Ben…tidak bisa menahan dirinya. Dia benar-benar ngompol begitu Astrid mengatakan jika panitia tadi bukanlah…human, tapi sejenis makhluk astral yang menyamar.
Jika ini mimpi, tolong ingatkan Ben jika pernah mempermalukan dirinya sendiri di depan hantu.
“Ck…ck…ck, dasar lemah!” guman Astrid, masih mengejek Ben yang sangat pucat. Benar-benar pucat, bahkan wajahnya terlihat seperti mayat hidup saat ini.
“Jadi gimana? Udah biarin aja, kita juga gada yang bawa celana ganti, Ben. Lo…mungkin harus nahan dingin!” ujar Matt, “dan tolong gais, jangan ada yang mengolok-ngolok dia lagi.”
“Emang siapa yang ngolok dia?” ketus Grace.
Dia sedang kesal, entah karena alasan apa.
Mereka bertujuh, lekas memulai pencarian di dalam ruangan yang tidak terlalu sempit itu. Lia dan Ben sejak tadi tidak ada yang memulai percakapan, Lia sesekali memperhatikan Ben yang masih terlihat pucat. Juga merasa sedikit kasihan.
“Lo beneran gapapa, Ben? Kalo lo masih gak bisa nyari, duduk aja di sana.”
“Gapapa kok!” seru Ben, memaksakan senyum tipisnya.
Hanya itu percakapan yang terjadi. Lia sebenarnya tidak terlalu mempermasalahkan Ben yang ngompol, dia paham jika di posisi ini, semua keburukan yang selama ini selalu di jaga, kemungkinan akan keluar. Seperti Ben misalnya?
Hana Astrid yang dimanapun, kapanpun, dan dengan keadaan apapun selalu santai. Seolah-olah dia tidak sedang berada di dalam keadaan yang menakutkan.
Grace yang kesal sejak tadi juga mencibir. Bahkan sampai Christoper yang jarang bicara, ikut-ikutan meladeni gadis itu.
“Kalo kita terus terjebak di sini, olimpiade kita gimana dong?”
Christopher berhenti mencari, lalu menatap tembok berlumur darah di depannya. Juga sedikit basah. Lelaki itu menelan ludah kasar, dan segera menjauh dari sana.
“Gue juga gak tahu, Grace. Ini benar-benar malapetaka besar, padahal persiapannya tinggal beberapa bulan lagi! Kalo misal kita terjebak di sini sampai berbulan-bulan, apalagi kalo QueenSland mau hiatus dan ngegantung kita, gimana dong?”
Benar juga. Grace baru sadar jika nasib mereka ada di tangan seseorang.
“Gue cuman berharap cepet-cepet keluar dari gendre ini!” Guman Aress.
“Kalian gak bakal keluar, kalian bakal di sini, nemanin gue nemuin puzzlenya!”
Bisikan itu membuat mereka bertiga lekas berbalik. Dan mengelus d**a begitu menatap jika bisakan itu ternyata asalnya dari human. Dan untung juga humannya adalah Astrid.
“Lo udah dapat, Trid?” ujar Aress.
Dia mencoba untuk berbaikan dengan sobatnya itu. Meskipun Aress tahu jika itu pasti akan sangat sulit. Apalagi kini Astrid langsung mengubah wajahnya menjadi kesal begitu menatapnya. Sebelum negara api menyerang, Aress lekas bergabung kembali dengan Grace dan Christopher, melanjutkan pencarian mereka yang entah sampai kapan.
“Matt…ini!”
Dari arah utara, suara Lia mengalihkan perhatian Matt yang kini tengah mencari. Astrid yang juga merebahkan kepalanya di bahu Matt sambil berdiri, lekas beranjak dan mendekati Lia.
Kening Astrid sesekali berkerut. Dia mendekati Ben, dan menatap pada hantu-hantu yang tetap setiap mengawal Ben dari belakang.
Mungkin kentut Ben harum kali ya, makanya hantu-hantu itu betah terus mengekor di belakang Ben gitu.
“Bukan ini!” guman Astrid.
Semua tatapan terlihat kecewa, dan semuanya kembali sibuk mencari.
“Trid, lo gak bisa tanya gak gimana ciri-cirinya gitu sama hantu-hantunya? Soalnya, kita kan nyari di kegelapan ini, sampai zaman kuda makan kertas juga gak bakal nemu ini!”
“Kalo gue minta bantuan dari hantu itu lebih dari 5 kali dalam satu hari, maka gue yang bakal kena azabnya, Grace.”
“Kenapa?”
“Gak tau, kita sama-sama gak tau!” kekeh Astrid.
Grace menghela nafas, lalu mengabaikan Astrid yang masih terkekeh di tempatnya. Dia kembali mendekat ke arah Aress dan juga Christopher. Mencari di tembok yang terasa lembab dan bau anyir. Perasaan bau itu tidak ada beberapa menit lalu.
Menelan ludah kasar, Aress yang juga merasakan bau darah itu mendadak merinding.
“Matt…lo baik-baik saja?”
Astrid menatap wajah Matt yang keringatan parah. Tangan Matt yang menggenggamnya juga terasa bergetar. Dan hal itu membuat Astrid merasa khawatir.
“Gue…gue takut, itu…”tunjuk Matt ke depan, “ada kepala!”
Tatapan Astrid, dan juga Aress yang kebetulan berdekatan tertuju pada objek yang ditunjuk oleh Matthew barusan. Sebuah kepala yang tergantung, dengan mata membola, dan bau anyir yang sepertinya juga berasal dari darah yang masih menetes dari leher itu.
Kepala Matt mendadak pusing. Dia hampir saja terjatuh, namun beruntung Astrid lekas menggendong tubuh lemah Matt.
“Ress. Lo bisa turunin itu kepala gak? Keknya sekolah ini emang angker deh, gak cuman ada satu kasus pembunuhan!” guman Grace.
Wajah Grace sudah pucat sebenarnya. Bahkan perutnya berputar, dan siap untuk memuntahkan semua isi perutnya melihat kepala tergantung itu. Tapi Grace tidak ingin memperburuk keadaan, dia tahu jika itu juga tidak akan bisa berguna.
Aress dengan cepat mengambil kayu yang cukup panjang di pojokan, dan menurunkan kepala itu.
Tidak ada raut wajah takut. Hanya ada sedikit rasa keterkejutan sesaat.
Ben sudah memegangi lengan Lia dengan sangat erat. Dan menyembunyikan wajahnya di balik punggung gadis itu. Berusaha untuk tidak panik, dan untuk tidak mengompol.
“Itu korban pemerkosaan di sekolah ini juga. Tapi itu udah lama banget!”guman Astrid.
“Lo tau dari…hantu itu lagi?” ujar Aress.
“Ya. Keknya urusan kita di sini gak semudah yang gue pikirin deh. Hantu-hantu tadi juga bilang kalo gedung sekolah ini dulunya bekas rumah sakit. Jadi…sudah pastilah banyak jenis hantunya.”
“Apa hubungannya sama…”
“Itu kasus yang pertama, sebelum pembunuhan 7 tahun lalu. Dari sumber informasi terpercaya kita untuk saat ini, gadis itu punya dendam besar. Jadi…bisa jadi dia berubah jadi undead gitu!”
“Undead?” beo Matt. Benar-benar tidak lagi mengerti kemana arah pembicaraan Astrid.
“Undead, orang yang sudah mati, tapi dia masih gak mau mati karena masih ingin membalaskan dendamnya. Biasanya mereka itu berbahaya, karena bisa menyentuh manusia yang bisa lihat mereka. Dan gawat…gue juga bisa lihat mereka sepertinya!” bisik Aress terdiam.
Tatapannya lurus ke arah pintu yang tiba-tiba ada di depannya.
Dan sosok makhluk yang merangkak di depan pintu membuat Aress, juga Astrid menelan ludah mereka kasar.
“Trid, kenapa?”
Matt bertanya, dia menyadari tubuh Astrid yang tiba-tiba berubah menjadi tegang, tidak seperti biasanya.
“Trid, lo bisa gak bawa mereka kabur duluan? Gue bakal coba lawan mereka, kalo gue gak balek, itu berarti ucapan lo bener!”
“Oke, lo emang cocok jadi tumbal pertama. Ayo…lewat sini!” bisik Astrid pelan, lekas membawa Matt yang sudah turun dari gendongannya untuk menjauh dari ruangan itu.
“Tapi puzzlenya?”
“Grace udah dapat!”