6. CINCIN

1097 Words
Siswa SMA Tunas Bangsa berkumpul mengitari lapangan basket, hari ini ada pertandingan basket antar kelas. Baru antar kelas namun lapangan tak terlihat seperti lapangan semuanya menutup jalan menuju tengah lapangan. Mayoritas semuanya adalah cewek, mereka bukan menonton basket sebenarnya tapi justru menonton Bagas dan Bimbi yang sama-sama menjadi idola kelas. Vira bahkan terlihat di sudut lapangan melihat gebetannya bertanding. Dea berkali-kali mengipasi wajahnya dengan tangan kanannya, terik matahari begitu membakar kulit baginya. Jika saja bukan karena Fania yang ngotot ingin melihat pangerannya, Dea bahkan tak peduli Bagas berbuat apapun di sekolahnya. Sesekali Bagas melihat kearah Dea namun gadis itu terlihat menghindarinya. Bagas terlihat kesal jika Dea sudah menghindarinya, entah kenapa Bagas semakin kesal jika Dea selalu duduk bersampingan dengan Bimbi kapten Basket kelas Dea. Beberapa kali tim Bagas berhasil memasukkan bola ke ring. Tim Bimbi juga tak mau kalah, persaingan begitu ketat bahkan skor terus berkejar-kejaran. Sorakan para siswi bahkan terus saling bersahutan. Sampai di titik bola di tangan Bagas dan Bimbi yang berada di hadapan Bagas berusaha merebutnya sampai Bagas terjatuh, Bimbi kemudian mengulurkan tangannya untuk membantu Bagas bangun. Tak lama Bagas menerima uluran tangan Bimbi kemudian menjabat tangan Bimbi. Mata Bimbi terlihat sedikit mendelik begitu menangkap sebuah perak melingkar di sela jari Bagas. Kemudian dia berusaha mengalihkan fikirannya yang keluar dari basket. Kemenangan akhirnya di duduki oleh kelas Bagas dengan skor antar keduanya hanya beberapa poin. *** Bimbi meneguk habis es teh yang sudah di pesan Fania, sepertinya kapten basket itu benar-benar kelelahan. Astaga sampai Bimbi juga ingin meneguk habis milik Aldy namun Ia urungkan niatnya begitu mendapat jitakan di kepalanya oleh garpu Aldy. "Lo gak minum berapa abad bang?" Ledek Fania melihat Bimbi yang masih ngos-ngosan bahkan keringat bercucuran di wajahnya. " capek kali Fan." Gerutu Bimbi. Dea datang membawa makanan ringan, Bimbi memandang Dea penuh arti. Perasaan cowok itu gak pernah hilang justru semakin bertambah meski kenyataanya Dea tak merespon sama sekali dan selalu menghindari topik itu. Bimbi menangkap sesuatu, semua rasa penasarannya terjawab. Bagas dan Dea memang ada hubungan khusus, buktinya saja mereka memakai cincin yang sama terlihat sekali. Tidak ada alasan kebetulan karena terlihat motifnya sama persis. "Ya, sejak kapan lo pakek cincin?" Tanya Bimbi berusaha sebiasa mungkin, membuat Aldy dan Fania yang sibuk meneguk es teh manis buatan ibu kantin menoleh melihat tangan kiri Dea. "Emang gak boleh?" Tanya Dea cuek, sebenarnya dia sudah gugup setengah mati. "Iya Bim, Dea kan cewek jadi ya wajar kan?"tanya Aldy pada Bimbi dengan kerutan di keningnya menandakan keheranan pada Bimbi yang akhir-akhir ini justru menonjolkan perasaan sukanya pada Dea. "Tapi gue lihat.." "Anindea... lo di panggil sama Pak Agus." Ucapan Bimbi terpotong begitu seorang siswa berkacamata menghampiri mereka, Dea sangat berterima kasih karenanya. "Gue cabut dulu." Ucap Dea kemudian melenggang pergi begitu saja. Aldy dan Fania melongo begitu saja, Bimbi semakin yakin jika ada sesuatu antara Dea dan Bagas. Semakin menghindar saling menghindar, bahkan akhir-akhir ini Bimbi tahu mata Dea selalu mengarah pada sosok   Bagas. "Lo kenapa sih Bim? Tegang banget." Ucap Fania. "Gue gak papa." Ucap Bimbi kemudian pergi begitu saja meninggalkan Aldy dan Fania yang melongo menggaruk kepalanya tak mengerti. *** Dea memasuki ruangan kantor yang sedikit sepi karena beberapa guru sedang mengajar di kelas. Dea sedikit gugup bahkan untuk menelan air liurnya saja begitu susah. "Pak Agus manggil saya?" Tanya Dea sopan menunduk mencoba menghormati guru di depannya yang tampak sibuk berkutat dengan laptop di depannya. "Oh iya Dea, begini saya cuman mau nanya kemaren waktu saya nggak masuk tugasnya terkumpul semua kan?" Tanya Pak Agus. Dea mengangguk tersenyum, dalam dirinya rasanya gadis itu ingin mengumpat guru di depannya. Memanggilnya hanya untuk memastikan apakah dirinya sudah mengumpulkan tugas, bukankah guru itu bisa mengeceknya sendiri. Dasar pemalas ! "Kalau begitu saya permisi dulu pak." Ucap Dea begitu setelah sedikit lama Pak Agus tak berbicara lagi. "Oh ya tolong panggilkan ketua kelas IPA 3 ya Ya!"pinta Pak Agus yang kemudian mendapat anggukan oleh Dea. Dea berjalan menyusuri koridor kelas sesekali mengingat kelas IPA 3. Lalu lalang kakak kelas yang menggodanya pun Dea tak peduli, Dea berfikir sedikit keras ada yang ganjal dengan kelas IPA 3. Dea membulatkan matanya begitu menyadari bahwa kelas IPA 3 dekat dengan kelasnya. Langkahnya berhenti di tengah koridor, Dea merutuki begitu saja mengabulkan permintaan Pak Agus. "Ipa 3 kan kelasnya Bagas bego." Rutuk Dea. Mau tak mau Dea menyusuri setiap papan kelas, langkahnya berhenti begitu tertera bilangan romawi menunjukan kelas Bagas. Dea celingak celinguk berharap Bagas tak ada di kelas, sampai gadis teman sekelas Bagas dan juga gebetan Bagas mengetahui keberadaan Dea. "Lo Dea kan kelas sebelah?" Ucap Vira memastikan. Dea hampir terjungkal kebelakangan, butuh keberanian Dea mengintip kelas yang sedang kosong itu. Tiba-tiba sosok Vira pacar Bagas muncul di sampingnya. " eh Iya, ketua kelas lo ada?"tanya Dea dengan senyum canggung menggaruk tengkuknya. "Oh cari Bagas?Bagas kalok jam kosong di atap sekolah Ya." Ucap Vira kemudian masuk kelas begitu saja. Dea hanya bingung kenapa Vira tak menanyakan keperluan Dea mencari Bagas. Dengan begitu Dea tak harus repot-repot mencari Bagas. "Hufffttt" Dea menghela nafas panjang dalam fikirannya hanya ada celoteh celoteh, kenapa dunia seakan ingin terlibat untuk mendekatkan dirinya dengan Bagas. Dulu sebelum ikatan suci itu ada di antara mereka berdua, tak pernah Dea di area dan di situasi yang sama dengan Bagas. Dea menaiki tangga menuju atap sekolah dengan langkah gusar Dea memikirkan bagaimana memulai percakapan canggungnya. Anak tangga perlahan mulai habis dan mulai terdengar gelak tawa cowok di balik pintu atap. Dea meneguk salivanya, Dea tak pernah menghampiri sekumpulan cowok. Dea membuka pintu atap menongolkan kepalanya saja, tawa keras yang terdengar menjadi hening semua cowok disana menoleh terfokus pada Dea. "Bagas bisa bicara sebentar nggak?" Tanya Dea kemudian segera menutup pintunya kembali dan menuruni tangga sampai anak tangga habis, tak ada yang berlalu lalang disana begitu sepi. Langkah seseorang menuruni tangga terdengar begitu keras karena mungkin situasi yang juga begitu sunyi. "Tumben lo nyari gue? Ada apaan?" Tanya Bagas sarkatik tak bersahabat sama sekali, jual mahal karena Dea selalu mengacuhkannya. "Bagas lo di panggil Pak Agus." Jawab Dea menunduk memainkan kakinya. "Suami lo.." Ucapan Bagas terpotong begitu Dea membekap mulutnya dengan tangannya. Bagas tertawa geli melihat wajah Dea khawatir bukan kepalang ketika pembicaraannya mengarah pada status mereka. "Bagas! Ah tauk ah gue cabut." Gerutu Dea melepaskan tangannya dari mulut Bagas dan memanyunkan bibirnya kesal setengah mati. Bagas menghela nafas panjang, senyum itu bahkan lenyap di balik wajah yang kini beruba menjadi jengah. "Udah dong Ya hindarnya capek." Ucap Bagas memegang lengan Dea dengan lirih terdapat permohonan disana. "Eh b**o, jangan sok imut deh. Udah lepasin tangan gue." Ucap Dea mencoba mencairkan suasana begitu Bagas melepaskan pegangannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD