5. MARAH

1049 Words
sudah tiga hari Adam tak mengajak bicara Dea, bahkan setiap pulang Adam menemukan Dea sudah terlelap  di sofa menunggunya mungkin. Tapi Adam juga yang selalu memindahkan Dea. Dea tak pernah juga membicarakannya bahkan Dea tahu jika Adam yang selalu memindahkannya di tempat tidur. Namun Dea tak ingin berbicara dulu karena sudah beberapa Adam membisu seperti mayat hidup. Rasa gengsi sangat Dea cukup tinggi untuk memulai sesuatu duluan, Dea menganggap orang yang mendiamkannya harus mengajaknya berbicara terlebih dahulu. Bahkan beberapa hari ini Adam juga tak menghampirinya di lingkungan sekolah. Entah itu di kantin atau jam kosong, semua tampak dingin. Dea mulai berfikir dia yang bersalah, namun lagi-lagi masalah ego gadis itu tak mau mengulangnya duluan. Dea tengah duduk di kantin dengan para sahabatnya, Fania sedang kencan dengan Dico. Sudah lama mereka tak menghabiskan waktu istirahat bersama karena Dico sibuk mengurus acara sekolah yang akan di selenggarakan menjelang liburan nanti. " gak ada Fania sepi juga Guys." Ucap Aldi memakan mie ayam miliknya. Dea dan Bimbi saling berpandangan, sebuah senyuman jahil muncul beberapa saat di kedua wajah mereka.  Aldy memicingkan matanya kepada keduanya, ada yang tak beres. " lo kangen Fania,Al?" Tanya Dea menyinggung siku Aldy yang berada di sampingnya dengan tangan kanannya. " apasih lo ya?" Ucap Aldy kemudian menjitak kepala Dea dengan tumpulan sendok. "Aaahhh... sakit g****k!" Rintih Dea kemudian mengusap keningnya dengan kasar, agar tak muncul benjolan itu adat darimana Dea tak tahu. *** Dea memandangi jalan raya di luar apartemennya, meski apartemen itu terletak di lantai dua namun pemandangan di waktu malan hari tetaplah indah. Gemerlap bintang dan sang rembulan yang tak pernah saling menyapa layaknya Adam dan Dea saat ini. Hari ini Adam pulang seperti biasanya lagi, itu bagus bagi Dea dia tak perlu menunggunya seperti anjing bodoh. Meski Adam tak mengajaknya bicara, Dea juga tak mau memulainya lagi. Dea mulai sepi seperti tak di anggap berlalu lalang begitu saja, bahkan ketika duduk bersama di meja makan saling berhadapan. Adam terus melahap makanannya meski sekilas melirik Dea dengan tatapan yang tak bisa di jelaskan. Bahkan ketika melalui kelas dan kantin meski ada Dea disana, di tangkapan pandangan mata Adam. Laki-laki itu justru memalingkan wajahnya. Namun bagi Dea Adam terlalu kekanak-kanakan, hanya masalah Dea memanggilnya Bagas di sekolahnya saja sampai begitunya. Bukankah dulu Adam sendiri yang tak ingin di panggil Adam oleh selain keluarganya? Akankah masih salah Dea? Adam keluar kamar dengan membawa jaket kulit hitam kebanggaannya, memang pulang lebih awal namun tetap saja jika dia keluar lagi. Adam berjalan begitu saja mengabaikan Dea yang sedang di balkon kamar menghirup udara segar. Mencelos sebenarnya, namun inikah yang dinamakan suka terhadap seseorang ? Secepat itukah? Padahal rasanya baru saja kemarin Dea mendengar Adam melafalkan janji suci di depan kedua orang tuanya. Mata Dea memicing begitu Adam berjalan keluar tanpa sebuah mobil atau motor sport miliknya. Adam juga berjalan menuju sebuah mobil di seberang jalan, disana terdapat seorang gadis bersandar di badan mobil. Dea mengenalnya namun tak tahu namanya, Aldy sering membicarakannya dengan Bimbi jika di kantin. Dia termasuk primadona sekolah, namun Dea tak terlalu menyimak pembicaraan mereka. Dea berteman dengan sunyinya malam dan dentuman jarum jam dinding di ruang makan menikmati segelas s**u. Sepertinya baru saja Dea merasa mempunyai kakak baru yang menemaninya ribut setiap hari berebut makanan bahkan kamar mandi. Kini kembali seperti dulu, Dea yang hanya diam menghabiskan malamnya sendiri ketika di rumah. Orang tua yang selalu kerja di luar kota. *** Mobil Vira melesat pergi meninggalkan Adam yang kemudian berlalu, ini hari pertamanya Adam pulang pagi petang. Ya karena pesta ulang tahun satu kelas Vira, gadis itu memintanya untuk menjadi pasangan dansanya. Adam memasuki apartemennya seperti biasanya menyalakan lampu ruang tamu terlebih dahulu, mungkin saja Dea tidur di sofa menunggunya seperti biasanya. Kali ini nihil, gadia itu tak ada di sofa seperti biasanya menunggu Adam. Adam bergegas menuju kamarnya menemukan ranjang kosong tanpa sosok gadis yang berstatus menjadi istrinya itu. " lo dimana sih?" Tanya Adam gusar, cowok itu merencanakan akan segera tidur setelah pulang jalan dengan Vira. Namun tak adanya Dea membuat rasa kantuknya hilang. Matanya menangkap pintu balkon terbuka begitu semilir angin pagi menusuk kulitnya yang terbalut dengan kaos hitam polos lengan pendeknya. Adam berjalan dan ya Dea tertidur di ayunan berbentuk sofa di balkon itu, Adam menghela nafas panjang melihat tingkah Dea yang selalu tidur di tempat tak semestinya. Baru saja Adam akan mengangkat tubuh ringan Dea, gadis itu matanya sayup-sayup mulai terbuka. Memandang lekat dengan mata polosnya, sedangkan Adam justru terdiam kikuk berdiri di samping Dea.  "Adam." Ucap Dea lirih. " baru mau ngomong duluan lo."umpat Adam dalam hati, baru saja cowok itu akan menjawab panggilan Adam matanya membelalak Dea telah menutup matanya lagi. Dengkuran halus mulai terdengar dari gadis itu, Adam hampir saja ingin  meledek gadisnya karena mau mengalahkan gengsinya yang tinggi itu. Adam mau tak mau mengangkat tubuh Dea yang sudah begitu dingin terkena terpaan angin pagi. *** " lo tau gak semalem itu pesta Vira anak kelas sebelah, widih... megah banget." Ucap Bimbi mengacungkan jempolnya di depan Dea dan Fania yang memotong motong sosis bakarnya. Aldi yang sedang menelan bakso bulat  itu ikut mengangguk-ngangguk tanda setuju, Dea yang sebelumnya tak pernah tertarik dengan arah pembicaraan sahabat cowoknya kini dalam diam ikut menyimak. " iya denger-denger semalam yang menerima kue kedua setelah orang tuanya si Bagas noh." Ucap Aldy menunjuk Bagas yang sedang meminum es teh di pojok kantin. Merasa di perhatikan Bagas pun membalas tatapan mereka berempat, ah tidak tepatnya menatap Dea. Dea seperti sebelumnya segera mengalihkan pandangan mereka. " eh tumben si Bagas sama elo gak ada hal aneh hari ini." Ucap Fania pada Dea yang habis tersedak menelan mie ayam yang super pedas itu. " apaan sih loh kenapa jadi ngomongin gue?" Gerutu Dea memanyunkan bibirnya. "Yaiyalah Bagas nggak nyamperin gue orang dia lagi ngambek." Umpat Dea dalam hati sambil terus mengaduk mie ayam miliknya, tak lupa dengan bibir yang terus manyun. " Ya, jangan gitu dong. Gemes tahu pengen nyipok deh." Ucap Bimbi menopang wajahnya dengan kedua tangannya. Braakkkkk... Bagas yang kebetulan lewat dengan sengaja sedikit menendang kursi Bimbi, membuat semua hening apalagi Dea,Fania, Aldy mereka membeku di tempat. "b******k lo!"teriak Bimbi karena dia hampir mati jantungan. Sedangkan yang di umpati justru berhenti di tempat dan menoleh dengan wajah songong tanpa berdosa. "Sorry gue sengaja." Ucap Bagas dengan senyuman sinis kemudian melenggang pergi begitu saja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD