Ben dan Grace masih berdiri di depan. Tidak ada yang bergerak sama-sekali. Hal itu membuat Astrid merasa kesal. Dia tidak suka dengan drama semacam ini.
“Udah, lagian darah gue kayaknya gak bakal bisa berhenti. Sekalian aja gue berkorban buat nyawa-nyawa lo pada!”
Semua tatapan kini tertuju pada Astrid. Gadis itu melepas kain yang menutupi tangannya. Sebelum bergerak, Matthew menahan Astrid lebih dulu dan menggeleng. Tidak setuju dengan apa yang gadis itu lakukan saat ini.
“Apa lo pikir, gue setuju?”
Wajah Matthew menunjukkan jika lelaki itu sedang menahan rasa amarahnya.
“Grace. Apa lo sadar apa yang lo perbuat? Astrid bisa mati jika darahnya terus dipake buat mecahin kode-kode sialan itu!”
Sayangnya, Grace sama-sekali tidak peduli dengan ucapan Matthew, juga dengan Astrid. Grace sekilas menatap Lia yang seperti menahan rasa sakit. Juga menatap Christoper yang sama-sekali tidak ambil bagian. Semua itu membuat Grace merasa marah.
Baginya, jika dengan darah Astrid mereka bisa keluar dari tempat terkutuk ini, maka Grace akan melakukannya. Sekalipun niat awalnya memang tidak pernah ingin mengorbankan siapapun. Tapi Grace mungkin harus serakah kali ini.
Hidupnya tidak pernah adil. Dia miskin, dan hanya memiliki seorang ibu. Dunia sialan yang tidak pernah memberikan apa yang Grace inginkan. Jadi…apapun akan Grace lakukan demi bisa keluar dari sini.
Termasuk menjadi manusia egois.
“Apa lo pikir gue peduli, Matt? Entah lo pura-pura gak tahu atau gimana, tapi gue hanya ingin keluar dari tempat sialan ini. Astrid, lo bilang hidup lo gak ada gunanya, jadi gimana kalo hidup lo dikorbankan buat kami aja? Hidup lo selama ini berkecukupan, dan apa yang lo mau, lo bisa dapat dengan mudah. Gue? Gue bukan makan aja susah, dan masih ibu yang menunggu di rumah. Tolong Trid, kali ini lo berguna buat kami!”
Amarah Grace terlihat menguasai dirinya. Dia terlihat sangat marah.
Astrid tersenyum samar. Perkataan Grace mengingatkan kembali pada kehidupannya yang memang tidak berguna. Hanya bisa menyusahkan orang lain.
Well. Jika bisa begitu, Astrid mungkin akan melakukannya.
Sayangnya tidak bisa. Bagi Astrid, manusia tetaplah sampah yang tidak pernah menyadari dirinya sendiri. Mereka rakus, dan tidak pernah tahu tempat. Ingatan Astrid sewaktu dia masih SD kembali berputar dalam ingatannya.
Orang-orang berkumpul, melecehkannya, merusak hidupnya.
Apakah kali ini Astrid harus merelakan hidupnya demi orang-orang yang tidak pernah mampir atau singgah untuk melihat masa lalunya?
Miris memang.
Tapi, melihat wajah Grace yang sangat emosional, membuat Astrid sedikit berpikir. Haruskah dia merelakan kehidupannya?
“Well…mungkin ide lo gak buruk!”
“Trid!” Matthew kehilangan kata-kata saat Astrid mengatakan hal itu. Matthew bahkan sudah siap jika dia harus melawan Grace, juga Ben. Matthew tidak akan pernah mereka menyakiti Astrid. Bagi Matt, Astrid itu seperti sebiji sapu lidi, rapuh, dan sangat mudah retak.
Namun kerapuhan itu selalu Astrid samarkan dengan berpura-pura menjadi kucing baginya. Nyatanya, Astrid hanya ingin dia dilindungi, di sayang, sama seperti kucing peliharaan.
Memiliki ketergantungan itu nyatanya sulit.
Dan Matthew paham seperti apa rasanya.
“Gue gak bilang mau mati buat human, Matt. Cuman mau tahu aja rasanya gimana berkoban buat orang yang gak penting!”
Matthew menghela nafas. Dia menarik kembali tangan Astrid, membuat tubuh lemah itu mendekat padanya. Dekapan itu terasa hangat, aroma tubuh Astrid tetap melekat di indra penciuman Matthew. Satu-satunya gadis yang memiliki aroma rose yang selalu memabukkan.
Mengerai dekapannya, Matthew memperhatikan wajah pucat Astrid.
“Lo yakin?”
Astrid mengangguk.
“Lo yakin, tapi gue yang gak yakin, Trid. Gue…”
“Kali ini aja, kalo gue gak sanggup, tarik gue lagi, okey?”
Sekali lagi. Matthew berusaha untuk meyakinkan dirinya bahwa keputusannya kali ini tidak akan sangat fatal.
“Baiklah, tapi dengan satu syarat!”
Astrid menaikkan alisnya begitu melihat Matthew mengambil potongan bajunya lagi, mengingat tangannya dan juga tangan Matthew sendiri dengan erat.
“Lo gak bisa jauh-jauh dari gue. Jika seandainya gue lengah, ada ini…” Matthew menunjukkan ikatan yang menyatukan mereka, “ingatin gue!”
Astrid tersenyum. Akhirnya setelah melalui detik-detik menegangkan, Astrid bisa kembali merasa hidup. Hanya jika dekat dengan Matthew.
“Oke. Jadi sekarang, gue harus buat ukiran itu lagi. Christ, lo masih inget ukirannya?”
Christopher mengangguk. Untuk beberapa detik lalu, Christoper yang tidak pernah melihat apa yang dilakukan Astrid dan Matthew sebelumnya tertegun. Dia merasa sangat tersentuh. Seperti ada sesuatu yang hinggap di ulu hatinya.
Dan rasanya hangat.
Rasa itu bahkan sanggup untuk membuat Christoper merasakan sesuatu yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya. Dan rasanya ternyata sangat luar biasa.
Astrid bergerak lebih dulu, membuat Christoper mengikuti kemana arah gadis itu. Darah Astrid diarahkan ke tangan Matthew. Lelaki itu mulai mengukir kembali lambang yang mengartikan ‘Kami Datang’ itu.
Setiap ukiran yang mereka coretkan ke tembok itu langsung terserap tanpa meninggalkan jejak. Hingga sampai mereka selesai mengukir huruf terakhir, semua darah itu terserap.
Tidak ada tanda.
Grace was-was, dia mendengar ada suara-suara yang lain dari belakang mereka. Tapi Grace tetap diam, tidak memberitahu hal itu. Benar, Grace harus menjadi egois agar bisa keluar dari tempat terkutuk ini.
“Grace, gue kasihan lihat Astrid. Dia lemah!”
Ben yang menatap tubuh Astrid sudah kembali di gendong Matthew merasa bersalah. Dia aturannya dia berada dalam situasi konyol ini. Ben sama-sekali tidak masalah jika Astrid tidak ingin mengorbankan dirinya. Karena dia tahu jika gadis itu juga memiliki masa lalu yang tidak pernah dipikirkan oleh orang lain.
“Lo mau keluar gak dari tempat ini? Kalo lo gak mau egois, Astrid dan juga Matthew tidak akan pernah memberikan jalan keluar. Karena gue tahu, Matthew pasti tahu sesuatu, dan sangat yakin jika dia sengaja menjebak kita di sini untuk kepentingan dia. Gue…gue gak mati konyol dengan keadaan yang miskin. Setidaknya, gue harus pernah beli paket tanpa lihat diskon, gue juga harus beri sesuatu yang berharga buat ibu gue.”
Ben menghela nafas.
Sejak di jalan tadi, Grace sudah menceritakan hal itu puluhan kali. Gadis itu selalu mengeluh kenapa hidupnya miskin, dan orang lain terlahir kaya raya.
“Sorry, Grace. Gue tahu apa yang lo lakuin ini benar. Tapi lo gak tau rasa sakit yang dirasakan Astrid. Dia hancur, bahkan tidak akan pernah hidup, jika bukan tanpa Matthew. Jadi, sikap lo tadi yang langsung lempar pisau ke tangan Astrid cukup berlebihan menurut gue. Lo gak perlu main kasar seperti ini. Karena tanpa lo begini pun, gue tahu Astrid tidak akan pernah membiarkan kita berakhir di sini!”
“Tapi…”
“Lo harus jaga sikap lo lain kali, Grace. Jangan membuat kemiskinanmu sebagai tameng. Rasanya itu sangat tidak adil, padahal kamu pintar, tapi kenapa tidak bisa berpikir secara rasional?”
Ben menghela nafas. Dia berjalan mendekati Aress yang sejak tadi menatapnya. Seolah dia baru bangkit dari kuburan.
“Gue tau lo juga gak percaya sama gue saat ini, Ress. Karena gue sendiri juga gak yakin dengan diri gue. Bahkan, apa yang gue alami seperti sebuah mimpi doang. Lo pasti…”
“Ben!”
Pelukan di tubuhnya membuat Ben tertegun. Dia bahkan tidak bisa berkata-kata saat Aress memeluknya erat.
“Gue pikir lo udah mati, gue benar-benar gatau mau ngomong gimana sama lo. Yang pasti, apapun yang terjadi, gue tetap yakin kalo lo itu adalah Ben yang gue kenal.”
“Dia bisa berubah jadi pecinta sesama kalo lo peluk dia terus, Ress.”
Suara Astrid menengahi Aress dan Ben. Mereka berdua kompak saling menatap satu sama lain, dan lekas memisahkan diri.
“Lo sih, main peluk-peluk anak orang sembarangan!” seru Ben kesal, dia sangat tidak suka dituduh menjadi pecinta sesama.
“Ya kan gue gak salah juga. Lagian kalo peluk sesama jenis kenapa sih? Cewek kalo pelukan, mandi bareng, itu ini bareng gapapa kok. Tapi kenapa kalo cowok urusannya jadi beda? Ini namanya diskriminasi gender!” Aress membela diri.
Tidak terima jika Astrid terus mempermainkan dirinya.
“Ya kan. Emang cowok gak boleh gitu, Ress!”
“Siapa yang bilang gak boleh!”
“Gue. Kan gue yang barusan ngomong!”
Aress hanya bisa tertawa dongkol. Tidak tahu lagi harus mengatakan apa-apa. Sebab apa yang dikatakan Astrid barusan memang sangat benar, bukan salah. Jadi, apa yang harus Aress katakan?
“Ya tapi kan…”
“Astrid!”
Ben menangkap tubuh Astrid yang hampir saja terjatuh dari gendongan Matthew.
“Trid, kenapa?” Matthew menilik Astrid.
“Gue lemas!”
“Jangan ngomong!” Matthew memperbaiki posisi Astrid, “Christ, lo udah yakin kan tadi gada yang salah di tulisannya?”
“Gue yakin kok, ingatan gue cukup baik.”
Matthew, dan juga Christopher saling bertatapan satu sama lain. Mereka memperhatikan tembok yang sama-sekali tidak terjadi perubahan apa-apa. Hal itu membuat Matthew bertanya-tanya. Aturannya, terjadi sesuatu.
Atau, apa mungkin hantu itu salah?
“Harusnya gue gak dengerin omongan hantu itu. Hantu tetaplah hantu, mereka gak ada bedanya!”
Hampir saja Matthew mengumpat. Namun tertahan karena merasakan ada sesuatu yang bergetar. Astrid menilik, dia hampir terpejam. Tembok di depan mereka sedikit bergetar, lalu getaran itu semakin lama semakin kuat.
Membuat Astrid benar-benar tidak bisa memejamkan matanya.
Dia menatap lurus ke arah tembok yang ada di depan mereka. Berjaga-jaga jika seandainya ada sesuatu yang terjadi.
“Temboknya terbuka!”
Tembok di depan mereka bergeser. Debu keluar dari balik tembok. Membuat Matthew dan yang lainnya memundurkan langkahnya.
Beberapa menit menunggu, debu-debu yang tadi memenuhi ruangan di balik tembok mulai mereda. Terlihat banyak meja-meja yang menghitam di sana. Ruangan itu remang, namun masih terlihat beberapa titik. Sebuah pantulan cahaya entah darimana cukup membuatnya sedikit lebih jelas.
Matthew mengambil langkah pertama dengan Astrid yang ada di gendongannya. Meja yang hitam itu ternyata seperti bekas kebakaran. Matthew menatap tangannya yang ternoda warna hitam karena tidak sengaja menyentuh meja itu.
Suasana ruangan itu berantakan. Benar-benar berantakan, dan dingin.
Bahkan jauh lebih dingin daripada sebelumnya. Membuat Matthew bertanya-tanya, dia yakin jika dingin itu bukan berasal dari hantu yang sudah pergi itu.
Semuanya sudah masuk. Tembok itu tetap terbuka, tidak seperti tembok-tembok sebelumnya. Hal itu membuat Matthew menilik ke arah Grace, juga Ben.
Jika mereka berdua berhasil menemukan jalan yang lain, itu berarti ada sesuatu yang membantu mereka. Karena mustahil tembok itu terbuka tanpa darah Astrid.
“Kita mesti nemuin sesuatu yang terasa aneh di sini. Hantu itu bilang, kalo di gedung ini pernah terjadi kebakaran yang menewaskan banyak siswa. Itu berarti, bisa jadi di ruangan ini ada hantu lain selain dia. Benar perkiraanku?”
“Ya!”
“Sekarang apa?” Aress menatap Matthew, “kita mesti gimana?”
“Kita harus cari puzzle yang kedua, mungkin bunyi piano berikutnya bakalah terdengar lagi setelah ini!” jawab Lia tidak yakin.
“Kita memang harus cari puzzle yang ketiga, entah itu bagian mana. Dan tolong untuk tidak pernah terpisah lagi, gue takut kalo ada yang jauh lebih berbahaya daripada ini!”
Semuanya mengangguk, dan lekas mencari mulai dari sudut ruangan. Dan Dari kelompok itu, Grace sering mencari seorang diri. Dia juga memperhatikan pergerakan Astrid, dan juga Matthew.
Untuk berjaga-jaga jika keduanya menemukan sesuatu yang tidak mereka dapatkan.
Saat Grace berbalik, dia terkejut mendapati Lia yang berdiri di belakangnya. Wajah Lia datar, dan seolah menatapnya dengan benci. Grace menghela nafas, dan menatap wajah gadis itu.
“Lo baik-baik saja?” ujar Grace, berusaha sedikit ramah dengan Lia.
Karena Grace juga merasa bersalah saat mendorong tubuh Lia pada iblis itu, lalu kabur. Sebelumnya Grace tidak pernah kabur, namun saat itu dia sangat terkejut dan tidak tahu lagi harus berbuat apa-apa kecuali menyelamatkan dirinya sendiri.
Lia tidak memberi jawaban. Dia lekas berlalu, dan kembali pada kelompok Grace dan yang lainnya. Lia masih merasa kecewa berat dengan Grace.
Lia bahkan tidak suka saat Astrid dan Matthew menerima Grace begitu saja, bahkan ketika Grace sudah melukai Astrid.
“Ada yang dapat?” Matthew menurunkan Astrid, pinggangnya terasa sakit. Dia mungkin tidak lagi bisa tahan jika harus membawa Astrid dalam gendongannya terus.
“Masih gak ada. Padahal kita sudah keliling-keliling dari tadi. Apa mungkin gaada apa-apa di ruangan ini ya? Hantu itu juga gak bilang kalo puzzle ketiga ada di ruangan ini. Gue jadi merasa ngeri kalo…”
Bruk
Tubuh Lia terjatuh.
“Lia!”
Wajah Lia sangat pucat, keringat dingin membanjiri wajahnya. Semuanya saling menatap satu sama lain. Aress lebih dulu turun tangan, dan memegang wajah Lia dengan satu tanganya.
“Lia, lo bisa dengerin gue gak?”
“Panas, Ress. Ini panas!”
Mata Lia berkaca-kaca, tangannya bergetar, begitu juga dengan kakinya. Bagian yang menghitam itu semakin terlihat, membuat Aress semakin kalut.
Tubuh Lia mengejang hebat, gadis itu terus menggumankan kata panas.
“Ress. Jangan deket-deket, biarin aja!” Astrid yang bersandar di tembok memberi saran, “dia makin panas kalo ada manusia di dekatnya. Tubuhnya akan lebih sakit lagi!”
“Kenapa begitu?”
Semuanya menjauhi tubuh Lia yang terus meronta-ronta. Tidak ada seorangpun yang berani mendekat, sesuai dengan instruksi Astrid.
“Karena dia milik iblis itu!”