10 ~ Cuman Teman

1045 Words
Mereka terus berlari melewati pintu yang juga mendadak ada. Astrid menggenggam tangan Matt erat, tidak membiarkan lelaki itu terlewat darinya sedikitpun. Hantu-hantu yang mengikuti Ben ternyata cukup membantu mereka juga, bahkan tanpa Astrid minta bantuan. Namun namanya hantu ya hantu. Usai mereka berhenti setelah berlari cukup jauh, Astrid dibuat kesal dengan permintaan para hantu itu. Tapi apa boleh buat? Astrid tidak punya banyak opsi untuk saat ini, dan hanya mereka yang terlihat bisa membantunya saat ini. Nafas Aress saling mengejar. Dia menatap pada sosok mengerikan di depannya. Menatap ruangan yang tiba-tiba kembali tertutup, benar-benar membuat Aress tidak tahu lagi apa yang harus dia perbuat. Sosok di depannya merangkak, berusaha untuk meraih kaki Aress. Bruk Aress menatap sosok yang merangkak itu, juga menatap kayu yang dia gunakan untuk memukulnya. Aress menelan ludahnya kasar begitu menatap wajah sosok itu. Ia sepertinya melakukan hal yang salah. Aress hendak berlari, namun kakinya tertahan. Wajah Aress sudah pucat, dia berbalik dan memejamkan matanya begitu merasakan udara yang menyapu wajahnya. Udara busuk yang keluar dari mulut hantu itu benar-benar membuat Aress ketakutan setengah mati. Pluk Sebelum hantu itu sempat untuk bertindak lebih jauh, Aress lekas mengapit bibir Hantu itu dengan kedua tangannya. Mereka saling menatap beberapa menit, udara busuk itu juga tidak lagi keluar. Menatap hantu itu sinis, Aress lekas berdiri, masih memegangi bibir sang hantu. “Nafas lo bau, gak pernah gosok gigi. HIAAAAAA!” Sosok merangkak itu melayang saat Aress kembali memukul wajahnya dengan cukup keras. Dan sebelum Aress mendapat pembalasan, dia terkekeh dan menunjukkan benda di tangannya. Bawang putih. Hantu merangkak itu mendadak pergi mengesot ketakutan. Aress terkekeh lebar menatap benda di tangannya. Beruntung Aress tadi sempat membawa jimat ajaibnya. Menghela nafas legah, Aress lekas berbalik, dan terkejut mendapati sosok yang kini berdiri di ambang pintu dan menatapnya dengan alis naik. “Lo gak papa ternyata. Capek gue balik lagi demi nyawa gak berharga lo!” guman Astrid malas. Dia memang memutuskan untuk berputar lagi, dan ingin membantu Aress…niatnya sih. Astrid masih sedikit peduli, catat, hanya sedikit peduli dengan makhluk hidup macam Aress. Tidak ada jawaban dari Aress. Hantu tadi yang dia lawan memang masih sedikit mudah, tapi itu benar-benar membuat seluruh nadi Aress bergetar hebat. “Trid, sekarang gimana?” guman Matt, kembali mendekati Astrid yang jauh lebih banyak bergerak hari ini. “Kita ngumpulin puzzlenya lagi. Mungkin kita gak punya banyak waktu. Hantu yang ngikuti Ben barusan laporan ke gue!” Ucapan Astrid sedikit menghibur mereka, atau justru membuat mereka merasa jauh lebih gentar? Yang pasti, mereka kini bergantung pada Astrid dan juga Aress. “Lewat sini!” guman Aress, membuka pintu yang ada di depannya. Mereka kembali berjalan memasuki lorong gelap, dan terasa lembab. Astrid tetap menggenggam tangan Matt erat, tak sekalipun melepaskannya. “Trid, keknya kita dalam bahaya besar. Soalnya, hantu tadi itu aja udah cukup nyeremin, gue benar-benar hampir beneran jadi tumbal deh!” “Kan lo emang harus jadi tumbal pertama kita, Ress!” “Trid…” Matt menengahi, “kamu capek?” Benar juga. Astrid mendadak berhenti memimpin jalan, dan menatap pada wajah Matthew. Astrid baru sadar jika kakinya sudah terasa sakit, dan bengkak. Astrid itu jarang bergerak, bahkan untuk mengambil ponselnya yang terjatuh saja, Astrid sering memanggil Matthew. “Mungkin kita bisa istirahat dulu deh, Astrid udah capek, dia gak biasa banyak gerak kayak gini!” “Kalo kita berhenti, waktunya gak cukup banyak, Matt. Gue takut kalo ada hantu-hantu lain yang bakal muncul, dan itu lebih seram daripada yang tadi. Gue takut kalo kita ketemu undead yang lebih mengerikan dari tadi.” Tolak Aress. Tidak hanya Aress, Grace juga sebenarnya tidak terlalu setuju dengan ide Matt untuk beristirahat sebentar. Dia ingin cepat-cepat keluar dari gedung tidak jelas ini. Dan lebih baik bergelut dengan semua soal-soal fisikanya. “Tapi kalo kita terus lanjut, Astrid gak kuat. Dia…gak biasa jalan banyak, kayak gini!” Astrid sebenarnya tidak apa jika dipaksa untuk jalan terus. Mengingat posisi mereka yang kali ini tidak pada keadaan yang baik-baik saja. Namun, Astrid juga merasa lelah, terlebih hantu-hantu yang mengikuti Ben itu sudah meminta hak mereka. Setiap kali Astrid meminta bantuan dari mereka, maka hantu-hantu itu meminta imbalan energi kehidupan Astrid. Itu benar-benar hal yang tidak seharusnya Astrid berikan, tapi apa boleh buat? Dia tidak punya pilihan. “Kita istirahat!” putus Matt, lekas membawa Astrid untuk duduk di tempat yang lebih kering, dan aman. Yang lainnya tidak bisa melanjutkan perjalanan tanpa Astrid. Dan akhirnya, mereka memutuskan untuk ikutan istirahat sebentar di lorong yang terasa sepi, sunyi, tenang, namun mencekam. Lia bahkan sejak tadi tidak sadar masih mencengkram lengan Ben dengan sangat erat. “Trid, lo pucet banget. Kenapa?” Menatap Matt yang khawatir, Astrid menghela nafas dan lekas merebahkan kepalanya pada bahu Matt yang siap menampung kapan saja. “Gue harus isi ulang energi kehidupan gue, Matt. Mereka minta itu dari gue, jadi…btw, kenapa tangan lo dingin banget, Matt? Kaki lo juga…bolong?” Aress yang juga melihat itu sedikit memperhatikan Matthew yang memang berbeda daripada sebelumnya. Matt memang terlihat lebih putih daripada biasanya, dan kakinya juga bolong. Namun, saat menyentuh Astrid, lubang bolong itu mendadak merapat lagi. “Bolong gimana?” tanya Matt tidak mengerti. Dia bahkan sampai berkali-kali membolak-balikkan kakinya, sama-sekali tidak ada lubang. Tapi mengenai suhu tubuhnya yang dingin, Matthew memang mengakui hal itu. Dia merasa suhu tubuhnya memang sering berubah. Bahkan saat menunggu Astrid di toilet kemarin, dia juga  merasakan suhu tubuhnya mendadak dingin, dan kepalanya pusing, seperti yang saat ini tengah dia alami. “Gada ada kok, lo tenang aja!” ujar Astrid, memutuskan untuk membuang rasa penasarannya. Perlahan, mata Astrid semakin terasa berat, dan dalam beberapa menit kemudian, dia sudah benar-benar memejamkan matanya dan memasuki alam mimpinya. Matt, dan juga Aress sama-sekali tidak bisa memejamkan mata mereka. Selain agar ada yang berjaga, Matt juga tidak bisa tidur. Dia selalu kesulitan untuk tidur jika tidak dalam ranjangnya. Dan tidak berbeda jauh dengan Christopher, lelaki itu juga tidak bisa tidur, hanya menatap wajah tenang Astrid yang bisa tertidur di pangkuan Matt. “Keknya kalian berdua memang sedekat itu ya? Guer pernah dengan beberapa omongan anak kelas, kalo lo sama Astrid itu punya hubungan…spesial?” Matthew, dan juga Aress menatap Christopher. Sang pentolan SMA Nusantara yang entah kenapa juga bisa terjebak dengan mereka di gedung yang mengandung sejuta misteri. “Kita cuman teman!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD