Hari-hari cepat berlalu, SMA 1 Bintang Nusantara kini dipenuhi dengan siswa-siswi yang tengah bersalam-salaman satu sama lain. Kelas-kelas tengah ramai, guru-guru pun begitu—mereka juga berkumpul di kantor. Merayakan pergantian tahun.
Astrid menguap lebar. Memperhatikan pergelangan jam tangannya, sudah pukul 10 pagi, dan Mattew tak kunjung kembali dari rapatnya.
Menatap teman-temannya malas, Astrid lagi-lagi menguap, dan bangkit dari kuburan…bukan, maksudnya dari atas mejanya. Menatap semua teman sekelasnya yang asik bercengkrama, membuat Astrid malas. Dia sangat malas…apalagi tanpa Matt.
Beruntung, dari sekian banyak manusia di kelasnya, Ben tiba-tiba nongol dengan senyuman lebarnya. Astrid tiba-tiba punya ide untuk mengusir rasa bosannya.
“Trid, tebak gue bawa apa!”
“Bawa kain kafan?”
Wajah berseri-seri Ben tadi langsung murung, dan berjalan lemas ke arah Astrid yang menyandarkan punggungnya ke tembok.
“Kenapa sih, Trid? Perasaan, gue gak ada salah lagi sama lo, tapi keknya lo masih dendam sama gue!”
“Salah lo…cuman hidup!”
Wajah Ben pias. Aress yang juga sudah kembali dengan membawa banyak kotak di tangannya, dan kebetulan mendengar ocehan Astrid tertawa lebar. Membuat mereka menjadi objek perhatian.
“Ini, Trid. Gue bawa coklat…banyak kok!” Aress meletakkan beberapa kotak di depan meja Astrid.
“Lo bawa, apa di kasih sama adek-adek kelas?”
Aress ngakak lagi. Membuat Lia yang juga kebetulan kesepian memilih untuk bergabung dengan Astrid. Jujur, Lia sedikit iri dengan Astrid. Dia selalu saja di kelilingi dengan siswa-siswa top di sekolah mereka. Aress sangat populer, terlebih di kalangan para kaum Hawa.
Begitu juga dengan Ben, dan Matt, yang selalu menjadi bahan perbincangan terhangat, terhots, terpopuler di ujung ke ujung sudut sekolah Nusantara.
Sungguh membuat iri.
“Gue bisa gabung gak, Trid?”
Astrid mengangguk malas, lalu sedetik berikutnya sudah kembali menguap malas dan merebahkan kepalanya di lengan Ben. Jujur, Astrid paling malas jika Matt sudah pergi darinya. Rasanya…Astrid seperti kehilangan bąbunya. Dia tidak bebas menyuruh-nyuruh lagi.
“Jadi…lo bawa apa Ben, selain beban kehidupan tentunya!”
“Bawa coklat bego, lo kan paling suka coklat!”
Astrid melirik sejenak, menatap coklat batangan yang sudah ada di depan wajahnya. Begitu juga dengan Aress yang tidak ingin ketinggalan. Dia memang membawa coklat itu khusus dari rumahnya untuk…Astrid.
Sekalipun Astrid itu menyebalkan, dan menjengkelkan, Aress masih harus balas budi pada peliharaan sobatnya itu.
“Gak mau. Itu coklat dari tante-tante semalam kan? Lo seharusnya tahu kalau harga diri gue itu jauh lebih tinggi daripada harga diri lo, Ben.”
Selain kucing, hal lain yang sangat Astrid sukai adalah…coklat. Meskipun setelah memakannya, Astrid pasti akan merepotkan Matt lagi, dan lagi. Karena mereka harus pulang balik ke dokter gigi, mengingat gigi Astrid yang hampir semua dipenuhi dengan lubang.
Lia, dan Aress tertawa ringan melihat wajah merah padam Ben.
“Bisa gak sih…”
“Udah diam aja Ben, Astrid lagi PMS kali!” kekeh Aress. Menyudahi acara perdebatan Astrid dan juga Ben yang tidak pernah ada titik terang dan tidak akan pernah ada habisnya.
Mereka kembali hening.
Sesekali Lia menatap wajah Astrid yang tidak pernah bersemangat. Sejak mereka masuk SMA, Lia memang sering memperhatikan lakon Astrid. Gadis yang sering menguap, jarang bergerak, dan tidak pernah jauh-jauh dari Matthew. Namun, ada sisi lain yang Lia sangat penasaran.
Mengenai kenapa Astrid bisa menjadi semalas itu.
“Eh btw, lo semua pada liat David gak dari pagi? Perasaan di acara tahun baruan satu kelas, dia juga kagak nongol deh.”
Aress yang memang akrab dengan hampir seluruh penghuni anak kelas 11 IPA-6 itu angkat bicara karena tak kunjung menemukan keberadaan David—si juara umum.
“Mungkin mati!”
Aress kicep.
Jawaban Astrid selalu saja simpel, dan membuat selera humornya turun. Entah sejak kapan, intinya sejak bertemu dengan Astrid, selera humor Aress, dan juga Ben, sangat-sangat rendah. Apapun yang Astrid katakan, ditambah dengan tampilan mata sayunya benar-benar terasa menjengkelkan. Mampu membuat mereka berdua ngakak abizz.
“Atau mungkin ditabrak lalat!”
“Trid, please serius dikit napa sih?” kekeh Ben.
“Ya kan kenapa lagi? Dia juga gak nongol-nongol dari tadi!”
“Stt…berhenti membicarakan hal-hal lain, Trid. Lo buat bengek aja!”
Mereka mendadak diam begitu menemukan David yang baru saja memasuki ruangan kelas mereka dengan wajah datarnya—seperti biasa. Juga dengan kacamata barunya yang terlihat lebih pas dengannya. Beberapa bisikan terdengar begitu David masuk.
Meskipun pendiam, David juga cukup populer di sekolah mereka. Dia itu pintar, sayangnya entah kenapa bisa masuk ke kelas mereka—11 IPA 6. Tempat para orang-orang malas, berandalan, dan orang tercuek satu galaksi berkumpul.
Tatapan David dan juga Astrid bertemu sekilas, hanya sekilas, karena David lekas mengalihkan perhatiannya. Duduk di kursinya yang sudah dipenuhi dengan beberapa jenis kado tahun baru, dan tidak mengatakan apa-apa.
“Gue heran deh, kenapa sih ada orang yang tahan gak ngomong satu harian gitu? Nafas juga kan jadi bau kalo gak ngomong!” Ben kembali bicara.
“David kalo ngomong didengar semua orang. Lo kalo ngomong gada yang dengerin, Ben. Jadi intinya, lo itu…bicara aja gak guna. Lo emang harusnya gak hidup, soalnya lo itu gak penting!”
Aress ngakak lagi. Bahkan sampai memegangi perutnya yang terasa sakit. Sementara Ben hanya bisa kicep, tidak mau meladeni ucapan Astrid yang selalu…merendahkannya, juga menyakiti hati sucinya.
Berbeda dengan Lia, dia memang tahu jika pertemanan Astrid dan Ben sudah sangat lama. Namun kadang, Lia merasa tidak suka mendengar Astrid yang berbicara terlalu kasar untuk ukuran perempuan. Terlebih sampai mencap jika hidup seseorang itu tidak penting.
Terlalu annoying.
“Gak gitu juga loh, Trid. Ben kalo bicara masih ada yang dengerin kok!” bela Lia.
Wajah Ben seketika berseri-seri mendengar ada yang membelanya.
Sayangnya, Astrid tak kunjung peduli. Dia hanya menguap lagi, dan menatap Lia sayu.
“Lo…suka sama Ben ya?”
Mendadak suasana menjadi canggung. Lia lekas menggeleng panik, dia menatap Astrid tidak percaya. Wajahnya sedikit memerah, juga tidak berani menatap Ben.
“Trid, lo buat suasana jadi canggung dah. Udah diam aja napa sih?” kesal Ben, memilih untuk menyelamatkan Lia yang terlihat gugup. Dan itu sangat ketara. Bisa-bisa Astrid nanti terus menyerang Lia.
“Ya. Gue kan nanya doang, kalo gak suka tinggal di bilang aja. Dan gue cuman mau bilang, Li. Kalo teman gue ini pecinta tante-tante, lo…mphhh!”
Mulut Astrid lebih dulu di bekap oleh Ben. Wajah Ben sudah memerah, menahan malu. Astrid memang sangat senang mempermalukannya.
“Ck. Lepas gak, atau gue teriak nih!”
“Iya…iya, lo sih, gue udah bilang kalo gue percaya sama lo. Tapi ini apa?”
Tidak ada jawaban. Astrid menarik kepalanya dari lengan Ben, dan memindahkannya ke lengan Aress yang ada di sebelahnya juga.
Suasana semakin ribut, hampir semua teman sekelas mereka sudah kembali dari ghibah hari pertama masuk sekolah.
Juga Matt yang sudah kelihatan batang hidungnya di ambang pintu kelas. Astrid lekas semangat, menunggu lelaki itu untuk lekas duduk di sebelahnya.
“Lo…pergi!”
“Ampun, Trid. Gosah nendang gue juga dong!”
Ben dan Aress lekas minggat. Sesekali Ben mengusap bokongnya yang terasa sakit akibat tendangan Astrid yang tidak ada obat.
“Silahkan paduka raja, ratu Anda sudah menunggu sejak tadi!”
Ironi. Ben hanya kesal di tendang Astrid begitu Matt muncul di depan mereka.
Matt hanya tertawa, dan lekas duduk di kursinya. Astrid lekas merebahkan kepalanya, seperti biasanya.
“Jadi…gimana hasil rapatnya?”
“Tadi gue udah diskusi juga sama Grace, katanya kita bisa pake uang OSIS buat acara camp tahun baruan. Acaranya juga sudah di setujuin sama wakil kepala sekolah, jadi…kita bisa buat jalanin acaranya. Tapi acaranya tetap diadain di sekolah, anak-anak gak setuju kalo di lakukan di villa yang lo maksud, Ress.”
Ben dan Aress lekas berseru heboh. Tidak terlalu mempermasalahkan tempatnya dimana. Yang penting mereka jadi untuk camp.
Anak-anak pramuka lainnya juga senang dengan kabar itu. Tahun ajaran baru memang masih tidak 100% kegiatan pembelajaran di sempurnakan. Guru-guru biasanya masih mager.
Lain halnya dengan Astrid, dia hanya menghela nafas, dan menarik kepalanya dari Matt. Membuat lelaki itu mengerutkan keningnya.
“Kenapa, Trid?”
“Lo mesti ikut ya?”
Matt mengangguk. Mana mungkin dia tidak ikut? Lagipula proposalnya sudah setengah jalan, dan jika Matt tidak ikut, bisa jadi nanti dia yang kena marah.
Namun, Matt tetap tidak bisa melakukan hal itu, jika seandainya Astrid melarang. Matt lebih mengutamakan Astrid.
“Lo gak mau ya? Kalo emang gak mau, gapapa kok, gue juga bisa gak usah ikut, Trid.”
“Bukan gitu…gue cuman khawatir aja kalo acara kemahnya nanti, bakal berubah!”
“Maksud lo?”
“Soalnya, sepatu lo berdarah! Dan mungkin, kita juga bakal dikepung…hantu!”
Wajah Matt mendadak pucat. Berbeda dengan Aress, dan Ben yang hanya tertawa ringan menanggapi ocehan Astrid. Bagi mereka, akhir-akhir ini Astrid memang suka bercanda soal hantu. Ya mau apalagi, hantu saja di becandain, apalagi human.
Aneh bin ajaib.
Wajah Matt berangsur-angsur pulih kembali.
“Lo serius, Trid? Mungkin gue batalin aja rencana, kalo lo bilang gitu, ya gue juga ikut lo. Daripada bahayain nyawa kan?”
Astrid diam sejenak, dan memperhatikan sepatu Matt yang masih di nodai darah. Tatapan Astrid tertuju pada belakang Matt. Menatap sosok berbaju merah, dengan darah yang membanjiri wajahnya dengan kesal.
Mendadak sosok berbaju merah itu merasa…gentar. Dia lekas merangkak kabur, membuat darah yang tadi membuat sepatu Matt ternoda menghilang.
“Trid, lo lihatin apa? Kok tadi perasaan gue merinding ya? Bahu gue juga agak berat tadi, tapi sekarang udah enggak lagi!”
Astrid kembali menguap. Mengambil coklat batang yang ada di mejanya, mengunyahnya malas, juga memberinya pada Matt yang siap membuka mulutnya.
“Gak ada, cuman ada yang mau ganggu kamu aja tadi!”
“Trid, serius dong. Gue…”
“Gak ada apa-apa, udah…gue mau tidur. Ntar pas udah pulang, angkut gue ya!”
Astrid tidak sepenuhnya tidur.
Nyatanya, dia permisi untuk izin ke toilet. Astrid berhenti membersihkan wajahnya. Dia menatap ke arah bilik toilet yang tiba-tiba terdengar suara air mengalir. Astrid menilik dari kaca, air dari bilik toilet itu mengalir deras.
Padahal tidak ada orang.
Sejak memasuki toilet, hanya ada Astrid. Dan Astrid pun tak memasuki bilik toilet, dia hanya diam di depan cermin, dan menatap kakinya yang juga tiba-tiba berdarah. Tidak ada siapa-siapa, Astrid juga tidak melihat ada hantu yang menempelinya.
Astrid dengan mata sayunya memutuskan untuk berbalik. Perlahan, Astrid memutuskan untuk melangkah mendekati bilik itu. Berniat untuk…mengumpat hantu yang sudah merusak moodnya.
Namun sebelum Astrid berhasil mendekat, toilet tiba-tiba ramai oleh anak-anak kelas 10. Mereka memberi hormat padanya. Yang tidak satupun digubris oleh Astrid.
Air itu juga berhenti mengalir. Bahkan…seperti tidak ada yang terjadi, bahkan lantai kamar mandi yang tadi hampir tenggelam oleh genangan air, kini kering seperti semula.
Menatap itu, Astrid mengambil satu batang coklatnya, dan kembali mengunyah. Dia memutuskan untuk lekas keluar dari sana.
“Trid, lo kok lama banget sih? Ngapain aja di toilet coba!”
“Lo ngapain diri di sini, Matt?”
Matt memutar bola mata balas, lalu lekas menyambar tangan kanan Astrid.
“Ngapain lagi kalo bukan nungguin lo? Lo izin cuman 5 menit doang, nyatanya ini sudah 15 menit. Ya gue takut lah lo kenapa-napa!”
Mendadak langkah Astrid berhenti dan menatap kakinya yang sudah tidak berdarah lagi.
“Kenapa?”
“Gue…lapar!” cengir Astrid.
“Mau makan bakso gak?”
“Gas!”
Mereka berdua lekas berjalan ke kantin. Namun Astrid merasa ada yang aneh, kenapa aura Matt sedikit…berbeda? Bahkan tangan Matt sedikit…dingin. Tidak seperti biasanya.