6 ~ Matt gak bisa marah

1002 Words
"Jadi, lo dah siap, Trid?" Astrid menguap, lalu menatap Matthew malas. Mereka akan berangkat ke sekolah sore ini, namun seperti biasanya, Astrid tetap tidak b*******h. "Lo...emang serius gak Trid sama apa yang lo bilang kemaren?" Menatap Mattew lagi, kini Astrid bangkit dari sofa dan memperhatikan Matt yang begitu repot. "Kalo gue bilang iya, apa lo mau batalin rencananya lagi?" Matt berhenti mengepak barang Astrid, sedikit kesal karena pertanyaan gadis itu yang terasa menyebalkan. Sudah tidak membantu, ngomel lagi. "Kalo lo bilang itu kemaren, gue bisa batalin. Ini udah telat, Trid. Anak-anak udah pada ngumpul di sekolah. Mungkin, udah pada baris juga!" Tidak ada sahutan dari Astrid. Dia bangkit dari sofa, mengambil handuk, dan mengganti semua pakaian buluknya. Mamanya sampai detik ini belum menunjukkan batang hidungnya. "Lo serius ikut?" "Ya kali gue ninggalin lo sendiri. Gak mungkin, gue ini penyelamat lo dimanapun dan kapanpun berada. Jadi, ngapain gue tiduran di rumah sendiri?" Senyuman di wajah Mattew terbit, dia menatap Astrid dengan raut wajah sedikit senang. Namun juga sedikit bingung. Karena Astrid itu tidak biasanya mau sesuatu yang ribet. "Lo yakin, Trid?" Belum sempat Astrid menjawab. Bunyi klakson sudah terdengar dari luar, itu pasti...Ben. Dia sudah mengatakan akan menjemput mereka berdua. "Ben udah nunggu, dia di luar. Yakin gak mau keluar sekarang?" Bahkan, Astrid sudah keluar lebih dulu. Membuat Matthew lagi-lagi berpikir keras. Entah kenapa, gadis itu mau mengambil sendiri tas kecilnya, dan keluar dari rumah tanpa di paksa. "Lo kok agak aneh, Trid?" Ben yang menunggu di luar menatap Astrid dengan kening berkerut. Wajah Astrid memang tidak bersemangat, namun, tidak seperti biasanya. Jika umumnya gadis itu tidak bersemangat, dan...mager. Namun beda untuk kali ini. "Ben, kok hantu yang di sekolah ngikutin lo lagi ya? Padahalkan, ini udah hari Jumat, kliwon lagi. Harusnya mereka tuh pada di karantina mandiri gak sih?" Ben ngakak. Apa hubungannya malam kliwon dengan karantina mandiri coba. Astrid kesal, Ben malah menanggapinya dengan candaan. Sama-sekali tidak menanggapinya dengan serius. Padahalkan Astrid itu serius. Bahkan, jumlah hantu yang numpang di mobil Ben bertambah. Ada mbak kunti, pocong yang merasa paling tampan, dan...setąn? Astrid tiba-tiba merasa ngeri menatap penghuni kursi paling belakang di sebelah pojok. "Ben, lo yakin gak melihara hantu-hantu kan?" "Udah, Trid. Masuk aja deh, anak-anak udah pada nungguin Matthew buat acara pembukaan. Seenggaknya, jangan telat banget!" Ben lekas mendorong bahu Astrid untuk duduk di belakang. Matthew yang baru keluar dengan koper kecil berwarna hitam. Lekas beranjak dan memasukkan barang-barang mereka. "Udah beres?" "Udah!" Ben lekas memajukan mobilnya dari kompleks perumahan Astrid. Tidak ada yang membuka percakapan di mobil, Ben sejak tadi merasakan aura membunuh dari kursi belakang. "Ben, kita pernah buat acara camp di sekolah gak sih? Perasaan gue aja apa emang cuman ini kita perdana buat acara di sana?" "Bener, kita perdana buat acara camping di sekolah. Kenapa?" "Gada, cuman agak aneh aja sih, dari kemaren gue nyari info kalo sekolah emang ngelarang buat acara camp gitu!" "Dari infonya sih, kalo di lantai gedung 2, kelas ips, ada penunggunya." Astrid tidak mengubris. Dia masih sedikit kesal dengan Ben yang tidak mendengarkannya. Gadis itu menghela nafas, lalu menatap ke belakang. Sedikit legah karena hantu-hantu tadi minggat begitu dia masuk. Entah kenapa, mungkin rezeki anak soleha. *** Mobil Ben tiba tepat waktu di parkiran sekolah. Di lapangan sudah terlihat barisan anak-anak pramuka yang begitu rapi. Semuanya anak kelas 10, dan sebagai senior, Astrid SC berjalan dengan santai menuju lapangan. Bisik-bisik terdengar begitu Matthew naik ke atas panggung dan mengambil alih komando dengan Aress, yang sudah lengkap dengan pakaian pramukanya. "Ben, gue kok ngerasa dingin ya? Padahal kan cuacanya panas gini!" Astrid menguap malas, menatap Ben yang berdiri di sebelahnya. "Lo sakit?" Ben memegang kening Astrid. Tidak melebihi suhu tubuh manusia normal. Ben kembali teringat sesuatu, dengan cepat dia mengambil ponselnya, dan mencari suhu normal kucing. Astrid sudah mencap dirinya sebagai setengah kucing, seperempat coklat dan seperempat human. Jadi, biar lebih pasti, Ben menscroll layar ponselnya hingga ke bawah. Normal. "Lo gak sakit kok, tapi kok lo bisa kedinginan?" "g****k! Gue bilang kedinginan t***l, bukan kepanasan. Kenapa sih, orang kayak lo hidup?" "Astafirullah, Trid. Gue peduli salah, gak peduli juga salah. Mau lo apa sih?" "Ya lo ninggoy aja, biar udara gak sesak amat, biar hidup gak gini amat!" "Ampun,Trid. Ampun..." Deheman Matthew dari depan membuat semuanya kembali hening. Begitu juga dengan Astrid dan Benedict yang lekas mengunci mulut mereka rapat-rapat. Acara pembukaan kemah berlangsung dengan cukup meriah. Semua terlihat bersemangat menyambut kegiatan perdana yang akan di gelar di sekolah. Hampir semua bertepuk tangan saat acara pembukaan usai, kecuali Astrid. Sejak tadi, yang menjadi fokus perhatian Astrid adalah gedung anak kelas 12 IPS paling atas. Entah itu perasaannya saja atau memang ada sesuatu di sana yang memperhatikan mereka sejak tadi. *** "Trid, lo ngelihatin apa?" Aress yang sudah selesai rapat menghampiri Astrid yang duduk sendiri di bangku taman. "Lo pernah dengar soal kasus pembunuhan di sekolah kita dulu gak, Ress?" Kening Aress saling menaut, berusaha mengingat mengenai apa yang dibicarakan oleh Astrid. "Sepertinya emang iya deh, Trid. Maksud lo itu, khasus yang udah di tutupin 7 tahun lalu kan?" "Lo tau?" Mendekatkan diri pada Astrid. Aress menatap sekeliling sejenak. Memastikan jika hanya mereka yang mendengarnya. "Soalnya, gue..." Sebelum menyelesaikan ucapannya, kepala Aress mendadak terlempar jauh. Astrid mengerutkan keningnya, dan menatap ke arah belakang. Menelan ludahnya kasar, Astrid menatap Matthew yang terlihat kesal. "Ngapain dia dekat-dekat?" "Ah...Aress bilang...." Mulut Astrid tiba-tiba di bekap kembali. Membuat gadis itu mengerang kesal. Matt menarik kerah baju Aress. "Lo ngapain sih, Matt? Gue mau ngomong sesuatu sama..." "Diam lo!" kesal Matt, lekas menurunkan tangannya, dan membawa Astrid bersamanya. Sepanjang perjalanan menuju tenda Astrid, sama-sekali tidak ada pembicaraan. Semuanya hening, begitu juga dengan Matthew yang sedikit kesal. "Matt..." Tidak ada sahutan. Matt tetap bungkam dan tidak mengubris Astrid. Membuat gadis itu kesal, karena tak kunjung diberi respon, dan karena tangannya yang sakit. "Matt, tangan gue...sakit!" Langkah Matt mendadak berhenti. Dia menatap wajah Astrid yang di tekuk. Merasa bersalah, Matt lekas membawa Astrid dalam pelukannya. Dan membuat seluruh amarahnya mendadak menguap begitu saja. Tidak sanggup untuk memarahi Astrid.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD