8 ~ Ngumpulin Puzzle

1358 Words
“Jadi, sekarang gimana? Gue udah muter-muter dari tadi, serem banget!” guman Ben. Ponsel tidak ada yang membawa. Karena itu memang adalah peraturan untuk acara nyari pin. Dan…mereka hanya punya senter. “Gimana nih? Kok rasanya ada yang merhatiin kita ya?” guman Lia, merapat pada Grace. “Mungkin, kita harus nyari tahu apa yang terjadi 7 tahun lalu!” Semua tatapan tertuju pada Astrid yang tetap santai. Bahkan gadis itu menganggap jika apa yang tadi dia ucapkan adalah…bahan bercandaan saja. “Lagipula, kalau hantunya minta tumbal. Kan ada…Aress!” Suasana sedikit lebih baik dengan ucapan Astrid yang memang tidak pernah terdengar serius. Sementara Aress tidak mengeluarkan suaranya sejak tadi. Dia hanya duduk diam di depan tembok, menarik kedua kakinya mendekat padanya. Dia benar-benar merasa menyesal saat ini. Padahal Aress tidak pernah bermaksud untuk menjebak teman-temannya. Dia hanya penasaran. Dan ingin mencari tahu. Namun tidak kepikiran jika mereka akan mengalami hal ini. Sungguh pemikiran yang sangat sempit, yang kini tengah Aress sesali. “Gue gak papa kok jadi tumbal kalo memang hantunya nanti minta. Asal kalian bisa selamat aja dari sini!” “Emang lo harus mati, Ress!” guman Astrid sambil menguap, dan menatap Aress malas. “Iya, Trid…iya. Gue salah, gue emang selalu salah!” “Cowok selalu salah!” Ben ngakak. Wajah Grace juga sedikit lebih baik, Lia menaikkan sudut bibirnya. Seolah keberadaan mereka saat ini bukanlah sesuatu yang mengerikan. Terjebak di gedung anak kelas sepuluh, dengan misteri yang tidak pernah terpecahkan bukanlah sesuatu yang baik. Dan entah apa yang kini terjadi di luar gedung, tidak ada yang tahu. “Sesuai dengan apa yang kita dengar. Kemungkinan besar, di gedung ini memang pernah terjadi pembunuhan 7 tahun silam. Ngeri sih, gue juga pernah dengar-dengar dari kakak kelas masalah itu, yang lulus 7 tahun silam juga!” guman Ben, memulai pembicaraan serius. “Kating apa tante-tante, Ben? Lo kan sering nganu sama tante-tante udah tua, jadi wajarlah mereka ngomong hal itu sama lo!” “Trid, please deh.” Ben sedikit kesal, juga malu. “Nganu ngapain? Kok sama tante-tante, emang Ben ada tantenya ya?” ujar Lia polos, benar-benar tidak mengerti apa yang baru saja diucapkan oleh Astrid. “Kamu masih dedek bayi, Lia. Lebih baik diam aja, dan jangan ribut, okay?” Lia mangut-mangut. Lalu kembali memegang lengan Grace erat. “Udah, lanjut aja, Ben!” “Oke. Jadi…katanya itu kasusnya itu memang sengaja di tutupi gitu. Jadi perkiraan gue, dan alasan kenapa gedung ini serem, emang karena kasus itu deh.” “Lo ngomong emang gak guna, Ben.” Guman Astrid, yang lagi-lagi menguap malas. “Trid…” Matt kali ini menegur Astrid. Dan itu mempan, Astrid tidak lagi ambil bicara selama beberapa menit. “Jadi, maksud lo sekarang apa?” Ben selesai bercerita panjang lebar. Namun dia tak kunjung bisa memberikan saran mengenai apa yang akan mereka lakukan saat ini. Benar-benar tidak ada ide, begitu juga dengan Aress. Rasanya penasarannya kini berganti dengan rasa linglung. “Trid, lo punya saran gak?” Matt menatap Astrid yang bersandar di lengannya sejak tadi. “Tapi lo bilang gue gak bisa ngomong!” “Bukan gitu maksud gue, Trid. Gue cuman mau bilang jangan motong pembicaraan orang lain, gak sopan!” “Hmmm!” Astrid hanya berdehem kesal. Dia kembali menarik kepalanya dari bahu Matt. Dan menatap lurus pada belakang Ben. Sejujurnya Astrid merasa penasaran, kenapa Ben diikuti dengan hantu-hantu itu. Entah itu sengaja, atau memang ada sesuatu yang disembunyikan oleh Ben. “Hantu yang ngikutin Ben bilang, kita mesti…nyari puzzle?” Atmosfer di sekitar mereka mendadak dingin. Matt kini merasa kepalanya besar begitu Astrid selesai mengatakan kalimat terakhirnya. Lelaki itu mengambil tangan Astrid, dan menggenggamnya erat. Matt memang sedikit trauma dengan kegelapan, apalagi yang berbau mistis seperti yang saat ini dia alami. “Lo tenang aja, Matt. Gue bakal jagain lo, dan gak usah panik. Kita pasti bisa nyelesain misi ini!” Sedikit tenang, Matt hanya bisa percaya pada apa yang Astrid katakan kali ini padanya. Meski nyatanya, dia juga ragu seperti apa Astrid akan melindunginya. Tapi kata-kata itu membuat hatinya menghangat. Dan Matt tidak ingin mengecewakan Astrid yang terlihat bersungguh-sungguh. “Trid, lo gak lagi nakut-nakutin kita kan? Hantu apaan ya Allah, kenapa dari kemarin lo bilang ada hantu yang ngikutin gue sih?” Ben merasakan kakinya yang gemetaran hebat. Tidak hanya itu, dia juga merasakan aura di sekitarnya terasa lebih dingin. Dan parahnya, Ben hampir kencing di celana juga. Namun dia berusaha untuk menahan setengah mati. Malu-maluin banget nanti, masak kencing celana harus di depan hantu juga sih? Gada urat malu nanti Ben. “Ya memang, lo mungkin lagi kualat, Ben. Mungkin itu nasib karna udah ngejek anak soleha kayak gue!” “Trid, lo emang bisa lihat ‘mereka’ ya?” Aress bangkit berdiri dan mendekati Astrid. “Gak cuman mereka. Gue juga bisa lihat makhluk hidup yang tidak tahu diri berdiri di depan gue saat ini. Kemejanya hitam, dan masih hidup, dan masih…” “Gue udah minta maaf lo, Trid. Lo kok masih dendam sih?” “Kalo gak bukan gara-gara lo, gue sekarang pasti lagi nonton upin ipin bego, dasar t***l!” “Trid…” “Hantunya bilang kita mesti ngumpulin puzzle cewek yang mati 7 tahun lalu di sini! Tapi masalahnya, di sini gak cuman hantu doang. Setan juga ada, mana setannya pemarah dan suka makan manusia lagi. Kalo Aress doang, dia gak mau!” “Jadi maunya siapa?” ujar Aress, sedikit menaikkan nada suaranya. Lama-lama Aress juga geram karena Astrid yang memang 100% ingin menumbalkannya. Benar-benar sudah niat. Dan Aress…sedikit merasa takut, dan tidak siap. Tidak ada jawaban dari Astrid. Wajah malasnya kini berubah menjadi sedikit lebih serius, dan menatap lurus pada belakang tubuh Ben. Dimana hantu-hantu itu mengatakan sesuatu yang benar-benar membuat amarah Astrid tumbuh. Bahkan Astrid tidak sadar jika kini tengah menggenggam tangan Matthew dengan kuat, dan erat. “Trid, kenapa?” “Gak kenapa-napa kok. Kita mungkin harus nyari puzzlenya dulu, hantunya bilang, puzzle pertama ada di ruangan ini. Jadi…sebelum setan jahatnya muncul, kita mesti dapetinnya lebih dulu!” “Lo yakin, Trid?” ujar Lia, kini mulai merasa jika apa yang sejak tadi Astrid katakan hanyalah bualan saja. Menatap Lia datar, Astrid kembali menaikkan bahunya. Memasukkan tangannya ke dalam saku tasnya, dan mengambil coklatnya. Dia lekas memakannya dengan nikmat, benar-benar tanpa beban. “Aku percaya sama Astrid. Mungkin kita mesti nyari puzzle nya di sini dulu. Karna ruangan ini gak terlalu gede, mungkin kita bisa mencar aja buat nyarinya. Gue sama Astrid, Ben sama Lia, Aress sama Grace. Buat jaga-jaga kalo ada sesuatu hal yang tidak diinginkan juga!” “Dia sama siapa?” seru Astrid, menunjuk sosok yang berada di paling pojok ruangan. Suara Astrid mendadak membuat Ben berhenti. Dia mengarahkan senter kecilnya ke arah pojok, dan sepersekian detiknya, teriakan Ben semakin menjadi-jadi. “H…HANTUUUUU!” teriak Ben sembari lari berputar-putar. Astrid menyipitkan matanya. Begitu Ben melintas di depannya, gadis itu memajukan kakinya. Bruk Tubuh Ben terjatuh. Dia bangkit dengan mengusap keningnya, dan menatap Astrid kesal. “Dia bukan hantu, tapi orang juga kok!” ujar Aress. Christopher, pemuda itu menghela nafas sedikit kesal, namun juga legah begitu mendapatkan jika bukan hanya dia seorang yang terjebak di dalam ruangan ini. Sejujurnya, Christopher juga bingung kenapa dia bisa terjebak di gedung kelas sepuluh ini. Dan mendadak ruangannya tadi berputar, dan beberapa anak-anak yang dia kenal, juga berada di dalam satu ruangan. Tidak masuk akal memang, namun semua bisa diterima di genre horor, iya kan? “Chris, lo kok bisa di sini?” “Justru gue juga mau nanya sama lo, Matt. Bukannya kalian disuruh nyari pin di gudang sekolah ya?” Matt mengerutkan keningnya. Kenapa jadi di gudang sekolah? Jelas-jelas panitia tadi mengatakan jika mereka bebas memilih, dan masing-masing grup hanya bisa memilih satu. Dan atas persetujuan kelompoknya, maka mereka memilih mencari di…gedung kelas sepuluh. “Loh, kaga ada. Kita mah mau kemari, jadi…lo kok ada di sini juga?” “Panitia ngomong ke gua biar nyari ke sini, tadi gue sempat dengar kalian ada di gudang. Dan kenapa kita bisa terjebak di ruangan yang sama?” “Karna panitia tadi…bukan orang. Tapi setan, yang lagi nyamar jadi panitia!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD