"Jadi Vira anak sekelas lo itu yang jadi gebetan lo sekarang?" Tanya Dea tanpa melihat Adam yang terlihat tegang begitu Dea membicarakan tentang gadis yang memang sering menjadi patner jalannya.
"Tau dari mana lo?" Ucap Adam sarkatik seolah terpojok dengan pertanyaan Dea.
Dea yang mendengar jawaban Adam yang justru balik bertanya dengan nada super jutek, membuat gadis itu ingin menyiram wajah Adam dengan s**u yang Ia sodorkan untuk Adam.
Mereka tetap menjalani rutinitasnya layaknya pasangan yang lainnya, sepertinya bukan mereka namun salah satu dari mereka. Dea yang terlihat memerankan kewajiban sebenarnya sebagai istri Adam, sedangkan Adam masih sering mengabaikan statusnya sekarang.
"Biasa aja kali nanya lo, orang gue juga nanya." Ucap Dea sambil memotong telur dadar di hadapannya dengan sedikit kasar.
"Iya maaf, etdah gampang ngambek banget sih lo." Ucap Adam kemudian menjitak jidat Dea sampai Dea meringis kesakitan mengelus jidatnya, bibirnya manyun dan juga pandangannya sengit kepada Adam.
Adam hanya tertawa geli kemudian mengusap jidat Dea dengan lembut, sedangkan Dea mati membeku mendapat perlakuan yang tak biasanya dari Adam.
"Gue udah punya gebetan baru namanya Icha anak IPS 1." ucap Adam melahap suapan terakhir di piringnya.
Dea memandang cowok di depannya dengan mata membulat, wajahnya terlihat sangat bodoh. Adam dengan wajah datar meneguk pelan s**u coklat yang telah di tuangkan Dea untuknya.
"Eh buset, lo buaya banget sih Dam."ucap Dea sembari menepuk pelan punggung Adam hingga Adam hampir tersedak s**u cokelat di tenggorokannya.
"Namanya juga cari yang terbaik."jawab Adam tak mau kalah menghabiskan s**u cokelatnya yang hampir habis itu.
"Emang lo terbaik mau cari yang terbaik?" Tohok Dea kemudian pergi meninggalkan Adam yang melotot benar-benar tertohok dengan ucapan istrinya.
Istri yang tak pernah ada lembutnya padanya, manja pun tak pernah Adam rasakan. Padahal dalam hati Adam yang terdalam sekali saja Dea merengek manja padanya, namun Adam tepis dalam-dalam karena Dea dan juga dirinya tak akan pernah terlibat jalinan asmara.
***
"Taraaa....." teriak Fania membuat Bimbi dan juga Aldy hampir terjungkal kebelakang suara Fania adalah gemuruh knalpot motor yang mengeluarkan asap banyak.
Dea hanya memejamkan matanya menahan suara Fania yang memang cukup layaknya panci jatuh atau di pukul.
Aldy,Bimbi dan Dea kemudian memandang jari Fania yang sengaja gadis itu pamerkan di tengah sahabat karipnya itu.
Sebuah cincin emas melingkari jari manis Fania, setitik permata di tengah membuat kesan elegan namun juga simple.
"Gue pengen cincin kayak punya lo Ya, terus gue minta si Dico buat beliin hehehe.." cengir Fania pada Dea yang hanya tersenyum simpul melihat tingkah konyol sahabatnya.
"Hu.... dasar foto copi." Cibir Aldy dan Bimbi hampir serempak membuat Fania mengerucutkan bibirnya.
Fania melepas cincinnya dan mengamatinya begitu lama, kemudian matanya beralih pada jari Dea mengamati lama mencoba mencari perbedaan kedua cincin itu.
"Beda kali Al, soalnya gue cari yang sama persis kayak punya Dea gak ada." Sangkal Fania kemudian memakai cincin itu kembali.
"Yaiyalah gak ada orang ini cincin kawin." Cibir Dea dalam hati, namun sedikit bangga karena ukiran di samping mata berlian itu Adam yang men-design.
Dea merasa sedikit ganjal pada suasana kelasnya yang cukup ramai oleh candaan dan tawa teman-temannya. Cukup lama Dea mendengar bel masuk berlalu namun suara langkah higheels tak terdengar sejak tadi, entah Bu Mega tidak masuk atau memang datang terlambat.
"Kok Bu Mega belum datang sih?" Tanya Dea dengan wajah polosnya membuat sahabatnya mengulum bibir menahan tawa.
"b**o lo, hari ini ada rapat." Ucap Aldy menjitak kepala Dea, membuat Dea melotot dan juga memasang muka garang.
"Dea lo di cari Bagas." Ucap Defi tetangga bangku Dea yang cukup membuat semua teman-temanya bungkam fokus pada Dea.
"Gue gak mau." Ucap Dea datar memandang keluar jendela mengacuhkan segala tatapan curiga sahabatnya terlebih Bimbi.
"Perlu gue seret biar mau keluar lo?" Sahut seseorang yang berdiri bersandar pintu kelas Dea.
Seisi ruangan terperangah bahkan bisikan-bisikan kagum terdengar di telinga Bagas ketika berjalan menuju bangku Dea.
Bagas menarik tangan Dea kemudian menyeretnya sesuai perkataannya tak peduli Dea yang meronta minta di lepaskan bahkan langkahnya begitu berat karena Dea cukup kuat untuk bertahan tak ikut seretan Bagas.
Bagas melepaskan cengkraman tangannya di pergelangan Dea, Dea mengusap pelan pergelangannya yang sakit karena genggaman Bagas yang cukup kuat.
" kenapa sih lo berlagak sok kenal di sekolah?" Tanya Dea galak kemudian ikut duduk di bawah pohon di samping Bagas.
"Kita kan emang saling kenal Ya." Sangkal Bagas kemudian berbaring di atas rerumputan menjadikan tangan kanannya sebagai bantalan agar nyaman.
"Tapi malah bikin anak-anak curiga terlebih sahabat gue." Gertak Dea kemudian menghentakkan kakinya begitu kesal pada Bagas.
"Lo malu ya nikah sama gue?" Tanya Bagas begitu lirih layaknya berbisik namun Dea dapat mendengarnya dengan jelas, bahkan Bagas terlihat menghayatinya di tambah Bagas memejamkan matanya.
"Bukan gitu Gas!!!" Sangkal Dea menggeleng cepat tak setuju dengan pendapat Bagas yang berbicara seenaknya.
"Lo merasa terhina kan nikah sama gue, gue tahu gue brengsek." Ucap Bagas masih memejamkan matanya di bawah ranting pohon yang melindungi wajahnya dari silaunya matahari.
Dea membeku mendengar celoteh Bagas yang menginjak-nginjak harga dirinya sendiri di depan Dea, entah kenapa melihat Bagas dengan wajahnya yang terpejam dan terlihat pilu membuat Dea ingin memeluknya.
"Kalok lo gak nyaman lo boleh pergi?" Ucap Bagas dengan mata terpejam.
Bagas tak mendengar suara rumput yang terinjak atau suara langkah kaki, Bagas berfikir Dea mungkin sudah pergi. Gadis yang selalu meninggikan gengsinya, dikala ratusan cewek sekolah memuja dirinya bahkan takluk pada Bagas, namun Dea sanggup membuat Bagas merasa terhina ketika cewek itu menghindarinya terus menerus.
Bagas membuka matanya dan hampir terlonjak begitu mendapati Dea yang masih di tempatnya, menatap kosong bangku yang berjarak beberapa meter darinya. Gadis itu diam menerawang, apa yang telah di perbuatnya pada Bagas.
Sebutir air mata lolos menuruni pipinya, untuk pertama kalinya Dea menangis karena cowok. Untuk pertama kalinya Bagas mampu membuat Dea menangis, semakin lama air mata itu semakin deras membasahi wajah Dea.
Bagas menyaksikan dimana air mata Dea yang pertama jatuh begitu pelan, Bagas segera bangkit begitu wajah Dea lembab akibat air mata itu. Ingin rasanya Bagas menarik Dea kedalam pelukannya namun itu tak mungkin karena ini masih lingkungan sekolah sekalipun jika dia melakukannya takkan berdosa.
"Jangan nangis dong,di kira gue perkosa lo nanti." Ucap Bagas bercanda agar Dea tertawa meski hatinya bingung bukan main apa yang harus Ia lakukan.
Dea menghapus air matanya kasar kemudian melepas cincinnya dan memasukkannya ke kantong saku seragamnya, Bagas semakin bingung kenapa Dea melakukan itu? Apakah Dea marah besar padanya? Atau terluka karena ucapan Bagas.
"Gas, gue lapar." Ucap Dea datar kembali ke sikap jutek layaknya tak terjadi apa-apa.
" dih lapar aja pakek nangis." Ucap Bagas kemudian beranjak pergi sambil mengusap pelan kepala Dea membuat Dea tersipu malu.
"Lo sih kekanakan banget!" Umpat Dea sambil berjalan beriringan dengan Adam.