Bergeming! Kehening seketika mengisi ruang pertemuan itu. Tidak ada seorang pun di antara Viona dan Racka yang berani membuka suara. Lidah mereka terasa kelu, larut dalam suasana hatinya sendiri.
Tatapan keduanya saling terpaut dan terkunci. Masing-masing melihat pantulan diri dalam iris lawan yang berada di hadapannya. Entah, ini sebuah kejutan atau mimpi buruk bagi Viona, yang pasti ia tidak mempercayai penglihatannya saat itu.
'Benarkah dia Racka atau ini hanya halusinasiku?'
Sang sekretaris yang tidak tahu menahu perihal hubungan masa lalu mereka, mengambil inisiatif agar suasana meeting tersebut lebih akrab. Seperti biasa, ia melaksanakan tugasnya membantu rekan kerja untuk mengenal pimpinan.
"Nona Viona, perkenalkan ini pimpinan sekaligus pemilik Relife Publisher, Pak Racka." Sang sekretaris mulai memperkenalkan lelaki itu kepada Viona.
Racka tersenyum simpul dan tidak membuang waktu. Lelaki itu segera mengulurkan tangan ke arah Viona. Kesempatan seperti ini belum tentu datang dua kali, tetapi wanita berbibir ranum itu malah terpaku sesaat. Seakan terhipnotis oleh situasi dan waktu.
Keringat dingin mulai bermunculan di kening Viona. Wanita itu beberapa detik melupakan bernapas guna mengisi rongga dadanya, napasnya tiba-tiba terhenti sesaat.
"Perkenalkan saya Racka Deo Saputra." Lelaki itu berucap dengan senyumnya menawan. Sorot matanya begitu berbinar bahagia melihat sosok wanita yang dia cintai berada tepat di depan matanya.
Tidak salah lagi, dia benar Racka! Seorang lelaki yang pernah menorehkan sembilu dalam palung hatinya. Satu nama yang tidak ingin ia dengar, apalagi melihat tampangnya. Mengapa kali ini dewi fortuna tidak berpihak? Astaga, ini benar-benar pertemuan yang menjengkelkan.
"Nona Viona, saya Racka Deo Saputra. Pemimpin sekaligus pengelola perusahaan percetakan ini," ulang Racka, seakan ia menegaskan mereka memang pernah saling mengenal.
Namun, Viona masih saja terdiam. Ia merasakan hawa dingin menyerang di sekujur tubuhnya. Entah, memang karena air conditioner di ruangan itu yang bersuhu rendah atau karena detak jantungnya melemah untuk berdetak.
"Maaf, Nona Viona. Pimpinan kami sudah berada di sini sekarang, bisakah Anda fokus sejenak? Nona Viona ...." panggil Sekretaris itu berulang-ulang.
Upaya sekretaris bersurai sebahu itu tampaknya sia-sia. Sekitar dua menit Racka dalam posisi mengulurkan tangan. Lelaki itu tidak merasa lelah, malah semakin terpukau oleh pesona Viona. Tampak sangat indah dan manis ketika wanita itu terpana.
"Nona Viona!" panggil sekretaris itu lagi, kali ini dengan nada sedikit tinggi.
Suara sang sekretaris membahana, memenuhi ruangan itu dan sekaligus menyadarkan Viona. Wanita itu tersentak dan gelagapan. Dengan cepat wanita mandiri itu menyambar tangan Racka. Mau tak mau ia harus menjabat uluran tangan mantan kekasihnya, walaupun terlihat sangat kikuk.
"Ah, i--iya. Saya Viona Roseandra."
Viona menyebutkan namanya juga sekadar untuk formalitas. Perkenalan yang hanya membuang-buang waktu dan pasti membuat hati wanita itu bagaikan diaduk-aduk. Tampak jelas dari gestur tubuhnya, Viona merasa tidak nyaman dengan situasinya kala itu.
"Saya sudah menandatangani dokumen ini," ucap Viona tanpa menoleh ke arah lawan bicaranya.
Entah siapa yang diajaknya berbicara, sekretaris ataukah Racka? Bahkan wanita itu menundukkan wajah, menyembunyikan paras yang selalu membuat Racka tergila-gila. Viona memutar otak, mencari alibi yang tepat untuk melarikan diri dari situasi rumit ini. Sebuah ide klise ia utarakan agar bisa meninggalkan ruangan.
"Ma-maaf. Sa-saya baru ingat jika hari ini juga ada janji dengan klien lain. Setelah ini, saya akan mengirim seseorang untuk menggurus hal lainnya. Terima kasih atas kerjasamanya, Pak. Saya mohon undur diri."
Sangat tergesa-gesa Viona membereskan berbagai berkas yang baru ia tandatangani itu.
"Salinan dokumen ini saya bawa sebagai bukti kerjasama."
"Baik, Nona. Silakan dibawa. Satu hardcopy itu memang sudah kami sediakan untuk Anda. Terima kasih karena telah mempercayakan kami untuk menjadi investor," jawab sekretaris yang tampak heran melihat perubahan sikap Viona.
"Terima kasih kembali."
Kemudian, Viona berusaha menarik kedua sudut bibirnya agar tidak membuat sekretaris yang tampak bingung itu semakin curiga. Alhasil, senyuman yang terbentuk menjadi aneh dan terpaksa. Seperti senyuman ala joker di serial superhero.
"Selamat pagi," salam Viona sembari membalikkan tubuh.
Kejadian saat itu bagaikan shock terapi untuk Viona. Jantungnya berdegub sangat kencang, seakan-akan ingin menyerukan perang. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya, pertemuan kembali dengan Racka seperti uji nyali.
Wanita itu bergegas keluar ruangan, ia mempercepat langkahnya. Seperti seseorang yang sedang dirundung ketakutan saat melihat setan.
"Sial! Hari ini aku benar-benar sial!" rutuk Viona kesal dengan lirik.
Racka yang melihat kepergian wanita pujaannya itu tidak hanya tinggal diam. Lelaki itu beranjak dari posisi duduknya dan mengejar Viona. Ia mengikuti wanita impiannya, menyerukan nama yang selalu ia pikirkan berulang kali.
"Viona! Tunggu, Viona! Viona ...." Racka tidak peduli jika pertemuannya dengan Viona kali ini menyita banyak perhatian para karyawannya.
Wanita pemilik tubuh bak gitar spanyol itu berusaha mengatur deru napasnya yang kini tidak beraturan. Ia terus mempercepat langkah, bisa dibilang hampir berlari kecil. Di benak Viona seakan hanya mendikte, jangan sampai terkejar oleh Racka!
Lelaki itu hanya sebatas masa lalu, yang hanya akan Viona sebut sebagai kenang!
"Viona, kumohon tunggu aku! Banyak hal yang harus kita bicarakan!" seru Racka sembari melangkah lebar mengikis jarak di antara dirinya dan juga Viona.
Lelaki itu tidak peduli semua karyawan memandang ke arahnya. Tatapan mereka seakan menangkap bahwa ada sesuatu di antara Racka dan rekan kerjanya itu.
Tidak ada yang mampu menghalangi Racka lagi. Tak peduli dengan cibiran orang lain, ia hanya ingin mencapai apa yang belum pernah terwujud. Mengulang kembali untuk membalut sebuah luka.
"Viona, kembalilah!"
"Tidak!" pekik Viona tanpa menoleh.
Wanita itu terus berjalan cepat menuju parkiran. Seluruh usaha Racka hanya sia-sia saja, bagi Viona apapun yang pernah terjadi di antara mereka itu hanyalah masa lalu! Sekarang kenyataan yang selalu menghantui Viona adalah lelaki itu milik orang lain. Ya, dia adalah SUAMI ORANG!