"Kenapa di ajukan Pa? Iya aku segera pulang sama Dea." Ucap Adam pada sosok di sambungan telepon, dari cara memanggilnya sepertinya itu Papa Adam. Entah ada hal serius apa sampai membuat Adam dan Dea harus pulang saat itu juga. Dea yang melihat perubahan wajah Adam penasaran apa yang mereka bicarakan di sambungan telepon. " kenapa?" Tanya Dea penasaran menyentuh pelan bahu kanan Adam. "Gak ada kok. Turun gabung sama yang lain." Ajak Adam memindahkan tangan Dea di bahunya menjadi dalam genggamannya. Dea mencebikkan bibirnya kesal karena Adam menyembunyikan sesuatu darinya, dengan langkah malas Ia mengikuti langkah lebar Adam. Semuanya sudah berkumpul dengan kesibukan masing-masing, Dea melepas genggamannya seketika membuat Adam tersenyum nakal. Ya, seperti biasa gadis itu masih gengsi

