Flashback

895 Words
Usai pergolakan batin yang menguras pikiran, Viona mengemudikan kendaraan dengan kecepatan penuh. Wanita itu menghentikan mobilnya di taman komplek tentara. Menepikan ke tempat yang lebih teduh. Dia turun dan melangkah menuju ayunan, suasana terasa kosong dan sunyi karena memang waktu masih menunjukkan pukul dua siang. Mentari hari itu malu-malu menampakkan sinarnya, seakan mengerti suasana hati Viona. Awan yang berarak pun tampak kelabu, sekelabu hatinya. Wanita itu menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan-lahan. Ia memejamkan mata sembari mendorong tubuhnya maju untuk menggerakkan ayunan. Kilasan balik mulai membuka kembali setiap lembar kenangan yang telah tertutup rapat. Viona yang masih tampak polos sibuk mengutak-atik ponselnya. Ia sedang membaca beberapa berita internasional seputar event menyanyi. Begitu antusias menggulir kabar yang tersaji di ponsel pintarnya. Tiba-tiba ponsel itu bergetar, seseorang meneleponnya. Tampilan nama di layar membuat wanita itu bungah. Tanpa menunda lagi, ia segera menekan tombol terima. "Hallo. Selamat siang, Sayang." "Selamat siang juga, Sayang. Apakah aku mengganggu waktumu?" "Tentu saja tidak. Ada apa?" Viona memindah posisi tidurnya, kini ia tengkurap sembari memainkan kaki jenjangnya. "Aku merindukanmu, Sayang." Suara Racka terdengar parau. "Bisakah nanti pukul tujuh malam kita bertemu?" lanjut Racka. Biasanya saat mereka berbincang via suara, lelaki itu selalu mengawali dengan rayuan receh yang membuat Viona tersipu malu. Namun, untuk kali ini ia langsung mengutarakan kepentingan. Tampaknya ada sesuatu yang sangat darurat. "Bisa, di tempat biasanya 'kan?" tanya Viona dengan kening berkerut. "Ya, di Taman Komplek Tentara. Aku harap kamu datang tepat waktu, Sayang." "Tentu, aku selalu menepati janjiku. Ada hal lain?" Kini Viona tersenyum sumringah. Tanpa tahu bahwa sebentar lagi hatinya akan patah, luluh lantah. "Tidak, hanya itu saja. Berdandanlah yang cantik, ya. Pakai warna yang paling kamu sukai," pinta Racka dari seberang yang terdengar seperti bisikan. Aku ingin melihatmu secantik mungkin, hingga aku bisa mengenangmu sebagai wanita paling cantik. Lagi-lagi ucapan sang kekasih membuat Viona mengernyitkan alis. Memang lelaki itu biasa menggodanya, tetapi bukan dengan nada yang lirih. Aneh, apa mungkin Racka sedang tidak enak badan? Bisa saja hal itu terjadi 'kan. Apalagi cuaca belakangan ini tampak tidak bersahabat. "Baiklah, Sayang. Jaga kesehatanmu," ujar Viona mengakhiri pembicaraan. Wanita itu menutup panggilan dengan bibir mengerucut. Menerka-nerka apa penyebab perubahan sikap Racka. Masa bodoh, yang penting ia akan segera melepas rindu. Maklum pasangan muda, jadi sedikit-dikit rindu. Tak terasa waktu bergulir begitu cepat, cahaya kekuningan yang menghiasi cakrawala berubah menjadi semburat jingga. Waktu yang dinanti-nantikan oleh Viona pun telah tiba, ia sudah siap dengan riasan minimalis. Tidak tampak menor, tetapi masih terlihat mempesona. "Gaun ini bagus juga untukku," decak Viona memandang pakaian yang ia kenakan. Wanita bersurai indah itu bergegas menuju tempat yang telah dijanjikan. Ekor matanya menangkap siluet yang sangat familiar baginya. Tampak sosok Racka sedang duduk dengan posisi tertunduk di salah satu bangku taman. Lelaki itu menopang dagunya dan sesekali memijat kepala. Mungkin benar dugaan Viona, kekasihnya dalam keadaan tidak bugar. "Malam, Sayang," sapa Viona dengan netra berbinar. Lelaki itu mengangkat wajah, ia beranjak dari posisi duduknya. Racka berdiri tepat di hadapan Viona yang tampak kebingungan. Ia menggenggam erat jemari lentik wanita itu dengan tangan gemetar. "Sayang, maafkan aku," ucap Racka dengan bibir bergetar. Viona mengernyitkan alis. "Maaf untuk apa?" tanya Viona merasa bingung. "Aku harus menikah dengan orang lain karena perusahaan keluargaku dalam masalah." Bulir bening lolos begitu saja membasahi pipi Racka. Bagaikan disambar petir, seketika tubuh Viona seperti tersengat aliran listrik berdaya besar. Dunia seakan menjadi gelap gulita, ia terseret jauh ke dalam jurang keputusasaan. Berputar dan terus terperosok ke dalam ruangan hampa. "Hah?" Hanya kata itu yang terlontar dari bibir ranum Viona. Untuk beberapa saat ia masih terperangah. Apakah ini mimpi? Tidak! Dirinya harus bangkit dan menghadapi kenyataan dengan kepala dingin. Viona perlahan mampu mengendalikan ego, ia kembali menatap lurus Racka—lelaki yang dicintainya. Berharap masih ada pintu keluar untuk labirin kemelutnya. "A-apa tidak ada jalan lain?" tanya Viona tergagap, otaknya masih tidak dapat menerima keadaan yang terjadi. Racka menggeleng pelan, sangat hati-hati ia menatap lekat sang kekasih untuk yang terakhir kalinya. Wanita itu tampak sangat cantik, gaun putih tulang yang ia kenakan menonjolkan kulit mulus bak mutiara laut yang bercahaya. Lelaki itu menghirup dalam aroma parfum Viona. "Seluruh aset keluargaku terancam menjadi sitaan bank, jika aku tidak segera mengambil tindakan," sambung Racka, lagi-lagi dengan berlinang air nestapa. Deru napasnya terdengar kasar dan pasrah. Dada Viona bergemuruh, detak jantungnya terpacu begitu cepat. Darah dalam nadinya berdesir hebat. Saat itu ia ingin menangis sejadi-jadinya di depan Racka. Namun, ia harus tetap terlihat tegar. "Maafkan aku, Sayang. Kondisi perusahaan keluargaku berada di ujung tanduk. Pikiranku kalut saat ini, itu perusahaan yang dibangun mendiang ayahku," ucap Racka berlinang air mata. Viona mendongak, mencoba memaksakan senyumannya. "Ya, a-aku tahu." Wanita mana yang bisa menelan bulat-bulat pil pahit? Melihat lelaki yang dicintai mengisi pelaminan bersama wanita lain. Mengucap nama wanita lain dalam ijab qabulnya. Semua itu adalah mimpinya, Impian yang selalu ia dambakan hancur seketika, terbang bersama butiran debu. "Jika memang itu yang terbaik, aku rela melepaskanmu, Racka." Meski terasa berat berucap, Viona berusaha sekuat dirinya mengatakan kalimat tersebut kepada kekasihnya. Keputusan yang harus dipilih Viona menyisakan perih yang mendalam. Hatinya terkoyak, tercabik-cabik dan terasa sesak. Belaian sang bayu yang menerpa, menyayat permukaan kulit ari Viona. Ia terpaku, diam seribu bahasa setelah pernyataan getir itu terlontar. Mengapa Tuhan tidak adil padanya? Orang-orang yang ia cintai satu per satu meninggalkan Viona dari kehidupannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD