“Jadi, gue harus ukir pake darah lagi?”
Wajah Astrid ditekuk. Dia tidak mau jika darahnya harus keluar lagi dari tubuhnya. Itu sangat-sangat tidak adil, kenapa harus dia yang berkorban demi keselamatan anggota yang lain coba?
Astrid bukan pahlawan, bukan pula superhero.
Dia hanya makhluk ciptaan Tuhan yang bermuka cantik, baik hati, rajin, dan suka menabung.
“Ya kalo lo gak mau, kan tinggal di tolak aja, itu aja susah!”
Wajah Astrid langsung berubah menjadi datar. Sedatar tembok yang ada di belakang mereka. Andree, hantu yang masih sedikit penakut itu menjauh dari pandangan Astrid. Bisa-bisa nanti dia menjadi debu sebelum waktunya.
“Kalo mau jadi butiran debu sebelum waktunya tiba, gue bisa kok ngabulin hal itu, Ndre!”
“Gak…gue gak butuh, gue masih suka jadi penunggu di ruangan ini.” Andree tertawa pelan, dia memperhatikan wajah Astrid yang semakin datar, dan tidak berekspresi. Benar-benar dingin, seperti balok es.
“Makanya, kalo lo enggan untuk jadi debu lebih cepat, jangan pancing hal yang bisa buat lo begitu!” Aress ikut bicara.
“Iya udah. Gue yang salah. Udah gue hantunya, kenapa jadi gue yang takut sih? Aturannya kalian yang takut, dasar human!”
“Aturannya lo nyadar diri dong, Ndre. Yang numpang tinggal di bumi siapa?”
“Gue!”
“Yang udah gak berhak lagi siapa?”
“Gue!”
“Yaudah itu sadar lo adalah makhluk yang tidak layak lagi di sini. Terserah tuan rumah dong mau ngapain!”
“Ya kan…”
“Gada kan…kan, lagi, sekarang jawab pertanyaan gue. Daritadi lo nyari topik lain aja, dasar g****k!”
“Ya…” Andree miris, merasa gagal jadi Hantu. “Iya, yang bisa buka semua teka-teki di sini cuman lo, Trid. Gue gak tau kalo Matthew juga bisa. Tapi sejauh dari pengamatan gue, lo itu istimewa, bahkan masih ada hal lain yang tidak diketahui oleh teman-temanmu, jadi inti pembicaraan kita saat ini, cuman darah lo yang bisa pecahin teka-teki ke 3nya!”
Wajah Matthew semakin datar, tangannya juga mengepal. Dia menarik Astrid lebih dekat dengannya, tidak membiarkan Astrid berjauhan darinya. Matt tidak ingin terjadi hal di luar kemampuannya. Jadi lebih baik dia berjaga-jaga.
“Sekarang gimana?” tanya Lia, “apa kita harus lakuin apa yang dibilang sama hantu itu? Secara normal, gue gak pernah percaya apapun yang hantu bilang, mereka itu…pembohong!”
Andree yang mendengar itu hanya menaikkan satu alisnya. Wajah rupawannya mendadak berubah, luka-luka bakar memenuhi wajahnya. Dia tersenyum lebar, dan hampir saja mendekati Lia sebelum tubuhnya mendadak diliputi api.
“Lo punya keberanian ternyata. Apa lo mau murnah detik ini juga?” Astrid yang menggenggam tangan Hantu itu memasang wajah datarnya, tatapannya tertuju lurus pada Andree yang mulai merasa kepanasan.
“Trid…lepas dong, gue udah bantu lo!”
“Trid, lepasin dia!” bisik Matthew pelan, dia lekas menarik tangan Astrid dan membuat tubuh Andree lepas.
Hantu itu lekas menghilang bersamaan dengan rasa dingin yang semenjak mereka masuk ke lorong, ikut menghilang juga.
“Lo baik-baik saja?”
Astrid menggeleng. Tangannya sedikit melepuh juga.
“Lo harusnya gak mesti ngelakuin hal yang berada di luar kemampuan lo. Jangan melakukan sesuatu hal yang tidak diinginkan, Astrid!”
“Iya gue paham kok. Tadi gue cuman penasaran doang!”
“Penasaran kalo sentuhan lo bisa musnahkan mereka?”
Astrid hanya tercengir saat menatap wajah marah Matthew. Membuat lelaki itu hanya bisa menghela nafas, dan mengacak puncak rambut Astrid.
“Jangan buat gue khawatir lagi, Trid.”
“Ya!”
Srak
Astrid dan juga Matthew melongo, terlebih Astrid. Dia memperhatikan tangannya yang mendadak mengeluarkan darah. Rasanya perih, membuat Astrid harus menahan nafas.
Perhatian mereka semua tertuju ke belakang. Dan sangat terkejut begitu mendapati Grace berdiri tepat di belakang mereka saat ini. Wajahnya dipenuhi dengan keringat, dan wajahnya terlihat tidak baik-baik saja.
Lalu, beberapa menit kemudian, suara langkah kaki yang lain terdengar.
Aress kali ini benar-benar tidak bisa dengan apa yang terjadi. Ben baru saja berhenti dengan nafas ngos-ngosan, dia utuh, juga baik-baik saja. Bahkan saat mata mereka bertabrakan, Ben tersenyum.
Bukannya merasa senang, Aress malah menjadi gugup. Dia memperhatikan tangan Astrid yang tersayat, dan itu karena Grace.
“Bukannya lo harus ngasih darah lo sekarang, Astrid? Daripada lo mau pergi seorang diri, lebih baik lo ngorbanin nyawa juga buat kita!”
“Lo…”
Matthew mengepalkan tangannya. Dia memperhatikan Astrid yang hanya diam saja sambil memperhatikan darah yang terus mengalir dari tangannya. Hampir saja Matthew memukul wajah itu, tapi Astrid menahannya.
“Ben?”
Ben melangkah mendekat, namun Aress lebih dulu mundur. Dia masih tidak bisa yakin jika mereka berdua itu adalah temannya yang asli.
Setelah melihat langsung Ben yang meledak di depannya, benar-benar membuat Aress yakin jika yang ada di depannya saat ini bukanlah Ben dan juga Grace yang asli.
“Gue bisa jelasin. Yang pasti, gue gak meledak di sana, itu hanya ilusi yang mereka ciptakan buat nangkep kita semua sini. Gue juga udah tahu sesuatu!” Ben menatap lurus pada Matthew, “Gue tau, kalo yang sebenarnya menjebak kita di sini adalah Matthew. Dia bekerja sama dengan iblis, dia ingin membuat kita jadi tumbalnya. Dia…sesat!”
Matthew tersenyum konyol, dia merobek kainnya dan menutup tangan Astrid yang masih mengeluarkan darah, serta mengambil gadis itu agar bersembunyi di belakangnya.
“Lo tahu apa soal itu?”
“Bukankah begitu, Matt? Res…sekarang masalah yang lo lihat itu bukan masalah, kita harus cepat keluar dari sini, dan darah Astrid juga bisa ngeluarin kita. Gue juga ragu kalo Astrid tahu soal ini, dia gak bisa apa-apa soalnya!”
“Astrid gak ada hubungannya dengan ini semua. Lagipula, lo dengar iblis-iblis itu? Lo mestinya sadar, kalo alam manusia dan Iblis itu berbeda, Ben. Aress bilang lo meledak di depan matanya sendiri. Sekarang gue gak yakin kalo lo itu adalah Ben yang asli!”
“Gue Ben yang asli. Gak usah mengalihkan topik pembicaraan, Matt. Sekarang gue sadar kenapa lo gak terlalu takut dengan keadaan ini. Karena lo jelas sudah tahu, bahkan lo yang merencanakan ini semua. Gue gak tahu apa motif lo, tapi sekarang, gue takut kalo Astrid lo pengaruhi juga!”
Matthew menggenggam erat tangan Astrid. Masih menyembunyikan gadis itu di belakangnya.
“Matt…apa yang dia bilang itu benar? Apa lo mau numbalin kami juga? Tapi…demi apa, Matt? Gue percaya sama lo, karena gue nganggep lo itu adalah keluarga gue!”
“Lo sekarang percaya sama ucapan bodoh dia, Ress? Sekarang lo yang mikir, kalo gue yang ngejebak kita disini, kenapa harus dengan Astrid? Gue gak pernah mau Astrid terluka. Lo harusnya gak mudah percaya sama apa yang mereka ngomongin ke lo!”
“Jadi…apa gue bisa pegang kata-kata lo, Matt?”