Malamnya, semua siswa diberi kegiatan untuk mencari pin di sekolah. Berlaku untuk semuanya, kecuali panitia. Semua team dibagi menjadi beberapa kelompok. Astrid, Aress, Ben, Matthew dan juga Lia, beserta Grace berada dalam satu kelompok.
Semua diberi pilihan, untuk mencari dimana.
Dan karena saran Aress, akhirnya mereka memilih mencari di, gedung kelas 10 IPS. Sejujurnya, itu bukan murni saran dari Ben, melainkan saran dari Grace juga. Dia memberi bocoran jika salah satu panitia menyembunyikan pin paling dicari di sana.
"Lo yakin kita masuk? Udah malam gini, auranya serem loh!" Ben yang sedikit ragu menatap Aress yang sudah berdiri di depan gedung.
"Lo takut? Cemen banget sih, padahal cuman gedung biasa aja. Gak lebih, gak kurang, trus ngapain lo takut?"
Aress menatap Ben menantang.
"Udah deh, kita masuk aja. Gosah ada drama lagi!" putus Lia, sedikit merasa jengkel dengan keberadaan Aress dan juga Ben.
Astrid sama-sekali tidak bicara. Hanya diam, sesekali menguap dan bersandar di bahu Matt yang juga tidak banyak bicara sejak pertengkaran kecil mereka.
"Trid, sebagai penentu, saran dari lo gimana?"
"Hah?"
Ben berdecak kesal. Tidak Astrid tidak Aress, sama-sama menyebalkan.
"Gimana? Lo ikut apa enggak?"
Astrid menarik kepalanya dari bahu Matt. Dan menatap sekeliling.
"Mau gimana lagi? Toh juga kita udah terjebak di dalam!"
Mendadak, suasana di dalam ruangan terasa jauh lebih mencekam. Astrid menghela nafas, ia sudah menduga ini akan terjadi sebelumnya. Bahkan semenjak Aress mengusulkan untuk melakukan acara camping di sekolah mereka. Itu benar-benar sebuah malapetaka besar. Dan kabar tidak baiknya, Astrid juga terjebak dalam keadaan seperti ini.
"Loh, kok mendadak gelap sih?"
"Lah emang kan udah malam, bego!" ujar Astrid, menatap Aress dengan tatapan hina.
Jika saja Astrid melarang dari awal, mungkin ia sudah bermalas-malasan di ranjangnya saat ini. Sayangnya, sama-sekali tidak akan ada acara bermalas-malasan saat ini.
Matt yang sudah panik, kini semakin panik saat mendengar suara-suara dari balik tembok di depan mereka.
"Jadi, kenapa semua pintunya juga mendadak menghilang? Perasaan tadi masih ada!" Lia baru berani menyuarakan isi hatinya.
Dia memang bukan tipe penakut, tapi, jika sudah berhadapan dengan keadaan seperti ini, maka dia bisa berubah menjadi seorang penakut.
Astrid hanya menatap malas. Dia mengambil coklat dari balik sakunya, mengunyahnya dengan santai. Sesekali juga menyuapi Matt.
"TOLONG, ADA ORANG DI LUAR?" Teriak Grace yang baru saja tersadar dari keterkejutannya. Sejak masuk, Grace memang sudah merasakan sesuatu yang tidak beres. Terlebih mendengar penolakan Astrid beberapa kali.
Meski bukan sekelas, Grace tetap akrab dengan mereka.
"Gada apa-apa, kita memang terjebak di sini. Sekarang apa?" ujar Ben...ketakutan.
Masih tidak ada yang bicara. Semuanya hening dan hanya terdengar bunyi kunyahan Astrid yang tengah memakan coklatnya sembari bersandar di bahu Matthew.
Semua wajah-wajah mereka pucat.
Tidak semua sih. Sebenarnya ada dua orang yang terlihat santai dengan keadaan yang terasa mencekam. Satu, Astrid dengan coklatnya, dan kedua...Aress.
Entah perasaan Matthew saja atau tidak, Aress memang terlihat tidak seperti biasanya. Dia jauh lebih tenang, padahal seharusnya tidak begitu.
"Sekarang apa?" guman Ben, dia sejak tadi berusaha untuk mencari jalan keluar. Namun, sama-sekali tidak ada jalan keluar. Dia sudah berputar-putar, nama tidak ada celah, dia tetap kembali ke tempat semula seperti labirin. Benar-benar tidak pernah menemukan jalan untuk keluar.
"Trid, lo ada saran gak?" seru Lia yang mulai tidak tahan dengan kesantaian Astrid.
"Aress yang tahu, dia yang ngusulin acara ini!" jawab Astrid, menyudutkan Aress.
"Gue gak tau apa-apa loh, Trid. Lo kenapa sih suka banget nyudutin gue? Lagipula, ini ide anak-anak yang gue sampein pas rapat. Jangan nyudutin gue terus dong!"
Tidak ada yang peduli. Semua kini panik dan dilanda dengan ketakutan. Semua ingin keluar, dan niat itu bertambah besar tak kala terdengar suara-suara asing dari pintu sebelah yang juga tiba-tiba ada.
Melihat pintu itu, Ben lekas berlari dan memasukinya. Namun melihat sebuah kepala tergantung tepat di depan pintu, membuat Ben berlari ketakutan.
Suasana semakin terasa mencekam. Tidak hanya Ben yang berteriak, tapi semua, kecuali Aress dan Astrid yang terlihat semakin biasa saja.
Bahkan Astrid hanya memasang wajah lempeng. Tidak peduli, dia hanya mengunyah coklatnya.
Wajah Matt pucat. Dia menatap Ben yang sudah bersandar di sebelahnya. Lelaki itu benar-benar hampir seperti mayat.
Benar-benar ketakutan.
Beberapa menit berlalu, ruangan itu hanya dipenuhi dengan helaan nafas. Astrid kembali menguap.
"Dari apa yang gue pernah denger, ada korban pembunuhan yang dilakukan di sekolah ini, tepatnya di gedung ini, dan itu sekitar 7 tahun lalu. Gue juga denger, kalo korbannya cewek."
Menelan ludah kasar. Lia yang sejak tadi berusaha untuk tenang kini tidak lagi bisa bertahan dengan rasa takutnya. Dia benar-benar merasa ketakutan. Hingga dia tidak tahu kenapa Aress tiba-tiba mengungkit masalah itu.
"Kenapa wajah lo kelihatan santai banget pas ucapin tadi? Apa lo ada tahu sesuatu dibalik semua ini?"
Aress hening. Dia menatap teman-temanya dengan raut wajah bersalah.
Dia memang penasaran mengenai masalah 7 tahun lalu.Hingga dia juga yang merencanakan agar kemah di lakukan di sekolah. Dan menyuruh panitia menyembunyikan salah satu pin di gedung ini. Aress hanya ingin membuat suatu kenangan yang tidak akan terlupakan sebelum mereka menyelesaikan kelas XI yang akan berakhir sebentar lagi.
"Bilang b******n, lo sebenarnya ada maksud apa ngerencanain ini semua. Gue juga udah bilang kalo gak mau nyari pinnya di gedung ini, dan sejak awal udah gak setuju sama rencana lo." bentak Grace.
Aress masih diam. Tidak berani mengicau.
"Ress, lo emang sengaja ngerencanain ini?" kali ini Matt ikut angkat bicara.
Sekalipun sudah di tahan, namun Matt tidak bisa. Karena dia tengah membawa Astrid dengannya, dan berada dalam keadaan yang seperti ini, benar-benar bukan hal yang di inginkan oleh gadis itu. Dan Matthew tahu akan hal itu.
"Ress, jangan bilang lo penasaran sama...."
"Iya-iya, gue emang sengaja buat ini semua. Gue penasaran sama yang terjadi 7 tahun lalu. Gue mau nyari tahu sendiri, terlebih saat Astrid ngomong soal hantu, gue tertarik buat ngajak dia kemari. Tapi mustahil Astrid mau, tanpa Matt. Jadi, itu alasan gue ngakak anak OSIS juga. Bukan karena anak pramuka kekurangan uang khas, tapi karena gue tahu hal itu. Maaf!"
brugh
Tubuh Aress lebih dulu melayang. Matt hendak memukul Aress lagi, namun karena ada yang menahan tangannya. Membuat Matt berhenti dan menatap Astrid.
Seharusnya dari awal Matthew harus peka dengan perbedaan Astrid.
"Biarin dia hidup!"
Semua hendak protes pada Astrid. Namun tertahan sebelum gadis itu kembali angkat bicara.
"Buat jadi tumbąl pertama kali!"