Bolpoin Kantor

958 Words
Viona berjalan lemah memasuki kediaman keluarga Corlyn. Matanya terlihat berlinang air mata, pandangannya terasa kosong hingga kakinya tak sanggup lagi menginjak ke tanah. Viona duduk bersimpuh di lantai, tanpa memperdulikan betapa dinginnya lantai rumah itu. Kepalanya menunduk, anak rambutnya mulai menjuntai turun ke bawah menutupi keningnya. Isakan kecil akhirnya lolos begitu saja. Pertemuannya dengan Racka membuat hati Viona luluh lantah. Luka yang harusnya telah mengering, kini terasa terkelupas dan kembali mengeluarkan darah. Rasanya begitu nyeri, sesak tak lagi bisa dia bendung sendiri. Kenapa Tuhan kembali mempertemukan dirinya lagi dengan lelaki itu? Padahal Viona sudah bersikeras sekuat diri untuk tidak akan pernah bertanya ataupun mencari tahu bagaimana keadaan lelaki itu. Viona telah menutup buku, menguncinya, dan membuang kunci itu entah ke mana. Hanya satu yang Viona inginkan, dia ingin hidup dengan baik. Memulai menata kehidupannya yang baru tanpa bayang-bayang Racka di sana. Akan tetapi, kenapa Tuhan malah membuak skenario buruk untuk dirinya? Kenapa dia dan perusahaan Racka harus menjalin kerja sama. Haruskah Viona membatalkannya? Mengganti segala kerugian pemutusan kontrak tanpa sebab yang jelas? "Astaga! Viona? Kamu kenapa?" pekik Sisil yang baru saja pulang dari bekerja. Sisil lantas berjongkok, menyamakan tingginya dengan tubuh Viona. Sisil menyentuh pundak Viona yang kini bergetar hebat. "Vio, kamu kenapa?" tanya Sisil ingin tahu, tidak sampai hati jika melihat sepupunya menangis sesegukan bersimpuh seperti sekarang ini. Bukannya menjawab pertanyaan Sisil, Viona justru memeluk erat tubuh sepupunya. Viona menangis, menumpahkan genangan air mata pada pundak wanita berambut coklat gelap. Sisil menyentuh punggung Viona, mengelusnya perlahan. Berharap jika itu mampu meredakan tangis sepupunya. "Apa yang terjadi, Vi? Kenapa kamu menangis?" Sisil mencoba mencari tahu sebab tangisan dari Viona. Viona terisak, meski begitu dirinya berusaha untuk meredakan tangisannya. Viona mengambil napas, mengatur detak jantungnya dengan perlahan. "Aku bertemu dengannya," lirih Viona terdengar begitu lemah, sakit, dan juga rapuh. Tubuh Sisil menegang. Wanita berambut sepunggung warna coklat itu tahu benar siapa yang Viona bicarakan. Siapa lagi kalau bukan lelaki di masa lalu Viona. Lelaki yang dengan bodohnya melepaskan Viona untuk menikahi wanita pilihan sang ibu. Lelaki yang tak memiliki usaha untuk kembali mengejar cinta Viona. Sisil hanya diam, dia tidak tahu harus bereaksi macam apa untuk menanggapi keluh kesah sepupunya. "Dia menjadi rekan bisnisku. Aku dengan bodohnya sudah menandatangani kerja sama di antara kami tanpa melihat siapa pemilik perusahaan itu," jelas Viona lagi, merasa bersalah atas keputusannya sendiri. Kenapa dia bisa teledor tanpa mengecek lebih dulu siapa yang akan bekerja sama dengannya. Viona sudah memasrahkan segalanya kepada timnya. Dirinya tidak pernah membayangkan dunia akan sesempit ini. Dia kembali dipertemukan dengan lelaki di masa lalunya. "Hei, kamu bisa membatalkannya. Ganti saja biaya pemutusan kontraknya, Vi. Biarkan Daddy yang mengurus pendirian perusahaan impianmu itu. Apa salahnya memakai fasilitas keluarga? Kamu bukan menggunakannya untuk foya-foya," ucap Sisil mencoba menjelaskan kepada Viona. Viona nampak mencerna penjelasan dari Sisil. Haruskah dia mengambil jalan pintas dengan membayar biaya ganti rugi? "Ganti rugi memang menyelesaikan semuanya. Tapi itu tindakan pengecut! Sebagai seorang pembisnis, kita harus profesional. Bisa membedakan mana ranah bisnis dan mana ranah pribadi. Viona, kamu hanya perlu membuat batasan pada dirimu sendiri." Sosok wanita yang berwajah hampir mirip dengan mereka datang dari pintu masuk. Sepertinya Nyonya Corlyn baru saja pergi entah ke mana. "Bertemu masa lalu bukanlah hukuman mati," lanjutnya berhenti di depan anak-anaknya. Sisil membantu Viona untuk berdiri, Viona menatap Vere dengan tatapan sendu. Wanita paruh baya itu langsung membawa Viona ke dalam dekapan hangat khas seorang ibu. Vere mengelus puncak kepala Viona, menenangkan keponakan yang telah dia asuh layaknya anak sendiri. "Kuatkan dirimu, kamu bukan lagi anak kecil yang bisa bersembunyi di bawah kolong meja makan," kata Vere kembali memberikan wejangan positif untuk Viona agar bisa lebih dewasa dan terbuka dalam menghadapi suatu masalah. Semua orang bisa bertemu dengan mantan kekasihnya. Ada yang dipertemukan lagi menjadi karyawan dan bos, ada yang dipertemukan lagi sebagai ibu tiri dan anak tiri, ada yang dipertemukan lagi dengan cara mereka menjadi saudara tiri. Kita tidak pernah tahu bagaimana rencana Tuhan ke depannya. Kita hanya perlu siap atas segala sesuatu yang akan terjadi di depan sana. Iya benar, semua yang dikatakan adik dari ibunya memang benar. Viona sekarang tahu, bukan Racka yang bermasalah, bukan kerja sama mereka yang bermasalah. Akan tetapi Viona sendirilah yang bermasalah. Dia tidak cukup kuat dan berani untuk kembali bertemu dengan masa lalunya. Viona tidak punya cukup nyalu untuk berhubungan lagi dengan Racka meski dalam ranah pekerjaan. Yang harus diperbaiki, adalah hati dan diri Viona. Kali ini Viona tidak akan pernah lari lagi. Viona akan menghadapinya, menyelesaikan kerja sama yang telah terjalin, mencetak kesuksesan dengan namanya sendiri. Ponsel Viona kini bergetar, nomor baru mengisi layar benda pipih itu. Viona meminta izin kepada Vere untuk mengangkat panggilan nomor tidak dikenal tersebut. Baru saja durasi panggilan berjalan, suara yang ingin sekali Viona skip dalam hidupnya justru menyapa indera pendengarannya. "Nona Viona Roseandra?" sapa seseorang di sana saat tidak mendengar suara Viona sama sekali. "I-iya? Ini siapa?" tanya Viona berpura-pura tidak mengenal suara itu. Sialan! Dia melupakan suaraku! "Kamu harus menyimpan nomor ponselku. Kita akan bekerja sama ke depannya!" seru Racka di seberang sana. "Ini dengan siapa, ya?" kata Viona sekali lagi. Viona memegang dadanya yang kini berdetak dua kali lebih cepat dari beberapa menit yang lalu. "Racka, Racka Deo Saputra." Dengan penuh percaya diri, Racka menyebutkan nama lengkapnya. Seperti sengaja mengingatkan Viona akan dia, dan kenangan mereka dahulu kala. "Ah, Pak Racka. Ada yang bisa saya bantu, Pak?" Viona bertanya dengan lugas, mencoba menghilangkan kegugupan dalam dirinya. Tidak ada jawaban. Kening Viona bertautan bingung. Iseng sekali Racka meneleponnya tanpa memiliki alasan yang jelas! "Itu, anu. Bolpoin! Iya, bolpoin kantorku kamu bawa pulang kan?" jawab Racka asal. Hilang sudah wibawa seorang Racka Deo Saputra. Sejak kapan dirinya menanyakan bolpoin kepada seorang wanita? Terlebih itu Viona, mantan kekasih yang sangat dia damba!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD