Dea mengaduk segelas s**u cokelat hangatnya sambil matanya menerawang jauh keluar jendela. Membayangkan apa yang telah Ia katakan pada Adam di kolam renang semalam, sekalipun bintang dan langit menjadi saksi bisunya Dea tetap menyangkal bahwa Ia sudah mengatakan kata-kata sakral yang mengutarakan perasaannya. "Bodoh!bodoh!" Runtuknya memukul pelan berkali-kali kepalanya, pipinya terhiaskan semburat kemerahan menandakan Ia tengah malu. "Lo kesambet setan mana?" Tanya Fania meletakkan tangan kirinya pada kening Dea yang seketika membuat Dea mematung sejenak kemudian memanyunkan bibirnya kesal dengan respon Fania, sahabat menggilanya. "Apa sih lo ?" Menepis pelan tangan Fania yang kini sedang tertawa pelan dengan wajah menyebalkannya. Dea kemudian beranjak pergi ke taman belakang dekat de

