Flashback Off

883 Words
Viona mengambil langkah seribu. Wanita itu berlari meninggalkan Racka, tidak ada lagi panggilan sayang di antara mereka. Tak akan ada gurauan dan rayuan manis Racka. Tadinya wanita itu berniat akan membagi kabar baik tentang keberangkatannya ke Australia. Namun, terpaksa ia kubur dalam-dalam. Segala kebahagiaan telah melebur bersama rasa nyeri di dadanya. Penolakan dan sesal bercampur menjadi satu. Betapa kejam dunia fana ini, sungguh siksa yang menyakitkan! Setibanya di rumah, Viona langsung memasuki ruang tidur. Beruntung hari itu Uncle Reivan dan Aunty Vere sedang bepergian, sedangkan Sisil juga sibuk menghadiri acara sahabatnya. Sehingga wanita itu bisa menangis sejadi-jadinya. "Kenapa kita harus bertemu, Racka? Kenapa? Jika akhirnya kamu pergi meninggalkanku!" pekik Viona histeris. Viona melempar selimut tidurnya ke lantai. "Aku benci dengan semua ini! Mengapa Tuhan begitu kejam padaku?" Ia meluapkan segala emosi yang menyesakkan d**a. Berulang kali ia memukul-mukul bantal dan benda apa pun yang berada di atas ranjang. Merutuki diri dan takdir yang pilu. Wanita itu larut dalam kesedihannya, kelopak matanya membengkak. Entah, berapa mili air mata yang telah ia keluarkan untuk menangisi Racka. Sampai-sampai tubuhnya terasa lemas, perlahan wanita itu terlelap karena kelelahan. ???????? Hari pernikahan pun telah tiba, tamu-tamu undangan mulai berdatangan. Ijab qabul pun telah selesai dilaksanakan. Kini, Racka resmi menyandang gelar sebagai seorang suami. Namun, hati Racka memberontak. Lelaki itu ingin pergi meninggalkan pelaminan untuk menemui Viona. Kalbu tak dapat dibohongi, sebesar apapun upaya untuk menghapus jejak Viona tidaklah membuahkan hasil. Bayangan wanita itu masih terus bermain dalam benaknya. Di sisi lain, Viona yang telah meneguhkan hati telah berada tidak jauh dari lokasi pernikahan Racka. Wanita itu meremas d**a, menahan nyeri yang menusuk hingga ke tulang. Ia menarik napas dalam, manik matanya mengerling sendu. "Baiklah Viona, kamu bisa melakukan ini," gumamnya menguatkan diri. Wanita bertubuh seksi itu memasuki aula gedung pernikahan Racka. Netra indahnya melirik sebuah foto prewedding berukuran kurang lebih dua puluh R. Benda itu seakan menyambut kehadirannya, senyuman mempelai wanita begitu ceria. "Silakan, Nona diisi buku tamunya terlebih dahulu." Salah satu penerima tamu menyodorkan sebuah buku tebal berwarna hitam keemasan. Viona menuliskan inisial namanya di sana. Tangannya bergetar ketika ia membaca deretan huruf yang merupakan judul dalam buku itu. 'Daftar Tamu Undangan Pernikahan Racka dan Kiki'. Seketika tubuh Viona membatu, perasaan sakit yang sama saat ia mendengar pernyataan Racka tempo hari. "Sudah, Nona. Anda bisa bergeser ke sana untuk menikmati hidangan. Terima kasih," ucap penerima tamu itu dengan santun. Suara lembut wanita itu menyadarkan Viona, ia sontak tersenyum simpul ke arah sumber suara. "Terima kasih kembali." Sakit! Semakin ia jauh melangkah jantungnya berdenyut hebat. Akankah ia terkena serangan jantung mendadak jika mendekat ke arah pengantin? Tidak! Tekadnya sudah bulat, ia hanya ingin melihat kekasihnya di atas pelaminan. Meskipun, bersama wanita lain. "Dekorasi yang bagus," decak Viona sembari mengunyah semangkuk salad yang ia ambil. Sebenarnya Viona tidak selera menikmati hidangan di sana, tapi dia enggan diam terpaku tanpa melakukan aktivitas apapun. Viona berusaha menikmati acara sakral yang dihadirinya. Ia sengaja memilih tempat duduk yang berada di samping kiri. Sehingga sosoknya tertutupi oleh sebuah pilar besar. Manik matanya menyusuri setiap jengkal ruangan itu. Dari tempat duduknya, Viona bisa melihat beberapa teman Racka berdatangan turut menghadiri acara pernikahan mantan kekasihnya itu. Beberapa kali Viona berpikir, benarkah apa yang saat ini dia lakukan? Sanggupkah dia mengucapkan selamat kepada lelaki yang beberapa saat lalu masih menjalin cinta dengannya? Seluruh ballroom hingga pelaminan tertutup jutaan bunga yang didominasi warna putih, terasa klasik. Namun, romantis dan tak lekang oleh waktu. Penyesalan datang di waktu yang tidak tepat, bisikan hatinya terus menggaung dalam benaknya. Seharusnya aku yang berada di atas sana bersamamu, Racka. "Bolehkah saya duduk di sini, Nona?" tanya seorang wanita yang terlihat sebaya dengan Aunty Vere. Viona tersenyum dan mengangguk. "Silakan, Madam." Sengaja Viona memanggil wanita itu dengan julukan Madam, karena parasnya tampak seperti wanita Belanda. Alunan musik jazz menemani setiap suapan hidangan para tamu undangan. Mendayu lembut penuh kesyahduan. "Permisi, Madam. Saya duluan, ya," ucap Viona sembari meraih cluth bag kesayangannya. Wanita yang masih sibuk menguyah itu hanya menjawab dengan anggukan. Viona tidak tahan jika terus berada di ruangan itu. Memori indahnya bersama Racka terus terlintas, mengusik ketenangan batin. "Selamat menempuh hidup baru," ucap Viona sembari menjabat tangan mempelai wanita. Betapa terkejutnya Racka melihat Viona datang. Manik matanya membulat sempurna, pemilik suara itu adalah wanita yang selalu ia mimpikan setiap malam. Aroma tubuh ini yang selalu ingin dihirupnya. "Viona?" gumam Racka lirih, nyaris tak terdengar. Wanita itu mengalihkan pandangan, tatapannya beradu dengan Racka. Sorot mata itu masih sama, teduh dan menenangkan. Membuat siapa saja 'kan terhanyut di dalamnya. "Selamat atas pernikahan kalian." Kali ini Viona bergeser ke arah Racka. Racka mengenggam erat telapak tangan yang dahulu selalu diusapnya. Rasanya enggan melepaskan jabatan tangan dengan Viona, ingin rasanya Racka merengkuh Viona ke dalam dekapannya. Menyandarkan kepala mantan kekasihnya itu pada d**a bidangnya. "Ma-maaf, saya ada acara lain yang harus saya hadiri, Racka. Saya harus segera pulang." Wanita berhidung mancung itu sadar dengan statusnya saat ini. Ia menarik tangannya yang masih menempel dengan tangan Racka. Tidak ingin menimbulkan fitnah ke dalam acara penuh kebahagiaan itu. Tentu saja ia tak mau dituding sebagai penggoda suami orang. Viona membalikkan tubuh, dan berjalan keluar. Setiap hentakkan kakinya mewakili pecahan hatinya yang berdenting. Membuka kembali luka yang susah payah ia balut. Benar, sekarang kisah mereka telah usai, Racka bukan lagi miliknya. -Flashback Off-
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD