26 ~ Gue Gabut

2120 Words
“Lo, makan tanah aja, mau gak?” Lia lekas menatap ke arah sampingnya, dimana Astrid yang ternyata sudah bangun tidur. Gadis itu menatapnya dengan datar, dan beberapa menit kemudian sudah menguap. “Tanah mana bisa dimakan, Trid! Ngadi-ngadi aja lo!” “Bisa aja sih. Semua tergantung pada pola pikir masing-masing. Kalo lo anggep tanah itu cake paling enak, ya rasanya bakal jadi kayak cake gitu!” “Gimana perasaan lo, Trid? better?” “Ya…better!” Astrid bangkit dari pangkuan Matthew begitu merasakan ada sesuatu yang mendekat ke arah mereka. Jelas, itu bukanlah suatu hal yang baik. Tatapan Astrid yang tertuju lurus ke belakang membuat Matthew lekas bangkit berdiri dan memperhatikan ke arah fokus Astrid. “Apa yang lo lihat, Trid?” “Pedang gue, mana Matt?” “Trid, lo gak boleh make pedang buat beberapa jam kedepan!” “Gue gak mau make, cuman nanyak doang!” Astrid nyolot, “gue lapar!” Matthew menghela nafas. Wajah datarnya terlihat sayu, sebelah tangan Matthew mengambil tangan Astrid. Menggenggam tangan itu erat. Tidak ingin melepaskan gadis itu sama-sekali. “Jangan jauh dari gue, ntar lo bisa bahaya. Apalagi keadaan perut lo lagi keroncongan!” “hmmm…” “Lo…gak lapar, Matt? Perasaan dari kita semua, yang gak ngeluh kelaparan cuman lo doang deh!” Christoper yang sempat untuk tertidur beberapa menit lalu terbangun karena suara-suara yang tiba-tiba memasuki pikirannya. “Kalo pun gue bilang lapar, emang lo bisa kasih solusi?” Bahu Christ naik, dia juga tidak tahu memberikan jawaban yang tepat untuk pertanyaan itu. “Sekarang apa, kita harus lanjut atau gimana?” Aress bangkit berdiri dibantu oleh Lia. “Kita lanjut! Naik, Trid!” Astrid lekas menaiki Matthew. Laki-laki itu menggendongnya di belakang. Astrid meletakkan kepalanya di bahu Matt, sesekali masih menguap lebar, dan matanya juga hampir terpejam kembali. Matthew memimpin di depan. Mereka berjalan lebih pelan daripada sebelumnya. Berhubung karena mereka tidak pernah makan selama terjebak dalam gedung itu. Bermenit-menit melewati lorong lurus yang menjadi pilihan Matthew, mereka tak kunjung menemukan apapun di sana. Semuanya sama seperti sebelumnya, membuat Lia, dan juga Christopher mulai sedikit ragu lagi. “Apa lo yakin kita harus melewati lorong lurus ini, Matt? Kenapa lo gak milih kiri atau kanan?” tanya Christopher lagi. “Kalo kiri kanan, itu senam, Christ!” “Bisa aja lo, Lia!” kekeh Christoper, dia tidak menyangka jika Lia yang akan menggantikan Astrid untuk berbicara. Wajah mereka kembali dipenuhi dengan keringat dingin. Tetap melanjutkan perjalanan sekalipun sudah semakin lelah. Di ujung, terdengar suara cekikikan, lalu suara isakan tangis untuk beberapa saat. Lorong di depan mereka gelap, dan tidak ada sama-sekali cahaya seperti sebelumnya, dan ditambah dengan udara yang semakin terasa sangat dingin. “Lo dengar suara itu gak, Matt?” Astrid menatap wajah Matthew dari samping, lalu kembali memperhatikan ke depan. “Gue dengar, mungkin kalian juga dengan suara itu bukan?” Dan itu benar. Semua mereka memang mendengar suara cekikikan, lalu diiringi dengan suara tawa itu. Lia sedikit takut, dia mendekat ke arah Aress, dan memegangi bajunya. “Sekarang gimana? Apa kita perlu ngecek buat ngepastiin itu apa?” usul Christ, “eh tapi, mungkin itu bukan ide yang bagus. Gue rasa kita harus nyari alternatif yang lain. Mungkin kita harus kembali dan…” Begitu Christopher berbalik, di belakang mereka saat ini adalah tembok. Lorong yang tadi mereka lalui sudah kembali menghilang. ‘Aku Datang’—dan tulisan itu kembali ada di tembok. “Good. Gue pikir kita memang sudah terjebak lagi di sini, dengan suara entah apapun itu. Sekarang apa?” raut wajah Christopher terlihat pasrah dengan apapun yang nanti akan mereka hadapi di depan sana. Astrid memperhatikan lorong di depan mereka sejenak, untuk beberapa saat lebih tepatnya. “Matt, turunin gue!” “Gak Trid, lo gak boleh pergi ke sana dan main…” “Gue cuman bilang turunin caelah, ribet banget sih loh. Gue tau lo udah capek, kaki sama tangan lo gemetar. Gue masih sadar kalo beberapa jam lagi lo tetap gendong gue, tubuh lo pasti jatuh ke lantai gitu!” Matthew speechless. Dia tersenyum bodoh dan menatap Astrid yang sudah turun lebih dulu. Gadis itu memperhatikannya dalam. Kali ini Matthew benar-benar tidak bisa fokus, rasa lapar yang menyerangnya sedikit mempengaruhi hal itu. “Thanks, gue pikir gue ini… iron man!” Aress juga ikutan tersenyum. “Lo bukan Avengers, Matt.” “Jadi sekarang gimana? Apa yang mesti kita lakuin?” “Ya majulah, masa mundur? Kan gada jalan buat mundur lagi toh. Gitu aja dibuat ribet!” Christ kicep. Dia hanya bisa menggaruk kepalanya yang gatal, lalu lekas mengikuti Matthew dan Astrid yang sudah melangkah lebih dulu. Mereka berdua—Astrid dan Matthew, terlihat sama-sekali tidak khawatir dengan kegelapan yang ada di depan. Mereka sangat terlihat bisa menguasai ketakutan mereka. Sangat berbeda dengan Lia yang bahkan sejak tadi sudah menempel pada Aress. Benar-benar tidak ingin terpisah dari lelaki itu barang sejenak pun. Lia terlalu pengecut untuk mengakui bahwa saat ini dia sudah tidak sanggup untuk berjalan. Tangannya semakin menghitam, bahkan hanya tersisa lengannya saja yang masih tidak menghitam. Itu jelas bukan sesuatu yang baik. Rasa sakit itu juga menyerang semua permukaan tubuh Lia yang gelap. Termasuk di daerah punggungnya. Tidak hanya rasa sakit, tapi juga dengan rasa gatal, dan perasaan seolah-olah tubuhnya akan meledak. Tapi melihat Astrid yang tetap keukeuh, membuat Lia bertahan. Salah satu pencapaian terbesar di dalam hidupnya adalah dengan tidak mengeluh di saat dia sudah berada di titik terendah. “Lo masih tahan, Lia? Gue bisa gendong lo juga kalo kaki tangan lo semakin sakit. Gue aja yang ngeliatnya ngeri!” guman Aress. Dia tidak bisa melepaskan perhatikannya dari kaki Lia yang semakin menghitam, dan juga tangan gadis itu. Juga dengan punggung Lia yang sesekali terkibas, memperlihatkan kulit punggung gadis itu yang hampir seluruh permukaannya menghitam. Aress benar-benar ngeri. Dia jadi teringat dengan Ben yang mengalami hal yang sama. “Gak usah, gue bisa kok!” Langkah Astrid dan Matthew mendadak berhenti. Tepat di depan mereka, sosok dengan bentuk yang lagi sangat aneh menatap lurus pada mereka. Tubuhnya jauh lebih gendut, dan wajahnya sedikit aneh. Juga dengan pucat, serta bagian kulit yang melepuh. Kali ini Astrid memijat keningnya. Sedikit bersyukur karena sosok itu bukan sejenis satan atau iblis. Dia adalah hantu biasa. “Lo bisa lihat gue?” “Udah hantu, pake bahasa gaul lagi.” Guman Astrid, sambil menghela nafas kesal, “lo kenapa nangis di sini tadi? Apa lo kurang kerjaan? Ah satu lagi, lo hantu jenis apa, mati karena apa, dan perkenalan diri singkat dulu!” Lia menggenggam erat tangan Aress. Dia juga bisa melihat sosok yang ada di depan mereka saat ini. Hantu dengan wajah buruk rupa yang lagi-lagi mengotori indra penglihatannya. Hal itu benar-benar membuat Lia terheran-heran. Apa semua hantu itu memiliki rupa yang buruk ya? Gada gitu hantu yang glow up, shining, dan setidaknya good looking. Karena semua yang good looking, masih ada toleransi. “Gue Andre, murid di sekolah ini dulu. Gue mati karena terjebak di gedung ini saat terjadi kebakaran. Lo pasti sadar kan area sini dingin?” “Jadi, apa lo yang buat daerah sini dingin?” Andre, hantu itu mengangguk. “Jadi, ngapain lo nangis?” Astrid menatap hantu itu dengan wajah datar, dan kembali menguap lebar. Rasa dingin membuatnya mengantuk lebih cepat daripada biasanya. “Ya kan  nangis itu manusiawi!” Astrid dan temannya yang lain saling menatap. Benar memang menangis itu manusiawi, masalahnya, sosok di depan mereka ini benar-benar tidak sadar. “Kalo lo masih human, meski hidup lo gak berguna, masih pantas lo make kata-kata barusan. Tapi lo udah beda alam, g****k!” Andre tertawa pelan. Dia menghela nafas, dan memperhatikan Astrid yang terlihat tidak takut dengannya. Padahal, biasanya, manusia yang terjebak di gedung ini dan sampai masuk ke alamnya, akan berlari terkocar-kacir, berteriak, bahkan sampai pipis di celana. Tapi yang ini…beda. “Lo gak takut?” “Ngapain takut. Lo cuman hantu biasa aja, bukan iblis atau Satan yang makan daging human. Jadi, kenapa lo bisa terjebak di gedung ini? Gue gak tau kalo di sekolah ini pernah terjadi kebakaran, apa itu sesuatu yang dirahasiakan?” Wajah Andre berubah murung. Dia kembali duduk, dan menangis histeris. “Lo nangis gue santet pala lo ya, berani-beraninya lo nangis di depan gue?” “Ya kali gue gak nangis. Sedih tau gak? Lagian, kalian kenapa bisa terjebak di sini? Seperti gue merasa kali salah satu dari kalian ada yang mencoba untuk melakukan sebuah perjanjian dengan iblis itu, apa tebakan gue benar?” Wajah Matthew langsung berubah begitu hantu di depannya mengatakan hal tadi. Tapi itu tidak terlalu ketara, sebab Matthew memang tidak menunjukkannya. “Itu bukan hal penting yang buat lo tahu, sekarang jawab saja pertanyaan gue!” “Apa kalian mau mecahin teka-teki piano itu? Biar gue kasih tahu, gada satupun yang pernah berhasil menebak dengan benar setiap teka-teki yang ada. Itu hanya akan menjadi berujung sia-sia. Sebab gue sendiri tidak pernah tahu siapa yang selalu memainkan piano itu. Ini adalah pertama kali gue dengar dia mainin nada itu lagi setelah bertahun-tahun lamanya!” “Apa lo tahu sebanyak itu?” Andree mengangguk bangga. Dia kembali memperhatikan wajah Astrid—menilai, lalu memindai pada wajah Matthew yang selalu dingin. Sekarang Andre bisa tahu apa yang sepertinya sedang terjadi. “Sebaiknya lo bawa teman-teman lo keluar dari sini. Iblis itu berbahaya, dan jika dia dapat apa yang dia mau, maka dia akan semakin berbahaya. Dia gak bakal pernah nurutin apa yang…” Arghh—Andree merasakan lehernya yang terasa ketat, lehernya dicekik, tatapan Andree tertuju pada Matthew. “Lo bahkan bisa nyentuh gue.” “Matt!” Menghela nafas, Matthew akhirnya melepaskan tangannya dan lekas menggenggam tangan Astrid erat. “Dasar human!” “Cukup katakan apa yang pernah terjadi di gedung ini. Apa lo pernah lihat siapa yang memainkan piano itu, dan kenapa dia memainkannya. Terus,lo juga tadi bilang bahwa tidak ada yang pernah berhasil memecahkan kodenya. Apa itu berarti, sebelum kami, ada beberapa orang yang lain?” Pertanyaan beruntut dari Astrid membuat Andre menghela nafas. Sebagai Hantu, dia merasa rendah diri saat melihat ada manusia yang bisa menyentuhnya. Padahal, aturannya dia tidak bisa disentuh. “Ada seseorang di balik ini semua. 7 tahun lalu, saat itu adalah hari pramuka, dan kejadiannya benar-benar tidak terduga. Gue dengar ada yang berteriak dari lantai paling atas. Sebagai sosok yang kepo saat itu, gue jadi merasa perlu untuk melihat itu teriakan apa. Dan setibanya gue di sini, ada sosok mengerikan yang memakan daging. Lantai putih penuh dengan darah, dia selalu mengatakan ‘kami datang’ di setiap tembok.” “Lalu?” “Gue yang syok dengan itu berusaha untuk kabur. Tapi ada api yang melingkari ruangan lorong yang gue lalui. Api itu bukan api karena kebakaran yang disebabkan oleh manusia. Tapi itu api dari iblis itu. Dia marah karena aku melihatnya. Dia membakarku hidup-hidup, dan berakhir di sini!” “Iblis?” Andree mengangguk. “Selain dua bocah menakutkan itu, gue pernah melihat iblis yang lebih mengerikan lagi. Tapi dia tidak pernah terlihat setelah beberapa tahun terakhir ini. Gue khawatir kalau tubuhnya terkurung di suatu tempat.” “Lo juga tahu dua bocah iblis itu?” “Mereka yang paling menakutkan. Biar gue tebak, kalo teman lo itu adalah hasil dari perbuatan mereka. Benar begitu?” “Lalu, apa jawaban dari pertanyaan terakhir, Astrid?” seru Aress. Saat ini, tatapan Andre tertuju pada Matthew yang menatapnya tajam. Andre meraba lehernya yang sedikit panas. Tidak diragukan lagi, sosok yang ada di depannya saat ini benar-benar berbahaya. Sama berbahayanya seperti dulu. “Lo harus lebih peka dengan pertanyaan itu.” Astrid menghela nafas, dia menatap ke arah Andre yang terlihat sedikit takut saat menatap Matthew. “Jadi, sejauh mana informasi yang lo tahu?Kami harus segera memecahkan semua teka-teki itu, agar gue bisa tidur dengan nyenyak!” Andress menyeringai. “Gua bahkan gak yakin kalo sekalipun gue ngasih tau, lo bisa ngelawan iblis-iblis itu.  Mereka berkeliaran dimana-mana, bocah kecil itu benar-benar tidak pernah memberi ampunan pada lawannya!” “Lo cukup jawab apa yang menjadi pertanyaannya, gak usah banyak alasan lo, hantu!” “Enak aja gue dikatain hantu, gue punya nama, bajengannn!” “Ya kan lo emang hantu, bego!” Andree terdiam. Benar juga, dia memang hantu. Berbicara dengan manusia-manusia di depannya, entah kenapa membuat Andree merasa kembali seperti manusia dulu. Dia merindukan masa-masa itu. Sekalipun tidak semuanya baik. “Tulisan ‘Kami Datang’ adalah puzzle yang ketiga. Gue yakin, jika sudah sampai di tahap ini, kalian pasti berhasil menemukan puzzle kedua, dan menebak arti dari piano yang dimainkan itu. Sekarang, lo harus ingat seperti apa ukiran pertama kali di tembok,dan artikan dengan benar. Maka lo bisa lanjut untuk mengumpulkan puzzle yang ke empat!” “Lo banyak tau juga!” “Gue  gabut!” 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD