lo ngomong apa loh sama Mama!" Ini bukan pertanyaan dari Dea tapi terdengar ancaman dari Dea. " lah emang salah elo kan? Coba setiap gue manggil lo mau dengerin kaga ngilang kayak setan." Ucap Adam malas sambil menatap Dea muak. "Lah elo manggilnya di sekolah, waktu sarapan kayak gini kan juga bisa. Mau pamer lo" tohok Dea tak mau di salahkan sekali lagi. " salah gue dimana? Gue cuman mau nunjukin lo milik gue." Tatapan Adam mulai berubah iblis. " najis !" desis Dea kemudian segera menyelamatkan diri sebelum Adam berubah jadi m***m. *** Perpustakaan harusnya memang disiplin penuh ketenangan, namun semua berubah ketika kelas Aldi mengisi setiap sudut ruangan perpustakaan. Layaknya pasar yang terdengar debatan-debatan kecil, layaknya kampung yang sedang ada kondangan. Layaknya terminal yang penuh dengan calo-calo penumpang. "Ya jadi lo mau di ambilin buku yang mana sih?" tanya Bimbi frustasi karena Dea dari tadi hanya menggeleng ke kanan dan ke kiri pada setiap buku yang di tunjuk Bimbi. "Gue kan belum nemu, Bim." Sahut Dea santai. "Makanya lo milih nanti gue ambilin." Ucap Bimbi setelah menghela nafas panjang. "Dari tadi juga milih emang belum cocok aja." Cengir Dea melihat Bimbi yang emosinya sudah di pucuk ubun-ubun. "Lo ngapain sih Fan!" Ucap Aldi kebingungan melihat Fania yang tiba-tiba mengindap-ngindap seperti singa mencari mangsa. "Ada bagas noh." Nunjuk kaca perpustakaan dengan dagunya. Mereka bertiga melihat ke arah kaca luar, dimana dagu Fania menunjukannya sebelumnya. Seakan aliran darah Dea berhenti.begitu saja, tanpa Ia perintahkan. Seolah-olah kini Adam yang membuatnya pusing seketika. "Elah kemarin lo kayak cacing kepanasan ketemu Bagas, giliran sekarang aja lo kayak tikus ketemu kucing." Cemooh Aldi bikin semua ketawa terbahak-bahak. Dea tak kalah kerasnya tertawa, sampai-sampai mereka kena tegur pegawai perpustakaan. Dea diam dengan segera menutup mulutnya, namun wajahnya memerah karena masih ingin tertawa. Saat mata tak sengaja bertemu, Dea mematung seketika. Adam tahu itu Dea makanya dia menatapnya lama, namun tidak bagi Dea begitu mata bertemu dengan mata Adam seketika Dea mengalihkannya. Tak ada yang salah dari Adam, meskipun satu rumah namun Dea tak pernah takut akan terjadi suatu hal yang fatal. Dea mungkin sudah nyaman dengan keberadaan Adam. "Ya!" Suara bariton milik Adam membuat Dea mematung memejamkan matanya. Aldi dan Bimbi mengangkat sebelah alis matanya, seperti ada yang tidak beres antara mereka bedua. Dea yang tak pernah mengenal sosok laki-laki bahkan bisa di bilang hanya mereka berdua yang menjadi teman terdekat Dea saat ini. Sedangkan Adam? Cowok playboy yang tak mungkin bahkan suatu yang mustahil jika mendekati gadis seperti Dea. Aldi tahu Dea bukan tipe gadis Adam. "Kenapa,Gas?" Tanya Dea berusaha bersikap sebiasa mungkin, bahkan ketika menjawab sapaan Adam Dea justru memfokuskan pandangannya pada deretan buku yang tersusun rapi. " Bagas?" Tanya Adam pada Dea seolah tak percaya. Seolah ada yang mencelos begitu saja di hatinya, ketika gadis di depannya memanggil namanya seperti tak biasanya. Gadis yang masih di bawah umur namun sudah menjadi istri sahnya, menemaninya setiap malam di sampingnya, memasak untuknya dan mengurusnya bak bayi besar. " nama lo Bagas kan? Terus salah gue dimana?" Tanya Dea dengan nada sopan seolah ini baru pertama kalinya mereka berbicara. Aldi,Bimbi dan Fania hanya bisa melihat adegan Adam dan Dea, mereka bertanya-tanya seperti ada sesuatu di antara mereka. "Serah lo aja deh. Terus aja menghindar"ucap Adam kemudian berlalu pergi begitu saja. Dea diam membeku di tempat, ini yang pertama kali Adam ketus padanya, salahnya dimana bukankah Adam  sendiri yang meminta Dea memanggilnya -bagas-. *** Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam tapi sosok Adam belum menampakkan hidungnya, ini yang pertama kalinya Adam pulang latit malam. Semenjak menikah dengan Dea, Adam pulang 5 menit sesudah Dea terkadang bebarengan. Dea mondar mandir di depan apartemen. Sudah beberapa bulan tololnya mereka tak saling tukar nomor ponsel, Dea yang menguap beberapa kali tak membuatnya mengakhiri acara menunggu kepulangan suaminya. *eaakkk Beberapa jam kemudian.... Dea mulai lelah Ia memutuskan untuk  masuk ke dalam menanti Adam dengan menonton televisi tak ada salahnya bukan. Lagipula berdiri di depan pintu apartemen sendirian membuat bulu kuduknya berdiri. Koridor yang sepi membuatnya mengingat adegan horor di film atau drama kesukaannya. Matanya mulai lengket,bulu matanya saling bertautan tak ingin lepas. Remote tv nya pun jatuh ketika Dea sudah tak bisa menahan rasa kantuk yang begitu mendesaknya. Adam menyalakan lampu ruang tamu begitu matanya melihat tubuh mungil di sofa ruang televisinya. Sebenarnya dia pulang larut malam karena ajakan dugem Vira gebetan barunya. Adam juga malas bertemu Dea yang mungkin akan mengejeknya dengan Fania, mana ada istri menjodohkan suaminya dengan teman karibnya sendiri. "Dia nungguin gue?" Guman Adam memijat pelipisnya. Wajah Dea yang terlihat damai begitu menggodanya namun buru-buru Ia membuang fikiran kotornya. Adam berlalu pergi membiarkan Dea tidur di sofa, menaiki tangga menuju kamarnya badannya sudah gerah dengan keringat menempel di seragam osisnya. Satu...dua...tiga... Damn ! Adam tak bisa mengendalikan dirinya, laki-laki itu pun berbalik arah menuju Dea kembali. Di angkatnya tubuh mungil itu, tak tega ya perasaan itu yang muncul jika harus dia saja yang akan menempati ranjang besarnya. Berat badan yang begitu ringan membuat Adam tak terlalu menahan beban. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD