11 ~ Jadi, gimana?

1353 Words
“Jadi, puzzle yang lo dapet, bagian apanya?”  Grace menoleh, menatap Christoper yang sama-sekali tidak bisa istirahat, sama sepertinya. Hanya Astrid, Ben dan Aress yang bisa memejamkan matanya, bahkan Matthew sama-sekali tidak tertidur.  Menghela nafas, Grace mengambil sesuatu yang sejak tadi dia simpan di balik sakunya. Dia sedikit merasa gemetar, dan takut. Astrid terbangun sebelum Grace menunjukkan potongan puzzlenya itu. Melihat itu, Grace lekas memberikan potongan puzzle itu padanya.  “Trid, ini puzzlenya. Lo buka sendiri aja, gue…takut!” Nyawa Astrid masih tidak sepenuhnya kembali. Dia mengerutkan keningnya beberapa saat dan menatap Grace yang menyodorkan tangannya…tepat di depan wajah Astrid.  “Sorry, gue gak punya uang receh!” Ben yang tidak sepenuhnya tertidur, terkekeh mendengar ucapan Astrid. Ben membuka matanya dan menatap wajah Grace yang bingung.  “Dia gak minta duit lo, Trid. Dia mau ngasih puzzle yang kita dapat dari ruangan itu, lo…ingatkan?” “Hah? Oh…” Astrid mendadak sadar jika saat ini mereka tidak berada di tempat paling nyaman, tapi tempat terburuk. Menatap Grace yang masih menjulurkan tangannya, membuat Astrid lekas mengambil potongan puzzle itu dan menatap satu dari sekian banyak puzzle yang sudah mereka kumpulkan.  “Kita masih punya satu, ini keknya bagian kepala deh, soalnya hitam semua!? Iya, kan?” Astrid menunjukkannya pada Matt.  “Keknya lo benar, ini emang cuman kepala doang. Pertanyaannya, kenapa bagian kepala yang kita dapat duluan?” Semua diam. Memikirkan kenapa puzzle pertama yang mereka dapat adalah…bagian kepala. Kenapa tidak mata, atau hidung, atau bagian yang lainnya? Aress yang sudah sepenuhnya sadar menatap bagian puzzle itu.  “Mungkin, dia dibunuh di area kepala duluan…” Bruk  Tembok di belakang Aress tiba-tiba terbuka, dan membuat lelaki itu tergeletak karena tidak siap, beruntung Ben segera menahan tubuh Aress sehingga tidak terlalu terjatuh ke lorong yang menurun.  Semuanya lekas berdiri, termasuk Astrid yang masih malas. Mereka menatap lorong di depan, lalu bergantian dengan lorong yang sebelumnya…tidak lagi ada.  “Lo bisa jelasin ini kok tiba-tiba ada, Ress?” seru Christopher, “makin kesini, gue makin yakin kalo salah satu atau beberapa di antara kita tahu sesuatu di tempat ini. Please, kalo ada yang tahu lekas di kasih tahu gitu, soalnya gue gak mau terjebak lama-lama di sini!” “Emang lo doang yang mau lama-lama disini?” Astrid menatap Christoper kesal, “lagipula gue curiga sama lo, kenapa tiba-tiba ada di sini!” “GUE?” Christopher menolak jika dirinya yang dituduh, “lo seharusnya tahu diri dong, atau lo yang sengaja jebak kami di sini? Harusnya lo yang di pertanyakan saat ini, lo itu aneh!” Atmosfer di sekitar seketika terasa berbeda. Aress menatap Astrid yang masih menahan marah. Matt menghela nafas, dia juga jadi ikut kesal kepada Christoper yang menuduh Astrid sembarangan. Padahal sudah jelas jika Astrid sendiri melarangnya untuk ikut.  “Christ, lain kali jaga omongan lo. Berteriak gak bakal buat keadaan kita jadi lebih baik, harusnya lo bersyukur ada Astrid sama kita!”  Menatap Matt marah, Christopher semakin kesal. Dia lupa jika Matt memang babunya Astrid, dan itu memang sudah terkenal di seisi sekolah. Sebenarnya Christ kasihan melihat Matthew yang harus mengorbankan sekolahnya demi gadis aneh itu.  Padahal jika bisa dikatakan, Matthew bisa saja pemegang juara umum dan menjadi saingannya, namun masuk kelas unggulan saja Matthew tidak mau, dengan alasan yang benar-benar tidak masuk akal.  “Sekarang gimana, Trid? Kita harus apa? Gosah bawa dalam hati!” bisik Matt, menenangkan Astrid yang masih mengamuk.  “Keknya kita mesti ngikutin lorong ini deh, tapi gue takut kalo ada sesuatu lagi di dalam sini. Soalnya ruangannya agak dingin gitu, kita mesti gimana?” Aress mengganti Astrid untuk menjawab. Gadis itu benar-benar tidak ada niat untuk membuka mulut.  “Trid…” “Ikuti lorong itu aja, tapi hati-hati, keknya kita bakal ada lawan lagi di sana. Auranya lebih dingin, jadi…ngikut aja!” Begitu mereka memasuki lorong, tembok yang tadi berubah menjadi pintu kini kembali seperti semula lagi. Lia yang kali pertama sadar mulai diserang rasa panik, namun dia kalem, tidak seperti Ben yang hampir berteriak jika tidak diberi ancaman oleh Astrid.  “Lo teriak, gue lempat lo sama mayat-mayat itu!” Dan jadilah Ben menahan teriakannya, dan benar-benar tidak berteriak selama mereka melangkah beberapa meter ke depan.  Bunyi ketukan piano kembali terdengar. Menghentikan semua langkah mereka.  Semua semakin panik saat bunyi  itu terdengar semakin mendekat, arahnya dari depan, namun tidak tahu dimana. Senter mereka tidak bisa menjangkau ke depan. Astrid menelan ludah kasar, tangan Matt kembali dingin, dan itu bukan hal yang baik.  “Matt…lo, emang tau sesuatu gak?” Tidak ada jawaban dari Matt. Dia hanya diam…gugup, benar-benar tidak tahu apa yang terjadi padanya.  Ini sudah terjadi beberapa kali pada Matt. Kali pertama adalah ketika menunggu Astrid di toilet sekolah. Matt tiba-tiba merasakan badannya dingin, dan sesuatu seolah menaiki punggungnya. Dan rasanya benar-benar berat.  Namun rasa dingin itu menghilang begitu Astrid menggenggam tangannya.  Dan kali ini juga sama. Beberapa menit lalu, sebelum Astrid menggenggam kembali tangannya, tubuhnya terasa dingin.  “Gue gak tahu, Trid. Tapi ini udah terjadi beberapa kali ke gue!” bisik Matt, berusaha agar suaranya hanya terdengar oleh Astrid seorang.  Dia takut jika di antara mereka—yang terjebak, ada yang berniat buruk padanya. Matt cukup trauma dengan semua hal yang bersangkut paut dengan hal semacam ini.  “Lo tenang dulu, gue ada buat lo. Yang penting, lo gak jauh-jauh dari gue!” Matt mengangguk, dan kembali mempererat genggaman tangannya pada Astrid.  Bunyi piano itu berhenti beberapa menit lalu. Christopher sama-sekali tidak bergerak semenjak beberapa menit lalu, rasanya ada sesuatu yang ingin disampaikan dari bunyi pesan itu.  “Chris, lo kenapa?” Menatap Matt, Christopher lekas tersadar dari dunianya sendiri, dan lekas mendekati mereka lagi. Ia tidak salah, di pelajaran seni, guru kesenian memang mengajarkan padanya jika setiap musik memiliki pesan yang ingin disampaikan.  Dan bunyi piano barusan adalah salah satu nada klasik yang…memiliki misteri didalamnya.  “Gak, gue keknya ngerasa kalo bunyi tadi keknya nyampein pesan deh!”  Matt setuju. Di sekolah, dia juga sesekali ikut ekskul musik, dan guru seni mereka sering berbicara tentang ‘Musik dan Misterinya’, itu benar-benar sesuatu yang tidak pernah Matt pikirkan sebagai sebuah kenyataan.  Tapi berada dalam kondisi saat ini, siapa orang gila yang memainkan piano? Jikapun itu orang iseng, tidak mungkin mereka memainkannya di tengah kegelapan saat ini.  “Ada yang bisa ngartiin gak? Keknya kita harus nyambungin bunyi tadi sama puzzlenya. Hantu yang nempelin Ben bilang gitu!” Astrid menatap lurus ke arah belakang Ben, dan menatap hantu yang semakin banyak mengikuti mereka. Dan syukurnya, itu bukan hantu jahat, mereka sepertinya hanya arwah-arwah yang masih terjebak di akhirat, karena sesuatu yang tidak terselesaikan, dan berubah menjadi dendam.  Astrid cukup tahu mengenai hal itu, karena dia sering…menonton film. Juga membaca buku. Biar malas begini, Astrid masih rajin semua buku yang berbaur dengan jenis-jenis hantu, makanan hantu, selain itu, juga buku dengan tingkat kesulitan yang lebih tinggi.  Seperti satan? Entahlah, Astrid hanya tertarik dengan alam mereka. Dan juga…kenapa mereka bisa tertinggal di dunia, tidak langsung ke akhirat.  “Itu keknya…bentar deh, gue lagi gak bisa mikir. Gue panik!” Christ menatap sekelilingnya.  “Trid, di belakang kita ada lagi!” bisik Aress yang tidak sengaja berbalik dan menatap ada mata merah, dengan rambut gundul, serta baju putih. Miris banget, tapi itu kelihatan seperti…adik Aress yang tengah berusaha untuk menakutinya.  “Lah…kek tuyul tapi tuyul setengah jadi!” kekeh Astrid, dia masih sempat-sempatnya tertawa, mengejek penampilan sosok tadi.  “Trid, serius dikit dong.” Lia sedikit kesal, juga panik.  Astrid dan Aress tahu bentuk sosok itu, jadi mereka bisa mengapresiasikan bagaimana reaksi mereka. Berbeda lagi dengan mereka, yang benar-benar tidak tahu seperti apa dan dimana keberadaan mereka.  Matt harus jujur, tubuhnya bergetar hebat.  “Trid, kok gue bisa lihat juga?” Mendadak, semua tatapan tertuju pada Matthew yang wajahnya sudah sangat pucat. Benar-benar pucat, hingga semua terasa menjadi lebih horor.  Mengalihkan perhatiannya, Aress menarik Astrid, membuat genggaman tangan gadis itu terlepas.  “Gue…gak bisa lihat ‘mereka’ lagi!” Astrid bingung. Dia menatap kedua tangannya, lalu kembali memegangi Matthew.  “Keknya ada sesuatu sama lo, dia bisa lihat gara-gara sentuh lo, Trid. Itu bukan hal yang baik!”bisik Aress.  “Jadi gimana?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD